Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
PALONTARAQ.ID – Di tengah krisis iklim global yang kian mengkhawatirkan, institusi pendidikan berbasis agama mulai melirik kembali peran teologis mereka dalam menjaga alam. Di Indonesia, pesantren sebagai institusi pendidikan Islam tertua memiliki modal sosial dan spiritual yang sangat besar untuk menjadi garda terdepan dalam pelestarian lingkungan.
Konsep “Eco-Pesantren” muncul sebagai sebuah inisiatif untuk mentransformasi pesantren tidak hanya sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman tradisional (tafaquh fiddin), tetapi juga sebagai pusat peradaban yang ramah lingkungan. Eco-Pesantren bukan sekadar program penghijauan, melainkan sebuah bentuk ijtihad ekologis yang mengontekstualisasikan Ajaran Islam tentang khilafah (kepemimpinan) dan amanah (tanggung jawab) di muka bumi.
Secara konseptual, Eco-Pesantren berakar pada teologi lingkungan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Kita mengenal konsep bahwa alam semesta adalah ayatun maunah (tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang). Inilah salah satu Prinsip Tauhid yang sebenarnya, suatu penegasan bahwa Allah SWT adalah pencipta tunggal, dan segala sesuatu di alam semesta ini bertasbih kepada-Nya. Merusak alam berarti membungkam tasbih makhluk-Nya.
Eco-Pesantren juga merupakan perwujudan konsepsi khalifah dan misan (keseimbangan). Bahwa Manusia diposisikan sebagai pengelola bumi (stewardship), bukan pemilik mutlak yang boleh mengeksploitasi tanpa batas. Allah menciptakan alam semesta dalam keadaan seimbang (). Intervensi manusia yang berlebihan akan merusak keseimbangan ini, yang dalam terminologi Qur’ani disebut sebagai fasad (kerusakan).
***
Implementasi Eco-Pesantren di Indonesia meliputi beberapa dimensi utama yang saling terintegrasi. Pesantren mulai memasukkan materi lingkungan ke dalam kajian kitab kuning. Sebagai contoh, bab Thaharah (bersuci) dalam fikih tidak lagi hanya dipelajari dari sisi ritual, tetapi dikembangkan menjadi diskusi tentang konservasi air dan kebersihan sanitasi lingkungan. Integrasi ini memastikan bahwa kesadaran ekologis tumbuh dari keyakinan religius yang mendalam.
Banyak pesantren kini menerapkan sistem Zero Waste. Sampah organik dari dapur pesantren diolah menjadi kompos untuk pertanian, sementara sampah anorganik dikelola melalui bank sampah. Beberapa pesantren percontohan, seperti Pesantren Pabelan atau Pondok Pesantren Hidayatullah, bahkan telah mulai bereksperimen dengan biogas dari kotoran ternak atau penggunaan panel surya.
Eco-pesantren sering kali memanfaatkan lahan yang luas untuk pertanian organik. Praktek ini tidak hanya menyediakan pangan sehat bagi santri, tetapi juga menjadi laboratorium hidup bagi mata kuliah Dinamika Peradaban Islam, di mana santri belajar bagaimana peradaban Islam klasik (seperti di Andalusia) sangat maju dalam teknologi irigasi dan botani.
Meskipun memiliki potensi besar, transisi menuju Eco-Pesantren menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Pertama, ada Hambatan Epistemologis. Bahwa masih saja ada pandangan di sebagian kalangan pesantren bahwa urusan lingkungan adalah urusan duniawi yang terpisah dari urusan ukhrawi. Literasi ekologi di kalangan asatidz terkadang masih terbatas pada teks-teks klasik tanpa kontekstualisasi modern.
Kedua, ada Kendala Finansial dan Teknologi. Instalasi teknologi ramah lingkungan seperti panel surya atau sistem pengolahan limbah modern membutuhkan biaya investasi awal yang besar, yang seringkali sulit dipenuhi oleh pesantren kecil. Ketiga, Budaya Instan. Mengubah perilaku ribuan santri untuk mengurangi penggunaan plastik dan hemat air membutuhkan waktu dan konsistensi yang luar biasa (istiqamah).
Implementasi Eco-Pesantren menawarkan ruang riset yang luas, sehingga tidak hanya terhenti pada Analisis Wacana. Pada tingkat ini, Pengelola dan pengasuh pesantren harus berani menjawab bagaimana teks-teks klasik diinterpretasi ulang untuk mendukung gerakan lingkungan di pesantren. Misal pada studi kasus terkait efektivitas manajemen sampah di pesantren tertentu terhadap perubahan perilaku santri. Selain itu implementasi Eco-Pesantren berpotensi menggerakkan ekonomi syariah, terkait Potensi zakat dan wakaf produktif untuk pendanaan teknologi hijau di pesantren.
Eco-Pesantren adalah manifestasi dari Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin. Ia merupakan jawaban atas kritik bahwa agama seringkali terlalu fokus pada aspek ritual dan mengabaikan krisis kemanusiaan dan alam. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan aksi nyata pelestarian lingkungan, pesantren membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan demi keselamatan bumi.
Referensi
Mangunjaya, F. M. (2019). Ekospiritualisme: Kebangkitan Kesadaran Lingkungan dalam Islam. Jakarta: Obor. (Referensi utama tentang landasan filosofis).
Gade, A. M. (2019). Muslim Environmentalisms: Religious Models in Action. Columbia University Press. (Studi global tentang gerakan lingkungan Muslim).
Nasr, S. H. (1997). Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. ABC International Group. (Kritik filosofis terhadap krisis lingkungan dari perspektif Islam).
Haluani, S., & Muthoifin. (2020). “Pendidikan Islam Ramah Lingkungan: Konsep Eco-Pesantren”. Jurnal Pendidikan Islam, Vol 5. (Sinta 2/3).
Kementerian Lingkungan Hidup. (2010). Panduan Pelaksanaan Eco-Pesantren. Jakarta: KLH RI.
Iskandar, D. (2017). “Implementasi Kebijakan Eco-Pesantren di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung”. Jurnal Pendidikan Geografi.
Sani, M. A. (2021). Fikih Lingkungan (Fiqh al-Bi’ah): Membumikan Ajaran Islam dalam Melestarikan Alam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ozdemir, I. (2003). The Ethical Dimension of Human Attitude Towards Nature: A Muslim Perspective. Istanbul: Insan.
Fauzi, A. (2018). “Pesantren dan Kelestarian Lingkungan: Studi atas Gerakan Eco-Pesantren di Jawa Timur”. HIKMATUNA: Journal of Integrative Islamic Studies.
Prayogo, K. (2015). “Kajian Konsep Eco-Pesantren sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan”. Prosiding Seminar Nasional Civic Education.
Al-Qaradhawi, Y. (2001). Ri’ayat al-Bi’ah fi Syari’at al-Islam. Kairo: Dar al-Syuruq. (Referensi klasik-modern tentang fikih lingkungan).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


