BerandaLiterasiPuisi: Muraja’ah dalam Do'a

Puisi: Muraja’ah dalam Do’a

Oleh: Etta Adil 

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Meuthya Kamaratih” ini menekankan bahwa kekuatan seorang penuntut Al-Qur’an tidak hanya diukur dari kondisi fisik, tetapi dari keteguhan hati dan kesinambungan usaha (istiqamah). Sosok Meuthya digambarkan sering sakit, namun tidak menjadikan kelemahan sebagai alasan untuk berhenti. Justru ujian menjadi bahan bakar semangatnya.

Muraja’ah dalam Do’a

Murāja’ah menjadi nafas hari, diulang walau tubuh letih.
Eternal spirit, semangat abadi menjemput ayat demi ayat suci.
Ukhuwah teman seperjuangan, menguatkan saat raga rapuh.
Tartīl dilafalkan perlahan, menata huruf dengan sabar.
Hifzh di hati disimpan, walau sakit sering datang.
Yaqīn tumbuh, keyakinan tak pernah goyah.
Adab dijaga, sebelum ilmu dipeluk erat.

Khatam menjadi cita, walau langkah tertatih.
Ayat dirangkai seperti mutiara doa.
Mujāhadah jiwa, berjuang menaklukkan lemah.
Amanah orang tua terpatri di dada.
Riyādhah kesabaran menyehatkan jiwa yang diuji.
Amal kecil dirawat agar bernilai besar.
Tawakkal menyelimuti setiap usaha.
Istiqāmah menjadi cahaya harapan.
Hafidzah impian, mahkota cinta untuk ayah dan ibu.

***

Puisi ini menggambarkan perjalanan seorang santriwati yang rapuh secara fisik namun kuat secara tekad—menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, melainkan sumber daya juang dan bakti kepada orang tua.

Inti pesannya adalah Kesungguhan menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan jiwa, bukan sekadar kemampuan mengingat dan bahwa Keterbatasan fisik bukan penghalang cita-cita jika disertai sabar dan tawakal. Justru Muraja’ah dan adab dapat menjadi fondasi keberhasilan tahfidz. Begitu pula dengan Harapan orang tua menjadi sumber motivasi yang menumbuhkan daya juang.

Tujuan akhir bukan hanya gelar hafidzah, tetapi membahagiakan orang tua dan mendekatkan diri kepada Allah. Puisi ini mengajarkan bahwa ketekunan kecil yang terus dijaga akan lebih kuat daripada semangat besar yang mudah padam. (*)

Minasatene-Pangkep, 28 Desember 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT