BerandaBeritaDaerahRiwayat Raja Bone (13): La Maddaremmeng

Riwayat Raja Bone (13): La Maddaremmeng

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan Sebelumnya: Riwayat Raja Bone (12): La Tenri Pale Toakkapeang

PALONTARAQ.ID – LA Maddaremmeng (1625-1640) menggantikan pamannya, Arumpone La Tenripale Toakkeppeang Matinroe’ ri Tallo menjadi Arumpone.

Semasa La Tenripale berkuasa, Arumpone ini sangat memperhatikan pembangunan di bidang pertanian. Salah satu kebijakannya adalah memerintahkan penggalian bendungan di sebelah selatan Leppangeng. Selama tiga tahun digali, ternyata airnya tak bakal naik.

Dibawa lagi ke Sampano untuk membuat tiang rumah, tiba-tiba La Tenripale kena penyakit. Kembalilah La Tenripale ke Bone kemudian diundanglah seluruh orang Mampu dan menyampaikan bahwa, ”Berangkatlah ke Sidenreng untuk memanggil keluargaku untuk datang memiliki kembali miliknya”.

Kemudian La Tenri Pale berangkat ke Su (Mangkasar). Di Mangkasar (Tallo) ia meninggal dunia sehingga dinamakan MatinroE ri Tallo. Ketika orang yang disuruh ke Sidenreng kembali, La Tenri Pale sudah tidak ada di Bone.

Maka diangkatlah La Maddaremmeng sebagai Arumpone, sebab dialah yang dipesan pamannya untuk menggantikannya bila sampai ajalnya. Arumpone inilah yang pertama kali memakai payung putih untuk dipakainya bepergian. Arung Mangkaue pengganti Sultan Abdullah yang merupakan anak dari We Tenrisoloreng Makkalarue’ Datu Pattiro ini memerintah Bone dalam dua periode. Periode pertama dalam tahun 1631-1644 dan periode kedua dalam Tahun 1667-1672.

Pada periode pertama kekuasaannya, Arumpone sangat semangat dalam upayanya menerapkan syariat Islam. Abdurrazak Daeng Patunru (Sejarah Bone, 1989) mengemukakan bahwa La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh, Raja Bone XIII adalah Arumpone yang menentang perbudakan. Pada masa itu nasib budak (pekerja), khususnya di Bone dan Sulawesi Selatan pada umumnya sangat tragis. Bukankah pekerja itu lebih menguntungkan daripada emas? Budak dapat disuruh bekerja sekeras-kerasnya tanpa bayaran, tak ubahnya hewan peliharaan. Malahan budak wanita boleh diganggu oleh tuannya sesuka hati. Adalah suatu kejadian biasa bahwa bapak, ibu, dan anak dari suatu keluarga budak dicerai-beraikan oleh tuannya kepada orang lain. Membunuh budak milik sendiri tak ada hukumnya.

Letak Kabupaten Bone dalam Geografi Sulawesi Selatan (foto : ist/palontaraq)
Letak Kabupaten Bone dalam Map Sulawesi Selatan (foto : ist/palontaraq)

Tercatat dalam Sejarah Bone tentang kepatuhan La Maddaremmeng dalam menjalankan ajaran Islam dan mengimplementasikannya dalam pemerintahannya. Bahkan diusahakan pula agar kerajaan tetanggnya seperti Soppeng, Wajo dan Ajattapareng menirunya, khususnya dalam memerdekakan hamba sahaya, kecuali yang memang budak turun temurun, sedang mereka inipun harus diperlakukan manusiawi.

Baginda Arumpone bertindak keras tanpa pandang bulu terhadap siapapun yang melanggar kebijaksanaannya. Meski begitu, tak sedikit pula bangsawan dalam Kerajaan Bone sendiri yang menentang penghapusan perbudakan.

Dengan dalih menciptakan stabilitas keamanan dalam negeri Bone dan penentangan terhadap penghapusan perbudakan, Gowa dibawah pemerintahan Karaenge’, Sultan Malikus Said kembali menyerang Bone (1644). Ini berarti Gowa sendiri tidak mau dan tidak menyetujui penghapusan perbudakan. La Maddaremmeng menghadapi perang tersebut dengan dibantu saudaranya, La Tenriaji Tosenrima, namun serangan Gowa secara besar-besaran tersebut tak dapat ditahan pasukan Bone, Arumpone akhirnya menyingkir ke daerah Larompong.

Di Cimpu, Arumpone ditawan lalu dibawa ke Gowa, diasingkan di suatu kampung bernama Sanrangang (1644). Rakyat dan Hadat Bone akhirnya mengangkat La Tenriaji To Senrima sebagai Arumpone untuk melanjutkan perjuangan melawan Gowa. La Maddaremmeng dikembalikan ke Bukaka dan disanalah Arumpone ini berpulang, hingga digelari Matinroe ri Bukaka.

* * *

Dalam Lontaraq Akkarungeng ri Bone, disebutkan bahwa La Maddaremmeng kawin di Wajo dengan Hadijah I Dasenrima Sitti Khadijah puteri Arung Matowa Wajo, La Pakallongi To Ali dengan isterinya We Jai Ranreng Towa Wajo Arung Ugi. Dari perkawinan La Maddaremmeng dengan We Jai, melahirkan anak laki-laki bernama La PakokoE Toangkone TadampaliE. La PakokoE Toangkone diangkat menjadi Ranreng Toa Wajo, juga digelari Arung Ugi (Raja Bugis) disamping gelar seperti ayahnya Arung Timurung.

La PakokoE Toangkone kawin dengan saudara perempuan La Tenritatta To Unru yang bernama We Tenri Wale Mappolo BombangE Maddanreng Palakka, anak dari We Tenrisui Datu Mario Riwawo dengan suaminya La Pottobune Arung Tanatengnga. Dari perkawinannya itu lahirlah La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Nagauleng.

La Maddaremmeng juga kawin dengan Arung Manajeng, yang melahirkan anak laki-laki Toancalo Arung Jaling. Inilah yang kawin dengan We Bunga Bau Arung Macege, anak dari Karaeng Massepe dari isterinya We Impu Arung Maccero. Toancalo Arung Jaling dengan We Bunga Bau Arung Macege yang melahirkan Tobala Arung Tanete Riawang Petta PakkanynyarangE.

Istri La Maddaremmeng yang lain bernama We Mappanyiwi Arung Mare, anak We Cakka Datu Ulaweng yang melahirkan anak perempuan bernama We Daompo. Inilah yang kawin dengan La Uncu Arung Paijo. La Uncu Arung Paijo dengan We Daompo melahirkan La Tenri Lejja RiwettaE ri Pangkajenne. Inilah yang melahirkan To Sibengngareng Maddanreng Bone. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT