Oleh: M. Farid W Makkulau
Tulisan sebelumnya: Menengok Koleksi Museum Kota Makassar
PALONTARAQ.ID – Saat mengunjungi Museum Kota Makassar disamping Gedung Balaikota, maka pada salah satu sudut ruangan para pengunjung akan menemukan lukisan potret Ratu Wilhelmina dalam satu ruangan dengan lukisan potret Arung Palakka, Sultan Hasanuddin dan Corneliz Speelman.
Siapa Ratu Wilhelmina? Dialah Ratu yang ditakdirkan memimpin Belanda selama lebih dari 50 tahun, lebih lama daripada penguasa monarki Kerajaan Belanda lainnya. Masa kekuasaannya dianggap turut mewarnai tumbuh-kembangnya Kota Makassar dimasa Pemerintahan Hindia Belanda.
Masa Kekuasaan Ratu Wilhelmina juga menjadi saksi beberapa titik perubahan di Belanda dan sejarah dunia: Perang Dunia I (PD I) dan Perang Dunia II (PD II), Krisis Ekonomi tahun 1933, dan juga kejatuhan Belanda sebagai kolonial di Nusantara.


Ratu Wilhelmina bernama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau, dilahirkan 31 Agustus 1880 dan meninggal dalam usia 82 tahun. (Meninggal 28 November 1962) adalah Ratu Belanda sejak 1890 – 1948 dan Ibu Suri (dengan sebutan Putri) sejak 1948-1962.
Ratu Wilhelmina paling dikenang perannya dalam PD II, sebagai inspirasi besar bagi gerakan perlawanan rakyat Belanda dan sebagai pemimpin utama pemerintahan Belanda di pengasingan.
Wilhelmina adalah anak satu-satunya dari Raja Willem III dan istri keduanya, Ratu Emma dari Waldeck dan Pyrmont. Masa anak-anaknya ditandai dengan hubungan yang sangat dekat dengan orangtuanya, khususnya dengan sang ayah yang telah berusia 63 tahun saat Wilhelmina lahir.
Karena Raja William sudah memiliki 3 putra dari istri pertama, Ratu Sophie, saat Wilhelmina dilahirkan, hanya ada peluang kecil baginya untuk mewarisi tahta. Namun, William kehilangan semua putranya (Putra terakhir meninggal saat Wilhelmina berusia 6 tahun).
Raja Willem III wafat pada tanggal 23 November 1890 dan meskipun Wilhelmina seketika menjadi Ratu Belanda, ibunya, Emma, ditunjuk sebagai wali sampai usia Wilhelmina mencapai 18 tahun.


Lihat pula:Â Bugis Makassar dalam Lintasan Sejarah
Pada tahun 1901, Wilhelmina menikah dengan Hendrik, Pangeran dari Mecklenburg-Schwerin. Walaupun perkawinan itu dikatakan tidak berlandaskan cinta, Wilhelmina sebenarnya sangat menyayangi Hendrik, dan tampaknya perasaan Hendrik pun sama.
Kenyataannya Hendrik tidak berbahagia dengan perannya sebagai pasangan ratu dan menyatakan hal ini sangat membosankan, apalagi ia hanya dianggap “dekorasi” dan selalu berjalan di belakang istrinya. Ia juga tidak punya kekuasaan di Belanda.
Ratu Wilhelmina beberapa kali mengalami keguguran. Namun kelahiran anak satu-satunya, Juliana pada tanggal 30 April 1909, menjadi obat penawar setelah perkawinan 8 tahun tanpa anak.
Bersikap taktis dan hati-hati dalam masa kekuasaan—di luar dugaan dan harapan rakyat dan para wakil rakyat di Parlemen Belanda—Wilhelmina menjadi pribadi yang sangat kuat.
Kualitas ini tercermin dalam masa awal kekuasaannya di usia 20 tahun, Ratu Wilhelmina memerintahkan angkatan perang menuju Afrika Selatan untuk membantu Paul Kruger, presiden dari wilayah Transvaal. Untuk itu, Wilhelmina memperoleh pengakuan internasional.
Wilhelmina menunjukkan sikap tidak senang terhadap Kerajaan Britania, yang menganeksasi Republik Transvaal dan Orange Free State dalam Perang Boer. Kaum Boer adalah keturunan Belanda pertama di mana Wilhelmina merasa sangat dekat dengan mereka.
Ratu Wilhelmina juga dikenal mahir dalam mengelola bisnis dan investasi, membuat dia sebagai salah satu wanita terkaya di dunia. Investasinya merambah Amerika Serikat dan sampai ke sumur minyak di wilayah Hindia Belanda.

Lihat pula: Menelisik Sejarah Keberadaan Gereja Immanuel Makassar
Meskipun Ratu Wilhelmina bersikap netral dalam PD I, investasi Jerman yang besar di Belanda, ditambah dengan hubungan perdagangan yang erat, memaksa Inggris memblokade Pelabuhan-pelabuhan Belanda untuk melemahkan Jerman.
Dalam PD I, Wilhelmina menjadi “Ratu-Pengawal”, selalu waspada terhadap serangan Jerman, khususnya di awal perang. Namun ancaman terhadap kedaulatan muncul dari Inggris dan Amerika yang memblokade kapal dagang dan kargo untuk memutus upaya perang pihak Jerman. Hal ini menyulut ketegangan antara Belanda dan kekuatan Sekutu.
Kerusuhan sipil, disulut oleh Revolusi Bolshevik Rusia tahun 1917, mencekam Belanda setelah perang. Seorang pemimpin sosialis, yang bernama Troelstra mencoba merebut kekuasaan Ratu dan pemerintah.
Ketimbang revolusi, Troelstra ingin mengontrol Tweede Kamer, badan legislatif Belanda, dan berharap meraihnya lewat pemilu yang diyakini akan didukung oleh kaum pekerja.
Namun popularitas sang ratu muda membantu kepercayaan diri pemerintahan. Ratu Wilhelmina menggalang dukungan massa dengan menunggang kuda bersama putrinya di kereta terbuka. Rupanya revolusi ini tidak berhasil.

Pada tanggal 10 Mei 1940, Nazi Jerman menyerbu Belanda. Wilhelmina dan keluarganya mengungsi ke Inggris 3 hari kemudian, meski ia ingin tinggal di Belanda. Ratu Wilhelmina naik Kapal Inggris di Den Haag dan berusaha mengontak pantai wilayah Belanda, namun kapten kapal melarangnya karena Zeeland sedang diserang oleh AU Jerman (Luftwaffe).
Ratu Wilhelmina memutuskan pergi ke Inggris dimana ia memimpin pemerintahan dalam pengasingan. Seusai perang, ia memutuskan untuk tidak tinggal di istana namun pindah ke sebuah rumah di Den Haag selama 8 bulan dan mengunjungi seluruh pelosok negeri untuk memotivasi rakyat Belanda.
Pada tanggal 4 September 1948, Wilhelmina menyerahkan tampuk kekuasaan kepada anaknya, Putri Juliana. Ia juga menulis otobiografi yang berjudul: Eenzaam, maar niet alleen (Kesepian tetapi bukan Kesendirian). Ratu Wilhelmina wafat pada tanggal 28 November 1962 dan dimakamkan di Nieuwe Kerk di kota Delft, pada tanggal 8 Desember 1962. (*)




[…] Ratu Wilhelmina dalam Museum Kota Makassar […]