BerandaHighlightMembaca Sosiologi Bugis-Makassar dari Pangkep

Membaca Sosiologi Bugis-Makassar dari Pangkep

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Menjadi seorang budayawan sesungguhnya bukan hanya soal kemampuan berbicara tentang adat, tradisi, bahasa, pakaian, kesenian, atau peninggalan masa lalu. Budayawan sejatinya memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi pengagum, pemerhati, dan penjaga kebudayaan. Ia harus mampu membaca manusia yang hidup di dalam kebudayaan itu. Ia harus memahami hubungan antara individu dan masyarakat, antara nilai dan perilaku, antara tradisi dan perubahan, antara masa lalu dan masa depan. Dalam konteks inilah, sosiologi memiliki tempat yang sangat penting bagi seorang budayawan.

Bagi penulis, Sosiologi bukanlah disiplin ilmu yang berdiri jauh dari kebudayaan. Sosiologi justru merupakan salah satu jalan untuk memahami bagaimana kebudayaan bekerja dalam kehidupan manusia. Jika Antropologi membantu kita memahami manusia dan kebudayaannya secara lebih mendalam, maka Sosiologi membantu kita membaca hubungan-hubungan sosial yang terbentuk di dalam kehidupan masyarakat.

Kebudayaan itu tidak pernah hidup di ruang kosong. Ia hidup melalui keluarga, komunitas, kelompok sosial, lembaga adat, institusi pendidikan, pasar, tempat ibadah, organisasi, dan berbagai ruang interaksi lainnya. Karena itu, seorang budayawan sejatinya memahami masyarakat Bugis-Makassar tidak cukup hanya membaca lontaraq, mendengarkan cerita rakyat, menghafal istilah adat, atau mengagumi simbol-simbol tradisional. Ia juga harus turun melihat bagaimana masyarakat hidup hari ini. Ia harus memahami mengapa masyarakat berubah, bagaimana konflik sosial muncul, bagaimana solidaritas terbentuk, bagaimana bahasa mengalami pergeseran, dan bagaimana generasi muda bernegosiasi dengan tradisi di tengah derasnya modernitas.

Pandangan seperti ini menjadi semakin penting bagi penulis karena memiliki kedekatan emosional dan intelektual dengan dunia sosiologi dan antropologi. Sebagai anak dari seorang guru yang pernah mengajarkan mata pelajaran Sosiologi dan Antropologi, penulis melihat ilmu-ilmu tersebut bukan sekadar sebagai kumpulan teori yang diajarkan di ruang kelas. Ada warisan intelektual yang secara tidak langsung membentuk cara pandang terhadap masyarakat.

Sosiologi mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri. Setiap tindakan manusia selalu memiliki hubungan dengan lingkungan sosialnya. Sementara Antropologi mengajarkan bahwa setiap kelompok manusia memiliki cara tersendiri dalam memahami dunia dan membangun makna kehidupan. Warisan pemikiran semacam inilah yang seharusnya terus dirawat ketika seseorang kemudian dikenal atau ditempatkan oleh masyarakat sebagai seorang budayawan.

***

Dalam konteks pemahaman Sosiologi dan Antopologi tersebutlah, penulis berasumsi bahwa seorang Budayawan tidak cukup hanya menjaga penjaga masa lalu atau pemerhati tradisi semata. Kesalahan yang sering terjadi dalam memahami peran budayawan ini adalah menganggap bahwa budayawan hanya bertugas menjaga masa lalu. Seolah-olah tugas utamanya adalah memastikan bahwa semua tradisi tetap berlangsung persis seperti dahulu. Pandangan ini sesungguhnya terlalu sempit. Kebudayaan bukan benda mati.

Kebudayaan adalah sesuatu yang hidup. Ia berubah, beradaptasi, menerima pengaruh, menolak sebagian pengaruh lain, bahkan melahirkan bentuk-bentuk baru sebagai respons terhadap perubahan zaman. Oleh sebab itu, seorang budayawan tidak seharusnya hanya menjadi “penjaga museum” yang memandang masa lalu sebagai sesuatu yang tidak boleh disentuh. Budayawan justru harus menjadi pembaca perubahan. Di sinilah perspektif sosiologi menjadi sangat penting.

Seorang budayawan perlu bertanya, “Mengapa suatu tradisi mulai ditinggalkan? Mengapa bahasa daerah semakin jarang digunakan oleh generasi muda? Mengapa hubungan sosial di suatu kampung berubah? Mengapa gotong royong mengalami pergeseran? Mengapa masyarakat lebih mudah terhubung melalui teknologi digital tetapi kadang semakin jauh secara emosional? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan sosiologis.

Maka, ketika seorang budayawan berbicara tentang budaya, sesungguhnya ia tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga sedang berbicara tentang masyarakat hari ini. Budaya harus dibaca dalam konteks kehidupan sosial yang nyata. Seorang budayawan tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lampau. Ia boleh mencintai tradisi, tetapi kecintaannya tidak boleh membuatnya kehilangan sikap kritis. Tidak semua yang lama harus dipertahankan, sebagaimana tidak semua yang baru harus ditolak. Tugas budayawan adalah melakukan pembacaan, pemaknaan, dan penilaian secara arif terhadap perubahan tersebut.

Masyarakat Bugis-Makassar sebagai Ruang Sosiologis

Masyarakat Bugis-Makassar merupakan masyarakat yang sangat kaya untuk dibaca melalui perspektif sosiologi. Kekayaan itu tidak hanya terdapat dalam bentuk bahasa, adat, dan kesenian, tetapi juga dalam sistem hubungan sosialnya. Nilai siri’, misalnya, tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep kehormatan dalam pengertian sederhana. Siri’ harus dibaca sebagai sebuah sistem sosial yang memengaruhi cara seseorang menempatkan dirinya di tengah masyarakat.

Demikian pula nilai pacce atau pesse yang berbicara tentang solidaritas dan kepekaan sosial. Nilai-nilai tersebut tidak hidup hanya dalam ungkapan adat, tetapi pernah dan masih memengaruhi cara masyarakat membangun hubungan sosial. Dalam masyarakat Bugis-Makassar, dikenal pula nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge. Nilai-nilai tersebut dapat dibaca sebagai prinsip dasar dalam membangun relasi sosial yang manusiawi.

Sipakatau mengajarkan manusia untuk saling memanusiakan. Sipakalebbi mengajarkan penghormatan terhadap sesama. Sedangkan sipakainge’ merupakan kesediaan untuk saling mengingatkan. Apabila dibaca melalui kacamata sosiologi, nilai-nilai tersebut sebenarnya merupakan modal sosial yang sangat besar. Persoalannya adalah bagaimana nilai tersebut tetap dapat diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat modern.

Di sinilah tugas budayawan menjadi penting. Ia tidak cukup hanya mengatakan bahwa masyarakat Bugis-Makassar memiliki nilai luhur. Budayawan harus membantu menjelaskan bagaimana nilai luhur itu dapat dihidupkan kembali dalam menghadapi persoalan-persoalan kontemporer dan masalah sosial yang lebih kompleks.

Sipakatau, misalnya, dapat menjadi dasar etika dalam menghadapi polarisasi sosial. Sipakalebbi dapat menjadi fondasi untuk membangun budaya komunikasi yang santun di tengah media sosial. Pacce dan pesse dapat menjadi dasar solidaritas dalam membantu masyarakat yang mengalami kesulitan. Sementara siri’ dapat dimaknai kembali sebagai tanggung jawab moral untuk menjaga martabat diri dan masyarakat. Dengan demikian, kebudayaan tidak berhenti sebagai slogan. Ia harus menjadi kekuatan sosial.

Pangkep sebagai Laboratorium Sosial dan Kebudayaan

Bagi seorang budayawan yang hidup dan berinteraksi dengan masyarakat Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan), sesungguhnya tersedia sebuah laboratorium sosial yang sangat luar biasa. Pangkep bukan hanya sebuah wilayah administratif. Ia adalah ruang perjumpaan antara berbagai karakter geografis dan kebudayaan. Wilayah ini memiliki karakter tiga dimensi: dataran rendah, kepulauan, dan pegunungan. Ketiga karakter geografis tersebut tidak hanya membentuk bentang alam, tetapi juga membentuk karakter sosial masyarakat.

Masyarakat pesisir dan kepulauan, misalnya, memiliki pengalaman hidup yang berbeda dengan masyarakat pegunungan. Laut membentuk cara pandang, pola ekonomi, mobilitas, bahasa, bahkan sistem pengetahuan tersendiri. Masyarakat yang hidup dengan laut memiliki hubungan yang kuat dengan musim, angin, arah, perahu, hasil tangkapan, dan jaringan perdagangan.

Sementara masyarakat yang hidup di dataran rendah memiliki pengalaman sosial yang berbeda. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan mobilitas antarwilayah. Adapun masyarakat pegunungan memiliki relasi yang khas dengan tanah, pertanian, hutan, sumber air, dan struktur komunitas yang mungkin berbeda dengan masyarakat pesisir.

Seorang budayawan yang hidup di Pangkep harus mampu melihat perbedaan tersebut bukan sebagai pemisah, tetapi sebagai kekayaan. Pangkep mengajarkan bahwa identitas tidak pernah tunggal. Di satu wilayah dapat hidup berbagai dialek, bahasa, tradisi, mata pencaharian, dan cara pandang terhadap kehidupan. Ada pengaruh Bugis, Makassar, dan berbagai identitas lokal lainnya yang bertemu dalam ruang sosial yang sama. Ada masyarakat yang orientasi hidupnya menghadap laut, ada yang hidup di dataran, dan ada pula yang tumbuh dengan pengalaman pegunungan.

Penulis bersama Wabup Pangkep, Drs HA Rahman Assegaf, M.I.Kom dalam suatu acara adat di Borong Untia Bungoro, Kab. Pangkep. (foto: ist/*)
Penulis bersama Wabup Pangkep, Drs HA Rahman Assegaf, M.I.Kom dalam suatu acara adat di Borong Untia Bungoro, Kab. Pangkep. (foto: ist/*)

Karena itu, berbicara tentang kebudayaan Pangkep tidak boleh dilakukan dengan cara menyederhanakan masyarakat. Budayawan harus berhati-hati terhadap kecenderungan melakukan generalisasi. Tidak semua masyarakat memiliki pengalaman sosial yang sama. Bahkan dalam satu kelompok etnis, pengalaman budaya dapat berbeda karena kondisi geografis, sejarah migrasi, mata pencaharian, pendidikan, dan interaksi dengan kelompok lain. Di sinilah sosiologi membantu seorang budayawan untuk melihat masyarakat secara lebih objektif.

Ada satu sikap penting yang menurut penulis harus dimiliki oleh seorang budayawan, yaitu kemampuan untuk mendengar. Budayawan tidak boleh merasa bahwa dirinya selalu lebih tahu daripada masyarakat yang sedang dibicarakannya.

Masyarakat bukan objek yang hanya menunggu untuk ditafsirkan oleh kaum intelektual. Masyarakat adalah pemilik pengalaman. Nelayan memiliki pengetahuan tentang laut. Petani memiliki pengetahuan tentang musim dan tanah. Orang-orang tua memiliki ingatan tentang kampung. Perempuan memiliki pengalaman sosial yang mungkin tidak selalu tercatat dalam sejarah resmi. Anak-anak muda memiliki cara baru dalam melihat identitas dan masa depan.

Seorang budayawan harus bersedia duduk bersama mereka. Ia harus mendengar cerita sebelum menulis. Ia harus bertanya sebelum menyimpulkan. Ia harus melakukan pengamatan sebelum memberikan penilaian. Sikap inilah yang mempertemukan kerja kebudayaan dengan tradisi sosiologi dan antropologi. Masyarakat harus dipahami melalui keterlibatan dan kedekatan, bukan hanya melalui teori.

Karena itu, seorang budayawan di Pangkep seharusnya menjadikan kampung-kampung, pulau-pulau, pasar, sekolah, rumah ibadah, komunitas nelayan, kelompok seni, dan ruang-ruang perjumpaan masyarakat sebagai tempat belajar. Budayawan harus terus menjadi murid masyarakat.

***

Tantangan besar masyarakat saat ini adalah perubahan yang berlangsung begitu cepat. Teknologi digital mengubah cara manusia berkomunikasi. Media sosial mengubah cara manusia membangun identitas. Mobilitas pendidikan dan pekerjaan membuat generasi muda semakin jauh dari kampung halaman. Bahasa daerah menghadapi tantangan penggunaan. Tradisi mengalami penyederhanaan. Bahkan cara masyarakat memahami sejarah pun semakin banyak dipengaruhi oleh informasi singkat dan serba cepat.

Dalam situasi seperti ini, budayawan tidak boleh hanya mengeluh bahwa generasi muda telah meninggalkan tradisi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah tradisi telah berhasil berbicara dengan generasi muda? Disinilah peran penting Budayawan yang harus menjadi jembatan komunikasi budaya dalam masyarakat.

Ia harus mampu menerjemahkan kebudayaan ke dalam bahasa zaman. Cerita rakyat dapat diperkenalkan melalui media digital. Sejarah lokal dapat ditulis dalam bentuk yang mudah dibaca. Bahasa daerah dapat diperkenalkan melalui karya kreatif. Nilai-nilai lokal dapat dijadikan bahan pendidikan karakter.

Namun demikian, proses modernisasi budaya tidak boleh menghilangkan substansi. Budaya bukan sekadar ornamen. Memakai pakaian adat pada acara tertentu belum tentu berarti memahami kebudayaan. Menggunakan bahasa daerah dalam slogan belum tentu berarti melestarikan nilai yang terkandung di dalamnya. Kebudayaan harus dipahami sebagai sistem nilai dan cara hidup. Karena itu, tugas budayawan adalah menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pembaruan.

Pada akhirnya, seorang budayawan harus memiliki keberpihakan. Keberpihakan itu bukan kepada kelompok sosial tertentu secara sempit, melainkan kepada kemanusiaan dan keberlangsungan nilai-nilai luhur masyarakat. Budayawan harus mampu membela masyarakat kecil ketika pengetahuan dan sejarah mereka terpinggirkan. Ia harus mencatat cerita yang tidak masuk ke dalam buku sejarah resmi. Ia harus memberi ruang kepada bahasa-bahasa lokal. Ia harus menghargai perbedaan.

Namun, budayawan juga harus berani melakukan kritik terhadap kebudayaannya sendiri. Mencintai budaya bukan berarti membenarkan seluruh praktik yang dilakukan atas nama budaya. Seorang budayawan yang matang harus mampu membedakan antara nilai luhur yang perlu diwariskan dan praktik sosial yang perlu dikaji kembali. Budaya harus menjadi kekuatan untuk memuliakan manusia, bukan alat untuk mempertahankan ketidakadilan.

Dalam konteks masyarakat Bugis-Makassar, kekayaan nilai budaya seharusnya menjadi sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi. Siri’ harus menjadi kesadaran tentang martabat. Pacce harus menjadi solidaritas sosial. Sipakatau harus menjadi penghormatan terhadap manusia. Sipakalebbi harus menjadi etika dalam kehidupan bersama.

Sosiologi mengajarkan bahwa masyarakat harus dipahami melalui hubungan-hubungan sosialnya. Antropologi mengajarkan bahwa manusia harus dipahami dalam konteks kebudayaannya. Sementara kerja kebudayaan mengharuskan seseorang untuk tidak berhenti pada pemahaman, tetapi ikut merawat, mencatat, mengkritik, dan meneruskan nilai-nilai yang dianggap penting.

Dalam kapasitas sebagai seorang budayawan yang hidup di tengah masyarakat Pangkep, sosiologi seharusnya tidak diperlakukan sebagai ilmu asing yang hanya hidup di ruang kelas. Sosiologi harus menjadi cara membaca kehidupan sehari-hari.

Sejatinya, Budayawan Pangkep adalah yang hadir lebih arif dan adil dalam melihat hubungan antara masyarakat pulau dan daratan. Ia hadir ketika membaca perubahan bahasa. Ia hadir ketika memahami pergeseran tradisi. Ia hadir ketika menyaksikan perubahan perilaku generasi muda. Ia hadir ketika melihat bagaimana masyarakat mempertahankan solidaritas di tengah perubahan zaman.

Pangkep, dengan dataran rendah, kepulauan, dan pegunungannya, sesungguhnya adalah ruang belajar yang tidak pernah habis. Di sana terdapat manusia dengan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Di sana terdapat kebudayaan yang terus bergerak. Di sana terdapat sejarah yang belum seluruhnya ditulis.

Maka, menjadi budayawan di tengah masyarakat Pangkep harusnya berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tidak cukup hanya mengenang masa lalu. Tidak cukup hanya mengagumi tradisi. Tidak cukup hanya berbicara tentang identitas.

Seorang budayawan harus hadir untuk memahami manusia, mendengar masyarakat, membaca perubahan, merawat ingatan, dan membangun jembatan antara warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.

Barangkali di situlah posisi paling mulia seorang budayawan: bukan sebagai orang yang merasa paling mengetahui kebudayaan, melainkan sebagai seseorang yang tidak pernah berhenti belajar dari manusia dan masyarakat yang melahirkan kebudayaan itu sendiri.

Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Salamakki Tapada’ Salama’. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pimred Palontaraq/Pemerhati Sosial Budaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT