BerandaMediaNaskah Sendratari: "Mappakarennu": Cahaya yang Tak Pernah Padam

Naskah Sendratari: “Mappakarennu”: Cahaya yang Tak Pernah Padam

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Selamat Jalan, Sussureng: Mengenang Hasmiati, Guru Kehidupan yang Tak Pernah Lelah Menyalakan Harapan

PALONTARAQ.ID – Untuk kebutuhan pementasan seni budaya, festival, maupun pertunjukan memorial mengenang almarhumah Hasmiati, naskah berikut saya susun dalam format Sendratari Kolosal Modern Bugis-Makassar, memadukan unsur tari, teater, musik tradisional, multimedia visual, dan panyandra (narasi sastra). Struktur dramatiknya dibuat mengalir dari masa kecil, perjuangan hidup, pengabdian pendidikan dan seni, hingga wafat dan warisan keteladanan yang ditinggalkannya.

Naskah Sendratari, “Mappakarennu”: Cahaya yang Tak Pernah Padam” – Sebuah Persembahan untuk Mengenang Almarhumah Hasmiati

A. Konsep Pementasan

Konsep Pementasan ini bergenre Sendratari Biografi Inspiratif dengan Durasi: 30–35 Menit. Berbentuk Kolosal dengan 20–50 Penampil.

Nuansa: Bugis-Makassar Tradisional, Teater Modern, Musik Etnik Kontemporer, Visual Multimedia

Tema : “Perjalanan seorang anak petani yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan, budaya, dan kemanusiaan hingga akhir hayatnya.”

Pesan Moral: “Hidup yang mulia bukanlah hidup yang panjang, melainkan hidup yang memberi manfaat bagi banyak orang.”

B. Tokoh dan Karakter

1. HASMIATI KECIL

Usia 8–12 Tahun, Karakter: Ceria, Pekerja keras, Pemberani, dan Penyayang keluarga

Simbol: Benih harapan.

2. HASMIATI DEWASA

Tokoh utama, dengan Karakter: Teguh, Visioner, Bijaksana, Humoris, Peduli

Simbol: Pohon yang menaungi banyak kehidupan.

3. MUSTAFA GAU

Ayah Hasmiati dengan Karakter: Petani sederhana, Bijaksana, Teguh, Penyabar

Simbol: Akar kehidupan.

4. HALIMA

Ibu Hasmiati dengan Karakter: Lembut, Penyabar, dan Penuh kasih

Simbol: Pelita rumah tangga.

5. SAHABAT-SAHABAT HASMIATI

3–5 orang dengan Karakter: Setia dan Menjadi saksi perjalanan hidupnya

6. ANAK-ANAK SANGGAR MAPAKARENNU

10–20 orang. Simbol: Warisan budaya dan masa depan.

7. PENARI BAYANGAN

5–10 orang. Fungsi: Menggambarkan perjalanan waktu, perjuangan, penyakit, dan kenangan.

C. PROLOG (PANYANDRA)

Lampu panggung gelap. Suara suling Bugis mengalun lirih.

Kabut tipis memenuhi panggung. Sorot lampu tunggal menyorot narator.

NARATOR:

Di antara hamparan sawah yang menghijau… Di antara suara angin yang membelai rumpun padi…

Lahirlah seorang anak perempuan. Bukan dari istana. Bukan dari keluarga bangsawan.

Melainkan dari rumah sederhana milik petani. Namun Allah menitipkan kepadanya sesuatu yang lebih berharga daripada emas.

Hati yang luas. Semangat yang tak mudah patah. Dan cinta yang tak pernah habis untuk sesama.

Namanya… Hasmiati. Malam ini… Kita akan menelusuri jejak-jejak kehidupannya.

Jejak seorang guru. Jejak seorang seniman. Jejak seorang sahabat.

Jejak seorang manusia yang mengajarkan bahwa hidup adalah pengabdian.

(Musik perlahan naik)

Lampu terbuka.

BABAK I dimulai. BABAK I. ANAK PETANI (Masa Kecil)

ADEGAN 1. Sawah Sameelo

Visual: Hamparan sawah, Petani membajak, Anak-anak berlari.

Musik: Kecapi dan suling Bugis.

Hasmiati kecil muncul membawa tali sapi. Menari kecil mengelilingi panggung.

MUSTAFA: Nak… Jangan jauh-jauh menggembala.

Hasmiati kecil:  Iye Puang… Saya bawa sampai Tonasa supaya sapi-sapi kenyang.

(Penonton tersenyum)

ADEGAN 2. Petuah Ayah

Malam hari. Lampu redup.

Keluarga berkumpul. Mustafa duduk di tengah.

Mustafa Gau’: Massikolako tappodo iyyana de umassikolah.

Bersekolahlah nak… Karena bapak tidak pernah merasakan bangku sekolah.

Musik berhenti.

Hening. Hasmiati kecil memeluk ayahnya.

Narator masuk.

NARATOR: Malam itu… Seorang ayah menanam benih.

Benih yang kelak tumbuh menjadi pohon besar.

Pohon yang menaungi banyak kehidupan.

Fade out.

BABAK II. MENJEMPUT MIMPI

Visual: Perjalanan sekolah. Pergantian waktu. Tahun demi tahun.

Tarian kontemporer menggambarkan perjuangan.

ADEGAN 1

Kuliah

Proyektor menampilkan: Kampus, Buku, Perjalanan

Musik: Orkestra lembut.

Hasmiati menari bersama penari bayangan.

Menggambarkan perjalanan pendidikan.

Narator: Anak petani itu tak berhenti berjalan.

Ia menembus batas. Menembus keraguan. Menembus kemiskinan.

Karena mimpinya lebih besar daripada ketakutannya.

ADEGAN 2. Menjadi Guru

Panggung berubah menjadi kelas.

Anak-anak duduk. Hasmiati mengajar.

HASMIATI: Anak-anak… Tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi.

Yang ada hanyalah usaha yang belum cukup.

Anak-anak bertepuk tangan.

Musik optimistis.

BABAK III. SUARA DARI SAWAH

(Kelahiran Sanggar Mapakarennu)

Visual: Foto-foto petani. Sawah. Kerbau.

Musik tradisional Bugis.

NARATOR: Ketika banyak orang melupakan akar budayanya… Hasmiati memilih kembali pulang.

Pulang kepada lagu-lagu sawah. Pulang kepada suara leluhur. Pulang kepada identitas bangsanya.

ADEGAN 1

Hasmiati mendengar lagu ayahnya.

Mustafa menyanyikan syair lama.

Lampu kuning keemasan.

Hasmiati menangis haru.

HASMIATI: Lagu-lagu ini tidak boleh hilang. Anak-anak kita harus mengenalnya.

ADEGAN 2

Pembentukan Sanggar.

Para pemuda berkumpul.

Sebagian ragu.

PEMUDA: Masa orang kampung seperti kita bisa bikin sanggar besar?

HASMIATI: Kalau bukan kita… Siapa lagi?

Kalau bukan sekarang… Kapan lagi?

Musik heroik.

Semua berdiri.

Spanduk besar muncul: “SANGGAR SENI BUDAYA MAPAKARENNU”

Penonton bertepuk tangan.

BABAK IV. GURU KEHIDUPAN

Babak paling emosional, menampilkan kebijaksanaan Hasmiati.

ADEGAN 1. Sahabat datang menangis.

SAHABAT 1. Saya punya masalah rumah tangga. Hasmiati tersenyum.

HASMIATI: Sukkurukini pabberena Puangnge… Apa yang Allah titipkan itulah yang terbaik.

Musik harpa lembut.

ADEGAN 2. Seorang ibu mengeluh tentang anaknya.

HASMIATI: Ajarkan anakmu bekerja keras. Karena kemewahan tidak pernah mengajarkan ketangguhan.

Narator: Banyak orang menganggapnya guru. Namun lebih banyak lagi yang menganggapnya tempat pulang.

ADEGAN 3

Tarian Persahabatan

Sahabat-sahabat mengelilinginya.

Tertawa. Bercanda. Bernyanyi.

Visual layar: Foto-foto kenangan.

Musik: Lagu daerah ciptaan Hasmiati.

Suasana hangat.

BABAK V. DOKTOR DAN PENGABDIAN

Visual: UNM. Perjalanan Pangkep-Makassar. Buku. Tesis. Disertasi

NARATOR: Banyak orang berhenti ketika lelah. Hasmiati tidak. Banyak orang berhenti ketika cukup. Hasmiati tidak. Banyak orang berhenti ketika usia bertambah. Hasmiati tidak.

Tarian perjalanan.

Pete-pete. Angkot Kampus. Buku. Kuliah. Presentasi. Sidang doktoral.

PENGUJI: Selamat. Anda dinyatakan lulus.

Musik kemenangan.

Semua bersorak. Hasmiati sujud syukur. Lampu terang.

BABAK VI. RAHASIA YANG DISIMPAN

Suasana berubah. Lampu biru. Kabut. Musik minor.

NARATOR: Namun… Tidak semua perjuangan terlihat. Ada luka yang disimpan dalam diam.  Ada rasa sakit yang tidak pernah diceritakan.

Penari bayangan mengelilingi Hasmiati.

Menggambarkan penyakit. Infeksi paru. Diabetes.

Hasmiati tetap tersenyum. Tetap mengajar. Tetap membimbing. Tetap berkarya.

SAHABAT” Kau baik-baik saja?

HASMIATI: Insya Allah… Saya baik.

Ia tersenyum.

Namun langkahnya mulai berat.

BABAK VII. PULANG (Klimaks)

Lampu perlahan redup.

Suara detak jantung. Bunyi monitor rumah sakit.

Visual: Langit senja. Awan bergerak perlahan.

Hasmiati berbaring. Keluarga dan sahabat mengelilingi.

Tidak ada dialog.

Hanya musik. Sangat lirih.

Narator menangis saat membacakan:

Pada akhirnya… Tubuh boleh lelah. Tubuh boleh berhenti.

Namun kebaikan… Tak pernah mati.

Hari itu…

Langit Makassar menjadi saksi. Bahwa seorang perempuan hebat telah menyelesaikan tugasnya.

Ia datang membawa cinta. Dan pergi meninggalkan cinta.

Penari bayangan mengangkat kain putih.

Hasmiati berdiri perlahan. Berjalan menuju cahaya. Lampu belakang sangat terang.

Siluet menghilang. Gelap. Sunyi. 5 detik.

EPILOG: CAHAYA YANG TETAP HIDUP

Lampu perlahan menyala.

Anak-anak Sanggar Mapakarennu masuk membawa lilin.

Sahabat berdiri. Keluarga berdiri. Guru berdiri. Masyarakat berdiri.

Membentuk lingkaran besar.

NARATOR: Hasmiati telah pergi. Tetapi lihatlah… Ia masih ada. Di dalam lagu yang dinyanyikan anak-anak. Di dalam budaya yang tetap hidup. Di dalam sekolah yang pernah dipimpinnya. Di dalam hati sahabat-sahabatnya. Di dalam doa-doa yang tak pernah putus. Manusia seperti Hasmiati… Tidak dikenang karena berapa lama ia hidup. Tetapi karena berapa banyak kehidupan yang disentuhnya.

Seluruh pemain bersama-sama berkata: Selamat jalan, Sussureng… Namamu akan selalu hidup dalam hati kami.

MUSIK PENUTUP

Gabungan: Suling Bugis, Kecapi, Gandrang, Paduan suara perempuan

Lagu tema: “Mapakarennu”~dinyanyikan seluruh pemain.

Catatan Teknis Pendukung Visual

  1. LED Screen: Sawah Samaelo, Lapangan Tonasa, SMPN 2 Bungoro, Sanggar Mapakarennu, Kampus UNM, Rumah sakit, Langit senja
  2. Properti: Cangkul, Ikatan padi, Tali sapi, Buku, Laptop, Toga doktor, Lilin LED
  3. Tata Cahaya: Kuning emas = masa kecil, Hijau = sawah, Putih terang = keberhasilan, Biru = sakit, Putih belakang = transendensi/pulang
  4. Kostum: Baju bodo sederhana, Busana petani Bugis, Seragam guru, Busana sanggar tradisional, Toga doktor
  5. Efek Khusus: Kabut tipis, Proyeksi foto dokumentasi asli Hasmiati, Efek siluet pada adegan wafat
  6. Durasi Ideal:  Prolog: 5 menit, Babak I–VI : 15 menit, Babak VII : 7 menit, Epilog : 5 menit. Total Durasi=32 Menit

Sendratari “Mapakarennu: Cahaya yang Tak Pernah Padam” bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah persembahan cinta, penghormatan, dan doa bagi seorang guru, seniman, sahabat, dan perempuan inspiratif bernama Hasmiati yang raganya telah tiada, tetapi cahayanya akan terus hidup sepanjang masa. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis Naskah dan Narator Sendratari/Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Pangkep.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT