Oleh: Saifullah Bonto *)
PALONTARAQ.ID – Iqra’ (Bacalah), demikian pesan Tuhan dalam kitab suci umat Muslim. Sebuah pesan yang tak sebatas teks tapi perlu kontekstualisasi dalam segala macam bentuk pengejawantahannya.
Sebagian orang menganggap bahwa aktivitas membaca adalah sebuah hobi atau sekadar aktivitas mengisi waktu luang.
Bagi mereka, membaca merupakan bagian dari ibadah karena sebelum mengamalkan sesuatu, harus mengilmuinya terlebih dahulu dan salah satu cara untuk mengilmuinya adalah dengan membaca.
Dewasa ini, tradisi membaca lebih sering diartikan sebagai tradisi literasi yang aktivitasnya bukan hanya sekadar membaca namun juga menulis.
Hal ini berangkat dari definisi awalnya yakni literatus yang artinya orang yang belajar. Prof Haedar Nashir dalam sebuah pidatonya menyampaikan bahwa tradisi iqra’ atau tradisi literasi merupakan aktivitas membaca dan menulis.
Dengan adanya tradisi literasi mengantarkan masyarakat menjadi masyarakat modern jauh dari state of mind yang kolot dan konservatif.
Data yang disajikan website resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, berdasarkan survey pihak UNESCO melalui lembaga The World’s Most Literate Nations (WMLN) menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia dari 61 negara.
Artinya, tradisi literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Hal ini menjadi PR kita bersama untuk menumbuhkan semangat tradisi literasi di tengah-tengah masyarakat bukan saja bagi kalangan pelajar, mahasiswa atau civil society lainnya tapi juga dari kalangan economic society dan power society.
Pekan Literasi Pangkep yang diadakan langsung oleh Pemerintah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pemkab Pangkep) berusaha memberangus minimnya tradisi literasi yang di alami masyarakat khususnya masyarakat di Kab. Pangkep.
Dengan menggandeng berbagai organisasi baik dari Organisasi Kepemudaan berbasis kekaderan mau pun Organisasi Kepemudaan berbasis kekaryaan, hal ini sudah menunjukkan akan adanya ikhtiar kolektif untuk mewujudkan generasi yang melek literasi.

Taman Baca Asdar Muis RMS, yang sudah difungsikan kembali tak sekadar menjadi pajangan di tengah ikon Kota Pangkep namun juga turut menjadi salah satu ikon penting yang menandakan bahwa Pangkep sudah siap menjadi Kota Literasi
Pemda dan komunitas-komunitas yang tergabung dalam Pekan Literasi ini benar-benar mengejewantahkan bagaimana seharusnya menghargai Sang Maestro asal Pangkep tersebut dengan sebuah karya dengan tema “Tribute To Asdar Muis RMS”.
Ada kutipan yang sangat menarik “Jika pemimpin tidak dapat mengetahui ke mana arah kepemimpinannya, apa idenya, tidak tahu makna kepemimpinan maka dapat dipastikan pemimpin seperti itu tidak akan bertahan sebagai orang yang dijunjung oleh rakyatnya”.
Masyarakat dengan kemampuan filter informasi yang baik, masyarakat yang tidak mudah terprovokasi dengan data yang belum tentu benar, masyarakat yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal dan Ke-Indonesiaan, serta masyarakat yang senantiasa berkarya, itulah masyarakat cerdas. (*)
(* Saifullah Bonto, Mahasiswa S2 Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran, Bandung.


