Kemendikbud gelar Workshop Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah

Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah, Hotel Gammara Makassar. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah, Hotel Gammara Makassar. (7/11/2019). (foto: mfaridwm/palontaraq)

Laporan: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya: Palontaraq dalam Penelitian Stephen C. Druce

PALONTARAQ.ID – Direktorat Sejarah Subdit Pembinaan Tenaga Kesejarahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI menggelar Workshop sehari Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah di Hotel Gammara, Tanjung Bunga, Kota Makassar, Kamis (28/11/2019)

Workshop ini merupakan Sosialisasi Profesi Konsultan Sejarah. Menurut Andi Syamsu Rijal, M.Hum, Kasubdit Pembinaan Tenaga Kesejarahan, mengungkapkan bahwa workshop ini bertujuan mengenalkan dan menginformasikan SKKNI Bidang Kesejarahan, sekaligus menyiapkan wadah untuk peningkatan kompetensi dan sertifikasi dalam Bidang Kesejarahan.

Menurutnya, setelah disusunnya SKKNI Bidang Kesejarahan No. 114 Tahun 2019 saat ini profesi/tenaga kesejarahan, hanya mencakup dua profesi, yaitu Penulis Sejarah dan Konsultan Sejarah.

Para Dosen dan Sejarawan yang hadir. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para Dosen dan Sejarawan yang hadir. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para Peserta Workshop Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah. (foto: ist/palontaraq)

Para Peserta Workshop Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah. (foto: ist/palontaraq)

Tenaga kesejarahan yang dimaksud adalah orang yang memiliki kompetensi di bidang sejarah, baik yang berlatar belakang akademik Ilmu Sejarah maupun non akademik Bidang Kesejarahan, tetapi kesehariannya memahami banyak kontekstualisasi Sejarah di daerahnya serta diakui oleh masyarakat.

Konsultan sejarah adalah tenaga kerja bidang kesejarahan yang mempunyai keahlian dalam bidang sejarah dan dapat memberikan petunjuk, pertimbangan, atau nasehat dalam menyelesaikan permasalahan dengan menerapkan metode sejarah.

Kasubdit Pembinaan Tenaga Kesejarahan, Andi Syamsu Rijal, M.Hum, menegaskan bahwa Tugasnya terkait SKKNI Bidang Kesejarahan ini, diantaranya ialah Memetakan profesi konsultan sejarah serta Menyiapkan tenaga kesejarahan yang kompeten dan profesional.

“Profesi sebagai Konsultan Sejarah ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Buktinya di Amerika sendiri, ada yang namanya American Historical Association dimana mewadahi para Historical Consultant,” ujarĀ Andi Syamsu Rizal, yang juga Angkatan 90 Jurusan Sejarah Universitas Hasanuddin (UNHAS) ini.

Ahmad Saransi dan Dias Pradadimara. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Ahmad Saransi dan Dias Pradadimara. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Para Peserta Workshop Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah. (foto: ist/palontaraq)

Para Peserta Workshop Peningkatan Kompetensi Konsultan Sejarah. (foto: ist/palontaraq)

Hal senada dikemukakan oleh Ahmad Saransi dari Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulawesi Selatan. Menurutnya, Profesi Konsultan Sejarah ini memang dibutuhkan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat, khususnya terkait bidang kesejarahan tertentu yang dikuasai.

“Di MSI sendiri, kami siap mengakomodasi kebutuhan para teman-teman Konsultan Sejarah ini nantinya untuk bergabung dalam Masyarakat Sejarawan Indonesia, dan mengaktifkan kembali kegiatan MSI yang selama ini kurang berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Beberapa peserta foto bersama usai Workshop. (foto: ist/palontaraq)

Beberapa peserta foto bersama usai Workshop. (foto: ist/palontaraq)

Sementara itu, Dias Pradadimara dari Departemen Sejarah UNHAS mengungkapkan bahwa sebenarnya Konsultan Sejarah ini sudah ada, cuma kini dari praktek ke pelembagaan. “Selama ini Konsultan Sejarah ini sudah ada, cuma kini perlu diformalkan karena adanya Tantangan-tantangan baru,” ujar Sejawaran UNHAS ini.

“Jadi, standar apa yang harus digunakan untuk menghargai suatu profesi, apa dasarnya, semakin luas tuntutan profesi semakin menghargai pengetahuan lokal.”

“Ini bukan merupakan profesi baru, tapi pelembagaan dari yang sudah dilakukan karena adanya Kebutuhan yang sangat kompleks (issue-centered dan problem-soling oriented), adanya keragaman pendekatan, misal dalam upaya pelestarian dan pemeliharaan cagar budaya serta diperlukannya bekerja dalam tim,” jelasnya. (*)

Like it? Share it!

Leave A Response