BerandaArtikelTradisi Masyarakat Bugis-Makassar Sambut Muharram

Tradisi Masyarakat Bugis-Makassar Sambut Muharram

Oleh: Andi Adil Makkulau

Related Post: Fadhilah Bulan Muharram

PALONTARAQ.ID – Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender hijriyah. Sebagaimana Non Muslim merayakan awal penanggalan dalam kalender masehi, maka umat Islam di seluruh dunia pun umumnya menggelar dzikir dan doa bersama menyambut kedatangan Bulan Muharram.

Tradisi dalam menyambut Bulan Muharram ini juga berlaku dalam masyarakat Bugis Makassar. Salah satu bentuk tradisi itu umum dilakukan dengan membeli perabotan rumah. Hal ini dibenarkan Prof Muammar Bakry, Sekretaris Umum MUI Sulsel dan Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof. Nurhayati Rahman, bahwa tradisi membeli perabotan rumah di Bulan Muharram itu merupakan gambaran semangat baru menyambut pergantian kalender.

“Jika seorang memberikan nafkah terbaik buat keluarganya, tentu hal itu tidaklah menyalahi syariat, Sebab beramai-ramai membeli perabotan rumah hanyalah sebuah simbol saja, sebagai wadah, namun rezeki diyakini hanya Allah-lah yang memberi dan mengaturnya. Pemahaman seperti inilah yang perlu diluruskan”, ujar Prof Muammar Bakry, Sekretaris umum MUI Sulsel.

Menurutnya, hal itu di namakan tafa’ul dalam Islam, artinya kita berdoa melalui simbol-simbol pengharapan meskipun doa itu tidak melalui ucapan. Namun, dengan keyakinan itu tetap Allah lah yang memberikan rezeki, bukan alat-alat rumah tangga itu.

Islamisasi budaya masyarakat dalam menyambut bulan Muharram seperti tradisi membuat Jepe Syura, sebagai songkabala, pengusir bala’ dan musibah, kata Prof Muammar, itu juga adalah bagian dari tradisi yang berarti mengambil semangat bulan tersebut .

Selain memborong perkakas rumah, seperti gayung dan ember, salah satu tradisi menyambut Tahun Baru Hijriah di masyarakat Bugis adalah membuat bubur 7 rupa dan disertai dengan doa bersama, setelahnya diundanglah tetangga dan kerabat untuk makan bersama di rumah. Tradisi ini umum disebut Mappeca Sura, juga sebagai wadah silaturahmi antar masyarakat.

“Jadi yang terpenting itu dari tradisi mappeca sura, bukan buburnya sebenarnya. Tetapi lebih kepada bagaimana masyarakat bisa berkumpul, makan-makan bersama, dan membaca doa selamatan. Sayangnya tradisi ini perlahan-perlahan mulai hilang dari masyarakat,” ungkap Prof. Nurhayati.

Sejalan dengan pemaknaan itu, bahwa Muharram itu adalah bulan disunnahkannya berpuasa. Jadi, jika Jepe Syura ini dilakukan, hal itu bermaksud sebagai upaya untuk menarik keluarga agar berpuasa karena Allah. Sebab dengan adanya berbagai makanan yang tersedia, tentunya menjadi suatu kenikmatan tersendiri bagi yang berpuasa saat sudah berbuka, dan itu adalah tradisi yang sudah diislamkan.

Meski kini tradisi-tradisi menyambut Tahun Baru Islam sudah mulai pudar dalam masyarakat Bugis Makassar, bukan berarti semangat menyambutnya sudah mulai berkurang. Hal tersebut dapat terlihat dari berbagai kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di bulan Muharram. Seperti doa bersama dan puasa sunnah. (*)

 

(* Andi Adil Makkulau, Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah Universitas Negeri Makassar (UNM).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT