Oleh: Santo Saba
Related Post: Bercermin dari Sejarah
PALONTARAQ.ID – Ini upaya pelurusan kembali catatan “Sejarah Benar” Nusantara,tidak sedang menyebarkan suatu faham ajaran, apalagi menistakan salah satu dari 5 “Agama” resmi yang di akui negara, Indonesia.
Bahwa, Seluruh situs di Nusantara tidak dari atau berdasar pada salah satu “Ajaran” yang terlahir di India, “Hindu” atau “Buddha”, Tapi ajaran yang tergambar di situs situs Nusantara adalah “Ajaran” yang mendasari lahirnya 3 ajaran di India
Penjelasannya:
“Historiografi” , Para sejarawan bekerja dalam pembentukan opini masyarakat, sejarawan telah menghasilkan sekumpulan buku sejarah, kemudian pembaca selalu terjebak pada “Status Quo”
“Filologi” memandang perbedaan yang ada dalam berbagai naskah sebagai suatu
ciptaan dan menitik beratkan kerjanya pada perbedaan-perbedaan tersebut serta memandangnya justru sebagai alternatif yang positif
“Arkeology” sebagai satu disiplin ilmu tidak akan berhenti untuk me “Rekonstruksi” catatan sejarah…selama sejarah belum menampilkan “Fakta Sesungguh nya” apa yang terjadi di masa lalu
“Plagiator” bekerja serius meng “Copy Paste” tulisan orang lain yang mengharuskan ada sejuta daftar referensi, berhulu pada satu titik pembuat kekacauan sejarah Nusantara “Coedes” yang berniat meng “Indianisasi” Nusantara
“Revicionist History” adalah para pekerja yang berada dalam proses alami sejarah itu sendiri, menyempurnakan “Distorsi” subjektif penulis sejarah terdahulu
Konsep baru “tafsir” sejarah hari ini mungkin telah kuno untuk esok paginya, apa yang ideal selesai tahun ini kembali mentah dalam tahun berikutnya, Dengan demikian penelitian arkeologi akan menjadi jalan tanpa ujung
Tidak ada pemaknaan abadi dalam sejarah, Sejarah dalam dekade waktu tertentu bisa di anggap “Sakral” akan runtuh oleh perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan selanjutnya
Tentang “Bore-Budur”, bangunan ini tidak di bangun dan diarsiteki oleh “Gunadharma” juga “Soeleman” di bangun jauh dari “Perkiraan” Casparis abad 8 M yang sudah di anggap baku dan benar
Kitab-kitab yang katanya menjadi dasar disain bangunan ini “Shilpa sastra & Vastu sastra” dari india adalah “Tidak benar” kitab-kitab itu baru ada abad 9 Masehi di india dan jika benar berdasar kitab itu, siapa dan kapan di bawa ke Nusantara
Patung bentuk visualisasi orang duduk bersila, adalah bentuk kontemplasi spiritual leluhur Nusantara, Topo/Tapo/Tapa/Upasena/Kamala, inilah kontemplasi ajaran leluhur kita yang bernama “Dharma”
Tampil di relief dasar yang tertutup dengan teks literasi kata ” kųsãlädhãrmãbæjănā ” dan 12 teks literasi kata “şvãrggã” ini bukan salah satu dari 3 ajaran yang terlahir di india, tapi ajaran yang tergambar di bangunan inilah yang menjadi dasar lahirnya 3 ajaran di sana, hingga kini tersimpan di Bali
Di bawah ini adalah tempat pembelajaran “Dharma” yang sudah berkonsep pada “Monotheisme” ajaran asli leluhur Nusantara :
• Mahævihariyā “Somapura” di Bangladesh
• Mahævihariyā Vikramashila, Bhagalpur
• Mahævihariyā “Nalanda”, Bihar India
• Mahævihariyā “Chakrā Phalā”, Muaro Jambi
• Mahævihariyā “Dharmā Phalā”, di Area Muara Takus, Kampar Riau Sumatra adalah pusat nya yang tersebut diatas, yang pernah di kunjungi Atiśa Dīpaṃkara Śrījðāna asal Tibet, Fa-Hien juga l-Tshing…untuk belajar
• Sangharamā _”Penataran” 5608 SM dibangunnya candi ini
• Sangharamā Mahæ Thupa Aryā, Mahævihariyā Para Therrâ, Vhwănā Çhaķâ Phalā, adalah bangunan megah agung dengan “Stupa” besar tempat belajar ilmu pengetahuan dan pelatihan kontemplasi spiritual Para Therrân kaum Aryān, leluhur Bangsa Nusantara
Pada hari ke empat belas dari setengah bulan yang cerah dari Asalha 5405 SM, mulai dibangunannya bangunan megah ini, oleh Prabu Kerthadharma, bernama Vhwănā Çhaķâ Phalā, kini terpublikasi bernama “Borobudur”…
Kemudian setelahnya pada 5082 SM di bangun candi megah dengan 3 induk bangunan utama di lokasi dekatnya bernama Pă Rā nāthă, kini terpublikasi bernama “Prambanan” (*)
(* Santo Saba, Revicionist History-Exploration & Research ~ INDONËSIARYĀ, Komunitas True Back History of Indonesia


