Etta adalah peneguh siri’, menjaga martabat para santriwati,
Teduh laksana payung di musim hujan,
Tanpa pamrih menanamkan lempu’—kejujuran yang lurus,
Ajarannya berakar pada ade’ yang santun.
Adil dalam sikap, memegang teguh getteng pendirian,
Dalam setiap nasihat tersimpan reso—kerja keras tanpa lelah,
Ia memelihara sipakatau, memanusiakan setiap putri,
Lembut tutur katanya memancarkan warani yang bijak.
Etta menjadi teladan mappesona hati,
Tegas membangun pesse—empati yang menguatkan,
Tumbuhkan semangat mappakalebbi’ saling menghargai,
Anak-anak santri dirangkulnya penuh kasih.
Nafas perjuangannya adalah reso temmangingngi,
Yakin bahwa pendidikan adalah jalan malebbi’,
Amanah dijaga seperti pusaka leluhur.
Putri IMMIM dibimbingnya dengan sipakainge’—saling mengingatkan,
Untuk bangkit dengan sumange’ membara,
Tak gentar menghadapi tantangan zaman,
Ruh budaya ditanamkan agar tak tercerabut akar,
Ilmu dipadukan dengan adab dan siri’.
IMMIM menjadi rumah sipakalebbi’,
Menghidupkan nilai ade’ na rapang,
Menyemai generasi berprestasi,
Ikhtiar tanpa henti demi masa depan gemilang,
Menjadi kebanggaan Pangkep dan umat.
Pangkep menyimpan jejak baktinya,
Anak-anak tumbuh dalam pelindungan,
Nurani dipupuk dengan pesse dan kasih,
Gurindam budaya menyatu dalam pendidikan,
Keteguhan berpadu kelembutan,
Erat hubungan bak keluarga sendiri,
Penuh doa seorang ayah untuk putri-putrinya tercinta.