Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Bahasa Melayu sebagai Bahasa Diplomasi Raja Inggris-Sultan Aceh 1615
PALONTARAQ.ID – Thailand, yang secara historis dikenal sebagai Siam, merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha. Namun, Islam menempati posisi sebagai agama terbesar kedua yang memiliki akar sejarah sangat kuat, terutama di wilayah selatan yang berbatasan dengan Semenanjung Malaya.
Keberadaan Islam di Thailand bukan sekadar fenomena migrasi modern, melainkan hasil dari proses Islamisasi panjang yang melibatkan jaringan perdagangan maritim, kekuatan politik kesultanan, dan asimilasi budaya. Sejarah Islam di Thailand adalah narasi unik tentang bagaimana sebuah komunitas minoritas religius mempertahankan identitas etno-religiusnya di bawah payung monarki yang sangat kental dengan tradisi Buddha.
1. Asal-Usul dan Sejarah Masuknya Islam
Masuknya Islam ke wilayah yang kini menjadi bagian dari Thailand dapat ditarik melalui dua jalur utama: jalur perdagangan laut dan jalur darat dari wilayah utara. Sejak abad ke-9 dan ke-10 Masehi, Teluk Siam merupakan jalur perdagangan strategis bagi pelaut Arab, Persia, dan India yang menuju ke Cina.
Kota-kota pesisir seperti Kedah, Pattani, dan Nakhon Si Thammarat menjadi tempat persinggahan penting. Para pedagang Muslim ini tidak hanya membawa komoditas ekonomi, tetapi juga ajaran spiritual. Penemuan koin Arab di wilayah Thailand Selatan memberikan indikasi kuat adanya aktivitas komunitas Muslim awal jauh sebelum berdirinya kerajaan-kerajaan besar di wilayah tersebut.
Di wilayah Utara Thailand (Chiang Mai dan sekitarnya), Islam masuk melalui jalur darat melalui para pedagang dari Yunnan, Cina, yang dikenal sebagai Muslim Chin Haw. Mereka bermigrasi dan membawa tradisi Islam dari Cina yang memberikan corak berbeda bagi keberagaman Muslim di Thailand.
2. Zaman Keemasan Kesultanan Pattani
Puncak perkembangan Islam di Thailand ditandai dengan berdirinya Kesultanan Pattani (Patani Darussalam). Berdasarkan catatan sejarah lokal seperti Hikayat Patani, penguasa Patani, Phya Tu Nakpa, memeluk Islam melalui bimbingan Syekh Said dari Pasai dan berganti nama menjadi Sultan Ismail Syah pada abad ke-15 (sekitar tahun 1457).
Pattani tumbuh menjadi pusat keunggulan intelektual Islam di Asia Tenggara, menyaingi Malaka dan Aceh. Munculnya institusi pendidikan tradisional yang disebut Pondok melahirkan ulama-ulama besar bertaraf internasional seperti Syekh Daud al-Fatani. Karya-karya mereka dalam bidang teologi, hukum, dan tasawuf menjadi rujukan utama di seluruh Nusantara.
Meskipun Pattani adalah kesultanan Islam yang berdaulat, ia sering kali berada dalam hubungan vassal (negara bawahan) dengan Kerajaan Ayutthaya di Utara. Hubungan ini bersifat pasang surut, di mana Pattani mengirimkan Bunga Mas sebagai simbol kesetiaan, namun tak jarang terjadi konflik bersenjata ketika Pattani mencoba melepaskan diri dari pengaruh Siam.
3. Islam di Jantung Siam (Ayutthaya dan Bangkok)
Islam tidak hanya terkonsentrasi di Selatan. Di ibu kota Ayutthaya, komunitas Muslim memiliki kedudukan yang sangat terhormat. Pada masa Raja Narai (1656–1688), banyak orang Persia yang menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan Siam. Salah satu tokoh paling fenomenal adalah Sheikh Ahmad Qomi, seorang pedagang Persia yang diangkat sebagai Chularatchamontri (Syekhul Islam) pertama di Thailand. Hingga hari ini, keturunannya tetap menjadi keluarga terpandang yang menjembatani hubungan antara pemerintah dan komunitas Muslim.
Selama perang antara Siam dan Burma, serta penaklukan wilayah-wilayah Melayu oleh Siam di abad ke-18 dan ke-19, banyak penduduk Muslim yang dibawa ke wilayah Tengah Thailand (sekitar Bangkok) sebagai tawanan perang. Mereka kemudian membangun komunitas-komunitas Muslim di pinggiran sungai Chao Phraya dan berkontribusi besar dalam pembangunan kanal-kanal di Bangkok.
4. Masa Kolonial dan Perjanjian Anglo-Siamese 1909
Titik balik paling krusial yang menentukan nasib Muslim Thailand Selatan adalah Perjanjian Anglo-Siamese 1909 antara Inggris dan Siam. Inggris menyerahkan wilayah Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun kepada Siam. Hal ini secara formal memasukkan wilayah mayoritas Muslim Melayu ke dalam administrasi negara Thailand yang mayoritas Buddha. Hal ini menciptakan tantangan identitas yang besar: penduduk setempat secara etnis adalah Melayu dan secara agama adalah Muslim, namun secara politis adalah warga negara Thailand.
***
Pada masa pemerintahan Marsekal Phibun Songkhram (1930-an), Thailand menerapkan kebijakan nasionalisme yang ketat (Thaifikasi). Penduduk Muslim dipaksa mengubah nama Melayu menjadi nama Thai dan dilarang menggunakan bahasa Melayu di sekolah-sekolah pemerintah. Kebijakan ini memicu resistensi yang hingga kini masih menyisakan konflik di tiga provinsi perbatasan Selatan (Pattani, Yala, Narathiwat).
Pemerintah Thailand modern mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dengan membentuk organisasi resmi Islam, yaitu Chularatchamontri, yang merupakan Pemimpin spiritual tertinggi umat Islam Thailand yang berfungsi sebagai penasihat Raja dan pemerintah.
Ada pula Majelis Agama Islam Provinsi yang terdapat di hampir setiap provinsi yang memiliki populasi Muslim signifikan, serta Akademi Ilmu Pengetahuan Halal. Thailand saat ini menjadi salah satu pemimpin dunia dalam ekspor produk halal, menunjukkan integrasi ekonomi Muslim yang sukses.
Muslim di Thailand sangat beragam, mencakup: Muslim Melayu yang merupakan mayoritas di wilayah Selatan, sangat memegang teguh tradisi Pondok, Muslim Thai yang merupakan keturunan campuran yang telah berasimilasi penuh dengan budaya Thai, Muslim Chin Haw yang berada di Thailand Utara, membawa pengaruh arsitektur dan kuliner Cina-Muslim, serta Muslim Pathan/India yang merupakan keturunan pedagang Asia Selatan yang banyak membangun masjid-masjid megah di kota-kota besar.
Jadi, Sejarah Islam di Thailand adalah bukti ketahanan sebuah peradaban. Dari jalur perdagangan maritim kuno hingga integrasi dalam negara modern, umat Islam Thailand telah memainkan peran penting dalam membentuk sejarah dan ekonomi Thailand. Meskipun wilayah Selatan masih menghadapi tantangan sosio-politik yang kompleks akibat warisan sejarah kolonial, secara keseluruhan umat Islam Thailand telah berhasil membuktikan bahwa mereka mampu menjadi bagian integral dari kemajuan bangsa Thailand tanpa harus kehilangan akar keimanan dan identitas budayanya.
Bahan Bacaan:
Forbes, Andrew D.W. (1988). The Muslims of Thailand. Gaya: South East Asian Studies Institute.
Scupin, Raymond. (1980). Islam in Thailand before the Bangkok Period. Journal of the Siam Society.
Yegar, Moshe. (2002). Between Integration and Secession: The Muslim Communities of the Southern Philippines, Southern Thailand, and Western Burma/Myanmar. Lanham: Lexington Books.
Uthman, Ibrahim. (2014). The History of Islamic Education in Thailand. Bangkok: Chulalongkorn University.
Jumsai, Manich. (1970). History of Thailand and the Bay of Bengal. Bangkok: Chalermnit.
Syukri, Ibrahim. (1985). Sejarah Kerajaan Melayu Patani. Kelantan: Percetakan Nasional (Terjemahan Inggris: History of the Malay Kingdom of Patani).
Azra, Azyumardi. (2004). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.



Islam masuk ke Thailand melalui dua jalur utama, yaitu perdagangan laut dan perdagangan darat dari wilayah utara. Kota-kota pesisir menjadi tempat persinggahan pedagang dari Arab, Persia, India yang menuju ke cina.para pedagang muslim ini tidak hanya membawa komoditas ekonomi, tetapi juga ajaran spiritual. Di wilayah Utara Thailand Islam masuk melalui jalur perdagangan dari Yunnan, dan cina. Mereka bermigrasi dan membawa tradisi Islam dari China.
melalui jalur selatan ini termasuk jalur yang signifikan karena membantuk komunitas muslim terbesar di
melalui jalur selatan ini termasuk jalur yang signifikan karena membantuk komunitas muslim terbesar di thailand
-Masuknya islam dithailand pada abad ke 9 dan ke 10 melalui perdgangan laut dan jalur darat dari wilyah utara.
-puncak perkembangn islam dithailnad ditandai dengan berdirinya kesultanan pattani (pattani darussalm).berdasarkan catatan sejarah lokal sperti Hikayat patani,penguasa patani,phu Tu Nakpa,memeluk islam melalui bimbingan Syekh Said dari oasai dan berganti nama menjadi Sultan Ismail Syah pada abad ke 15 (sekitar tahun 1457).
islam di thailand berkembang secara damai melalui perdagangan, dakwah dan hubungan kerajaan melayu. lalu berkembang menjadi komunitas muslim yang kuat di daerah tersebut sekitar abad ke 9.
Raisatuzzakinah
Kelas 12
Tanggapan : Islam di Thailand berkembang melalui jalur perdagangan dan kesultanan seperti kesultanan pattani.
Walaupun menjadi minoritas, umat islam tetap mempertahankan identitasnya, terutama di wilayah selatan. Namun, masih terdapat tantangan sosial dan politik hingga sekarang.