BerandaEdukasiHari Aksara Internasional: Meneguhkan Kembali Jalan Literasi dalam Kehidupan Manusia

Hari Aksara Internasional: Meneguhkan Kembali Jalan Literasi dalam Kehidupan Manusia

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Setiap tanggal 8 September, dunia memperingati Hari Aksara Internasional (International Literacy Day), yang bukan sekadar perayaan tahunan tentang kemampuan membaca dan menulis, tetapi lebih jauh lagi, momentum penegasan literasi sebagai salah satu fondasi penting kehidupan manusia.

Literasi berbicara tentang kemampuan untuk memahami dunia, mengolah pengetahuan, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, dan membangun kehidupan yang lebih bermartabat.

Aksara pada mulanya hanyalah tanda, simbol, atau lambang yang digunakan manusia untuk merekam bahasa dan pikiran. Namun dari aksara, manusia mampu menyimpan pengalaman, mewariskan pengetahuan, mencatat sejarah, membangun ilmu pengetahuan, menyebarkan gagasan, bahkan menghubungkan satu generasi dengan generasi lainnya.

Berbicara tentang aksara sesungguhnya adalah berbicara tentang jejak peradaban manusia. Bangsa yang mengenal aksara memiliki kemampuan untuk meninggalkan rekaman tentang dirinya. Apa yang dipikirkan, diyakini, dikerjakan, diperjuangkan, dan diwariskan dapat dituliskan sehingga tidak hilang bersama kematian generasi.

Dari sanalah lahir kitab, manuskrip, prasasti, surat, catatan perjalanan, karya sastra, dokumen sejarah, hingga berbagai bentuk pengetahuan yang hari ini menjadi sumber pembelajaran bagi manusia.

***

Dalam pengertian yang lebih luas, Literasi bukan sekadar bisa Membaca. Literasi tidak berhenti pada kemampuan mengenali huruf atau membaca rangkaian kata. Seseorang mungkin mampu membaca sebuah teks, tetapi belum tentu mampu memahami maknanya. Ia dapat membaca berita, tetapi belum tentu mampu membedakan informasi dan disinformasi. Ia dapat membaca berbagai pendapat, tetapi belum tentu mampu berpikir kritis terhadap informasi yang diterimanya.

Karena itu, literasi harus dipahami sebagai kemampuan memahami, mengolah, menilai, dan menggunakan informasi secara bijaksana. Di zaman digital, tantangan literasi bahkan menjadi semakin kompleks. Setiap hari manusia berhadapan dengan begitu banyak informasi. Berita datang melalui gawai, media sosial, grup percakapan, video pendek, mesin pencari, dan berbagai platform digital.

Informasi begitu mudah diperoleh, tetapi justru karena terlalu mudah diperoleh, manusia membutuhkan kemampuan untuk menyaringnya. Di sinilah literasi menemukan relevansinya. Literasi membuat seseorang tidak mudah percaya hanya karena sesuatu tampak meyakinkan.

Literasi mengajarkan kita untuk bertanya: dari mana informasi itu berasal? Apa konteksnya? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apa kepentingan di balik informasi tersebut? Apakah informasi itu benar atau hanya dirancang untuk membangkitkan emosi? Dengan demikian, literasi bukan hanya kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan membaca realitas.

Literasi juga seharusnya membawa manusia kepada kemampuan membaca kehidupan. Membaca buku mengajarkan kita memahami gagasan orang lain. Membaca sejarah membantu kita memahami perjalanan masyarakat. Membaca alam mengajarkan kita memahami lingkungan.

Membaca perubahan sosial membantu kita memahami dinamika masyarakat. Dan membaca diri sendiri membantu kita memahami siapa diri kita, apa kekuatan dan kelemahan kita, serta ke mana arah kehidupan hendak dibawa. Dalam konteks pendidikan, kemampuan membaca semestinya tidak hanya menghasilkan peserta didik yang mampu menjawab soal.

Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang mampu memahami persoalan kehidupan. Karena itu, budaya membaca perlu diikuti budaya bertanya. Setelah membaca, seseorang perlu bertanya: Apa yang saya pahami? Apa yang dapat saya pelajari? Apakah saya setuju dengan gagasan ini? Mengapa? Apa hubungannya dengan kehidupan saya?

Dari membaca lahir pemahaman. Dari pemahaman lahir pemikiran. Dari pemikiran lahir tindakan. Dan dari tindakan yang dilakukan secara sadar dapat lahir perubahan dan peradaban.

Jika membaca merupakan jalan untuk menerima pengetahuan, maka menulis adalah salah satu cara untuk mengembalikan pengetahuan kepada kehidupan. Menulis tidak harus selalu berupa buku tebal atau karya ilmiah yang rumit. Catatan pengalaman mengajar, refleksi setelah mengikuti kegiatan, laporan perjalanan, artikel sederhana, catatan sejarah lokal, cerita tentang tradisi masyarakat, atau pengalaman mendidik anak sekalipun dapat menjadi bagian dari budaya literasi.

Maka, menulis adalah bentuk tanggung jawab peradaban. Apa yang ditulis hari ini mungkin belum terasa penting. Namun beberapa tahun atau beberapa puluh tahun kemudian, tulisan itu dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.

***

Sering kali kita menganggap pengalaman sehari-hari terlalu sederhana untuk ditulis. Padahal, sesuatu yang sederhana bagi seseorang bisa menjadi pengetahuan berharga bagi orang lain. Seorang guru yang menulis pengalaman mengajarnya sedang menyimpan pengetahuan pedagogis.

Seorang santri yang menulis pengalaman belajarnya sedang mendokumentasikan proses pendidikan.  Seorang pengasuh pesantren yang menulis refleksi pembinaan sedang mewariskan nilai. Seorang masyarakat yang mencatat tradisi lokal sedang menyelamatkan ingatan kolektif dari kemungkinan hilang.

Dalam konteks pesantren, budaya literasi sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Pesantren memiliki akar yang kuat dalam tradisi membaca, mengkaji, menyalin, menulis, dan mengajarkan ilmu. Tradisi ngaji kitab pada hakikatnya merupakan tradisi literasi. Santri membaca teks, mendengarkan penjelasan, memberi makna, mencatat, menghafal, mendiskusikan, dan mengajarkan kembali.

Dari proses panjang tersebut lahir kesinambungan ilmu dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Sejarah Islam juga menunjukkan betapa pentingnya tradisi tulisan dalam membangun peradaban. Kitab-kitab para ulama menjadi jembatan pengetahuan lintas zaman. Manuskrip yang ditulis berabad-abad lalu masih dapat dibaca dan dikaji hingga sekarang.

Demikian pula dengan khazanah lokal Nusantara. Lontaraq, babad, hikayat, surat-surat kerajaan, catatan perjalanan, dan berbagai manuskrip lainnya memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lalu merekam pengetahuan, sejarah, nilai, hukum, sastra, dan kebudayaannya.

Karena itu, generasi hari ini memiliki tanggung jawab yang sama: mencatat apa yang sedang kita alami agar tidak hilang dari ingatan sejarah. Hari Aksara Internasional pada masa kini juga perlu kita refleksikan dalam konteks transformasi digital.

Aksara tidak lagi hanya hadir dalam buku dan kertas. Ia hadir di layar komputer, telepon genggam, website, blog, media sosial, perpustakaan digital, dan berbagai platform pembelajaran.

Ruang digital telah menjadi salah satu ruang baru tempat manusia membaca dan menulis. Karena itu, budaya literasi harus bergerak mengikuti zaman.

Sekolah dan pesantren tidak cukup hanya mengajarkan peserta didik bagaimana membaca buku. Mereka juga perlu mengajarkan bagaimana membaca informasi digital secara kritis. Santri perlu dibiasakan bukan hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga produsen pengetahuan.

Blog santri, website sekolah, majalah digital, kanal edukasi, dan berbagai media publikasi dapat menjadi ruang latihan yang sangat baik. Santri dapat menulis laporan kegiatan, artikel, resensi buku, puisi, cerpen, pengalaman belajar, sejarah lokal, profil tokoh, maupun refleksi kehidupan pesantren.

Guru dapat menulis pengalaman pembelajaran dan gagasan pendidikan. Pengasuh dapat menuliskan refleksi keislaman dan kepesantrenan. Dengan demikian, teknologi tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk membangun ekosistem pengetahuan.

***

Pada akhirnya, literasi adalah tentang membentuk manusia yang mampu berpikir dan menentukan sikap secara sadar. Orang yang literat tidak mudah dikendalikan oleh informasi palsu. Ia tidak mudah terjebak dalam provokasi. Ia memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Ia mampu menghargai perbedaan pendapat. Ia dapat mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan, bukan semata-mata emosi.

Dalam pengertian inilah literasi memiliki hubungan erat dengan kemerdekaan manusia. Manusia yang tidak memiliki kemampuan membaca dan memahami informasi akan mudah dibaca, diarahkan, bahkan dimanipulasi oleh orang lain. Sebaliknya, manusia yang literat memiliki daya untuk memahami, menilai, dan menentukan pilihannya sendiri.

Namun literasi yang baik tidak hanya melahirkan manusia cerdas. Ia juga harus melahirkan manusia yang berkarakter. Pengetahuan tanpa akhlak dapat menjadi alat kesombongan. Kecerdasan tanpa integritas dapat disalahgunakan. Kemampuan digital tanpa tanggung jawab dapat melahirkan penyebaran kebencian dan kebohongan.

Karena itu, literasi harus berjalan bersama etika, akhlak, tanggung jawab, dan kesadaran kemanusiaan. Jangan Biarkan Kita Menjadi Generasi yang Tidak Meninggalkan Catatan.

Hari Aksara Internasional sepatutnya menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sudah kita baca? Apa yang sudah kita pahami? Dan apa yang sudah kita tuliskan untuk generasi sesudah kita?

Jangan sampai kita menjadi generasi yang sangat banyak menerima informasi tetapi sedikit menghasilkan pengetahuan. Jangan sampai ribuan kegiatan pendidikan berlangsung setiap tahun, tetapi tidak meninggalkan dokumentasi yang berarti. Jangan sampai pengalaman para guru hilang ketika mereka berhenti mengajar.

Jangan sampai sejarah lokal lenyap karena tidak ada yang mencatatnya. Dan jangan sampai generasi muda hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi tidak mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan karya dan pengetahuan.

Mari menjadikan tanggal 8 September bukan sekadar hari peringatan, melainkan hari untuk memperbarui komitmen terhadap budaya membaca, menulis, berpikir, dan berbagi pengetahuan.

Mulailah dari hal sederhana. Baca beberapa halaman setiap hari. Catat gagasan yang penting. Tulis pengalaman yang berharga. Dokumentasikan kegiatan. Bagikan pengetahuan. Ajarkan kepada orang lain. Dan teruslah belajar.

Sebab aksara bukan hanya kumpulan huruf. Aksara adalah cara manusia menyimpan ingatan. Literasi adalah cara manusia memahami kehidupan. Dan tulisan adalah salah satu cara manusia meninggalkan jejak bagi masa depan.

Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dikenang karena bangunan yang didirikannya, tetapi juga karena gagasan yang diwariskannya. Maka, mari membaca agar tidak mudah dibohongi oleh zaman. Mari menulis agar pengalaman tidak hilang bersama waktu. Mari membangun budaya literasi agar generasi mendatang memiliki warisan pengetahuan yang lebih kaya.

Selamat Hari Aksara Internasional. Mari menyalakan aksara, menghidupkan literasi, dan menjaga agar pengetahuan terus menjadi cahaya bagi kehidupan manusia. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Penulis dan Pemerhati Budaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT