BerandaLiterasiPuisi: Elegi Kentongan Bambu: Saat Pallu-pallu Mati di Ujung Jari

Puisi: Elegi Kentongan Bambu: Saat Pallu-pallu Mati di Ujung Jari

Oleh: Etta Adil  *)

Related Post: Ramadhan dan Tradisi Pallu-pallu

PALONTARAQ.ID – Berikut adalah sebuah puisi esai yang mencoba memotret kesunyian lorong-lorong Makassar, dimana gema kentongan bambu dan bunyi-bunyian alat dapur saat tradisi Pallu-pallu masih marak kini telah kalah oleh bisingnya notifikasi dari smarthone dan gadget.

Elegi Kentongan Bambu: Saat Pallu-pallu Mati di Ujung Jari

I

Dahulu, malam adalah panggung bagi kaki-kaki mungil

Menembus kabut tipis di gang-gang sempit Makassar

Bambu dilubangi, menjadi nyawa yang berdetak

Dipukul berirama, membujuk kantuk agar lekas berpijar.

“Sahuru’… sahuru’…!” teriak mereka parau,

Namun ada cinta yang tulus di balik suara yang kacau.

II

Pallu-pallu bukan sekadar bebunyian tanpa makna

Ia adalah Pacce yang mengetuk pintu-pintu rumah kayu

Mengingatkan tetangga, sebelum imsak menyapa

Bahwa berkah ada di sela suapan nasi yang beradu.

Ada tawa di lorong, ada sapa di jendela

Antara si miskin dan si kaya, tak ada beda dalam doa.

III

Kini, lorong itu membisu, sepi dari langkah seru

Hanya ada pendar cahaya biru dari balik bantal yang kaku.

Jempol-jempol menari, mengirim pesan di ruang hampa

“Bangun sahur,” tulisnya, tapi tanpa rasa, tanpa rupa.

Handphone menjadi alarm yang dingin dan angkuh

Menghapus peluh anak-anak kampung yang dulu tak pernah mengeluh.

IV

Kita terjebak dalam kotak kecil yang berpendar

Membangunkan dunia, tapi lupa menyapa tetangga sebelah kamar.

Interaksi hangat telah menguap ke awan digital

Dahulu kita bersentuhan jiwa, kini kita hanya berbagi sinyal.

Tak ada lagi bunyi botol kaca atau tutup panci yang riuh

Hanya getar getit dari benda mati yang membuat hati makin jauh.

V

Oh, Ramadhan di tanah Daeng yang kini sunyi

Tradisi Pallu-pallu sedang meringkuk, mati suri.

Kita kehilangan lebih dari sekadar bunyi kentongan

Kita kehilangan kehangatan, kita kehilangan genggaman.

Bambu-bambu itu kini tergeletak menjadi kayu bakar

Sementara kita sibuk menggulir layar, mencari dunia yang tak kunjung sadar.

VI

Akankah kita biarkan lorong ini terus membisu?

Dan membiarkan persaudaraan hanya sekadar angka di grup tuju?

Pulangkanlah ruh itu, meski hanya satu malam

Agar anak-anak kita tahu, bahwa sahur bukan sekadar makan

Tapi tentang menjaga satu sama lain dalam ketulusan yang paling dalam.

***

Puisi ini adalah sebuah ratapan terhadap hilangnya Modal Sosial. Tradisi Pallu-pallu adalah bentuk nyata dari Pangngaderreng (adat istiadat) yang bersifat kolektif. Kehilangan tradisi ini berarti kehilangan momen di mana generasi muda belajar tentang kerelaan berkorban demi kenyamanan orang lain. Gadget memang memberikan efisiensi, namun ia gagal memberikan “kehadiran” (presence).

Pangkajene-Pangkep, 20 Februari 2026

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT