Beranda Pesantren Ujian Semester 3 Mapel SKI Kelas VIII

Ujian Semester 3 Mapel SKI Kelas VIII

 

Tulisan Sebelumnya: Asal Usul dan Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah

Mata Pelajaran (Mapel): Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

Guru Mapel: Muhammad Farid Wajdi, S.H.i

Waktu: 60 Menit

Pengawas: Guru/Pembina Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep

Sifat Ujian: Open Book (Diperbolehkan Menggunakan Perangkat Smartphone, dengan pengawasan Guru/Pembina)

Related Post: Metode Pembelajaran SKI untuk Materi Dinasti Abbasiyah

Para Santriwati/Siswi Kelas VIII yang sedang asyik mengikuti Ujian Semester Ganjil TP.2020/2021 untuk Mapel Kepesantrenan. (foto: ist/palontaraq)
Para Santriwati/Siswi Kelas VIII B yang sedang asyik mengikuti Ujian Semester Ganjil TP.2020/2021 untuk Mapel Kepesantrenan. (foto: ist/palontaraq)

Pengantar

Materi Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) berdasar Kurikulum 2013 (K-13) untuk Siswa/Santri yang duduk di Kelas VIII Semester Ganjil terdiri atas tiga Bab sebelum Ujian Semester, yaitu:

Bab I. Dinasti Abbasiyah Membangun Peradaban Islam.

Bab II. Peradaban Islam masa Dinasti Abbasiyah.

Bab III. Khalifah dan Ilmuwan Muslim masa Dinasti Abbasiyah.

Related Post: Evaluasi Materi SKI MTs Kelas VIII: Dinasti Abbasiyah

Para Santriwati/Siswi Kelas VIII yang sedang asyik mengikuti Ujian Semester Ganjil TP.2020/2021 untuk Mapel Kepesantrenan. (foto: ist/palontaraq)
Para Santriwati/Siswi Kelas VIII A yang sedang asyik mengikuti Ujian Semester Ganjil TP.2020/2021 untuk Mapel Kepesantrenan. (foto: ist/palontaraq)

Terkait Ujian Penguasaan Pokok Bahasan dan Sub Pokok Bahasan dari ketiga Bab tersebut diatas, maka diharapkan siswa (i)/santriwati dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1. Tuliskan Silsilah Asal Usul Pendiri Dinasti Abbasiyah!

2. Jelaskan Sejarah secara singkat Berdirinya Dinasti Abbasiyah! (*Dijawab dalam bentuk memvideokan diri sendiri, menjelaskan sejarah singkat berdirinya Khilafah Dinasti Abbasiyah, kemudian dikirimkan ke nomor Whatsapp (WA) Guru SKI)

3. Tuliskan Periodisasi Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah!

4. Sebutkan Kemajuan Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dalam Bidang Ilmu Pengetahuan dan Filsafat?

5. Sebutkan Kemajuan Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dalam Bidang Sosial dan Ekonomi?

6. Sebutkan Kemajuan Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dalam Bidang Pemerintahan, Politik, dan Militer?

7. Sebutkan Ibrah atau Hikmah dari Kemajuan Peradaban Islam masa Dinasti Abbasiyah?

8. Sebutkan Khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah yang Populer dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dituliskan/diketik di kolom komentar postingan. Setelah menjawabnya, silakan tuliskan Nama, Kelas, dan NIS-nya?

Selamat Bekerja!

48 KOMENTAR

  1. 1. Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas

    3. PERIODE PERTAMA (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    • PERIODE KEDUA (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    • PERIODE KETIGA (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    • PERIODE KEEMPAT (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

    4.-Harun ar-Rasyid (adanya pembangunan Univ pertama yang bernama Nizamiyah)
    -anaknya Harun ar-Rasyid yaitu al-Makmun.

    5. Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar asia dan eropa. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum serta yang berorientasi komersial

    6. -Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    -Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    -Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    -Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    -Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

    7. Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan
    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    8. Al ma’mun pengganti harun ar rasyid

  2. 1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    2)
    3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
    4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
    b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
    c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M

  3. 1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    2)
    3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
    4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
    b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
    c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M)

  4. 1.Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas
    3.Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    2. Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    3. Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

    cliffffy4h dan 275 orang menganggap jawaban ini membantu

    TERIMA KASIH
    164
    4,5
    (111 pilih)

    2

    syakhilyafa avatar
    makasih

    abrormoch68 avatar
    terimakasih udah di bantu

    Masuk untuk menambahkan komentar
    Ada pertanyaan lain?

    CARI JAWABAN LAINNYA

    TANYAKAN PERTANYAANMU
    Pertanyaan baru di Sejarah
    19. Tentukan persamaan kuadrat yang akar-akarnya 3 dan 5
    jawaban 6. Dina eusi pedaran di luhur disebutkeun yén téma sareng eusi paguneman tehbisa rupa-rupa. Jieun hiji conto paguneman anu témana “Diajar ngal …
    15. Gambar di bawah ini adalah gam
    Petunjuk Mengkritik Suatu Karya(1) Memillid pengetahuan yang cukup tentang hal yang akan dikritik(2) [1(3) Buat catatan objektif tentang kelebihan dan …
    apakah kesan ke atas sistem tulisan masyarakat majapahit selepas tersebarnya agama islam
    24. Bacalah cerita berikut.(1)Tiba-tiba, Nataga, pemimpin perang seluruh binatang di Tana Modo, segera melesat menyeretekor birunya.(2) Mendadak, ekor …
    diketahui f:x→ax+5 dengan x€R. jika f(-2)=1 maka tentukan nilai dari f(2)!
    jelaskan yang dimaksud dengan khittah perjuangan Muhammadiyah
    Cara Abu Ja’far Al-Mansyur mengadakan perjanjian dengan lawan musuhnya yaitu… a.menculik Abu Muslim Al-Khurasani. b.memenjarakn dan mengasin …
    mengapa dakwah sunan Bonang mudah diterima tanpa paksaan?
    4.Sebutkan 3 Khalifah dinasti Abbasiyah yang berhasil membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan
    -ABU BAKAR AS SIDIQ
    -UMAR BIN KHATAB
    -USMAN BIN AFAN
    -ALI BIN ABI tholib

    -Harun ar-Rasyid (adanya pembangunan Univ pertama yang bernama Nizamiyah)
    -anaknya Harun ar-Rasyid yaitu al-Makmun.
    5.Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor
    6.Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    4. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    5. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah
    7.Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.
    8.Al ma’mun pengganti harun ar rasyid

  5. 1) Berdiri dan berkembang nya dinasti Abbasiyah merupakan salah satu jejak yang mewarnai Peradaban Islam dari tahun 132 Hijriah sampai 656 Hijriah

    -Asal usul dan sejarah berdirinya dinasti Abbasiyah

    —• Asal usul Bani Abbasiyah
    Nama Abbasiyah diambil dari nama paman nabi Muhammad SAW. Yaitu Abbas Bin abdul muthalib bin Hasyim. Bani Hasyim merupakan garis keturunan yang lebih dekat dengan nabi Muhammad SAW.
    Karena garis keturunan yang lebih dekat itulah Bani Abbasiyah merasa lebih layak memegang pemerintah dan kekuasaan Islam dibanding Bani Umayyah.

    —• Berdirinya dinasti Abbasiyah
    Dinasti Abbasiyah berdiri setelah mereka berhasil menaklukkan dinasti Umayah keturunan al Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah yaitu Abdullah al Safa BIN Muhammad bin Ali BIN Abdullah BIN Abbas.
    Berdirinya dinasti Abbasiyah tidak dapatDilepaskan dari peperangan yang berdarah dan ber gejolak antara dinasti kekuasaan sebelumnya,Yaitu dinasti Bani Umayah yg di dirikan oleh muawiyah bin abi sufyan.

    Dari Bani Hasyim pernah berkata sesungguhnya yang paling berhak menjadi pemimpin adalah dari keturunan Rasulullah S AW Iman Ahmad meriwayatkan di dalam musnadnya Dari Abu said al-Khudri bahwa Rasulullah SAW Berkata
    Artinya. “akan Boncu penguasa dari kalangan keluarga aku pada suatu zaman yang Carut Marut dan penuh dengan fitnah dia disebut Asafa dia suka memberi harta dengan jumlah yang banyak”

    Puasaan Daulah Abbasiyah ini berlangsung selama 524 tahun (132-656H). Khalifah pertama adalah Abu Abbas (133-136H/750-754M),Sedangkan Holly fa terakhir Abu Ahmad Abdullah al Mu’tashim(641-656H/1243-1258M).

  6. Nama:Cinta Nadya Dwi Azzahrah mustan
    Kelas:VIIIb
    NIS:19036
    (Jawaban)
    1.Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas.
    3.Periode Pertama 750 M – 840 M, periode pengaruh Persia pertama. – Periode Kedua 847 M – 945 M, periode pengaruh Turki pertama. – Periode Ketiga 945 M – 1005 M, periode pengaruh Persia kedua.
    4.dalam ilmu pengetahuan pada masa
    Daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu aqli.
    ilmu naqli terdiri dari Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam, IlmuTasawwuf dan Ilmu Bahasa.
    Adapaun ilmu „aqli seperti : Ilmu Kedokteran,
    ilmu Perbintangan, Ilmu Kimia, Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi.
    5.1, Bidang Sosial : pada masa Bani Abbasiyah, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas khusus dan kelas umum.
    1. Kelas khusus terdiri dari:
    a. Khalifah.
    b. Keluarga Khalifah, Bani Hasyim.
    c. Para pejabat negara.
    d. Para bangsawan yang bukan Bani Hasyim, yaitu Bani Quraisy.
    e. Para petugas khusus seperti anggota tentara dan para pegawai istana.
    2. Kelas Umum.
    a. Para seniman.
    b. Para ulama, fuqaha dan pujangga.
    c. Para saudagar dan pengusaha.
    d. Para tukang dan petani.
    Untuk menciptakan keadilan sosial kekhalifahan Dinasti Abbasiyah membuat kebijakan membentuk Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua golongan. Tugasnya untuk melayani masyarakat dari berbagai golongan. Tidak ada perbedaan suku, kelas sosial dan agama. Di dalamnya para wakil golongan bebas berpendapat di depan khalifah.
    2. bidang Ekonomi
    Perekonomian Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan dan pertanian. Di berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah terdapat kegiatan industri seperti Industri kain linen di Mesir, sutra di Syiria dan irak, kertas di Samarkand, produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan Kurma dari Irak Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.
    Untuk mendukung kegiatan perdagangan berbagai sarana pendukung didirikan seperti: membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang, membangun armada-armada dagang, membangun armada pertahanan laut untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut, dan lain-lain. Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri, karena para kafilah-kafilah dagang dapat leluasa melintasi segala negeri, bahkan kapal-kapal dagang Abbasiyah dikenal mampu mengarungi tujuh lautan.
    Dalam bidang pengembangan perdagangan Khalifah membela dan menghormati kaum petani, bahkan meringankan pajak hasil bumi dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali. Pertanian berkembang pesat karena pemerintahannya berada pada pemerintahan yang subur di tepi sungai Sawad. Tanaman asli terdiri dari gandum, padi, kurma, wijen kapas dan rami. Sayuran segar sepert, kacang, jeruk,terong, tebu dan anek ragam bunga.
    Dinasti Abbasiyah juga sudah mengenal mata uang dinar. Khalifah Abbasiyah yang pertama menerbitkan dinar adalah Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad, pada 749 M. Ia mengganti corak koin, kalimat Muhammad Rasulullah dipakai mengganti Allah Ahad, Allah Al-Samad, lam Yalid wa lam yulad, pada sisi belakang koin.
    6.sebagai sebuah kekhalifahan, Abbasiyah memberikan banyak sumbangan-sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama islam.Kemajuan yg sudah terlaksanakan dlm bidang pastinya tdk akan terlepas.di semua militer terdapat perbedaan karakteristik yg mencolok antara pemerintah ummayah, dan dinasti abbasiyah.PEMERINTAH UMMAYAH orientasi kebijakan,selalu ada upaya perluasan wilayah kekuasaan,sedangkan PEMERINTAH ABBASIYAH lebih memfokuskan diri untuk ilmu pengetahuan, dan peradaban agama islam
    7. -dibutuhkan nya figur pemimpin yang bisa menyatukan barisan umat Islam.
    -kebudayaan yang positif dapat memperkuat persatuan dan kesatuan.
    -pentingnya persatuan dalam umat Islam.
    -perlunya membangun kualitas umat melalui mendidikan yang bermutu.
    -peran militer yang kuat dalam melindungi umat dan bangsa.
    memperkukuh basis ekonomi melalui industri.
    8.•Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah,yg mematahkan kekuasaan Dinasti Umayyah yang didirikan Muawiyah. …
    •Abu Ja’far al-Manshur, , ia berhasil memunculkan ghirah dunia Muslim terhadap ilmu pengetahuan. …
    •Harun ar-Rasyid, Ia mendirikan Bayt al-Hikmah, sebuah perpustakaan terbesar pada zamannya.

  7. 1.nama abbasiyah diambil dari paman Nabi Muhammad SAW, yaitu abbas bin abdul Muthalib bin hasyim bani Hasyim merupakan garis keturunan yang lebih dekat dengan nabi Muhammad SAW karena Dinasti abbasiyah ini merupakan Dinasti terlama sepanjang sejarah kekuasaan islam ahmad syalabi membaginya menjadi 3 periode
    3.periode abbasiyah(132-232h/750-847m)
    Periode abbasiyah 2(232-334h/847-946m)
    4.khalifah harun ar rasyid salah satu khalifah daulah BNI abbasiyah yang terkenal karena kesuksesan
    5.sangat maju
    6.sangat maju
    7.masa kekuasaan khulafaur rasyidin digantikan oleh Dinasti Bani Umayyah dan setelah runtuh dilanjutkan oleh pemerintahan daulah bani Abbasiyah
    8.menerima dan menjalankan ajaran agama dan dianutnya
    Menghayati da n mengamalkan perilaku jujur

  8. 1.1. ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin abdi Manaf bin hasyim

    3. Masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 132 H – 232 H.
    Masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 232 H – 334 H.
    Masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 334 H – 447 H.
    Masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljuqiyak), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 447 H – 530 H.
    Masa gerak balik kekuasaan politik khalifah-khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari tahun 53 H sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.

    4.. Kemajuan di Bidang Ilmiah

    Terdapat aktifitas ilmiah yang berlansung dikalangan umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dimana hal ini mengantar mereka mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan.

    a. Penyusunan buku-buku ilmiah

    Akitivitas penyusunan buku ini melalui beberapa proses dimana masyarakat Islam pada saat itu hanya mengandalkan hafalan hal ini bertahan sampai pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid.[5] Kemudian pencatatan pemikiran seperti ilmu hadits kemudian dirangkap, lalu diadakan pembukuan pemikiran-pemikiran atau hadits-hadits Rasulullah dalam satu buku seperti fiqhi, tafsir, hadits. Dan terakhir disusun dan diatur kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu.[6]

    b. Penterjemahan

    Penterjemahan merupakan aktivitas yang paling besar peranannya dalam mentrasfer ilmu pengetahuan yang berasal dari buku-buku bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta, Yunani ke dalam bahasa Arab. Ketika pemerintahan Abbasyiah ini sudah kokoh, terutama pada masa al-Mansyur, Harun al –Rasyid dan al-Ma’mun, maka dari itu mereka mengirim misi untuk membawa kembali hasil karya ilmiah, yang baik dalam bidang filsafat, logika, kedokteran, matematika, astrologi, geografi serta sejarah. Kemudian memerintahkan agar hasil karya mereka diterjemahkan dalam bahasa Arab.[7]

    c. Pensyarahan

    Sebelum memasuki abad ke 10 M. kegiatan kaum muslimin tidak hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan (penjelasan) dan melakukan tahqiq (pengeditan), pada awalnya muncul dalam bentuk karya tulis, lalu dipadukan dalam berbagai pemikiran dan petikan, analisis dan kritis yang disusun dalam bentuk bab-bab dan pasal-pasal, bahkan dengan keahlian mereka, hasil kritik dan analisis itu dapat melahirkan teori-teori baru, seperti memisahkan aljabar dengan ilmu hisab yang pada ahlinya menjadi ilmu tersendiri secara sistematis.[8] Pada masa inilah lahirnya karya-kaya ulama yang telah tersusun rapi.

    2. Kemajuan dalam Bidang Pendidikan

    Kemajuan dalam bidang pendidikan ini, bukan berarti nanti pada masa pemerintahan Abbasyiah akan tetapi diawal Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Hal ini dapat diketahui dengan adanya pendidikan terdiri dua tingkat yang pertama, Maktab dan mesjid sebagai pendidikan terindah tempat anak-anak mengenal dasar bacaan, hitungan dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqih dan bahasa, yang kedua tingkat pendalaman, para pelajar ingin meningkatkan ilmunya keluar daerah menuntut ilmu kepda seorang, biasanya berlangsung di mesjid-mesjid atau rumah ulama yang bersangkutan. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut semakin berkembang dengan berdirinya perpustakaan dan akademi, dimana perpustakaan pada masa itu merupakan sebuah universitas karena terdapat buku-buku, orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi dan terjadinya penterjemahan diberbagai macam ilmu ke dalam bahasa Arab.

    3. Kemajuan Ilmu di Bidang Agama

    Pada zaman Dinasti Abbasiyah telah terjadi semacam pembagian wawasan dalam bidang keilmuan menjadi ilmu-ilmu agama (naqli) dan ilmu-ilmu duniawi (aqli) namun yang dimaksud dengan ilmu-ilmu agama, menurut Ahmad Amin adalah ilmu-ilmu yang bersumber baik secara lansung maupun tidak lansung dari agama dengan bahasa Al_Quran.[9] Dalam batasan ini termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu agama adalah tafsir, hadits, fiqih, bahasa Arab dan ilmu Kalam.

    a. Ilmu Tafsir

    Kemajuan yang telah dicapai ilmu tafsir pada masa ini adalah berpisahnya dari ilmu hadits, dan terjadi penafsiran secara sistematis. Tafsir pada masa itu terbagi ke dalam dua bentuk :

    1. Tafsir bi-al-ma’tsur yaitu model penafsiran Al-Quran dengan menggunakan interpretasi Nabi dan sahabat-sahabat terkemuka, diantara ahli tafsirnya adalah al-Thabari (w. 310 H). yang berjudul Jami al-Bayan fi Tafsir Al-Quran yang terdiri atas 30 jilid.[10]

    2. Tafsir bi al-ra’yi yaitu model penafsiran yang lebih banyak bertumpu pada kekuatan nalar, diantara ahli tafsir dalam metode ini yang lebih banyak dipelopori dari aliran Mu’tazilah seperti Abu Bakar al-Sham (w. 240 H). Jadi pada masa inilah semakin berkembang interpretasi Al-Quran, hal ini dipengaruhi oleh perkembanagan-perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
    5.Jawaban:

    1, Bidang Sosial : pada masa Bani Abbasiyah, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas khusus dan kelas umum.

    1. Kelas khusus terdiri dari:

    a. Khalifah.

    b. Keluarga Khalifah, Bani Hasyim.

    c. Para pejabat negara.

    d. Para bangsawan yang bukan Bani Hasyim, yaitu Bani Quraisy.

    e. Para petugas khusus seperti anggota tentara dan para pegawai istana.

    2. Kelas Umum.

    a. Para seniman.

    b. Para ulama, fuqaha dan pujangga.

    c. Para saudagar dan pengusaha.

    d. Para tukang dan petani.

    Untuk menciptakan keadilan sosial kekhalifahan Dinasti Abbasiyah membuat kebijakan membentuk Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua golongan. Tugasnya untuk melayani masyarakat dari berbagai golongan. Tidak ada perbedaan suku, kelas sosial dan agama. Di dalamnya para wakil golongan bebas berpendapat di depan khalifah.

    2. bidang Ekonomi

    Perekonomian Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan dan pertanian. Di berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah terdapat kegiatan industri seperti Industri kain linen di Mesir, sutra di Syiria dan irak, kertas di Samarkand, produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan Kurma dari Irak Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.

    Untuk mendukung kegiatan perdagangan berbagai sarana pendukung didirikan seperti: membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang, membangun armada-armada dagang, membangun armada pertahanan laut untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut, dan lain-lain. Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri, karena para kafilah-kafilah dagang dapat leluasa melintasi segala negeri, bahkan kapal-kapal dagang Abbasiyah dikenal mampu mengarungi tujuh lautan.

    Dalam bidang pengembangan perdagangan Khalifah membela dan menghormati kaum petani, bahkan meringankan pajak hasil bumi dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali. Pertanian berkembang pesat karena pemerintahannya berada pada pemerintahan yang subur di tepi sungai Sawad. Tanaman asli terdiri dari gandum, padi, kurma, wijen kapas dan rami. Sayuran segar sepert, kacang, jeruk,terong, tebu dan anek ragam bunga.

    Dinasti Abbasiyah juga sudah mengenal mata uang dinar. Khalifah Abbasiyah yang pertama menerbitkan dinar adalah Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad, pada 749 M. Ia mengganti corak koin, kalimat Muhammad Rasulullah dipakai mengganti Allah Ahad, Allah Al-Samad, lam Yalid wa lam yulad, pada sisi belakang koin.

    3. Bidang Budaya

    Di masa Bani Abbassiyah terjadinya asimilasi Arab dengan non Arab dan perluasan wilayah telah melahirkan kemajemukan warga negara. Warga negara terdiri dari berbagai suku bangsa, dan agama. Ada empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi bangunan kebudayaan pada masa Abbasiyah, yaitu:

    a. Kebudayaan Persia; pengaruh kebudayaan Persia 2 faktor :

    1. Pembentukan lembaga wizarah.

    2. .Pemindahan ibukota.

    b.Kebudayaan India; pengaruh dengan dua cara:

    1. Secara langsung, kaum muslimin berhubungan dengan orang-orang India. diantaranya melalui perdagangan.

    2.Secara tidak langsung, kebudayaan India masuk ke dalam kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.

    c. Kebudayaan Yunani; pusat-pusat kebudayaan Yunani setelah berada di tangan kaum muslimin dilakukan perubahan dan pengembangan diantaranya: 1. Jundaisabur, sekolah tinggi kedokteran berbahasa Yunani.

    2. Harran, pusat pertemuan berbagai peradaban.

    3. Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani,

    d.. Kebudayaan Arab; pengaruh kebudayaan Arab masuk melalui penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dan bahasa agama.
    6. sebagai sebuah kekhalifahan, Abbasiyah memberikan banyak sumbangan-sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama islam.Kemajuan yg sudah terlaksanakan dlm bidang pastinya tdk akan terlepas.di semua militer terdapat perbedaan karakteristik yg mencolok antara pemerintah ummayah, dan dinasti abbasiyah.PEMERINTAH UMMAYAH orientasi kebijakan,selalu ada upaya perluasan wilayah kekuasaan,sedangkan PEMERINTAH ABBASIYAH lebih memfokuskan diri untuk ilmu pengetahuan, dan peradaban agama islam
    7.Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    Munculnya kelompok masyarakat pada masa Dinasti Abbasiyah terbagi dalam beberapa kelas:

    a. Kaum muslim arab

    b. Kaum muslim non-arab (Mawali)

    c. Kaum zimmi

    Beberapa kelas tersebut memiliki persamaan hak sebagai warga negara. Beberapa golongan kaum muslim non-arab bahkan memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Mereka adalah keluarga Barmak, Dinasti Buwaiyah, dan Dianti Saljuk.

    8.1.      Abul Abbas As-Saffah (Khalifah pertama dan pendiri dinasti)
     
    Abul Abbas As-Saffah (722-754 M) adalah pemimpin dan khalifah pertama dari Bani Abassiyah.
     
    Dia lahir dari keluarga Banu Hisham, dan merupakan keturunan dari Abbas ibn Abdul Munthalib, paman dari Nabi Muhammad. Hubungan darah dengan Nabi Muhammad ini membuatnya menjadi figur pusat dari perlawanan melawan Bani Umayyah.
     
    Nama “As-Saffah” adalah julukan yang berarti “Sang Penumpah Darah”. Julukan ini diberikan karena dia sering membantai lawan politiknya.
     
    As-Safah memulai pemberontakannya dari Khurasan, wilayah yang sekarang merupakan bagian timur Iran dan barat Afghanistan. Dari wilayah ini, As-Safah memimpin pasukan Abbasiyyah hingga mencapai kemenangan atas Bani Umayyah pada pertempuran di Sungai Zab, Iraq pada tahun 750.
     
    2.      Abu Jafar Al-Mansur (Khalifah kedua dan pendiri kota Baghdad)
     
    Abu Ja’far Abdallah ibn Muhammad al-Mansur (714-775) adalah saudara dari As-Saffah  dan khalifah kedua dari Bani Abassiyah. Al-Mansur dianggap sebagai tokoh penting berdirinya Bani Abassiyah, sebagai pemimpin perang melawan Bani Umayyah dan sebagai pendiri ibu kota baru Bani Abbasiyyah, Madinat As-Salam, atau yang lebih sebagai Baghdad.
     
    3.      Harun Al-Rashid (Khalifah kelima dan paling terkenal)
     
    Harun al-Rashid (766 -809) adalah khalifah kelima, yang naik tahta pada tahun 786 M. Pada masa pemerintahannya Bani Abbasiyyah mencapa puncak kekuasaan. Secara militer, Bani Abbasiyyah mampu mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur dan memaksanya membayar upeti.
     
    Khalifah ini dikenal sebagai pemimpin terbesar pada masa Bani Abbasiyyah dan namanya disebut dalam ceria Seribu Satu Malam.
     
    4.      Al-Ma’mun (Khalifah ketujuh dan pendiri Baitul Hikmah)
     
    Abu al-Abbas al-Maʾmūn ibn Hārūn al-Rashīd (786 – 833) adalah anah dari Harun al-Rasyid, yang menjadi khalifah setelah mengalahkan saudaranya, Al-Amin, dalam perang saudara.
     
    Dalam bidang ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah, lembaga penterjemah yang menterjemahkan kitab dari Yunani Kuno dan India, yang menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan di Abad Pertengahan.

  9. 1.1. ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin abdi Manaf bin hasyim

    3. Masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 132 H – 232 H.
    Masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 232 H – 334 H.
    Masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 334 H – 447 H.
    Masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljuqiyak), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 447 H – 530 H.
    Masa gerak balik kekuasaan politik khalifah-khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari tahun 53 H sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.

    4.. Kemajuan di Bidang Ilmiah

    Terdapat aktifitas ilmiah yang berlansung dikalangan umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dimana hal ini mengantar mereka mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan.

    a. Penyusunan buku-buku ilmiah

    Akitivitas penyusunan buku ini melalui beberapa proses dimana masyarakat Islam pada saat itu hanya mengandalkan hafalan hal ini bertahan sampai pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid.[5] Kemudian pencatatan pemikiran seperti ilmu hadits kemudian dirangkap, lalu diadakan pembukuan pemikiran-pemikiran atau hadits-hadits Rasulullah dalam satu buku seperti fiqhi, tafsir, hadits. Dan terakhir disusun dan diatur kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu.[6]

    b. Penterjemahan

    Penterjemahan merupakan aktivitas yang paling besar peranannya dalam mentrasfer ilmu pengetahuan yang berasal dari buku-buku bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta, Yunani ke dalam bahasa Arab. Ketika pemerintahan Abbasyiah ini sudah kokoh, terutama pada masa al-Mansyur, Harun al –Rasyid dan al-Ma’mun, maka dari itu mereka mengirim misi untuk membawa kembali hasil karya ilmiah, yang baik dalam bidang filsafat, logika, kedokteran, matematika, astrologi, geografi serta sejarah. Kemudian memerintahkan agar hasil karya mereka diterjemahkan dalam bahasa Arab.[7]

    c. Pensyarahan

    Sebelum memasuki abad ke 10 M. kegiatan kaum muslimin tidak hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan (penjelasan) dan melakukan tahqiq (pengeditan), pada awalnya muncul dalam bentuk karya tulis, lalu dipadukan dalam berbagai pemikiran dan petikan, analisis dan kritis yang disusun dalam bentuk bab-bab dan pasal-pasal, bahkan dengan keahlian mereka, hasil kritik dan analisis itu dapat melahirkan teori-teori baru, seperti memisahkan aljabar dengan ilmu hisab yang pada ahlinya menjadi ilmu tersendiri secara sistematis.[8] Pada masa inilah lahirnya karya-kaya ulama yang telah tersusun rapi.

    2. Kemajuan dalam Bidang Pendidikan

    Kemajuan dalam bidang pendidikan ini, bukan berarti nanti pada masa pemerintahan Abbasyiah akan tetapi diawal Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Hal ini dapat diketahui dengan adanya pendidikan terdiri dua tingkat yang pertama, Maktab dan mesjid sebagai pendidikan terindah tempat anak-anak mengenal dasar bacaan, hitungan dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqih dan bahasa, yang kedua tingkat pendalaman, para pelajar ingin meningkatkan ilmunya keluar daerah menuntut ilmu kepda seorang, biasanya berlangsung di mesjid-mesjid atau rumah ulama yang bersangkutan. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut semakin berkembang dengan berdirinya perpustakaan dan akademi, dimana perpustakaan pada masa itu merupakan sebuah universitas karena terdapat buku-buku, orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi dan terjadinya penterjemahan diberbagai macam ilmu ke dalam bahasa Arab.

    3. Kemajuan Ilmu di Bidang Agama

    Pada zaman Dinasti Abbasiyah telah terjadi semacam pembagian wawasan dalam bidang keilmuan menjadi ilmu-ilmu agama (naqli) dan ilmu-ilmu duniawi (aqli) namun yang dimaksud dengan ilmu-ilmu agama, menurut Ahmad Amin adalah ilmu-ilmu yang bersumber baik secara lansung maupun tidak lansung dari agama dengan bahasa Al_Quran.[9] Dalam batasan ini termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu agama adalah tafsir, hadits, fiqih, bahasa Arab dan ilmu Kalam.

    a. Ilmu Tafsir

    Kemajuan yang telah dicapai ilmu tafsir pada masa ini adalah berpisahnya dari ilmu hadits, dan terjadi penafsiran secara sistematis. Tafsir pada masa itu terbagi ke dalam dua bentuk :

    1. Tafsir bi-al-ma’tsur yaitu model penafsiran Al-Quran dengan menggunakan interpretasi Nabi dan sahabat-sahabat terkemuka, diantara ahli tafsirnya adalah al-Thabari (w. 310 H). yang berjudul Jami al-Bayan fi Tafsir Al-Quran yang terdiri atas 30 jilid.[10]

    2. Tafsir bi al-ra’yi yaitu model penafsiran yang lebih banyak bertumpu pada kekuatan nalar, diantara ahli tafsir dalam metode ini yang lebih banyak dipelopori dari aliran Mu’tazilah seperti Abu Bakar al-Sham (w. 240 H). Jadi pada masa inilah semakin berkembang interpretasi Al-Quran, hal ini dipengaruhi oleh perkembanagan-perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
    5.Jawaban:

    1, Bidang Sosial : pada masa Bani Abbasiyah, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas khusus dan kelas umum.

    1. Kelas khusus terdiri dari:

    a. Khalifah.

    b. Keluarga Khalifah, Bani Hasyim.

    c. Para pejabat negara.

    d. Para bangsawan yang bukan Bani Hasyim, yaitu Bani Quraisy.

    e. Para petugas khusus seperti anggota tentara dan para pegawai istana.

    2. Kelas Umum.

    a. Para seniman.

    b. Para ulama, fuqaha dan pujangga.

    c. Para saudagar dan pengusaha.

    d. Para tukang dan petani.

    Untuk menciptakan keadilan sosial kekhalifahan Dinasti Abbasiyah membuat kebijakan membentuk Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua golongan. Tugasnya untuk melayani masyarakat dari berbagai golongan. Tidak ada perbedaan suku, kelas sosial dan agama. Di dalamnya para wakil golongan bebas berpendapat di depan khalifah.

    2. bidang Ekonomi

    Perekonomian Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan dan pertanian. Di berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah terdapat kegiatan industri seperti Industri kain linen di Mesir, sutra di Syiria dan irak, kertas di Samarkand, produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan Kurma dari Irak Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.

    Untuk mendukung kegiatan perdagangan berbagai sarana pendukung didirikan seperti: membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang, membangun armada-armada dagang, membangun armada pertahanan laut untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut, dan lain-lain. Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri, karena para kafilah-kafilah dagang dapat leluasa melintasi segala negeri, bahkan kapal-kapal dagang Abbasiyah dikenal mampu mengarungi tujuh lautan.

    Dalam bidang pengembangan perdagangan Khalifah membela dan menghormati kaum petani, bahkan meringankan pajak hasil bumi dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali. Pertanian berkembang pesat karena pemerintahannya berada pada pemerintahan yang subur di tepi sungai Sawad. Tanaman asli terdiri dari gandum, padi, kurma, wijen kapas dan rami. Sayuran segar sepert, kacang, jeruk,terong, tebu dan anek ragam bunga.

    Dinasti Abbasiyah juga sudah mengenal mata uang dinar. Khalifah Abbasiyah yang pertama menerbitkan dinar adalah Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad, pada 749 M. Ia mengganti corak koin, kalimat Muhammad Rasulullah dipakai mengganti Allah Ahad, Allah Al-Samad, lam Yalid wa lam yulad, pada sisi belakang koin.

    3. Bidang Budaya

    Di masa Bani Abbassiyah terjadinya asimilasi Arab dengan non Arab dan perluasan wilayah telah melahirkan kemajemukan warga negara. Warga negara terdiri dari berbagai suku bangsa, dan agama. Ada empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi bangunan kebudayaan pada masa Abbasiyah, yaitu:

    a. Kebudayaan Persia; pengaruh kebudayaan Persia 2 faktor :

    1. Pembentukan lembaga wizarah.

    2. .Pemindahan ibukota.

    b.Kebudayaan India; pengaruh dengan dua cara:

    1. Secara langsung, kaum muslimin berhubungan dengan orang-orang India. diantaranya melalui perdagangan.

    2.Secara tidak langsung, kebudayaan India masuk ke dalam kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.

    c. Kebudayaan Yunani; pusat-pusat kebudayaan Yunani setelah berada di tangan kaum muslimin dilakukan perubahan dan pengembangan diantaranya: 1. Jundaisabur, sekolah tinggi kedokteran berbahasa Yunani.

    2. Harran, pusat pertemuan berbagai peradaban.

    3. Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani,

    d.. Kebudayaan Arab; pengaruh kebudayaan Arab masuk melalui penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dan bahasa agama.
    6. sebagai sebuah kekhalifahan, Abbasiyah memberikan banyak sumbangan-sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama islam.Kemajuan yg sudah terlaksanakan dlm bidang pastinya tdk akan terlepas.di semua militer terdapat perbedaan karakteristik yg mencolok antara pemerintah ummayah, dan dinasti abbasiyah.PEMERINTAH UMMAYAH orientasi kebijakan,selalu ada upaya perluasan wilayah kekuasaan,sedangkan PEMERINTAH ABBASIYAH lebih memfokuskan diri untuk ilmu pengetahuan, dan peradaban agama islam
    7.Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    Munculnya kelompok masyarakat pada masa Dinasti Abbasiyah terbagi dalam beberapa kelas:

    a. Kaum muslim arab

    b. Kaum muslim non-arab (Mawali)

    c. Kaum zimmi

    Beberapa kelas tersebut memiliki persamaan hak sebagai warga negara. Beberapa golongan kaum muslim non-arab bahkan memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Mereka adalah keluarga Barmak, Dinasti Buwaiyah, dan Dianti Saljuk.

    8. .      Abul Abbas As-Saffah (Khalifah pertama dan pendiri dinasti)
     
    Abul Abbas As-Saffah (722-754 M) adalah pemimpin dan khalifah pertama dari Bani Abassiyah.
     
    Dia lahir dari keluarga Banu Hisham, dan merupakan keturunan dari Abbas ibn Abdul Munthalib, paman dari Nabi Muhammad. Hubungan darah dengan Nabi Muhammad ini membuatnya menjadi figur pusat dari perlawanan melawan Bani Umayyah.
     
    Nama “As-Saffah” adalah julukan yang berarti “Sang Penumpah Darah”. Julukan ini diberikan karena dia sering membantai lawan politiknya.
     
    As-Safah memulai pemberontakannya dari Khurasan, wilayah yang sekarang merupakan bagian timur Iran dan barat Afghanistan. Dari wilayah ini, As-Safah memimpin pasukan Abbasiyyah hingga mencapai kemenangan atas Bani Umayyah pada pertempuran di Sungai Zab, Iraq pada tahun 750.
     
    2.      Abu Jafar Al-Mansur (Khalifah kedua dan pendiri kota Baghdad)
     
    Abu Ja’far Abdallah ibn Muhammad al-Mansur (714-775) adalah saudara dari As-Saffah  dan khalifah kedua dari Bani Abassiyah. Al-Mansur dianggap sebagai tokoh penting berdirinya Bani Abassiyah, sebagai pemimpin perang melawan Bani Umayyah dan sebagai pendiri ibu kota baru Bani Abbasiyyah, Madinat As-Salam, atau yang lebih sebagai Baghdad.
     
    3.      Harun Al-Rashid (Khalifah kelima dan paling terkenal)
     
    Harun al-Rashid (766 -809) adalah khalifah kelima, yang naik tahta pada tahun 786 M. Pada masa pemerintahannya Bani Abbasiyyah mencapa puncak kekuasaan. Secara militer, Bani Abbasiyyah mampu mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur dan memaksanya membayar upeti.
     
    Khalifah ini dikenal sebagai pemimpin terbesar pada masa Bani Abbasiyyah dan namanya disebut dalam ceria Seribu Satu Malam.
     
    4.      Al-Ma’mun (Khalifah ketujuh dan pendiri Baitul Hikmah)
     
    Abu al-Abbas al-Maʾmūn ibn Hārūn al-Rashīd (786 – 833) adalah anah dari Harun al-Rasyid, yang menjadi khalifah setelah mengalahkan saudaranya, Al-Amin, dalam perang saudara.
     
    Dalam bidang ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah, lembaga penterjemah yang menterjemahkan kitab dari Yunani Kuno dan India, yang menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan di Abad Pertengahan.

  10. Nama:rismawati/kelas:VIII A/NIS:19023
    Jawaban
    1.abdullah bin al-saffah bin muhammad ali bin abdullah bin al-abbas bin abdullah muthalib bin abdi manaf bin hasyim
    2.OTW VIDEONYA ETTA”)
    3.1.PERIODE PERTAMA 750-M-840 M,PERIODE PENGARUH PERISA PERTAMA.-PERIODE KEDUA 874 M-945 M,PERIODE PENGARUH TURKI PERTAMA.PERIODE KETIGA 945 M-1005 M,PERIODE PENGARUH PERSIA KEDUA
    4.PERKEMBANGAN ILMU PENGATAHUAN DAN SASTRA SENI.GERAKAN PENERJEMAHAN DAN ARABISASI MENDIRIKAN PUSAT KEGIATAN ILMIAH DI KUFAH DAN BASHRAH YANG AKHIRNYA MEMUNCULKAN NAMA NAMA BESAR
    5.MEMINDAHKAN PUSAT PEMERINTAHAN DARI DAMASKUS KE BAGHDAD.
    MEMBENTUK WIRASAT UNTUK MEMBANTU KHALIFAH DALAM MENJALANKAN PEMERINTAHAN NEGARA.
    MEMBENTUK DIWANUL KITAABAH YANG TUGASNYA MENJALANKAN TATA USAHA.
    6.SEBAGAI SEBUAH KEKHALIFAHAN,ABBASIYAH MEMBERIKAN BANYAK PERKEMBANGANSUMBANGAN POSITIF BAGI PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN AGAMA ISLAM,KEMAJUAN YANG SUDAH TERLAKSANAKAN DALAN BIDANG PASTINYA TIDAK AKAN TERLEPAS.DI SEMUA MILITER TERDAPAT PERBEDAAN KARAKTERISTIK YANG MENCOLOK ANTARA PEMERINTAHAN UMMAYAH ORIENTASI KEBIJAKAN,SELALU AD UPAYA PERLUASAN WILAYAH KEKUASAAN,SEDANGAKAN PEMERINTAHAN ABBASIYAH LEBIH MEMFOKUSKAN DIRI UNTUK ILMU PENGETAHUAN DAN PERADABAN AGAMA ISLAM
    7.KEPIMPINAN,KESEHATAN,PERTANIAN,PENDIDIKAN,KETELADANAN TERHADAP ILMUWAN,KETELADANAN TERHADAPA SHALUDDIN
    8.ABU ABBAS ,AS-SAFA,ABU JAFAR,AL-MANSYUR,HARUN AR-RASYID AL MAKMUM,AL-MU’TAZIM DAN AL-WATSIK

  11. 1.Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas

    3.Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    -. Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    -Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    – Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

    Pertanyaan baru di Sejarah
    19. Tentukan persamaan kuadrat yang akar-akarnya 3 dan 5
    jawaban 6. Dina eusi pedaran di luhur disebutkeun yén téma sareng eusi paguneman tehbisa rupa-rupa. Jieun hiji conto paguneman anu témana “Diajar ngal …
    15. Gambar di bawah ini adalah gam
    Petunjuk Mengkritik Suatu Karya(1) Memillid pengetahuan yang cukup tentang hal yang akan dikritik(2) [1(3) Buat catatan objektif tentang kelebihan dan …
    apakah kesan ke atas sistem tulisan masyarakat majapahit selepas tersebarnya agama islam
    24. Bacalah cerita berikut.(1)Tiba-tiba, Nataga, pemimpin perang seluruh binatang di Tana Modo, segera melesat menyeretekor birunya.(2) Mendadak, ekor …
    diketahui f:x→ax+5 dengan x€R. jika f(-2)=1 maka tentukan nilai dari f(2)!
    jelaskan yang dimaksud dengan khittah perjuangan Muhammadiyah
    Cara Abu Ja’far Al-Mansyur mengadakan perjanjian dengan lawan musuhnya yaitu… a.menculik Abu Muslim Al-Khurasani. b.memenjarakn dan mengasin …
    mengapa dakwah sunan Bonang mudah diterima tanpa paksaan
    Sejarah

    -ABU BAKAR AS SIDIQ
    -UMAR BIN KHATAB
    -USMAN BIN AFAN
    -ALI BIN ABI TALIB.

    -Harun ar-Rasyid (adanya pembangunan Univ pertama yang bernama Nizamiyah)
    -anaknya Harun ar-Rasyid yaitu al-Makmun.
    Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar asia dan eropa. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum serta yang berorientasi komersial

    Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    4. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    5. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, et, dan

  12. 1. ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin abdi Manaf bin hasyim

    3. Masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 132 H – 232 H.
    Masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 232 H – 334 H.
    Masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 334 H – 447 H.
    Masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljuqiyak), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 447 H – 530 H.
    Masa gerak balik kekuasaan politik khalifah-khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari tahun 53 H sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.

    4.. Kemajuan di Bidang Ilmiah

    Terdapat aktifitas ilmiah yang berlansung dikalangan umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dimana hal ini mengantar mereka mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan.

    a. Penyusunan buku-buku ilmiah

    Akitivitas penyusunan buku ini melalui beberapa proses dimana masyarakat Islam pada saat itu hanya mengandalkan hafalan hal ini bertahan sampai pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid.[5] Kemudian pencatatan pemikiran seperti ilmu hadits kemudian dirangkap, lalu diadakan pembukuan pemikiran-pemikiran atau hadits-hadits Rasulullah dalam satu buku seperti fiqhi, tafsir, hadits. Dan terakhir disusun dan diatur kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu.[6]

    b. Penterjemahan

    Penterjemahan merupakan aktivitas yang paling besar peranannya dalam mentrasfer ilmu pengetahuan yang berasal dari buku-buku bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta, Yunani ke dalam bahasa Arab. Ketika pemerintahan Abbasyiah ini sudah kokoh, terutama pada masa al-Mansyur, Harun al –Rasyid dan al-Ma’mun, maka dari itu mereka mengirim misi untuk membawa kembali hasil karya ilmiah, yang baik dalam bidang filsafat, logika, kedokteran, matematika, astrologi, geografi serta sejarah. Kemudian memerintahkan agar hasil karya mereka diterjemahkan dalam bahasa Arab.[7]

    c. Pensyarahan

    Sebelum memasuki abad ke 10 M. kegiatan kaum muslimin tidak hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan (penjelasan) dan melakukan tahqiq (pengeditan), pada awalnya muncul dalam bentuk karya tulis, lalu dipadukan dalam berbagai pemikiran dan petikan, analisis dan kritis yang disusun dalam bentuk bab-bab dan pasal-pasal, bahkan dengan keahlian mereka, hasil kritik dan analisis itu dapat melahirkan teori-teori baru, seperti memisahkan aljabar dengan ilmu hisab yang pada ahlinya menjadi ilmu tersendiri secara sistematis.[8] Pada masa inilah lahirnya karya-kaya ulama yang telah tersusun rapi.

    2. Kemajuan dalam Bidang Pendidikan

    Kemajuan dalam bidang pendidikan ini, bukan berarti nanti pada masa pemerintahan Abbasyiah akan tetapi diawal Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Hal ini dapat diketahui dengan adanya pendidikan terdiri dua tingkat yang pertama, Maktab dan mesjid sebagai pendidikan terindah tempat anak-anak mengenal dasar bacaan, hitungan dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqih dan bahasa, yang kedua tingkat pendalaman, para pelajar ingin meningkatkan ilmunya keluar daerah menuntut ilmu kepda seorang, biasanya berlangsung di mesjid-mesjid atau rumah ulama yang bersangkutan. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut semakin berkembang dengan berdirinya perpustakaan dan akademi, dimana perpustakaan pada masa itu merupakan sebuah universitas karena terdapat buku-buku, orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi dan terjadinya penterjemahan diberbagai macam ilmu ke dalam bahasa Arab.

    3. Kemajuan Ilmu di Bidang Agama

    Pada zaman Dinasti Abbasiyah telah terjadi semacam pembagian wawasan dalam bidang keilmuan menjadi ilmu-ilmu agama (naqli) dan ilmu-ilmu duniawi (aqli) namun yang dimaksud dengan ilmu-ilmu agama, menurut Ahmad Amin adalah ilmu-ilmu yang bersumber baik secara lansung maupun tidak lansung dari agama dengan bahasa Al_Quran.[9] Dalam batasan ini termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu agama adalah tafsir, hadits, fiqih, bahasa Arab dan ilmu Kalam.

    a. Ilmu Tafsir

    Kemajuan yang telah dicapai ilmu tafsir pada masa ini adalah berpisahnya dari ilmu hadits, dan terjadi penafsiran secara sistematis. Tafsir pada masa itu terbagi ke dalam dua bentuk :

    1. Tafsir bi-al-ma’tsur yaitu model penafsiran Al-Quran dengan menggunakan interpretasi Nabi dan sahabat-sahabat terkemuka, diantara ahli tafsirnya adalah al-Thabari (w. 310 H). yang berjudul Jami al-Bayan fi Tafsir Al-Quran yang terdiri atas 30 jilid.[10]

    2. Tafsir bi al-ra’yi yaitu model penafsiran yang lebih banyak bertumpu pada kekuatan nalar, diantara ahli tafsir dalam metode ini yang lebih banyak dipelopori dari aliran Mu’tazilah seperti Abu Bakar al-Sham (w. 240 H). Jadi pada masa inilah semakin berkembang interpretasi Al-Quran, hal ini dipengaruhi oleh perkembanagan-perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
    5.Jawaban:

    1, Bidang Sosial : pada masa Bani Abbasiyah, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas khusus dan kelas umum.

    1. Kelas khusus terdiri dari:

    a. Khalifah.

    b. Keluarga Khalifah, Bani Hasyim.

    c. Para pejabat negara.

    d. Para bangsawan yang bukan Bani Hasyim, yaitu Bani Quraisy.

    e. Para petugas khusus seperti anggota tentara dan para pegawai istana.

    2. Kelas Umum.

    a. Para seniman.

    b. Para ulama, fuqaha dan pujangga.

    c. Para saudagar dan pengusaha.

    d. Para tukang dan petani.

    Untuk menciptakan keadilan sosial kekhalifahan Dinasti Abbasiyah membuat kebijakan membentuk Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua golongan. Tugasnya untuk melayani masyarakat dari berbagai golongan. Tidak ada perbedaan suku, kelas sosial dan agama. Di dalamnya para wakil golongan bebas berpendapat di depan khalifah.

    2. bidang Ekonomi

    Perekonomian Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan dan pertanian. Di berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah terdapat kegiatan industri seperti Industri kain linen di Mesir, sutra di Syiria dan irak, kertas di Samarkand, produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan Kurma dari Irak Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.

    Untuk mendukung kegiatan perdagangan berbagai sarana pendukung didirikan seperti: membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang, membangun armada-armada dagang, membangun armada pertahanan laut untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut, dan lain-lain. Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri, karena para kafilah-kafilah dagang dapat leluasa melintasi segala negeri, bahkan kapal-kapal dagang Abbasiyah dikenal mampu mengarungi tujuh lautan.

    Dalam bidang pengembangan perdagangan Khalifah membela dan menghormati kaum petani, bahkan meringankan pajak hasil bumi dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali. Pertanian berkembang pesat karena pemerintahannya berada pada pemerintahan yang subur di tepi sungai Sawad. Tanaman asli terdiri dari gandum, padi, kurma, wijen kapas dan rami. Sayuran segar sepert, kacang, jeruk,terong, tebu dan anek ragam bunga.

    Dinasti Abbasiyah juga sudah mengenal mata uang dinar. Khalifah Abbasiyah yang pertama menerbitkan dinar adalah Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad, pada 749 M. Ia mengganti corak koin, kalimat Muhammad Rasulullah dipakai mengganti Allah Ahad, Allah Al-Samad, lam Yalid wa lam yulad, pada sisi belakang koin.

    3. Bidang Budaya

    Di masa Bani Abbassiyah terjadinya asimilasi Arab dengan non Arab dan perluasan wilayah telah melahirkan kemajemukan warga negara. Warga negara terdiri dari berbagai suku bangsa, dan agama. Ada empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi bangunan kebudayaan pada masa Abbasiyah, yaitu:

    a. Kebudayaan Persia; pengaruh kebudayaan Persia 2 faktor :

    1. Pembentukan lembaga wizarah.

    2. .Pemindahan ibukota.

    b.Kebudayaan India; pengaruh dengan dua cara:

    1. Secara langsung, kaum muslimin berhubungan dengan orang-orang India. diantaranya melalui perdagangan.

    2.Secara tidak langsung, kebudayaan India masuk ke dalam kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.

    c. Kebudayaan Yunani; pusat-pusat kebudayaan Yunani setelah berada di tangan kaum muslimin dilakukan perubahan dan pengembangan diantaranya: 1. Jundaisabur, sekolah tinggi kedokteran berbahasa Yunani.

    2. Harran, pusat pertemuan berbagai peradaban.

    3. Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani,

    d.. Kebudayaan Arab; pengaruh kebudayaan Arab masuk melalui penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dan bahasa agama.
    6. sebagai sebuah kekhalifahan, Abbasiyah memberikan banyak sumbangan-sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama islam.Kemajuan yg sudah terlaksanakan dlm bidang pastinya tdk akan terlepas.di semua militer terdapat perbedaan karakteristik yg mencolok antara pemerintah ummayah, dan dinasti abbasiyah.PEMERINTAH UMMAYAH orientasi kebijakan,selalu ada upaya perluasan wilayah kekuasaan,sedangkan PEMERINTAH ABBASIYAH lebih memfokuskan diri untuk ilmu pengetahuan, dan peradaban agama islam
    7.Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    Munculnya kelompok masyarakat pada masa Dinasti Abbasiyah terbagi dalam beberapa kelas:

    a. Kaum muslim arab

    b. Kaum muslim non-arab (Mawali)

    c. Kaum zimmi

    Beberapa kelas tersebut memiliki persamaan hak sebagai warga negara. Beberapa golongan kaum muslim non-arab bahkan memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Mereka adalah keluarga Barmak, Dinasti Buwaiyah, dan Dianti Saljuk.

    8.1.      Abul Abbas As-Saffah (Khalifah pertama dan pendiri dinasti)
     
    Abul Abbas As-Saffah (722-754 M) adalah pemimpin dan khalifah pertama dari Bani Abassiyah.
     
    Dia lahir dari keluarga Banu Hisham, dan merupakan keturunan dari Abbas ibn Abdul Munthalib, paman dari Nabi Muhammad. Hubungan darah dengan Nabi Muhammad ini membuatnya menjadi figur pusat dari perlawanan melawan Bani Umayyah.
     
    Nama “As-Saffah” adalah julukan yang berarti “Sang Penumpah Darah”. Julukan ini diberikan karena dia sering membantai lawan politiknya.
     
    As-Safah memulai pemberontakannya dari Khurasan, wilayah yang sekarang merupakan bagian timur Iran dan barat Afghanistan. Dari wilayah ini, As-Safah memimpin pasukan Abbasiyyah hingga mencapai kemenangan atas Bani Umayyah pada pertempuran di Sungai Zab, Iraq pada tahun 750.
     
    2.      Abu Jafar Al-Mansur (Khalifah kedua dan pendiri kota Baghdad)
     
    Abu Ja’far Abdallah ibn Muhammad al-Mansur (714-775) adalah saudara dari As-Saffah  dan khalifah kedua dari Bani Abassiyah. Al-Mansur dianggap sebagai tokoh penting berdirinya Bani Abassiyah, sebagai pemimpin perang melawan Bani Umayyah dan sebagai pendiri ibu kota baru Bani Abbasiyyah, Madinat As-Salam, atau yang lebih sebagai Baghdad.
     
    3.      Harun Al-Rashid (Khalifah kelima dan paling terkenal)
     
    Harun al-Rashid (766 -809) adalah khalifah kelima, yang naik tahta pada tahun 786 M. Pada masa pemerintahannya Bani Abbasiyyah mencapa puncak kekuasaan. Secara militer, Bani Abbasiyyah mampu mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur dan memaksanya membayar upeti.
     
    Khalifah ini dikenal sebagai pemimpin terbesar pada masa Bani Abbasiyyah dan namanya disebut dalam ceria Seribu Satu Malam.
     
    4.      Al-Ma’mun (Khalifah ketujuh dan pendiri Baitul Hikmah)
     
    Abu al-Abbas al-Maʾmūn ibn Hārūn al-Rashīd (786 – 833) adalah anah dari Harun al-Rasyid, yang menjadi khalifah setelah mengalahkan saudaranya, Al-Amin, dalam perang saudara.
     
    Dalam bidang ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah, lembaga penterjemah yang menterjemahkan kitab dari Yunani Kuno dan India, yang menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan di abad pertengahan

  13. 1. ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin abdi Manaf bin hasyim

    3. Masa kuat-kuasa dan bekerja membangun, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 132 H – 232 H.
    Masa berkuasanya panglima-panglima Turki, berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 232 H – 334 H.
    Masa berkuasanya Bani Buyah (Buwayhid), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 334 H – 447 H.
    Masa berkuasanya Bani Saljuk (Seljuqiyak), berjalan 100 tahun lamanya, dari tahun 447 H – 530 H.
    Masa gerak balik kekuasaan politik khalifah-khalifah Abbasiyah dengan merajalelanya para panglima perang, selama 125 tahun, dari tahun 53 H sampai musnahnya Abbasiyah di bawah serbuan Jengiz Khan dan putranya Hulagu Khan dari Tartar pada tahun 656 H.

    4.. Kemajuan di Bidang Ilmiah

    Terdapat aktifitas ilmiah yang berlansung dikalangan umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dimana hal ini mengantar mereka mencapai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan.

    a. Penyusunan buku-buku ilmiah

    Akitivitas penyusunan buku ini melalui beberapa proses dimana masyarakat Islam pada saat itu hanya mengandalkan hafalan hal ini bertahan sampai pemerintahan khalifah Harun al-Rasyid.[5] Kemudian pencatatan pemikiran seperti ilmu hadits kemudian dirangkap, lalu diadakan pembukuan pemikiran-pemikiran atau hadits-hadits Rasulullah dalam satu buku seperti fiqhi, tafsir, hadits. Dan terakhir disusun dan diatur kembali buku yang telah ada ke dalam pasal-pasal dan bab-bab tertentu.[6]

    b. Penterjemahan

    Penterjemahan merupakan aktivitas yang paling besar peranannya dalam mentrasfer ilmu pengetahuan yang berasal dari buku-buku bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta, Yunani ke dalam bahasa Arab. Ketika pemerintahan Abbasyiah ini sudah kokoh, terutama pada masa al-Mansyur, Harun al –Rasyid dan al-Ma’mun, maka dari itu mereka mengirim misi untuk membawa kembali hasil karya ilmiah, yang baik dalam bidang filsafat, logika, kedokteran, matematika, astrologi, geografi serta sejarah. Kemudian memerintahkan agar hasil karya mereka diterjemahkan dalam bahasa Arab.[7]

    c. Pensyarahan

    Sebelum memasuki abad ke 10 M. kegiatan kaum muslimin tidak hanya menerjemahkan, bahkan mulai memberikan syarahan (penjelasan) dan melakukan tahqiq (pengeditan), pada awalnya muncul dalam bentuk karya tulis, lalu dipadukan dalam berbagai pemikiran dan petikan, analisis dan kritis yang disusun dalam bentuk bab-bab dan pasal-pasal, bahkan dengan keahlian mereka, hasil kritik dan analisis itu dapat melahirkan teori-teori baru, seperti memisahkan aljabar dengan ilmu hisab yang pada ahlinya menjadi ilmu tersendiri secara sistematis.[8] Pada masa inilah lahirnya karya-kaya ulama yang telah tersusun rapi.

    2. Kemajuan dalam Bidang Pendidikan

    Kemajuan dalam bidang pendidikan ini, bukan berarti nanti pada masa pemerintahan Abbasyiah akan tetapi diawal Islam lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Hal ini dapat diketahui dengan adanya pendidikan terdiri dua tingkat yang pertama, Maktab dan mesjid sebagai pendidikan terindah tempat anak-anak mengenal dasar bacaan, hitungan dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti tafsir, hadits, fiqih dan bahasa, yang kedua tingkat pendalaman, para pelajar ingin meningkatkan ilmunya keluar daerah menuntut ilmu kepda seorang, biasanya berlangsung di mesjid-mesjid atau rumah ulama yang bersangkutan. Lembaga-lembaga pendidikan tersebut semakin berkembang dengan berdirinya perpustakaan dan akademi, dimana perpustakaan pada masa itu merupakan sebuah universitas karena terdapat buku-buku, orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi dan terjadinya penterjemahan diberbagai macam ilmu ke dalam bahasa Arab.

    3. Kemajuan Ilmu di Bidang Agama

    Pada zaman Dinasti Abbasiyah telah terjadi semacam pembagian wawasan dalam bidang keilmuan menjadi ilmu-ilmu agama (naqli) dan ilmu-ilmu duniawi (aqli) namun yang dimaksud dengan ilmu-ilmu agama, menurut Ahmad Amin adalah ilmu-ilmu yang bersumber baik secara lansung maupun tidak lansung dari agama dengan bahasa Al_Quran.[9] Dalam batasan ini termasuk dalam kelompok ilmu-ilmu agama adalah tafsir, hadits, fiqih, bahasa Arab dan ilmu Kalam.

    a. Ilmu Tafsir

    Kemajuan yang telah dicapai ilmu tafsir pada masa ini adalah berpisahnya dari ilmu hadits, dan terjadi penafsiran secara sistematis. Tafsir pada masa itu terbagi ke dalam dua bentuk :

    1. Tafsir bi-al-ma’tsur yaitu model penafsiran Al-Quran dengan menggunakan interpretasi Nabi dan sahabat-sahabat terkemuka, diantara ahli tafsirnya adalah al-Thabari (w. 310 H). yang berjudul Jami al-Bayan fi Tafsir Al-Quran yang terdiri atas 30 jilid.[10]

    2. Tafsir bi al-ra’yi yaitu model penafsiran yang lebih banyak bertumpu pada kekuatan nalar, diantara ahli tafsir dalam metode ini yang lebih banyak dipelopori dari aliran Mu’tazilah seperti Abu Bakar al-Sham (w. 240 H). Jadi pada masa inilah semakin berkembang interpretasi Al-Quran, hal ini dipengaruhi oleh perkembanagan-perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.
    5.Jawaban:

    1, Bidang Sosial : pada masa Bani Abbasiyah, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas khusus dan kelas umum.

    1. Kelas khusus terdiri dari:

    a. Khalifah.

    b. Keluarga Khalifah, Bani Hasyim.

    c. Para pejabat negara.

    d. Para bangsawan yang bukan Bani Hasyim, yaitu Bani Quraisy.

    e. Para petugas khusus seperti anggota tentara dan para pegawai istana.

    2. Kelas Umum.

    a. Para seniman.

    b. Para ulama, fuqaha dan pujangga.

    c. Para saudagar dan pengusaha.

    d. Para tukang dan petani.

    Untuk menciptakan keadilan sosial kekhalifahan Dinasti Abbasiyah membuat kebijakan membentuk Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua golongan. Tugasnya untuk melayani masyarakat dari berbagai golongan. Tidak ada perbedaan suku, kelas sosial dan agama. Di dalamnya para wakil golongan bebas berpendapat di depan khalifah.

    2. bidang Ekonomi

    Perekonomian Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan dan pertanian. Di berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah terdapat kegiatan industri seperti Industri kain linen di Mesir, sutra di Syiria dan irak, kertas di Samarkand, produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan Kurma dari Irak Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain.

    Untuk mendukung kegiatan perdagangan berbagai sarana pendukung didirikan seperti: membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang, membangun armada-armada dagang, membangun armada pertahanan laut untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut, dan lain-lain. Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri, karena para kafilah-kafilah dagang dapat leluasa melintasi segala negeri, bahkan kapal-kapal dagang Abbasiyah dikenal mampu mengarungi tujuh lautan.

    Dalam bidang pengembangan perdagangan Khalifah membela dan menghormati kaum petani, bahkan meringankan pajak hasil bumi dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali. Pertanian berkembang pesat karena pemerintahannya berada pada pemerintahan yang subur di tepi sungai Sawad. Tanaman asli terdiri dari gandum, padi, kurma, wijen kapas dan rami. Sayuran segar sepert, kacang, jeruk,terong, tebu dan anek ragam bunga.

    Dinasti Abbasiyah juga sudah mengenal mata uang dinar. Khalifah Abbasiyah yang pertama menerbitkan dinar adalah Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad, pada 749 M. Ia mengganti corak koin, kalimat Muhammad Rasulullah dipakai mengganti Allah Ahad, Allah Al-Samad, lam Yalid wa lam yulad, pada sisi belakang koin.

    3. Bidang Budaya

    Di masa Bani Abbassiyah terjadinya asimilasi Arab dengan non Arab dan perluasan wilayah telah melahirkan kemajemukan warga negara. Warga negara terdiri dari berbagai suku bangsa, dan agama. Ada empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi bangunan kebudayaan pada masa Abbasiyah, yaitu:

    a. Kebudayaan Persia; pengaruh kebudayaan Persia 2 faktor :

    1. Pembentukan lembaga wizarah.

    2. .Pemindahan ibukota.

    b.Kebudayaan India; pengaruh dengan dua cara:

    1. Secara langsung, kaum muslimin berhubungan dengan orang-orang India. diantaranya melalui perdagangan.

    2.Secara tidak langsung, kebudayaan India masuk ke dalam kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.

    c. Kebudayaan Yunani; pusat-pusat kebudayaan Yunani setelah berada di tangan kaum muslimin dilakukan perubahan dan pengembangan diantaranya: 1. Jundaisabur, sekolah tinggi kedokteran berbahasa Yunani.

    2. Harran, pusat pertemuan berbagai peradaban.

    3. Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani,

    d.. Kebudayaan Arab; pengaruh kebudayaan Arab masuk melalui penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dan bahasa agama.
    6. sebagai sebuah kekhalifahan, Abbasiyah memberikan banyak sumbangan-sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama islam.Kemajuan yg sudah terlaksanakan dlm bidang pastinya tdk akan terlepas.di semua militer terdapat perbedaan karakteristik yg mencolok antara pemerintah ummayah, dan dinasti abbasiyah.PEMERINTAH UMMAYAH orientasi kebijakan,selalu ada upaya perluasan wilayah kekuasaan,sedangkan PEMERINTAH ABBASIYAH lebih memfokuskan diri untuk ilmu pengetahuan, dan peradaban agama islam
    7.Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    Munculnya kelompok masyarakat pada masa Dinasti Abbasiyah terbagi dalam beberapa kelas:

    a. Kaum muslim arab

    b. Kaum muslim non-arab (Mawali)

    c. Kaum zimmi

    Beberapa kelas tersebut memiliki persamaan hak sebagai warga negara. Beberapa golongan kaum muslim non-arab bahkan memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pemerintahan Dinasti Abbasiyah. Mereka adalah keluarga Barmak, Dinasti Buwaiyah, dan Dianti Saljuk.

    7.1.      Abul Abbas As-Saffah (Khalifah pertama dan pendiri dinasti)
     
    Abul Abbas As-Saffah (722-754 M) adalah pemimpin dan khalifah pertama dari Bani Abassiyah.
     
    Dia lahir dari keluarga Banu Hisham, dan merupakan keturunan dari Abbas ibn Abdul Munthalib, paman dari Nabi Muhammad. Hubungan darah dengan Nabi Muhammad ini membuatnya menjadi figur pusat dari perlawanan melawan Bani Umayyah.
     
    Nama “As-Saffah” adalah julukan yang berarti “Sang Penumpah Darah”. Julukan ini diberikan karena dia sering membantai lawan politiknya.
     
    As-Safah memulai pemberontakannya dari Khurasan, wilayah yang sekarang merupakan bagian timur Iran dan barat Afghanistan. Dari wilayah ini, As-Safah memimpin pasukan Abbasiyyah hingga mencapai kemenangan atas Bani Umayyah pada pertempuran di Sungai Zab, Iraq pada tahun 750.
     
    2.      Abu Jafar Al-Mansur (Khalifah kedua dan pendiri kota Baghdad)
     
    Abu Ja’far Abdallah ibn Muhammad al-Mansur (714-775) adalah saudara dari As-Saffah  dan khalifah kedua dari Bani Abassiyah. Al-Mansur dianggap sebagai tokoh penting berdirinya Bani Abassiyah, sebagai pemimpin perang melawan Bani Umayyah dan sebagai pendiri ibu kota baru Bani Abbasiyyah, Madinat As-Salam, atau yang lebih sebagai Baghdad.
     
    3.      Harun Al-Rashid (Khalifah kelima dan paling terkenal)
     
    Harun al-Rashid (766 -809) adalah khalifah kelima, yang naik tahta pada tahun 786 M. Pada masa pemerintahannya Bani Abbasiyyah mencapa puncak kekuasaan. Secara militer, Bani Abbasiyyah mampu mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur dan memaksanya membayar upeti.
     
    Khalifah ini dikenal sebagai pemimpin terbesar pada masa Bani Abbasiyyah dan namanya disebut dalam ceria Seribu Satu Malam.
     
    4.      Al-Ma’mun (Khalifah ketujuh dan pendiri Baitul Hikmah)
     
    Abu al-Abbas al-Maʾmūn ibn Hārūn al-Rashīd (786 – 833) adalah anah dari Harun al-Rasyid, yang menjadi khalifah setelah mengalahkan saudaranya, Al-Amin, dalam perang saudara.
     
    Dalam bidang ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah, lembaga penterjemah yang menterjemahkan kitab dari Yunani Kuno dan India, yang menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan di abad pertengahan

  14. 1.Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas

    3.Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    2. Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    3. Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

    4. -Harun ar-Rasyid (adanya pembangunan Univ pertama yang bernama Nizamiyah)
    -anaknya Harun ar-Rasyid yaitu al-Makmun.

    5. Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar asia dan eropa. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum serta yang berorientasi komersial

    6. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    -Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    -Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    -Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    -Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

    7. Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan
    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    8. Al ma’mun pengganti harun ar rasyid

  15. Nur Aliyah Mare’ VIIIB
    1.) Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas

    3.) Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    2. Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    3. Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad

    4.) -ABU BAKAR AS SIDIQ
    -UMAR BIN KHATAB
    -USMAN BIN AFAN
    -ALI BIN ABI TALIB.

    5.) Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar asia dan eropa. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum serta yang berorientasi komersial

    6.) Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    4. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    5. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

    7.) Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    8.) Al ma’mun pengganti harun ar rasyid

  16. 1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
    4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
    b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
    c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte is
    [8/12 10.26] Alyssha//Imput: islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M

  17. 1.abbas bin Abdul Muthalib bin hasyim.
    3.1.Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus.
    2.Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir
    3.Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua.
    4.Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
    4.dalam ilmu pengetahuan pada masa
    Daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu aqli.
    -ilmu naqli terdiri dari Ilmu Tafsir, Ilmu Hadits Ilmu Fiqih, Ilmu Kalam, IlmuTasawwuf dan Ilmu Bahasa.
    Adapaun ilmu „aqli seperti : Ilmu Kedokteran,
    -ilmu Perbintangan, Ilmu Kimia, Ilmu Pasti, Logika, Filsafat dan Geografi.
    5.1}.Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting.
    2}.Dalam bidang sosial, Dinasti Abbasiyah mampu mempercantik seni bangunan dan arsitektur, baik untuk bangunan istana, masjid, bangunan kota dan lain sebagainya, contohnya seperti pada istana Qashrul Dzahabi, dan Qashrul Khuldi, sementara bangunan kota seperti pembangunan kota Baghdad, Samarra dan lain-lainnya.
    6.Bidang pemerintahan :
    – Urusan pemerintahan negara dibantu dengan adanya para wazir atau perdana menteri dan lembaga pemerintahan lainnya.
    bidang politik dan militer:
    -Agar semua kebijakan militer terkoordinasi dan berjalan dengan baik, maka pemerintah Dinasti Abbasiyah membentuk departemen pertahanan dan keamanan, yang disebut Diwanul Jundi, yang mengatur semua yang berkaitan dengan kemiliteran dan pertahanan keamanan.
    7.-dibutuhkan nya figur pemimpin yang bisa menyatukan barisan umat Islam.
    -kebudayaan yang positif dapat memperkuat persatuan dan kesatuan.
    -pentingnya persatuan dalam umat Islam.
    -perlunya membangun kualitas umat melalui mendidikan yang bermutu.
    -peran militer yang kuat dalam melindungi umat dan bangsa.
    -memperkukuh basis ekonomi melalui industri.
    8.Nama nama khalifah yang terkenal pada masa Dinasti Abbasiyah:

    1. Abul Abbas As-Saffah (Khalifah pertama dan pendiri dinasti)
    Abul Abbas As-Saffah (722-754 M) adalah pemimpin dan khalifah pertama dari Bani Abassiyah.

    Dia lahir dari keluarga Banu Hisham, dan merupakan keturunan dari Abbas ibn Abdul Munthalib, paman dari Nabi Muhammad. Hubungan darah dengan Nabi Muhammad ini membuatnya menjadi figur pusat dari perlawanan melawan Bani Umayyah.

    Nama “As-Saffah” adalah julukan yang berarti “Sang Penumpah Darah”. Julukan ini diberikan karena dia sering membantai lawan politiknya.

    As-Safah memulai pemberontakannya dari Khurasan, wilayah yang sekarang merupakan bagian timur Iran dan barat Afghanistan. Dari wilayah ini, As-Safah memimpin pasukan Abbasiyyah hingga mencapai kemenangan atas Bani Umayyah pada pertempuran di Sungai Zab, Iraq pada tahun 750.

    2. Abu Jafar Al-Mansur (Khalifah kedua dan pendiri kota Baghdad)

    Abu Ja’far Abdallah ibn Muhammad al-Mansur (714-775) adalah saudara dari As-Saffah dan khalifah kedua dari Bani Abassiyah. Al-Mansur dianggap sebagai tokoh penting berdirinya Bani Abassiyah, sebagai pemimpin perang melawan Bani Umayyah dan sebagai pendiri ibu kota baru Bani Abbasiyyah, Madinat As-Salam, atau yang lebih sebagai Baghdad.

    3.Harun Al-Rashid (Khalifah kelima dan paling terkenal)

    Harun al-Rashid (766 -809) adalah khalifah kelima, yang naik tahta pada tahun 786 M. Pada masa pemerintahannya Bani Abbasiyyah mencapa puncak kekuasaan. Secara militer, Bani Abbasiyyah mampu mengalahkan Kekaisaran Romawi Timur dan memaksanya membayar upeti.

    Khalifah ini dikenal sebagai pemimpin terbesar pada masa Bani Abbasiyyah dan namanya disebut dalam ceria Seribu Satu Malam.

    4. Al-Ma’mun (Khalifah ketujuh dan pendiri Baitul Hikmah)

    Abu al-Abbas al-Maʾmūn ibn Hārūn al-Rashīd (786 – 833) adalah anah dari Harun al-Rasyid, yang menjadi khalifah setelah mengalahkan saudaranya, Al-Amin, dalam perang saudara.

    Dalam bidang ilmu pengetahuan, Al-Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah, lembaga penterjemah yang menterjemahkan kitab dari Yunani Kuno dan India, yang menjadikan Baghdad sebagai pusat ilmu pengetahuan di Abad Pertengahan.

  18. 1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
    4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
    b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
    c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte is
    [8/12 10.26] Alyssha//Imput: islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M

  19. 1.keturunan al-abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah,yaitu abbdulah al-saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah al-labas.berdirinya dinasti Abbasiyah tidak dapat di lepaskan dari peperagan yang berdarah dan bergejolak antara dinas kekuasaan sebelumnya,yaitu dinasti Bani Umayyah yg didirikan oleh muawiah bin Abi Sufyan
    3.priode pertama 750 M-840 M periode pengaruh Persia pertama.-periode ke dua 847 M-945 M,periode pengaruh turkiy pertama.-priode ke tiga 945 M-1005M, periode penggaruh Persia ke dua
    4.dalam ilmu pengetahuan pada masa daula bani Abbasiyah terdiri dari ilmu nakli dan ilmu akli.ilmu nakli terdiri dari ilmu tafsir,ilmu hadis ilmu fiqih,ilmu Kalam,ilmu tasawwuf dan ilmu bahasa.adapun ilmu Akli seperti:ilmu kedokteran,ilmu perbintangan,ilmu kimia,ilmu pasti,logika, filsafat, geografi.
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte is
    islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M

  20. 1.Abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin Abdullah bin abbas .kelompok abbsiyah merasa lebih banyak memegang tonggak kekuasaan dri pada umayyah karena mereka berasal dri bani hasyim yg lebih dekat garis keturunanyang dengan nabi muhammad
    2.abu abbas as shafah (750-754m) abu jagar al mansur (136-158/754-7754m)al mahdi(775-775 mau
    3.dalam ilmu pengetahuan pada massa daulah bani abbasiyah terdiri dri ilmu nanti dan ilmu aqli
    ilmu naqli terdiri dari ilmu tafsir ,ilmu hadits ,ilmu fiqih ,ilmu kalam,ilmu tasawwuf dan ilmu bahasa
    ilmu aqli seperti ilmu kedokteran, ilmu perbintangan , ilmu kimia ,ilmu pasti,logika,filsafat ,dan geografis
    4.pada massa bni abbasiyah masyarakat terbagi menjadi 2 ke lompok kemasyrakatyg tradi antara laingantuk munculnyaberbagai kelompok dan suku

  21. Nama: Hilmi azizah
    Kelas:8a

    1.abdullah al-saffah bin Muhammad Ali bin Abdullah bin Al abbas bin abdul Muthalib bin abdu manaf bin hasyim

    3. -Periode Pertama 750 M – 840 M, periode pengaruh Persia pertama.
    – Periode Kedua 847 M – 945 M, periode pengaruh Turki pertama.
    – Periode Ketiga 945 M – 1005 M, periode pengaruh Persia kedua.
    – Periode Keempat 1005 M – 1194 M, periode pengaruh Turki kedua

    4. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah selain di sebabkan oleh perhatian khalifah yang sangat besar, juga di sebabkan oleh hal berikut:
    1.terjadinya asimilasi yang bernilai guna bagi perkembangan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang memang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat
    2. Gerakan penerjemahan yang berlangsung tiga fase. Fase pertama pada masa Khalifah Allah mansur hingga harus ar rasyid. Fase kedua berlangsung mulai zaman khalifah Allah makmun hingga tahun 300 H. Fase ke tiga, setelah tahun 300 H terutama setelah adanya pembuatan kertas.

    5.1.Sektor pertanian
    2.Sektor perdagangan dan jasa
    3.Sektor perindustrian

    6.1. Pemerintahan
    2.politik dan militer

    7.ibrah yang dapat kita ambil dari perkembangan peradaban Abbasiyah antara lain 1) ilmu pengetahuan akan membawa manusia pada kemajuan, 2) diperlukan kesungguhan dan kerja keras dalam menuntut ilmu 3) dengan adanya kemajuan, kedudukan manusia menjadi di perhitungkan oleh manusia lain 4) kemajuan yang di peroleh pada masa Abbasiyah harus menyadarkan ummat islam saat ini akan ketinggalan nya dari ummat lain 5) kita hrus memanfaatkan karya karya peninggalan zaman Abbasiyah untuk kemajuan kita saat ini dan masa yang akan datang.

    8. 1. Khalifah abu ja’far Allah mansur
    2. Harun ar rasyid
    3.al makmun

  22. NAMA:Nur Annisa
    NISH:19050
    KELAS:8b

    1.Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas. Kelompok Abbasiyah merasa lebih layak memegang tonggak kekuasaan daripada Bani Umayyah karena mereka berasal dari Bani Hasyim yang lebih dekat garis keturunannya dengan Nabi Muhammad.

    4.Pada Dinasti Abbasiyah inilah kemajuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan yang begitu pesat, baik dalam ilmu pengetahuan umum seperti filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, geografi, sejarah, fisika, kimia, sastra, arsitektur, seni rupa, dan musik.

    3.Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M),Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M),Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M),Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)

    5.Perkembangan peradaban  pada masa Dinasti Abbasiyah mengalami masa keemasan dan dikenang sebagai masa golden age atau peradaban emas kebudayaan dan peradaban Islam. Diantara kemajuan-kemajuan- tersebut meliputi berbagai bidang, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan  mulai dari kemajuan di bidang politik dan pemerintahan, kemajuan di bidang sosial budaya, kemajuan ekonomi dan kemajuan ilmu-ilmu keagamaan. Kemajuan-kemajuan tersebut  melahirkan berbagai bentuk-bentuk  wujud kebudayaan yang kemudian menjadi  bukti  pencapaian  kemajuan kebudayaan/peradaban Islam.

    6.Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi 5 fase pemerintahan, dan sistem politik yang dijalankan oleh dinasti Abbasiyah I adalah :

    Para khalifah tetap dari keturunan arab, sedang para Menteri, panglima, gubernur, dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali.

    Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, social dan kebudayaan.

    Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    Kebebasan berfikir sebagai hak asasi manusia yang diakui sepenuhnya.

    Para Menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintahan.

    7. -1. Sebagai referensi untuk belajar sejarah Islam.
    -2.Untuk mempertimbangkan ilmu sekarang dengan ilmu masa lampau.
    -3.Sebagai contoh individu teladan bagi kita
    -4.Mengetahui mengapa mereka bisa maju dan juga bisa hancur

    8.-Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (721-754). Ia adalah pendiri Dinasti Abbasiyah dan menjadi khalifah pertama.
    -khalifah Abu Ja’far al-Manshur (750-775), Al-Mahdi (775-785), Musa al-Hadi (785-786), Harun ar-Rasyid (786-809), Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim (833-842), Al-Mutawakkil (847-861), Al-Muntasir (861-862), Al-Musta’in (862-866), dan Al-Mu’tazz (866-869).
    -Al-Muhtadi (869-870), Al-Mu’tamid (870-892), Al-Mu’tadid (892-902), Al-Muktafi (902-908), Al-Muqtadir (908-932), Al-Qahir (932-934), Ar-Radi (934-940), Al-Muttaqi (940-944), Al-Mustakfi (944-946), Al-Muti (946-974), At-Ta’i (974-991), dan Al-Qadir (991-1031).
    -Dan Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Al-Qa’im (1031-1075), Al-Muqtadi (1075-1094), Al-Mustazhir (1094-1118), Al-Mustarsyid (1118-1135), Ar-Rasyid (1135-1136), Al-Muqtafi (1136-1160), Al-Mustanjid (1160-1170), Al-Mustadi (1170-1180), An-Nasir (1180-1225), Az-Zahir (1225-1226), Al-Mustansir (1226-1242), dan terakhir Al-Musta’sim (1242-1258).

  23. 1. Abdullah bin Al saffah bin Muhammad Ali bin Abdullah bin Ali Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim.

    3.Periode Pertama 750 M – 840 M, periode pengaruh Persia pertama.
    – Periode Kedua 847 M – 945 M, periode pengaruh Turki pertama.
    – Periode Ketiga 945 M – 1005 M, periode pengaruh Persia kedua.
    – Periode Keempat 1005 M – 1194 M, periode pengaruh Turki kedua

    4.kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan PD masa dinasti Abbasiyah selain di sebabkan oleh perhatian kekhalifahan yang sangat besar, juga d sebabkan oleh hal :
    1.terjadinya asimilasi yg bernilai guna bagi perkembangan ilmu pengetahuan antara bangsa Arab dgn bangsa² lain yg memang lebih dahulu mengalami perkembangan dlm bfng ilmu pengetahuan dan filsafat.
    2.gerakan penerjemahan yg berlangsung 3 fase. Fase pertama pada masa Khalifah almansur hingga harum Ar Rasyid .fase ke 2 berlangsung mulai zaman Khalifah Al Makmun hingga thn 300 h . Fase ketiga setelah tahun 300 h terutama setelah adanya pembuatan kertas.

    5.1.sektor pertanian
    2.sektor perdagangan dan jasa
    3.sektor perindustrian

    6.1.pemerintahan
    2.politik dan militer

    7.ibrah yg dpt kita ambil dr perkembangan peradaban Abbasiyah antara lain:
    1.ilmu pengetahuan akanembawa manusia pada kemajuan
    2.diperlukan kesungguhan dan kerja keras dlm menuntut ilmu
    3.dengan adanya kemajuan,kedudukan manusia menjadi diperhitungkan oleh manusia lain
    4.kemajuan yg diperoleh pada masa Abbasiyah harus menyadarkan umat Islam saat ini akan ketinggalan nya dr ummat lain
    5.kita harus memanfaatkan karya² peninggalan zaman Abbasiyah untuk kemajuan kita saat ini dan masa yg akan datang

    8.1.khalifah abu Ja’far Al Mansur
    2.harun Ar Rasyid
    3.al Makmun

  24. 1.) Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas

    2.)Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    2. Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    3. Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    4. Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

    4.)-ABU BAKAR AS SIDIQ
    -UMAR BIN KHATAB
    -USMAN BIN AFAN
    -ALI BIN ABI TALIB.

    5.)Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar asia dan eropa. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah pecah belah, keramik dan parfum serta yang berorientasi komersial

    6.)Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    4. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    5. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

    7.)Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan

    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    8.)Al ma’mun pengganti harun ar rasyid

  25. 1. Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas
    3.-Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    – Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    – Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    – Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

    4. -Harun ar-Rasyid (adanya pembangunan Univ pertama yang bernama Nizamiyah)
    -anaknya Harun ar-Rasyid yaitu al-Makmun.

    5.Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar .

    6. -Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    -Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    -Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    -Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    -Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

    7.Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan
    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    8. Al ma’mun pengganti harun ar rasyid

  26. NAMA:Nur annisa
    NISH:19050
    KELAS:8b

    1.Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas. 7 Abbasiyah merasa lebih layak memegang tonggak kekuasaan daripada Bani Umayyah karena mereka berasal dari Bani Hasyim yang lebih dekat garis keturunannya dengan Nabi Muhammad.

    4.Pada Dinasti Abbasiyah inilah kemajuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan yang begitu pesat, baik dalam ilmu pengetahuan umum seperti filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, geografi, sejarah, fisika, kimia, sastra, arsitektur, seni rupa, dan musik.

    3.Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M),Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M),Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M),Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)

    5.Perkembangan peradaban  pada masa Dinasti Abbasiyah mengalami masa keemasan dan dikenang sebagai masa golden age atau peradaban emas kebudayaan dan peradaban Islam. Diantara kemajuan-kemajuan- tersebut meliputi berbagai bidang, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan  mulai dari kemajuan di bidang politik dan pemerintahan, kemajuan di bidang sosial budaya, kemajuan ekonomi dan kemajuan ilmu-ilmu keagamaan. Kemajuan-kemajuan tersebut  melahirkan berbagai bentuk-bentuk  wujud kebudayaan yang kemudian menjadi  bukti  pencapaian  kemajuan kebudayaan/peradaban Islam.

    6.Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi 5 fase pemerintahan, dan sistem politik yang dijalankan oleh dinasti Abbasiyah I adalah :

    Para khalifah tetap dari keturunan arab, sedang para Menteri, panglima, gubernur, dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali.

    Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, social dan kebudayaan.

    Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    Kebebasan berfikir sebagai hak asasi manusia yang diakui sepenuhnya.

    Para Menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintahan.

    7. -1. Sebagai referensi untuk belajar sejarah Islam.
    -2.Untuk mempertimbangkan ilmu sekarang dengan ilmu masa lampau.
    -3.Sebagai contoh individu teladan bagi kita
    -4.Mengetahui mengapa mereka bisa maju dan juga bisa hancur

    8.-Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (721-754). Ia adalah pendiri Dinasti Abbasiyah dan menjadi khalifah pertama.
    -khalifah Abu Ja’far al-Manshur (750-775), Al-Mahdi (775-785), Musa al-Hadi (785-786), Harun ar-Rasyid (786-809), Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim (833-842), Al-Mutawakkil (847-861), Al-Muntasir (861-862), Al-Musta’in (862-866), dan Al-Mu’tazz (866-869).
    -Al-Muhtadi (869-870), Al-Mu’tamid (870-892), Al-Mu’tadid (892-902), Al-Muktafi (902-908), Al-Muqtadir (908-932), Al-Qahir (932-934), Ar-Radi (934-940), Al-Muttaqi (940-944), Al-Mustakfi (944-946), Al-Muti (946-974), At-Ta’i (974-991), dan Al-Qadir (991-1031).
    -Dan Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Al-Qa’im (1031-1075), Al-Muqtadi (1075-1094), Al-Mustazhir (1094-1118), Al-Mustarsyid (1118-1135), Ar-Rasyid (1135-1136), Al-Muqtafi (1136-1160), Al-Mustanjid (1160-1170), Al-Mustadi (1170-1180), An-Nasir (1180-1225), Az-Zahir (1225-1226), Al-Mustansir (1226-1242), dan terakhir Al-Musta’sim (1242-1258).

  27. Nama:Nailah Nur Fasya Syarifuddin
    Kelas:VIII A

    1. Abdullah al-saffah bin Muhammad Ali bin Abdullah bin Al-Abbas bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf bin Hasyim
    3. 1. Periode Abbasiyah I (132-232 H/750-847 M)
    2. Periode abbasiyah II (232-334 H/847-946 M) Turki
    3. Periode abbasiyah III Bani Buwaihi
    4. Periode abbasiyah IV Saljuk dari Turki
    4. 1. Terjadinya asimilasi yang bernilai guna bagi perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan antara bangasa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang memang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam ilmu pegetahuan dan filsafat.
    2. Gerakan penerjemahan yang berlangsung tiga fase.Fase pertama, pada masa Khalifah al-Mansur hingga Harun ar-Rasyid.Fase kedua beralngsung mulai zaman Khalifah al-Makmun hingga tahun 300 H. Fase ketiga ,setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya kertas.
    5. 1. Sektor pertanian
    2. Sektor perdangangan dan jasa
    3. Sektor perindustrian
    6. 1. Pemerintahan
    2. Politik dan Militer
    7. Ibrah yang dapat kita ambil dari peekembangan peradaban Abbasiyah antara lain;1) Ilmu pengetahuan akan membawa manusia pada kemajuan,2) Diperlukan kesungguhan dan kerja keras dalam menuntut ilmu, 3) Dengan adanya kemajuan , kedudukan manusia menjadi dipeehitungkan oleh manusia lain,4) Kemajuan yang diperoleh pada masa Abbasiyah harus menyadarkan umat Islam saat ini akan ketinggalannya dari umat lain,5) Kita harus memanfaatkan karaya-karya peninggalan zaman Abbasiyah untuk kemajuan kita saat ini dan masa yang akan datang.
    8. 1. Khalifah Abu Ja’far al-Mansur
    2. Harun ar-Rasyid
    3. Al-Makmun

  28. Ratuuu 8a
    1.nama abbasiya di ambil dari nama paman nabi Muhammad yaitu Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim Bani Hasyim merupakan garis keturunan yang lebih yang lebih dekat dengan nabi Muhammad Saw dan karena garis keturunan itulah Bani Abbasiyah merasa lebih layak memegang pemerintahan dan kekuasaan Islam di banding Bani ummayah
    3.periode pertama dinasti Abbasiyah berlangsung selama 97 tahun di pimpin oleh sembilan khalifah dari abu Abbas as-saffah (132-136 H / 750754 M ) sampai Khalifa al-watsiq (227-232H/842-847M) periode ini disebut dengan periode keemasan dinasti Abbasiyah adapula sejarawan yang menyebutnya sebagai” periode pengaruh Persia pertama”
    4. salah satu khalifah daulah Bani Abbasiyah yang terkenal karena kesuksesannya meningkatkan kejahteraan rakyat dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan
    7.masa daulah Abbasiyah adalah masa keemasan Islam atau sering disebut dengan istilah “the golden age”
    8.-abu Abbas as-saffah
    -khalifah Harun al-rasyid
    -Khalifah Al wasiq
    -Khalifah Al mukttazz
    -abu Jakfar Al- Mansur
    -khalifa Al Amin
    -khalifah Al Mutawakkil
    -khalifa Al Muhtadi
    -khalifa Al mutafi
    -khalifa Al Mahdi

  29. Nama:Dinda apriliiana maharani
    Kelas:8
    Nis:19032
    1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    2)
    3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
    4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
    b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
    c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte is
    islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M

  30. NAMA:Nur Rahmah Arifin
    NISH:19053
    KELAS:8b

    1.Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas. Kelompok Abbasiyah merasa lebih layak memegang tonggak kekuasaan daripada Bani Umayyah karena mereka berasal dari Bani Hasyim yang lebih dekat garis keturunannya dengan Nabi Muhammad.

    4.Pada Dinasti Abbasiyah inilah kemajuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan yang begitu pesat, baik dalam ilmu pengetahuan umum seperti filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, geografi, sejarah, fisika, kimia, sastra, arsitektur, seni rupa, dan musik.

    3.Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M),Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M),Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M),Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)

    5.Perkembangan peradaban  pada masa Dinasti Abbasiyah mengalami masa keemasan dan dikenang sebagai masa golden age atau peradaban emas kebudayaan dan peradaban Islam. Diantara kemajuan-kemajuan- tersebut meliputi berbagai bidang, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan  mulai dari kemajuan di bidang politik dan pemerintahan, kemajuan di bidang sosial budaya, kemajuan ekonomi dan kemajuan ilmu-ilmu keagamaan. Kemajuan-kemajuan tersebut  melahirkan berbagai bentuk-bentuk  wujud kebudayaan yang kemudian menjadi  bukti  pencapaian  kemajuan kebudayaan/peradaban Islam.

    6.Dinasti Abbasiyah dibagi menjadi 5 fase pemerintahan, dan sistem politik yang dijalankan oleh dinasti Abbasiyah I adalah :

    Para khalifah tetap dari keturunan arab, sedang para Menteri, panglima, gubernur, dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali.

    Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, social dan kebudayaan.

    Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    Kebebasan berfikir sebagai hak asasi manusia yang diakui sepenuhnya.

    Para Menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintahan.

    7. -1. Sebagai referensi untuk belajar sejarah Islam.
    -2.Untuk mempertimbangkan ilmu sekarang dengan ilmu masa lampau.
    -3.Sebagai contoh individu teladan bagi kita
    -4.Mengetahui mengapa mereka bisa maju dan juga bisa hancur

    8.-Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (721-754). Ia adalah pendiri Dinasti Abbasiyah dan menjadi khalifah pertama.
    -khalifah Abu Ja’far al-Manshur (750-775), Al-Mahdi (775-785), Musa al-Hadi (785-786), Harun ar-Rasyid (786-809), Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim (833-842), Al-Mutawakkil (847-861), Al-Muntasir (861-862), Al-Musta’in (862-866), dan Al-Mu’tazz (866-869).
    -Al-Muhtadi (869-870), Al-Mu’tamid (870-892), Al-Mu’tadid (892-902), Al-Muktafi (902-908), Al-Muqtadir (908-932), Al-Qahir (932-934), Ar-Radi (934-940), Al-Muttaqi (940-944), Al-Mustakfi (944-946), Al-Muti (946-974), At-Ta’i (974-991), dan Al-Qadir (991-1031).
    -Dan Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Al-Qa’im (1031-1075), Al-Muqtadi (1075-1094), Al-Mustazhir (1094-1118), Al-Mustarsyid (1118-1135), Ar-Rasyid (1135-1136), Al-Muqtafi (1136-1160), Al-Mustanjid (1160-1170), Al-Mustadi (1170-1180), An-Nasir (1180-1225), Az-Zahir (1225-1226), Al-Mustansir (1226-1242), dan terakhir Al-Musta’sim (1242-1258).

  31. nama:naurah muthia
    kelas:8a
    1.pendiri dinasti abbasiyah adalah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    3.-periode pertama 750 m-840 m periode pengaruh persia pertama
    -periode ke 2 847 m-945 m periode pengaruh turki pertama
    – periode ketiga 945 m-1005 m periode pengaruh persia ke 2
    -periode keempat 1005 m -1194 m periode pengaruh turki ke 2
    4.dalam bidang ilmu pengetahuan
    daulah bani abbasiyah terdiri dari ilmu naqli dan ilmu aqli ilmu naqli terdiri dari ilmu tafsir ilmu hadist,ilmu fiqh,ilmu kalam,ilmu tasawwuf,dan ilmu bahasa adapun ilmu aqli seperti ilmu kedokteran ilmu perbintangan ilmu kimia dll
    dalam bidang ilmu filsafat
    kemajuan di bidang ilmiah,kemajuan dalam bidang pendidikan,kemajuan ilmu di bidang agama .
    5.bidang sosial :pada masa bani abbasiyah masyarakat tebagi menjadi 2 kelompok yang kelas khusus dan kelas umum,untuk menciptakan keadilan sosial kekhalifaan dinasri abbasiyah membua kebijakan membentuk badan negara yang anggota nya terdiri dari wakil semua anggotanya
    bidang ekonomi:perekonomian abbasiyah digerakkan oleh perdagangan dan pertanian .di berbagai wilayah kekuasaaan abbasiayah terdapat kegiatan industri kain linen di mesir,sutra syiria dan irak kertas di samarkand dll.
    6.kemajuan yang sudaah terlaksanakan dalam bidang patinya tidak akan terlepas disemua militer terdaoat oerbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan umayyah dan dinasti abbasiyah
    7.-berkembangnya ilmu
    -lahirnya para atlit olahraga
    -berkembangnya ekonomi masyarakat
    -munculnya para ahli politik
    lahirnya aliran atau sekte islam
    8.abu ja’far al mansur(754-755) al mahdi (755-785)
    harun al rasyid(1785-809m).
    syukron wassalamualaikum warahmatullahi wabarakutuh;)

  32. 1.keturunan Al-abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah,yaitu Abdullah al-saffah bin Muhammad bin ali bin Abdullah bin al-abbas.Berdirinya dinasti abbasiyah tidak dapat dilepaskan dri peperangan yang berdarah dan bergejolak antara dinasti kekuasaan sebelumnya,yaitu dinasti Bani Umayyah yg Muawiyah bin
    Abi Sufyan.
    3.Periode pertama 750 M-840 M,periode pengaruh persia pertama.-periode ke dua 847 M-945 M,periode pengaruh turki pertama.-periode ketiga 945 M-1005 M,periode pengaruh persia kedua
    4.Dalam ilmu pengetahuan pada masa daula Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu nakli dan ilmu akli.Ilmu nakli terdiri dri ilmu tafsir,ilmu hadist ilmu fiqh,ilmu kalam,ilmu tasawwuf dri ilmu bahasa.Adapun ilmu akli seperi: ilmu kedokteran,ilmu perbintangan,ilmu kimia,ilmu pasti,logika,filsafat dan geografi.
    5.a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad b.membentuk wirazat untuk membantu kekhalifaan dalam menjalankan pemerintah negara.c.membentuk diwanul khitbah yg tugasnya menjalankan tata usaha.
    6.kemajuan yg sudah terlaksanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakterisrik yg mencolok antara pemerintah Umayyah dan dinasti Abbasiyah.
    7.a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b.lahirnya para atlit olahraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte islam
    8.Abu ja’far al manshur (754-775)al mahdi(775-785 M),Harun al rasyid(1785-809 M)

  33. Zahrani Burhanuddin
    VIII C

    1.Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas. Berdirinya dinasti Abbasiyah tidak dapat dilepaskan dari peperangan yang berdarah dan bergejolak antara dinasti kekuasaan sebelumnya, yaitu Dinasti Bani Umayyah yang didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan.

    3.Periode pertama 750 M – 840 M, periode pengaruh Persia pertama. – Periode kedua 847 M – 945 M, periode pengaruh Turki pertama. – Periode ketiga 945 M – 1005 M, periode pengaruh persia kedua.

    4.Dalam ilmu pengetahuan pada masa daula Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu nakli dan ilmu akli. Ilmu nakli terdiri dari ilmu tafsir,ilmu hadist ilmu fiqh,ilmu kalam,ilmu tasawwuf,dan ilmu bahasa. Adapun ilmu akli seperti: ilmu kedokteran,ilmu perbintangan,ilmu kimia,ilmu pasti,logika,filsafat dan geografi.

    5.a.Memindahkan pusat pemerintah dari Damaskus ke Baghdad.
    b.Membentuk wirazat untuk membantu kekhalifahan dalam menjalankan pemerintah negara.
    c.Membentuk diwanul khitbah yang tugasnya menjalankan tata usaha.

    6.Kemajuan yang sudah terlaksanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,di semua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintah Umayyah dan dinasti Abbasiyah.

    7.Berkembangnya ilmu pengetahuan,lahirnya para atlit olahraga,berkembangnya ekonomi masyarakat,munculnya para ahli politik,dan lahirnya aliran atau sekte Islam.

    8.Abu Ja’far Al Manshur (754-775)Al Mahdi(775-785 M),Harun Al Rasyid (1785-809 M).

  34. 1.keturunan Al Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah,yaitu Abdullah Al labas.berdirinya dinasti Abbasiyah tidak dapat di lepaskan dari peperangan yg berdarah dan bergejolak antara Diana kekuasaan sebelumnya,yaitu dinasti Bani Abbasiyah yg di dirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan
    3.priode pertama 750M-840M periode pengaruh Persia pertama -prode ke dua 847M-945M,periode pengaruh Turki pertama -prode ke tiga 945M-1005M,periode pengaruh Persia ke dua
    4.dalam ilmu pengetahuan pada masa daula Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu nakli dan ilmu akli.ilmu nakli,terdiri dari ilmu tafsir,ilmu hadis ilmuh fiqih, ilmu Kalam,ilmu tasawuf,dan ilmu bahasa.adapun ilmu Akli seperti ilmu ke dokteran,ilmu perbintangan,ilmu kimia,ilmu pasti,logika, filsafat, geografi.
    5.a memindahkan pusat pemerintah dari Damaskus ke Baghdad
    b membentuk wirazat untuk membantu ke halifahan Dalama menjalankan pemerintah negara
    c membentuk diwanul hitbah yg tugasnya menjalanka tata usaha
    6. Kemajuan yg suda terlaksanakan dalam bidang pastinya tida akan terlepas,disemua militer ter dapat perbedaan karakteristik yg mencolok antara pemerintahan negara Umayyah dan dinasti Abbasiyah
    7.a perkembangan nya ilmu pengetahuan
    b.lahirnya para atlet olahraga
    c.berkembagnya ekonomi masyarakat
    d.munculya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte Islam
    8.abu Ja’far Al Manshur (754-775)Al Mahdi (775-785 M),Harun Al Rasyid (1785-809 M)

    • Ratuuu 8a
      1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
      2)
      3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
      4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
      b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
      c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
      5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
      b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
      c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
      6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
      7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
      b. lahirnya para atlit olaraga
      c.berkembangnya ekonomi masyarakat
      d.munculnya para ahli politik
      e.lahirnya aliran atau sekte is
      islam
      8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
      Harun al rasyid (1785-809M

  35. Nama : nur insani
    Kelas : 8B
    Mapel : SKI

    1.) Nama Abbasiyah diambil dari nama paman nabi Muhammad Saw,yaitu Abbas bin Abdul Muthalib bin hasyim.bani Hasyim merupakan garis keturunan yg lebih dekat dengan nabi.

    3.) *periode pertama 759 M – 840 M, periode pengaruh Persia pertama.
    *Periode kedua 847 M – 945 M, periode pengaruh turki pertama.
    *Periode ketiga 945 M – 1005 M periode pengaruh Persia kedua.

    4.) Dalam ilmu pengetahuan pada masa daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu Naqli dan ilmu aqli.ilmu Naqli terdiri dari ilmu tafsir,ilmu Hadits,ilmu fiqih,ilmu Kalam,ilmu tasawwuf dan ilmu bahasa.
    Adapun ilmu aqli seperti kedokteran,ilmu perbintangan,ilmu kimia,ilmu pasti,logika,filsafat,dan geografi

    5.) 1.memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad
    2. Membentuk wirazat untuk membantu kekhalifahan dalam menjalankan pemerintahan negara.
    3.membentuk diwatul kabaah yg tugasnya menjalankan tata usaha.

    6.) -para Khalifah tetap dari keturunan Arab,sedang para menteri,panglima, gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali.
    – kota Baghdad digunakan sebagai ibukota negara,yg menjadi pusat kegiatan politik,ekonomi,sosial,dan kebudayaan.
    -ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia
    -kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    7.) Dalam bidang sosial dan kemasyarakatan kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi antara lain munculnya berbagai kelompok dlm masyarakat yg semakin heterogen baik suku,bangsa,etnis,agama,dan berbagai unsur warga negara.

    8.) Al-Ma’un pengganti Harun Ar-Rasyid (1785-809M).

  36. Ratuuu 8a
    1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    2)
    3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
    4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
    b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
    c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte is
    islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M

  37. 1. Nama Abbasiyah diambil dari nama paman nabi Muhammad Saw, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim ,Bani Hasyim merupakan garis keturunan yg dekat dengan nabi.

    3.periode pertama 759M-840M, periode pengaruh Persia pertama ,periode kedua 847M-945M,periode pengaruh Turki pertama periode ketiga 945M-1005M periode pengaruh Persia kedua

    4.dalam ilmu pengetahuan pada masa daulah Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu Naqli dan aqli ilmu Naqli terdiri ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqih, ilmu qalam, ilmu tasawuf,dan ilmu bahasa adapun ilmu Naqli seperti kedokteran , ilmu perbintangan, ilmu kimia , ilmu pasti, logika,filsafat ,dan geografi

    5. 1 memindahkan pusat pemerintahan dari damaskus ke Baghdad
    2. Membentuk wirasat untuk membantu Khalifah dalam menjalankan pemerintahan negara
    3.membentuk diwatul kaabaah yang tugasnya menjalankan tata usaha.

    6.-para Khalifah tetap dari keturunan Arab , sedang para mentri , panglima, gubernur, dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan perisiya dan mawali
    -kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara , yang menjadi pusat kegiatan politik , ekonomi, sosial, dan kebudayaan .
    -ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia
    -kebebasan berpikir sebagai HAM diakui sepenuhnya

    7.dalam bidang sosial dan kemasyarakatan di bidang sosial yang terjadi antara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis,agama,dan berbagai unsur warga negara.

    8.Al maun pengganti Ar rasyid

  38. Nama:firyal mufidah
    Kelas:8a
    Nis:19009
    1.Nama abbasiyah diambil dari nama paman nabi muhammad saw,yaitu abbas bin abdul muthalib bin hasyim merupakan garis keturunan yg lebih dekat dengan nabi
    3.periode pertama 750 M-840 M,periode pengaruh persia pertama.periode kedua 847 M-945 M,periode pengaruh turki pertama .periode ketiga M-1005 M ,periode pengaruh persia ke dua
    4.dalam ilmu pengetahuanpada masa daulah bani abbasiyah terdiri dari ilmu nakli dan ilmu akli.ilmu baklu terdiri dari ilmu tafsir,ilmu fikih ,ilmu qalam,ilmu tasyaup dan ilnu bahasa .adapun ikmu akli sepert kedokteran ilmu erbincanfagn ,ilmupasti ,logika ,filsafat,dan geografi
    5.-memindahkan pusat pemeruntahan dari damakus kebaghdab
    -membenruk wirazat untuk membantu kehalufahan dalam menjalankan pemerinta negara
    -membentuk diwatul kabaah yg tugasnya menjalankan tata usaha
    6. Sebagai kehalifahan,abbasiyah memberikan banyak sumbangan positif bagi penfembagan ilmu pengetahuan dlm islam.
    7.berkembangnya ilnu pengetahuan
    Lahirya para altet olaraga
    berkembanya ekonomi masyarakat
    munculnya para ahli politik
    Lahirnya aluran atau sekte is islam
    8.khalifah abu jaffar
    Harun ar rasyid
    al makmum

  39. Nama:nur aliyah
    Kelas: 8.A
    Nis: 19019

    1.) nama abbasiyah diambil dari nama paman nabi muhammad saw.Yaitu abbas bin abdul muthallb bin hasyim.Bani hasyim merupakan garis keturunan yang lebih dekat dengan nabi

    3.) periode pertama dinasti abbasiyah berlangsung selama 97 tahun , dipimpin oleh khalifah,dari abu abbas a-safah(132 -136H/ 750754m) sampai khalifah al- khalifah al -warsiq .periode ini disebut dengan periode keenam binasti abbasiyah.

    4.) era keemasan islam ( THE GOLDEN AGES OF ISLAM)
    abbasiyah menjadi salah satu negara adikuasa dunia
    Pada abad VIII . M
    jasanya dalam bidang pengembangan ilmu
    Pengetahuan dan teknologi serta peredaban dunia
    Hingga abad ke 21 masih dirasakan dan dinikmati
    Sampai kini.

    5.) dalam urusan pemerintahan adalah saat ayahnya mempercayai memimpin ekspedisi militer untuk menaklukan bizantium sebanyak dua kali

    6.) politik pemerintahan di lingkungan istana berbekal pendidikan yang menandai.

    7.) dengan kita mengetahui bahwa dahulu peredaban umat islam itu dilakukan oleh seluruh dunia , makan akan memotifikasih sekaligus menjadu ilmu.

    8.) abu abbas as safah
    Khalifah harum al rasiyd
    Khalifah al wasiq
    Khalifah al mukkfazz
    Abu jakfar al mansur
    khalifah al amin
    Khalifah al mutawkkil
    Khalifah al muhtadi
    Khalifah muktafir
    Al mahdi
    Al makmuM
    AL muntasi
    al mukmid
    Al muktadir
    Al hadi
    Al muktasim
    Al mustain
    Al muktadid 🙂

  40. Nama:Andi aulia putri Salshabilla
    Kelas:8 a
    Nis:09003

    1.) nama Abbasiyah diambil dari nama paman nabi muhammad saw,yaitu abbas bin abdul Muthalib bin hasyim bani hasyim merupakan garis keturunan yang lebih dekat dengan nabi muhammad saw dan karena garis keturunan itulah bani Abbasiyah merasa lebih layak memegang pemerintahan dan kekuasaan islam dibanding bani umayyah.

    3.) periode pertama dinasti Abbasiyah berlangsung selama 97 tahun,dipimpin oleh 9 khalifah dari abu abbas as-safah (132-136 H /750754 m) sampai khalifah al-watsiq (227-232 H/842-847 m) periode ini disebut dengan periode kemasan dinasti Abbasiyah.ada pula sejarawan yang menyebutnya sebagai “periode pengaruh Persia pertama”.

    4.) salah satu khalifah daulah bani Abbasiyah yang terkenal karena kesuksesannya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.

    7.)mada daulah Abbasiyah adalah masa kemasan islam,atau sering disebut dengan istilah “the golden age”.

  41. 1. Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas
    3.-Periode Pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
    Periode ini disebut periode pengaruh Persia pertama. Pada periode ini, pemerintahan Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. Dinasti Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Walaupun demikian pada periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.
    – Periode Kedua (232 H/ 847 M – 334 H/ 945 M)
    Periode ini disebut masa pengaruh Turki pertama. Untuk mengontrol kekhalifahannya Al-Ma’mun bergantung kepada dukungan Tahir, seorang bangsawan Khurasan yang sebagai imbalan diangkat sebagai gubernur di Khurasan (820-822) dan jenderal bagi seluruh pasukan Abbasiyah dengan janji bahwa jabatan ini akan diwarisi oleh keturunannya. Al-Ma’mun dan Al-Mu’tashim mendirikan dea kekuatan bersenjata yaitu; pasukan syakiriyah yang dipimpin oleh pemimpin lokal dan pasukan Gilman yang terdiri dari budak-budak belian Turki. Yang penting dicatat disini adalah kalau pada masa kejayaannya bani Abbasa mendapat dukungan militer dari rakyatnya sendiri, pada masa kemunduran ini mereka bergantung kepada pasukan asing untuk dapat berkuasa atas rakyatnya sendiri, sehingga pemerintahan pusat menjadi lemah. .Masa-masa berikutnya sampai kedatangan kekuatan Bani Buwaih.
    – Periode Ketiga (334 H/ 945 M – 447 H/ 1055 M)
    Periode ini adalah periode masa kekuasaaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Abu Syuja’ Buwaih adalah seorang berkebangsaan Persia dari Dailam. Ketiga anaknya : Ali (‘Imad al-Daulah), hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Bani Buwaih. Kemunculan mereka dalam panggung sejarah Bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn kali dari dinasti saman, tetapi kemudian berpindah ke kubu Mardawij. Kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jenderal Tuzun (penguasa sebenarnya atas Baghdad) Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah.
    Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.
    – Periode Keempat (447 H/1055 M – 590 H/ 1194 M)
    Periode ini adalah masa kekuasaan dinasti Bani Saljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah atau disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. Saljuk (Saljuq) ibn Tuqaq adalah seorang pemimpin kaum Turki yang tinggal di Asia Tengah tepatnnya Transoxania atau Ma Wara’ al-Nahar atau Mavarranahr. Thughril Beg, cucu Saljuq yang memulai penampilan kaum Saljuk dalam panggung sejarah. Pada tahun 429/1037 ia tercatat sudah menguasai Merv. Kekuasaannya makin bertambah luas dari tahun ke tahun dan pada tahun 1055 menancapkan kekuasaannya atas Baghdad.

    4. -Harun ar-Rasyid (adanya pembangunan Univ pertama yang bernama Nizamiyah)
    -anaknya Harun ar-Rasyid yaitu al-Makmun.

    5.Dijadikannya kota baghdad sebagai pusat kendali pemerintahan itu mempunyai arti tersendiri bagi perkembangan dan kemajuan di bidang ekonomi. Baghdad merupakan sebuah kota yang terletak didaerah yang sangat strategis bagi perniagaan dan perdagangan. Baghdad menjadi daerah yang sangat ramai, karena disamping sebagai ibu kota kerajaan juga sebagai kota niaga yang cukup marak pada masa itu. Dari situlah negara akan dapat devisa yang sangat besar jumlahnya.

    Selain itu faktor pertambahan jumlah penduduk juga merupakan suatu faktor turut meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

    Adapun komoditi yang menjadi primadona pada masa itu adalah bahan pakaian atau tekstil yang menjadi konsumsi pasar .

    6. -Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .

    -Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

    -Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.

    -Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.

    -Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).

    7.Dalam Bidang Sosial dan Kemasyarakatan
    Kemajuan di bidang sosial kemasyarakatan yang terjadi anatara lain munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat yang semakin heterogen baik suku, bangsa, etnis, agama, dan bebagai unsur warga negara.

    8. Al ma’mun pengganti harun ar rasyid

  42. Nama:Andi aulia putri Salshabilla
    Kelas:8 a
    Nis:09003

    1.) nama Abbasiyah diambil dari nama paman nabi muhammad saw,yaitu abbas bin abdul Muthalib bin hasyim bani hasyim merupakan garis keturunan yang lebih dekat dengan nabi muhammad saw dan karena garis keturunan itulah bani Abbasiyah merasa lebih layak memegang pemerintahan dan kekuasaan islam dibanding bani umayyah.

    3.) periode pertama dinasti Abbasiyah berlangsung selama 97 tahun,dipimpin oleh 9 khalifah dari abu abbas as-safah (132-136 H /750754 m) sampai khalifah al-watsiq (227-232 H/842-847 m) periode ini disebut dengan periode kemasan dinasti Abbasiyah.ada pula sejarawan yang menyebutnya sebagai “periode pengaruh Persia pertama”.

    4.) salah satu khalifah daulah bani Abbasiyah yang terkenal karena kesuksesannya meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan.

    7.)masa daulah Abbasiyah adalah masa kemasan islam,atau sering disebut dengan istilah “the golden age”.

    8.)-abu abbas As-safah
    -khalifah harum al-rasyid
    –khalifah al-wasiq
    -khalifah al-muktazz
    -abu jakfar al-mansur
    -khalifah Al-Amin
    -khalifah al-mutawkkil

  43. Nama:Nurahmadani
    Kelas:8a

    1 pendiri dinasti Abbasiyah adalah Abdullah Al saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin abbas.dapat di katakan bahwa dinasti ini di sebut Abbasiyah karena memang dididrikan oleh keturunan Al Abbas yang merupakan paman dari Rasulullah Saw.masa kekuasaan dinasti Abbasiyah yankni dari 750 m/132h sampai 1258m/656 h

    2 gerakan penerjemahan yang berlangsung tiga fase. Fase yang pertama pada masa Khalifah Allah Mansur hingga harus Ar rasyid.fase kedua berlangsung mulai zaman Khalifah Allah Makmun hingga tahun 300h.fase ketiga setelah tahun 300 h terutama setelah adanya pembuatan kertas

    3 periode pertama 750m sampai 840 m,periode pengaruh Persia pertama.periode kedua 847m sampai 945 m,periode pengaruh Turki pertama.periode ketiga 945 m sampai 1005m,periode pengaruh Persia kedua

    4 Dalam bidang ilmu pengetahuanpada masa daula Bani Abbasiyah terdiri dari ilmu nakli dan Akli. Ilmu nakli terdiri dari ilmu tafsir,hadis,fiqih,Kalam,tasawwuf,dan bahasa adapun ilmu Akli seperti ilmu kedokteran,perbintangan,kimia,pasti,logika,filsafat,geografi

    5 dinasti Abbasiyah mampu mempercantik seni bangunan dan arsitektur dalam ekonomi berniaga
    6 a. Pemerintahan
    B.politik dan militer

    7a berkembangnya ilmu pengetahuan
    B lahirnya para atlit olahraga
    C berkembangnya ekonomi masyarakat
    D munculnya para ahli politik
    E lahirnya aliran atau sekte id Islam
    8 1 Khalifah abu Ja’far Allah Mansur
    2 Harun Ar-Rasyid
    3 almakmun

  44. 1.abu al-abbas
    3.tahun 132H/750M-232H/847Mdisebut pengaruh Persia pertama.periode kedua 232H/847 M-334 Hdisebut pengaruh Turki
    4.ilmu naqli terdiri dari ilmu tafsir,ilmu fiqih
    Ilmu aqli terdiri dari biologis,filasat
    5.-memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad
    -membentuk wirazat untuk membantu kekhalifahan dalam menjalankan pemerintahan negara
    -membentuk diwanul kitabaah yang tugasnya menjalankan tata usaha

    6.sebagai sebuah kekhalifahan, Abbasiyah memberikan banyak sumbangan-sumbangan positif bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama islam.Kemajuan yg sudah terlaksanakan dlm bidang pastinya tdk akan terlepas.di semua militer terdapat perbedaan karakteristik yg mencolok antara pemerintah ummayah, dan dinasti abbasiyah.PEMERINTAH UMMAYAH orientasi kebijakan,selalu ada upaya perluasan wilayah kekuasaan,sedangkan PEMERINTAH ABBASIYAH lebih memfokuskan diri untuk ilmu pengetahuan, dan peradaban agama islam
    7.semakin mengetahui bahwa ilmu pengetahuaan sumber dari kehidupan, ilmu pengetahuaan pun bisa membuat peradaban yang tinggi pada masa itu
    8.-abu al-abbas bin Muhammad as-Saffah
    -abu Ja’far Al Mansur
    -harin Ar-Rasyid

  45. 1)abdullah al saffah bin muhammad bin ali bin abdullah bin al abbas
    2)
    3)menjadi lima periode yaitu sebagai berikut periode pertama tahun 132 H/750 – 232H/847 M,disebut periode persia pertama,periode kedua tahun 232 H/847 M – pengaruh turki pertama
    4) a.perkembangan ilmu pengetahuan dan sastra seni.
    b.gerakan penerjemahan dan arabisasi
    c.mendirikan pusat kegiatan ilmiah di kufah dan basrah yang akhirnya memunculkan nama² besar
    5) a.memindahkan pusat pemerintah dari damaskus ke baghdad
    b.membentuk wirazat untu membantu kekholifaan dalam menjalankan pemerintah negara
    c.membentuk diwanul kitabah yang tugasnya menjalankan tata usaha
    6)kemajuan yang sudah terlakasanakan dalam bidang pastinya tidak akan terlepas,disemua militer terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara pemerintahan ummayyah dan dinasti abbasiyab.
    7)a.berkembangnya ilmu pengetahuan
    b. lahirnya para atlit olaraga
    c.berkembangnya ekonomi masyarakat
    d.munculnya para ahli politik
    e.lahirnya aliran atau sekte islam
    8.abu ja’far al manshur (754-775) al mahdi (775-785M)
    Harun al rasyid (1785-809M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT