BerandaLiterasiPuisi: Menulis Takdir dengan Iman dan Kata

Puisi: Menulis Takdir dengan Iman dan Kata

Oleh: Etta Adil 

Related Post: Puisi “Hamalatil Qur’an”

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik ini lahir dari pemaknaan perjalanan seorang santriwati bernama Khanza Azka Sitara Hidayat—seorang penyuka puisi, penjaga makna, dan pemeluk amanah sejak usia belia. Dari Ma’rang, Pangkep, ia melangkah pasti menuju penjara suci sejak usia SMP sampai saat ini, sudah duduk di bangku kelas satu SMA  dengan jiwa yang telah akrab dengan puisi dan panggung prestasi. Bagi Khanza, bait bukan sekadar rangkaian kata, melainkan medium dakwah, keberpihakan, dan keberanian bersuara.

Ketertarikannya pada puisi nahwu cinta dan bait-bait pembelaan terhadap Palestina menunjukkan bahwa kepekaan estetiknya tumbuh seiring kesadaran sosial dan spiritual. Di ruang-ruang lain, ia menempa diri lewat dakwah, debat bahasa Arab, dan kepemimpinan sebagai ketua angkatan—menyatukan pikir, tutur, dan laku. Puisi ini menjadi cermin dari ikhtiar panjang seorang muslimah yang sedang berjuang memenuhi harapan orang tua dan meraih ridha Ilahi: cerdas dalam nalar, halus dalam rasa, dan tangguh dalam amanah.

Menulis Takdir dengan Iman dan Kata

Kukuh melangkah di bangku kelas satu SMA
Hati terpaut pada kata, puisi menjadi rumah jiwa
Aksara ia rangkai dengan rasa dan makna
Nama Khanza kerap bergema di panggung lomba puisi
Zaman ia jawab dengan pena dan keberanian
Artistik, tajam, dan penuh nurani

Arab kata mengalir dalam debat dan dakwah
Zikir dan pikir berjalan seiring
Kagum pada puisi guru—tentang nahwu cinta yang mengikat rasa
Apalagi saat bait-bait membela Palestina, ia simpan dalam dada

Suara kebenaran ia latih lewat mimbar dan forum
Intelek diasah, santriwati berprestasipun anggun terselempang
Tanggung jawab dipikul sebagai ketua angkatan
Amanah organisasi menempa kepemimpinan
Rapi menata diri, siap memimpin dan melayani
Arah hidup dituntun iman dan ilmu

Hadir dari Ma’rang, tanah Pangkep tercinta
Ikhtiar panjang ia jalani dengan sabar
Doa orang tua menjadi kekuatan utama
Ada perjuangan sunyi demi ridha-Nya
Yakin bahwa proses tak pernah mengkhianati hasil
Akal cerdas berpadu dengan jiwa tangguh
Tegaklah ia tumbuh—muslimah yang berpikir, berani, dan berdaya.

***

Minasatene-Pangkep, 27 Desember 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT