Menengok Koleksi Museum Kota Makassar

by Penulis Palontaraq | Minggu, Sep 15, 2019 | 125 views
Penulis didepan Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Penulis didepan Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Laporan: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya:  Menelusuri Sejarah Makassar di Fort Rotterdam

PALONTARAQ.ID – Tak banyak yang tahu bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memiliki Museum Kota yang merekam jejak perjalanan Kota Makassar dari sejak Abad XVII hingga era reformasi saat ini.

Terima kasih sebelumnya kepada Lembaga Lingkar Makassar yang telah memfasilitasi penulis dan beberapa teman blogger lainnya ikut serta dalam “Jalan-jalan ke Bangunan Bersedjarah Kota Makassar”, akhir pekan kemarin, Sabtu (14/9/2019).

Museum Kota Makassar ini didirikan atas ide Walikota Makassar Drs HB. Amiruddin Maula, S.H.,M.Si dan diresmikan pada tanggal 7 Juni 2000, menempati Gedung Balai Kota lama yang terletak di tengah kota Makassar, yang sebelumnya juga pernah ditempati sebagai Kantor Bappeda Kota Makassar, tepatnya di Jl. Balai Kota 11 A, Kelurahan Baru, Kecamatan Ujungpandang.

Gedung Museum Kota Makassar ini memang awalnya merupakan Kantor “Major of Makassar” atau dibangun Pemerintah Hindia Belanda untuk difungsikan sebagai Kantor Walikota Makassar (Gementehuis) sejak masa Pemerintahan Hindia Belanda dalam Tahun 1916 (Ada pula yang menyebutnya, Tahun 1918).

Gedung Gemeentehuis diresmikan pada tahun 1918 oleh Walikota Makassar pertama J.E. Dan Brink, sebagai realisasi secara fisik bangunan dari pelaksanaan politik desentralisasi yang sudah berlangsung lebih 10 tahun sebelumnya.

Eks Kantor "Major of Makassar". (Koleks:TROPENMUSEUM Het raadhuis te Makassar op Celebes)

Eks Kantor “Major of Makassar”. (Koleks:TROPENMUSEUM Het raadhuis te Makassar op Celebes)

Eks Kantor "Major of Makassar". (Koleks:TROPENMUSEUM Het raadhuis te Makassar op Celebes)

Eks Kantor “Major of Makassar”. (Koleks:TROPENMUSEUM Het raadhuis te Makassar op Celebes)

Kehadiran Museum Kota Makassar ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya dengan Nomor Regnas RNCB.20100622.02.000339 dan SK Menteri NoPM.59/PW.007/MKP/2010 (Sumber:  DISINI), dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan dunia pendidikan dan masyarakat umum akan informasi mengenai identitas kesejarahan, budaya, kehidupan sosial dan perkembangan politik pemerintahan Kota Makassar.

Lihat pula:  Asal Usul Perubahan Nama Makassar dan Ujungpandang (1)

Melihat ke dalam Isi Museum

Dengan gaya dan model arsitektur Eropa Abad XVII, Museum Kota Makassar ini ternyata cukup luas untuk menampung banyak koleksi bersejarah. Dinding bangunan yang tebal dengan jendela kayu yang lebar serta beberapa ornamen gantung yang masih utuh terawat.

Museum Kota Makassar ini menyimpan banyak foto dan narasi tentang perjalanan Kota Makassar dari sejak Abad XVII sampai era reformasi saat ini. Di bagian depan ada terpajang Lambang Kota Makassar era Pemerintahan Hindia Belanda dan meriam yang diperkirakan berusia sekitar 300 tahun.

Bangunan Museum Kota Makassar bergaya arsitektur Eropah Abad XVII. (foto: ist/palontaraq)

Bangunan Museum Kota Makassar bergaya arsitektur Eropah Abad XVII. (foto: ist/palontaraq)

Bekas Kantor Walikota Makassar yang sekarang jadi Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Bekas Kantor Walikota Makassar yang sekarang jadi Museum Kota Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Meja Resepsionis, Bagian Pelayanan dan Penerimaan Pengunjung Museum. (foto: ist/palontaraq)

Meja Resepsionis, Bagian Pelayanan dan Penerimaan Pengunjung Museum. (foto: ist/palontaraq)

Lihat pula: Asal Usul Perubahan Nama Makassar dan Ujungpandang (2)

Saat masuk ke dalam Museum Kota Makassar yang pertama ditemui adalah Meja Resepsionis, bagian pelayanan dan penerimaan pengunjung museum. Disini, tamu dipersilakan untuk mengisi buku tamu dan sekaligus bisa bertanya sesuatu tentang Museum dan koleksinya, aturan dan waktu berkunjung. (Silakan cek IG: museumkotamakassar)

Ada sejumlah 560 koleksi dalam Museum Kota Makassar, baik yang berada di samping kanan dan kiri resepsionis maupun yang berada di belakangnya atau di lantai duanya.

Diantara koleksi museum itu ialah Peta bumi yang dibuat untuk kelancaran misi perdagangan dan politik di Indonesia pada masa silam, relief potret Ratu Wilhelmina dan Ratu Yuliana, foto reproduksi naskah, foto-foto peristiwa serta bangunan bersejarah, peralatan sehari-hari dan mata uang.

Ruang Profil Sejarah Pemerintahan Kota dan Walikota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ruang Profil Sejarah Pemerintahan Kota dan Walikota Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Lukisan, Koin, dan Narasi tentang Ratu Wilhelmina. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Lukisan, Patung, Koin, dan Narasi tentang Ratu Wilhelmina. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Bata dalam berbagai ukuran yang dipakai dalam Membangun Benteng-benteng Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Bata dalam berbagai motif dan ukuran yang dipakai dalam Membangun Benteng-benteng Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Secara umum, Museum Kota Makassar berisi koleksi sejarah, berupa Benda-benda arkeologi: Berbagai motif batu yang ditemukan di Benteng Somba Opu Makassar seperti motif lingkaran, tumpal, garis, geometris, pilin berganda dan garis mender lengkung.

Lihat pula: Perang dalam Khazanah Budaya Makassar

Ada pula koleksi Bola-bola meriam yang pernah dilontarkan Belanda saat membombardir Benteng Somba Opu saat Perang Makassar Tahun 1667. Ada pula koleksi Keramik Cinda dan Jepang masa Dinasti Ming abad ke 14-17 yang dibawa para pelaut Makassar dari negeri asalnya.

Koleksi Museum: Isi Perjanjian Bungaya 1667. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Isi Perjanjian Bungaya 1667. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Bagian dalam Museum, dibelakang Resepsionis, ada sekat dinding, meja rapat dan tangga menuju lantai dua. (foto: ist/palontaraq)

Bagian dalam Museum, dibelakang Meja Resepsionis, ada sekat dinding, meja rapat dan tangga menuju lantai dua. (foto: ist/palontaraq)

Pengunjung Museum Kota juga dipuaskan dengan Koleksi Foto bangunan bersejarah, baik yang masih bertahan sampai sekarang maupun yang sudah musnah. Diantaranya foto Mesjid Melayu, Gereja Katedral, dan Mesjid Katangka.

Begitu pula foto pelayaran Orang Makassar ke Australia mencari teripang antara tahun 1881-1907, Koleksi dokumen Peta udara Makassar, serta isi dari Perjanjian Bungaya antara VOC dan Sultan Hasanuddin.

Lihat pula: Bugis Makassar dalam Lintasan Sejarah

Ada pula lukisan Arung Palakka dan Cornelis Speelman, Peta Benteng Somba Opu, serta koleksi mata uang dari masa VOC (Verenidge Oost-indische Compagnie), mata uang Kerajaan Gowa, mata uang bergambar Ratu Wilhelmina lengkap dengan patungnya.

Koleksi Museum: Peta Kota Makassar Abad 16-17. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Peta Kota Makassar Abad 16-17. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi lukisan dan narasi tentang Arung Palakka, Sultan Hasanuddin, dan Cornelis Speelman, Tokoh Sejarah Perang Makassar dalam Abad XVII. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi lukisan dan narasi tentang Arung Palakka, Sultan Hasanuddin, dan Cornelis Speelman, Tokoh Sejarah Perang Makassar dan Perjanjian Bungaya dalam Abad XVII. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Ruang Profil Walikota Makassar, HM Daeng Patompo dan Prestasinya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Museum: Ruang Profil Walikota Makassar, HM Daeng Patompo dan Prestasinya. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ada pula rekaman jejak foto sejarah Pemerintahan Walikota Makassar sejak masa awal Revolusi fisik sampai sekarang. Koleksi foto dan prestasi dari para mantan Walikota Makassar.

Di ruang sebelah kanan dari depan dan di lantai dua, ada koleksi pakaian adat Bugis Makassar, berbagai pernak pernik tradisional hasil kerajinan rakyat dan ruang pertemuan bagi pengunjung/pembelajar sejarah.

Bagi pengunjung dari luar Kota Makassar, sangat mudah menemukan gedung Museum Kota Makassar sesuai Google Maps (gmaps), tinggal pesan Mobil atau motor berbasis aplikasi pelayanan online.

Jika dari luar Sulsel, dapat diakses dari Bandara Sultan Hasanuddin dengan jarak tempuh sekitar 20 km atau satu jam perjalanan.

Mari mengakrabi Sejarah Kota Makassar di Museum Kota Makassar. It’s Free! (*)

Like it? Share it!

Leave A Response