BerandaArtikelKanre Ma’pa: Simfoni Sipakalabbiri dalam Kesunyian Sahur

Kanre Ma’pa: Simfoni Sipakalabbiri dalam Kesunyian Sahur

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Kanre Ma’pa dan Sipakalabbiri saat Makan Sahur

PALONTARAQ.ID – Bulan Ramadhan di tanah Sulawesi Selatan bukanlah sekadar perpindahan waktu makan atau penahanan dahaga di bawah terik matahari khatulistiwa. Ia adalah sebuah panggung besar di mana drama kemanusiaan, keteguhan iman, dan kehalusan budi dipentaskan dalam harmoni yang sunyi.

Di antara sekian banyak fragmen Ramadhan, momen makan sahur—atau yang kita kenal sebagai Suro’ dalam bahasa Makassar—menyimpan sebuah rahasia kecil yang bernama Kanre Ma’pa. Bagi mata yang awam, Kanre Ma’pa mungkin hanya terlihat sebagai segumpal nasi yang dipadatkan. Namun, bagi mereka yang memegang teguh nilai Sipakalabbiri, hidangan ini adalah sebuah pernyataan cinta, ketahanan, dan penghormatan yang mendalam.

Ada sebuah filosofi yang bergetar saat kepalan tangan atau sendok kayu (pappa’) mulai menekan nasi panas di atas daun pisang. Proses membuat Kanre Ma’pa bukanlah sekadar teknik kuliner, melainkan sebuah metafora tentang kehidupan orang Bugis-Makassar. Bahwa kehidupan kita seringkali diibaratkan seperti beras—berbutir-butir, tercerai-berai, dan rapuh jika berdiri sendiri.

Melalui proses Ma’pa (memadatkan), butir-butir yang buyar itu dipaksa untuk saling merapat, saling mengunci, dan menjadi satu kesatuan yang masif. Dalam konteks sahur, Kanre Ma’pa adalah simbol dari Masse’di (persatuan) keluarga. Ketika seorang ibu menekan nasi itu selagi panas mengepul di dini hari yang buta, ia sebenarnya sedang memadatkan doa. Ia ingin agar anak-anaknya dan suaminya memiliki jiwa yang “padat”—jiwa yang tidak mudah goyah oleh rasa lapar, jiwa yang tidak gampang pecah oleh godaan, dan jiwa yang memiliki isi (ilmu dan iman).

Dalam budaya kita, Sipakalabbiri—saling memuliakan—adalah puncak dari pergaulan sosial. Di meja sahur, nilai ini mewujud dalam bentuk yang sangat subtil namun kuat. Sahur adalah waktu di mana raga manusia berada dalam titik terlemahnya setelah terbangun dari lelap. Di saat itulah, menyajikan Kanre Ma’pa menjadi bentuk pemuliaan tertinggi. Mengapa? Karena nasi yang padat memberikan rasa kenyang yang lebih lama (mallino).

Secara fungsional, Tradisi membuat Kanre Ma’pa ini adalah bentuk kepedulian agar sanak keluarga tidak menderita karena kelaparan yang berlebihan di siang hari. Namun secara spiritual, Sipakalabbiri di meja sahur bermakna bahwa kita tidak membiarkan keluarga kita menghadapi ujian (puasa) dengan persiapan yang seadanya. Kita memuliakan mereka dengan menyiapkan “bekal terbaik”. Inilah yang membedakan Suro’ Sipolong (sahur bersama) kita dengan sekadar makan biasa. Ada rasa saling menjaga agar kehormatan (Siri’) sebagai seorang Muslim yang berpuasa tetap terjaga hingga bedug maghrib bertalu.

Kanre Ma’pa adalah warisan dari peradaban bahari dan agraria yang tangguh. Di kekinian, ketangguhan itu mulai luntur tertelan kepraktisan makanan instan. Padahal, proses pembuatan Kanre Ma’pa mengajarkan kita tentang Sabbara’ (kesabaran). Menunggu nasi matang dengan suhu yang pas, menahannya saat masih panas untuk dipadatkan, adalah latihan pengendalian diri yang selaras dengan esensi puasa itu sendiri.

Tradisi Ramadhan, membangunkan warga untuk bangun sahur. (foto: Blog ACT/ist)
Tradisi Ramadhan, membangunkan warga untuk bangun sahur. (foto: Blog ACT/ist)

Jika tradisi ini hilang dari meja sahur kita, maka yang hilang bukan sekadar menu makanan, melainkan ritual penguat karakter. Kita akan menjadi generasi yang “buyar” seperti nasi yang tidak dipadatkan—mudah tercerai-berai oleh isu, gampang hancur oleh tekanan hidup, dan tidak memiliki “isi” yang solid.

Kanre Ma’pa mengajarkan bahwa untuk menjadi mulia (Labbiri), seseorang harus mau ditekan oleh disiplin, harus mau menyatu dengan sesama, dan harus mampu bertahan dalam kesunyian. Maka, esok saat duduk di meja sahur dan melihat Kanre Ma’pa tersaji, lihatlah ia lebih dari sekadar karbohidrat. Lihatlah butir-butir nasi yang saling merapat itu sebagai simbol dari keluarga, bangsa, dan iman kita.

Sentuhlah teksturnya yang padat dan rasakan kehangatannya. Ingatlah bahwa di setiap butirnya ada keringat petani, ada doa ibu yang bangun di tengah malam, dan ada napas panjang para leluhur Bugis-Makassar yang telah mewariskan ketangguhan ini kepada kita. Sahur dengan Kanre Ma’pa adalah cara kita berkata kepada dunia: “Kami adalah bangsa yang memuliakan manusia, menghargai tradisi, dan teguh dalam keyakinan”. (*)

Bahan Bacaan:

Abidin, Andi Zainal. (1999). Capita Selecta Kebudayaan Sulawesi Selatan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mattulada. (1985). Latoa: Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Jakarta: Berita Idayu.

Makkulau, M. Farid W. (2026). Gerakan 30 Hari Ngeblog Ramadhan: Menulis Tradisi Bugis Makassar. Palontaraq.id.

Pelras, Christian. (2006). Manusia Bugis. Jakarta: Nalar.

Rahim, Rahman. (1985). Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis. Ujung Pandang: Hasanuddin University Press.

Wajdi, Muhammad Farid. (2025). Etnografi Kuliner Sulawesi Selatan: Simbolisme dalam Sajian Tradisional.

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pemerhati Budaya dan Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT