Oleh: Etta Adil *)
Related Post: Mahasiswi Sejarah Jepang Berkunjung ke Ponpes Putri IMMIM
PALONTARAQ.ID – Seringkali kita terjebak pada pandangan bahwa kekuatan diukur dari besarnya raga. Namun, melalui baris-baris akrostik ini, kita akan mengenal sosok Ghaziya Hafiza Nasrullah, seorang remaja dan anak pondok pesantren putri yang membuktikan bahwa kecilnya fisik hanyalah ilusi di hadapan tekad yang membaja.
Ia adalah perpaduan unik antara kecepatan di lintasan atletik dan ketajaman di meja belajar. Di balik langkah kakinya yang gesit saat menaklukkan jarak 800 meter, tersimpan kecerdasan yang mampu melintasi batas budaya melalui kefasihan berbahasa Jepang. Lebih dari sekadar prestasi, ia membawa kehangatan melalui senyum yang murah hati dan adab yang menjadi cermin keelokan budinya.
Meskipun arah masa depannya masih menjadi rahasia yang ia simpan rapat dalam hati, satu hal yang pasti: Ghaziya adalah pemenang di setiap lintasan yang ia lalui. Puisi ini adalah sebuah persembahan untuk merayakan semangat, kecerdasan, dan misteri indah tentang cita-cita yang tengah ia rajut. Selamat menyelami setiap huruf yang merangkai jati dirinya.
Si Mungil di Garis Finish
Gesit melangkah meski raga tampak mungil dan kecil
Hadirkan decak kagum, lincah bergerak bagai kancil
Atas lintasan delapan ratus meter ia melaju kencang
Zahirnya tenang, namun mental juara selalu terpancang
Ingatan tajam, cerdas berpikir di setiap langkahnya
Yakin melesat, medali emas diraih dalam genggamannya
Adap pun luhur, budi pekerti menjadi hiasan jiwanya
Hatinya ramah, senyum manis selalu menyapa sesama
Arabic tak asing, namun bahasa Jepang ia kuasai pula
Fasih berucap kata, Nihongo mengalir di sela kata
Itulah dirinya, rajin belajar menembus segala batas mata
Zat semangatnya tak pernah padam meski lelah menerpa
Ambisi yang positif, kesantunan tak pernah terlupa
Niatnya tulus dalam setiap kerja keras yang ia beri
Akan tetapi, misteri tersimpan di balik senyum ini
Seluruh prestasi telah ia kumpulkan dengan rapi
Relung hatinya masih menyimpan sebuah rahasia mimpi
Untuk jadi apa nanti, ia belum berani berbagi janji
Langkah kakinya masih menapak, mencari arah yang pasti
Langit mana yang akan ia tuju suatu saat nanti?
Antah apa cita-citanya, masih rahasia di dalam hati
Hanya doa yang mengiringi, agar sukses menjemputnya di garis henti
Minasatene-Pangkep, 4 Januari 2026
(* Etta Adil, Penikmat Puisi, Kumpulan Puisinya yang pertama, “Penjara Suci” diterbitkan Pustaka Puitika (2015).


