BerandaLiterasiPuisi: I‘rab Hijrah Seorang Santri

Puisi: I‘rab Hijrah Seorang Santri

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Fadliyah Ferdian” merupakan santriwati pindahan asal Mamuju. Dari sepekan baru dalam lingkungan Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep didapatkan informasi bahwa kepindahannya mondok adalah keharusan menjawab tantangan orang tua dalam menuntut ilmu.

Selama berada di Ponpes Modern Putri IMMIM, dapat diketahui bahwa sosoknya mudah bergaul dan cepat menyesuaikan diri. Hal ini tak jadi masalah, karena sebelumnya santriwati ini juga merupakan “anak pondok”, pindahan dari Ponpes Al-Ikhlas Bate Tangnga Polewali Mandar. Kepindahan sekolah adalah salah satu wujud keberanian merantau dan memenuhi harapan orangtua untuk tetap menuntut ilmu dan mendewasakan diri.

I‘rab Hijrah Seorang Santri

Fa‘il dalam tekadnya tegak berdiri, menjawab seruan ayah dan ibu.
Amrun dari orang tua ia sambut sebagai kewajiban yang ma‘rūf.
Dhamīr sabarnya tersembunyi, namun hadir dalam setiap langkah hijrah.
Lāzim ia menuntut ilmu, sebab thalabul ‘ilmi bukan sekadar pilihan.
I‘rab hidupnya berubah, dari manshūb ragu menjadi marfū‘ keyakinan.
Yaqīn di hatinya menjadi taukīd, menguatkan niat merantau.
Adat baru di pesantren modern ia terima tanpa syarth berlebihan.
Hāl dirinya tetap rendah hati, mudah bergaul dan cepat menyesuaikan diri.

Fasl baru ia buka di Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM.
Entah jauh dari Mamuju, tapi doa orang tua tetap menjadi mubtada’ harapan.
Rihlahnya dari Al-Ikhlas Bate Tangnga, Polewali Mandar,
  adalah jumlah fi‘liyah tentang keberanian.
Dalil kesungguhannya tampak pada adab dan semangat belajar.
Ibtidā’ di kelas satu SMA, ia tata niat seperti nahwu yang runtut.
Akhirnya ia paham, kepindahan bukanlah nasakh impian,
  melainkan badal terbaik demi dewasa dan berilmu.
Niatnya khālish, menjadikan ridha orang tua sebagai khabar terindah hidupnya.

***

Puisi Akrostik ini menyampaikan bahwa Menjawab harapan orang tua adalah bentuk ketaatan yang mulia. Perintah (amr) orang tua untuk menuntut ilmu bukan beban, melainkan jalan keberkahan. Kepindahan sekolah adalah simbol keberanian (hijrah).
Berpindah dari pesantren lama menuju lingkungan baru bukan kemunduran, tetapi proses pendewasaan diri.

Dalam nahwu, hidup yang awalnya “manshūb oleh ragu” bisa menjadi “marfū‘ oleh keyakinan”. Disini perlu dipahami bahwa Kemampuan beradaptasi adalah kekuatan santri.
Mudah bergaul dan cepat menyesuaikan diri menunjukkan kedewasaan sosial dan mental. Disisi lain, Doa orang tua adalah fondasi utama keberhasilan. Ridha mereka menjadi “khabar” terindah dalam perjalanan hidup. Intinya, puisi ini ingin menegaskan bahwa hijrah demi ilmu adalah wujud keberanian, ketaatan, dan proses menjadi pribadi yang lebih matang. (*)

Minasatene-Pangkep, 16 Februari 2026.

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT