Syaikh Salman al-Audah, Ulama Terkenal yang dipenjara Raja Salman

by Kontributor Palontaraq | Jumat, Mar 8, 2019 | 126 views
Syaikh Salman al-Audah

Syaikh Salman al-Audah

Oleh: M. Farid Wajdi, S.H.i

PALONTARAQ.ID – SIAPA yang tak kenal Syaikh Salman al-Audah?  Beliau salah satu ulama terkenal yang ditangkap Pemerintah Arab Saudi, setelah penangkapan Dr Safar Hawali karena tulisannya yang berjudul Al-Muslimun wal Hadhoroh Al-Ghorbiyah. 

Nama lengkap Syaikh Salman al-Audah adalah  Salman bin Fahd bin Abdullah Al-Audah. Lahir pada 14 Desember 1956 di Al-Basr dekat kota Buraida, Al-Qassim, Arab Saudi. Tahun awal ia habiskan di Al-Basr kemudian pindah ke Buraida dan disinilah beliau mulai belajar Tata Bahasa Arab, fiqh Hambali dan hadits di bawah bimbingan ulama lokal.

Syaikh Salman al-Audah menyabet gelar BA, MA dan Ph.D Hukum Islam dari Universitas Imam Muhammad ibn Su’ud.  Beberapa ulama yang menjadi gurunya adalah Syaikh Bin Baz,  Syaikh Muhammad ibn Al-Utsaimin,  Syaikh Abdullah Abdurahman Jibrin dan Syaikh Shalih.  Beliau  diangkat menjadi wakil Ketua Organisasi “An-Nashrah” Internasional, selain sebagai Sekjen Persatuan Ulama Muslim Dunia.

Syaikh Salman al-Audah adalah  Anggota Majelis Fatwa Eropa serta berbagai organisasi, yayasan sosial pendidikan di dunia Islam. Beliau juga berperan aktif dalam Muktamar-muktamar international di beberapa Negara. Di dalam negeri, ia  mengisi kajian  fiqh, tafsir, hadits, tarbiyah, akhlaq, sirahnabawiyah, aqidah, dan masalah-masalah sosial kontemporer.

Di media elektronik, Salman didapuk sebagai nasasumber dalam program Ramadhan secara live setiap hari pada channel MBC dengan tema “Hijruz Zaawiyah” dan mendapat rating tertinggi di antara Program Talkshow lainnya selama 5 tahun berturut-turut.

Syaikh Salman al-Audah juga tampil di program mingguan pada channel MBC dengan tema “Alhayaah Kalimah” yang disiarkan setelah shalat Jum’at dan mendapat rating tertinggi di antara semua Program Talkshow lainnya selama 5 tahun berturut-turut.

Selain MBC, Syaikh Salman al-Audah juga muncul di channel TV lain seperti Al-Majd, Ar-Risalah, Iqra’, Daliil, Al-Jaziirah dan lain-lain, seperti acara: Awwalutsnaiin, Qisshah Fatwa, dan Fiqhul khatha’.

Di dunia maya, Salman menjadi pembina Yayasan Al-Islam Al-Yaum atau Islam Today yang berisikan kumpulan kegiatan siaran dan bakti sosial, juga memiliki website dan majalah dengan nama Al-Islam Al-Yaum/islamtoday.net, serta dua buah channel TV yaitu Daliil dan Al-Islam Al-Yaum (الإسلاماليوم).

Di website islamtoday.net,  Syaikh Salman al-Audah mengisi artikel mingguan. Juga di majalah ‘Ukkazh Saudi Arabia, majalah Al-Wathan Qatar, majalah Al-Bilaad Bahrain, dan artikel bulanan pada rubric autobiografi website dan majalah الإسلاماليوم / islamtoday.net.

Diantara beberapa karyanya adalah Syarah Kitab Bulughul Marom, Syarah Kitab “Al-Umdah fil Fiqh”,  Tafsir “Isyraqat Qur’aniyah”, Ta’liq “Mukhtashar Shahih Muslim”,  Kitab  “If’al walaa haraj”,  Kitab “Ma’allah”,  Kitab  “Ma’almusthafa”,  Kitab “Ma’al ilmi”, Kitab “Banaatii”, Kitab “Syukran Ayyuhal a’daa”,  Kitab “Walaa yazaaluuna mukhtalifiin”,  Kitab “Thufuulatu Qalbin”,  dan Kitab “Ma’al a’laam”.

Sebab Syaikh Salman al-Audah dipenjara

Syaikh Salman Al-Audah  mulai menikmati hiruk pikuk penjara pada September 1994-1999.  Beliau  dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan melakukan kegiatan anti pemerintah. Pemilik akun twitter berfollower 14 juta ini kembali ditangkap pada 9 September 2017. Penyebabnya adalah cuitannya di twitter yang berkenaan dengan proses rekonsiliasi  Arab Saudi dan Qatar.

Otoritas Arab Saudi menindak keras pembuat dan penyebar konten penghinaan dan provokasi di media sosial (medsos). Tindakan keras itu berupa hukuman penjara lima tahun dan denda 3 juta riyal setara Rp11,9 miliar. Peringatan ini diumumkan Kejaksaan Arab Saudi melalui Twitter. Peringatan muncul setelah negara itu jadi sorotan media internasional karena memenjarakan aktivis dan ulama sebagai upaya untuk meredam perbedaan pendapat.

“Memproduksi dan mendistribusikan konten yang mengolok-olok, mengejek, memprovokasi dan mengganggu ketertiban umum, nilai-nilai agama dan moral publik melalui media sosial…akan dianggap sebagai kejahatan dunia maya yang dapat dijatuhi hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda 3 juta riyal,” bunyi pengumuman Kejaksaan Saudi di Twitter, seperti dikutip Telegraph, Kamis (06/09/2018). (*)

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response