Beranda Sosial Budaya Seni Pertunjukan Daeng Ramli, Pelestari Kharisma Musik Tradisional Mandali’

Daeng Ramli, Pelestari Kharisma Musik Tradisional Mandali’

Daeng Ramli (foto: mfaridwm)
Daeng Ramli (foto: mfaridwm/palontaraq)

Laporan:  M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Nama Ramli Nurdin atau yang akrab disapa “Daeng Ramli” di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, khususnya di Jagong, daerah tempat tinggalnya tidak banyak dikenal orang sebagai salah seorang pelestari musik tradisional, bahkan namanya sama sekali tidak dikenal Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) setempat.

Mengapa? Jawabnya tentu karena musik tradisional, khususnya lagu daerah Bugis Makassar dengan iringan alat musik Mandali’ telah lama ditinggalkan dan hanya sebagian penikmat setia dari kalangan orang tua yang masih menggemarinya.

Adalah Daeng Hasa (63), seorang maestro mandali’ dan gambus, yang mengenalkan penulis pada sosok Daeng Ramli (52) ini. Tak disangka, selain piawai memainkan alat musik Mandali’, Daeng Ramli juga menghafal begitu banyak lagu daerah dan mampu menyanyikannya dengan baik.

Lihat juga: Seni Pertunjukan Lokal

Atas saran penulis, keduanya kemudian membentuk diri bersama kawan seniman lokal lainnya dalam grup seni tradisional “Irama Gambus Muri-muria”.

Paling tidak, satu langkah penyelamatan lagu daerah dengan iringan alat musik mandali’ telah dilakukan. Kolaborasi alat music mandali’ (mandoling), gambus, gendang dua, serta kecapi menjadi ciri khas grup seni tradisional yang memusatkan kegiatan latihannya di Biraeng, Minasatene-Pangkep ini.

* * *

Sangat sulit untuk menghidupi diri dan keluarga dari bermusik, sebagaimana halnya pemusik jalanan yang mengais rezeki dari sekeping dua keping uang logam pendengarnya. Hal ini sudah lama dirasakan Daeng Ramli, pekerja serabutan yang ternyata memiliki kecintaan terhadap musik dan lagu tradisional.

Rumah Daeng Ramli berada di perkampungan kumuh, diantara hamparan persawahan dan bau pesing peternakan ayam tetangganya di Jagong, Kecamatan Pangkajene-Pangkep, namun di tempat itulah kerinduan dan tembang manis tentang pesan-pesan leluhur ia dendangkan lewat lagu dan petikan mandali’ yang menghanyutkan rasa.

Daeng Ramli, Daeng Hasa dan Penulis (foto: badauni)
Daeng Ramli, Daeng Hasa dan Penulis (foto: badauni)

Saban hari ia bekerja sebagai penagih retribusi bentor (becak motor) di ujung jembatan kedua yang menghubungkan pasar sentral Pangkajene dengan jalan andi maruddani, sekitar tujuh kilometer dari rumahnya di Jagong, Pangkajene.

Jika lagi bernasib mujur, ia dan kawan-kawannya yang pegiat seni tradisional memenuhi panggilan untuk “pentas seni” dalam hajatan perkawinan. Tak banyak hasil uang yang bisa diperoleh, namun ia merasa terpuaskan dan tersalurkan hobbinya dalam bermusik.

Musik dan lagu yang dibawakannya bukanlah musik dan lagu biasa, tapi sebuah “pesan kultur” dan “senandung sakral” dalam setiap petikan mandalinya.

Pernah suatu waktu ia tampil menghibur dalam acara hajatan perkawinan di Kabupaten Gowa, Daeng Ramli menuturkan ketika itu membawakan lagu daerah Makassar tentang perjuangan hidup, tiba-tiba saja seorang nenek “kasosokan” (kesurupan) ditengah kerumunan orang yang mendengarnya menyanyi dan setelah siuman, sang nenek menceritakan bahwa lagu daerah yang baru saja didengarnya tersebut tercipta di kala dia masih remaja.

“Sebuah lagu yang membawanya kembali ke masa lampau kala sang nenek itu masih remaja,” begitu ujar Daeng Ramli.

Menurut Daeng Ramli, musik tradisional jika dinyanyikan dengan penuh penghayatan dengan dipadukan dengan senandung indah irama yang keluar dari mandali’ dan gambus akan membawa kharisma tersendiri, yang bisa membawa pendengarnya terkenang masa lalunya.

Hal yang sama pernah disaksikannya, seorang janda yang terjatuh dari teras rumah panggungnya (Makassar : dego-dego) saat ia menyanyikan lagu “bunting nipaempo passa” (gadis yang dipaksa kawin)saat tampil di Pandanglau, sebuah kampung pesisir yang jauh dalam wilayah Pangkajene, Pangkep.

Ternyata setelah ditelusuri, masyarakat sekitar mengungkapkan bahwa janda tersebut memang dipaksa kawin dimasa mudanya.

Kini, dengan semakin maraknya lagu pop rock, dangdut, serta lagu-lagu barat, Musik dan Lagu Tradisional seakan tinggal menunggu kematian.

Ditengah desakan komersialisasi lagu dan musik pop lewat berbagai media, dan bahkan setiap saat dilombakan, Daeng Ramli tetap bertahan dengan segala kesederhanaannya membawa seni tradisional dan alat musik mandali’ melintasi ruang dan waktu ditengah para penggemarnya dari masa lalu. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT

Kantin Putri IMMIM dinyatakan sebagai Kantin Sehat

  Laporan: Nurhudayah Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM PALONTARAQ.ID - Satu lagi prestasi yang ditorehkan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM...

Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

  Lihat pula: Ketua TP PKK Sulsel kunjungi Ponpes Modern Putri IMMIM Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Dalam kunjungannya ke Kampus Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep,...

Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Sebanyak 20-an santriwati didampingi Guru/Pembina Pondok Pesantren Modern (PPM) Putri IMMIM dari perwakilan berbagai tingkatan, Rabu kemarin (18/11/2020) mengikuti dengan hikmat...

Ketua TP PKK Sulsel Kunjungi Ponpes Putri IMMIM

  Laporan: Nurhudayah PALONTARAQ.ID - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan Lies F Nurdin secara mendadak melakukan kunjungan silaturrahim ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Putri...