Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mengenal Mata Kuliah “Perkembangan Pemikiran Islam”
PALONTARAQ.ID – Tanggal 5 Ramadhan menyimpan narasi besar tentang diplomasi, kelahiran tokoh intelektual, dan keteguhan militer yang membentuk wajah dunia Islam hari ini. Bulan Ramadhan dalam lintasan sejarah Islam bukanlah masa untuk beristirahat. Sebaliknya, ia adalah bulan di mana peristiwa-peristiwa besar terjadi—mulai dari turunnya wahyu, kemenangan perang, hingga pencapaian diplomatik yang monumental.
Tanggal 5 Ramadhan secara khusus mencatat sejarah penting di tiga era yang berbeda: era Khulafaur Rasyidin (Perjanjian Baqt di Nubia), era pertengahan (kelahiran ulama besar), dan era keemasan Utsmaniyah (Penaklukan Belgrade).
1. Perjanjian Baqt di Nubia (31 H): Diplomasi Tertua di Dunia
Pada 5 Ramadhan tahun 31 Hijriah, di bawah masa kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, terjadi sebuah peristiwa diplomatik yang sangat unik di wilayah Afrika Utara. Pasukan Muslim di bawah komando Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh mencapai sebuah kesepakatan damai dengan penduduk Kerajaan Makuria di Nubia (wilayah Sudan utara saat ini). Kesepakatan ini dikenal sebagai Perjanjian Baqt.
Setelah penaklukan Mesir, pasukan Muslim bergerak ke selatan menuju Nubia. Namun, penduduk Nubia dikenal sebagai pemanah yang sangat ulung (rumat al-hadaq atau pemanah mata). Alih-alih melanjutkan perang yang berlarut-larut, kedua belah pihak memilih jalan diplomasi.
Perjanjian Baqt bukan sekadar gencatan senjata, melainkan pakta perdagangan dan jaminan keamanan. Poin-poin utamanya meliputi: (1) Jaminan keamanan bagi pedagang Muslim di Nubia dan pedagang Nubia di Mesir. Kewajiban pertukaran komoditas tahunan (terutama gandum dan kain dari pihak Muslim, serta budak dan ternak dari pihak Nubia—yang dalam konteks zaman itu adalah bentuk stabilisasi ekonomi). (2) Pembangunan masjid di Dongola (ibu kota Nubia) bagi para musafir Muslim.
Perjanjian ini bertahan selama lebih dari 600 tahun, menjadikannya salah satu perjanjian diplomatik terlama dalam sejarah manusia. Peristiwa ini mengajarkan bahwa Islam mengedepankan perdamaian melalui diplomasi daripada pertumpahan darah jika tujuan keamanan dan dakwah dapat tercapai lewat perjanjian.
Lihat pula: Bahan Diskusi: Al-Maturidiyah: Sejarah Lahirnya, Tokohnya, dan Pokok-pokok Ajarannya
2. Penaklukan Belgrade oleh Sultan Suleiman al-Qanuni (927 H)
Berpindah ke masa yang lebih dekat dengan sejarah modern, pada 5 Ramadhan 927 H (1521 M), Sultan Suleiman I (Suleiman the Magnificent) dari Kekhalifahan Utsmaniyah berhasil menaklukkan kota Belgrade yang saat itu dikenal sebagai “Pintu Gerbang Eropa Tengah”.
Sebelum masa Suleiman, Sultan Muhammad Al-Fatih pernah mencoba menaklukkannya namun gagal. Di bawah kepemimpinan Suleiman, pada hari ke-5 Ramadhan, benteng yang dianggap tak tertembus ini akhirnya jatuh ke tangan Muslim. Keberhasilan ini membuka jalan bagi ekspansi Islam ke arah Hungaria dan Austria, serta mengamankan posisi Utsmaniyah di Balkan.
Keberhasilan Sultan Suleiman pada 5 Ramadhan membuktikan bahwa disiplin dan spiritualitas yang terbentuk selama puasa adalah kunci kemenangan. Pasukan Utsmaniyah berjuang dalam kondisi lapar secara fisik namun kenyang secara ruhani, menunjukkan bahwa tekad yang kuat dapat menyelesaikan tugas-tugas besar yang gagal dilakukan oleh generasi sebelumnya.
***
Dari rentetan sejarah 5 Ramadhan di atas, ada beberapa pelajaran krusial bagi umat Muslim saat ini, yaitu bahwa Perjanjian Baqt mengajarkan kita bahwa Islam tidak selalu datang dengan pedang. Diplomasi yang adil dan saling menguntungkan (win-win solution) adalah bagian integral dari syariat.
Sultan Suleiman tidak menjadikan puasa sebagai alasan untuk menunda serangan ke Belgrade. Justru, ia menggunakan energi spiritual Ramadhan untuk memotivasi pasukannya, tidak menjadikan Ramadhan sebagai alasan untuk menurunkan produktivitas. Sejarah membuktikan bahwa karya dan kemenangan terbesar umat justru diraih saat mereka sedang berpuasa.
Pembangunan masjid di Nubia juga sebagai bagian dari perjanjian diplomasi menunjukkan bahwa umat Islam sangat peduli pada keberlangsungan ibadah dan identitas mereka, di mana pun mereka berada. Hal ini mengajarkan kita untuk selalu menitipkan nilai-nilai Islam dalam setiap kesepakatan profesional maupun sosial yang kita buat.
Sultan Suleiman berhasil di tempat kakeknya (Al-Fatih) gagal. Ini memberikan hikmah bahwa setiap generasi memiliki tantangannya sendiri, dan kegagalan masa lalu bukanlah kutukan, melainkan pelajaran untuk diperbaiki dengan strategi yang lebih matang dan tawakal yang lebih kuat pada bulan yang berkah ini. (*)
Bahan Bacaan:
Dr. Raghib As-Sirjani, Ramadhan wa al-Buthulat (Ramadhan dan Kepahlawanan). (Kajian khusus peristiwa-peristiwa besar di bulan Ramadhan).
Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah. (Kajian mengenai ekspansi masa Khulafaur Rasyidin).
Imam At-Thabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. (Detail mengenai sejarah awal Islam di Afrika Utara).
Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Jihad. (Analisis mengenai Perjanjian Baqt sebagai model diplomasi Islam).
Lord Kinross, The Ottoman Centuries: The Rise and Fall of the Turkish Empire. (Sejarah penaklukan Belgrade oleh Sultan Suleiman).
S.A.S. Bahasuan, Sejarah Diplomasi Islam. (Analisis pakta-pakta perdamaian dalam sejarah Islam).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


