BerandaLiterasiPuisi: Jejak Tahfidz Seorang Santri

Puisi: Jejak Tahfidz Seorang Santri

Oleh: Etta Adil *)

PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Arifah Azizah” ini menekankan bahwa menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan proses, bukan hasil instan. Sosok Arifah digambarkan sebagai santriwati yang berangkat dari kenyamanan keluarga berada, namun memilih jalan disiplin dan kemandirian agar tidak manja. Ia berani tampil walau kemampuan belum sempurna, karena keyakinannya lebih besar daripada rasa ragu.

Puisi ini menekankan pesan bahwa Keberanian mencoba lebih penting daripada menunggu sempurna serta mempercayai bahwa Muraja’ah (mengulang) dan istiqamah adalah kunci keberhasilan dalam tahfidz maupun kehidupan.

Jejak Tahfidz Seorang Santri

(1)

Awal langkahnya seperti niat tahfidz yang terpatri,
Rutin muraja’ah walau hafalan belum sempurna lagi,
Ikhtiar mengulang ayat bagai talaqqi setiap pagi,
Fasih belum, namun berani tampil tanpa sembunyi,
Adanya tekad seperti ziyadah menambah huruf demi huruf suci,
Hafalan dirajut perlahan laksana tasmi’ yang diuji.

Anak keluarga pengusaha, namun tak ingin manja diri,
Zikirnya tumbuh seperti juz amma yang mulai dikenali,
Iman dijaga bagai hifzh di relung hati,
Zaman berganti, tekadnya tak pernah mati,
Amal dirawat seperti khatam yang dinanti,
Harapan orang tua menjelma doa yang tak henti.

(2)

Ayat demi ayat ia setorkan seperti tasmi’ harian,
Ragu kadang datang, namun muraja’ah jadi penenang,
Ingin tampil meski suara belum lantang,
Fokus meniti hafalan seperti manzil yang terentang,
Adapun kekurangan dijadikan motivasi ziyadah berulang,
Hidayah diraih lewat doa yang tak pernah hilang.

Akarnya dari keluarga berada, namun rendah hati ia pegang,
Zuhud belajar agar tak terjebak kenyamanan,
Istiqamah bagai halaqah yang terus berjalan,
Ziarah ayat menjadi pelita dalam perjalanan,
Andal dalam iman dan amal—itu tujuan,
Hadir sebagai kebanggaan orang tua sepanjang zaman.

***

Kedua puisi akrostik ini menggambarkan Arifah Azizah sebagai santriwati yang menapaki jalan tahfidz dengan keberanian, ketekunan, dan kerendahan hati—menjadikan hafalan Al-Qur’an bukan sekadar target, tetapi cahaya iman dan amal yang membanggakan keluarga. Iman dan amal harus berjalan seiring, bukan hanya hafalan di lisan tetapi juga sikap dalam perbuatan.

Puisi ini mengajarkan bahwa ketekunan, kerendahan hati, dan kedekatan dengan Al-Qur’an akan membentuk pribadi muslimah yang tangguh, dapat diandalkan, serta menjadi kebanggaan keluarga. Dengan bekal Harapan dan doa orang tua dengan sendirinya menjadi energi yang menguatkan tekad. (*)

Minasatene-Pangkep, 24 Desember 2025

(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT