Feature Hikmah Ramadan: "Dialog Nabi Musa"

Hikmah Ramadan: “Dialog Nabi Musa”

-

- Advertisment -

Buka Puasa dengan Anak-anak Jalanan Makassar di Kerung-kerung. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Buka Puasa dengan Anak-anak Jalanan di Kerung-kerung, Makassar (foto: kpajmakassar/palontaraq)

Laporan:  Etta Adil

PALONTARAQ.ID – SANG  hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, menulis dalam Kitab “Mukasyafatul Qulub” tentang dialog Nabi Musa dengan Allah SWT.

Nabi Musa bertanya, “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu, manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?”

Allah SWT menjawab, “Shalat?  Shalatmu itu untukmu sendiri. Karena dengan mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar. Dzikir?  Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.  Puasa?  Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.”

Nabi Musa bertanya lagi, “Lalu, apa yang membuat-Mu senang, ya Allah?”

Allah SWT menjawab, “Yang membuatKu senang adalah sedekah, infaq, zakat, dan perbuatan baikmu. Itulah yang membuat-Ku senang, karena tatkala engkau membahagiakan yang sedang susah, AKU hadir di sampingnya. Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali”. (Al-Baqarah 261-262)

Lihat juga: Puasa itu Membangun Keseimbangan – 10

Nabi Musa bertanya lagi, “Ya Tuhan-ku, dimanakah aku harus mencari-Mu?”

Fakir miskin dan anak terlantar. (foto: ist/palontaraq)
Fakir miskin dan anak terlantar. (foto: ist/palontaraq)

Allah SWT menjawab, “Hai Musa, jika engkau ingin mencari-Ku, carilah AKU di tengah-tengah Orang-orang yang tersakiti hatinya.”

Lihat juga: Infak, Sedekah, dan Zakat di Bulan Ramadhan

Demikianlah dialog Nabi Musa dengan Allah SWT, memberikan pelajaran dan pencerahan penting bagi kita semua. Bahwa sungguh sungguh jika kita hanya sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu, maka itu tandanya kita hanya mencintai diri kita sendiri. Tetapi, bila kita berbuat baik dan berkorban untuk orang lain, maka itu tandanya kita mencintai Allah, dan Allah senang dengannya.

Mari kita peduli dan berbagi dengan orang lain, maka niscaya Allah SWT pun akan peduli dengan kita. Begitu pelajaran dan hikmah dari dialog yang diketengahkan Imam al-Ghazali dalam Kitabnya, “Mukasyafatul Qulub”.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you