Beranda Feature Hamzah Leo, Hidup untuk Menjadi Wartawan

Hamzah Leo, Hidup untuk Menjadi Wartawan

Hamzah Leo (foto: mfaridwm)
Hamzah Leo (foto: mfaridwm)

Oleh:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal nama Hamzah Leo di Pangkep, khususnya bagi pembaca koran dan pekerja media. Lelaki paruh baya kelahiran Camba, Kabupaten Maros, 19 September 1959 ini sudah menjalani profesi wartawan selama lebih dari 30 tahun di Pangkep.

Namanya diidentikkan dengan berita hukum dan kriminal di Pangkep, khususnya di jajaran Polres Pangkep, namun itu tak berarti “senior”—begitu panggilan akrabnya— tak kritis terhadap perkembangan berita politik dan pemerintahan, malah secara langsung mendorong pendidikan politik bagi pemilih dalam berita-berita yang ditulisnya.

Di Pangkep sendiri, Hamzah Leo sudah merasakan enam masa pemerintahan Bupati. Kalau mau ditulis tentang Dinamika Pemerintahan dan Politik Lokal di Pangkep, maka Hamzah Leo adalah saksi sejarahnya.

Hidupnya tidak banyak berubah dalam hal kepemilikan materi, malah ia masih menumpang hidup di rumah kerabatnya padahal ia cukup dikenal baik oleh para pejabat dan pengusaha papan atas di Pangkep.

Hamzah Leo adalah jaminan integritas bagi seorang wartawan di daerah. Berita yang ditulisnya tidak terpengaruh oleh ‘pendekatan’ apapun untuk menutup-nutupi suatu fakta di lapangan.

Hidup keseharian seorang Hamzah Leo kelihatannya ringan-ringan saja dan tanpa beban. Ia sosok yang low profile dalam pergaulan, bahkan ia cenderung untuk tidak berpikir jauh dan menyerahkan sepenuhnya hidupnya di tangan Tuhan.

Seorang Hamzah Leo tidak terlalu memikirkan apa yang dimakan esok hari, yang penting baginya ia terus berputar dan mencari berita dan dari situlah ia merasakan kenikmatan hidup.

Ia juga seperti tak peduli ketika banyak yuniornya sudah meningkat hidupnya sebagai seorang wartawan. Hamzah Leo memang seperti terlahir dan hidup untuk menjadi wartawan yang ‘apa adanya’.

Untuk seorang Hamzah Leo, saya cukup mengenalnya dengan baik. Ketika awal menjalani profesi sebagai wartawan pada Tahun 2001 di harian yang sama, Berita Kota Makassar (BKM). Oleh Redaktur BKM, saya diminta berguru dan memperhatikan sepak terjangnya dalam mencari berita.

Ya, boleh dibilang Pak Hamzah-lah yang mengajari saya bagaimana mencari dan menulis berita, khususnya berita hukum dan kriminal. Tak banyak orang yang mengenal riwayat hidupnya, kecuali Pak Hamzah dikenal banyak orang sebagai wartawan dan itulah identitas satu-satunya pada melekat padanya.

Pernah suatu hari sekitar enam tahun lalu, saya tidak ingat lagi kapan persisnya, kami lagi ngopi bersama para wartawan, ada lima wartawan lagi mangkal di Warkop dekat Kantor Pos dan Giro Pangkajene termasuk Pak Hamzah, seketika ada mobil pemadam kebakaran lewat meraung-raung sirenenya. “Nah itu berita, hayo kejar” –Pak Hamzah memberikan instruksi agar kami semua mengikuti mobil pemadam kebakaran itu, termasuk dirinya yang langsung mengebut motornya.

Alangkah terkejutnya kami, seakan tidak percaya dengan penglihatan sendiri. Setelah berkelok-kelok mengikuti ternyata mobil pemadam kebakaran itu berhenti di depan rumah Pak Hamzah di bilangan jalan Andi Maruddani, Pangkajene. Rumahnya ludes dilalap api dan kami semua serentak mewawancarainya.

Menurut pengakuan Pak Hamzah, dirinya pertamakali jadi pekerja media saat menjadi wartawan Harian Angkatan Bersenjata sebelum bergabung di Media Fajar Group.

Saat ini dirinya adalah wartawan Harian Berita Kota Makassar (BKM) yang sebelumnya bernama Harian Bina Baru, sebuah koran metro yang banyak dihiasi berita hukum dan kriminal layaknya Harian Berita Kota Jakarta. Sebagai seorang wartawan senior di Pangkep, Pak Hamzah paling pantang diintervensi pemberitaannya dan dikekinian ia tetap menjaga independensinya sebagai wartawan yang mandiri.

Baginya, kalau mau kaya, silahkan menjadi pengusaha dan jangan berharap kaya dari profesi wartawan. Baginya, wartawan adalah panggilan jiwa dan profesi wartawan itu sangatlah tidak pantas ‘dibayar’ dengan apapun. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...