BerandaKhazanahBelajar Pendidikan Ideal dari Kisah Nabi Ibrahim

Belajar Pendidikan Ideal dari Kisah Nabi Ibrahim

Oleh: Dr. Adian Husaini *)

PALONTARAQ.ID – Pada 28 Mei 2023 saya mendapat undangan mengisi acara pengajian Ikatan Keluarga Balingka di Jakarta dan sekitarnya. Balingka adalah satu daerah di Sumatera Barat. Alhamdulillah, ini kali kedua, saya mengisi kajian di komunitas ini. Patut disyukuri, meskipun hidup di perantauan, orang-orang Minang tetap aktif menggelar acara kajian.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pernah menyampaikan kritiknya, bahwa Sumatera Barat kini kehilangan tokoh dan sosok ulama, karena sudah tidak ada lagi ulama besar yang lahir dari daerah itu. Dia membandingkan dulu sangat mudah menjumpai ulama Minang di masjid-masjid di Jakarta, namun sekarang sangat sulit.

“Mohon maaf. Sumbar kehilangan sosok ulama. Dulu di Jakarta, tahun 50-an atau 60 an, kalau ada jumatan di 10 masjid, 8 di antaranya khatibnya adalah orang Minang. Sekarang, mencari khatib orang Minang di Jakarta tidak mudah lagi,” kata JK di gedung DPRD Provinsi Sumatea Barat, Sabtu (1/10/2022), seperti dikutip detik.com.

Dalam beberapa kali perbincangan dengan para dai Minang, saya menyampaikan hal senada. Bahwa, sudah saatnya orang-orang Minang mengembangkan model pendidikan yang melahirkan para ulama dan tokoh-tokoh hebat seperti Buya Hamka, Mohammad Natsir, Mohammad Hatta, dan sebagainya.

Tentu, pendidikan yang dimaksudkan bukan hanya sekolah atau universitas secara formal. Pendidikan adalah semua upaya dan proses untuk melahirkan orang-orang baik, sesuai dengan potensinya. Dimana saja dan kapan saja, itulah pendidikan. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, itulah aktivitas pendidikan. Jangan disempitkan makna pendidikan hanya dengan aktivitas sekolah dan kuliah formal.

Pada kesempatan pengajian dengan keluarga Balingka tersebut, saya menyampaikan salah satu model pendidikan ideal yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim a.s. terhadap keluarganya. Bahwa, yang pertama kali ditanamkan oleh Ibrahim kepada keluarganya adalah adab kepada Allah, yaitu penanaman Tauhid.

Ibrahim mengajak ayahnya dan masyarakatnya untuk bertauhid dan meninggalkan kemusyrikan. Mereka menolak. Bahkan, menangkap dan menghukum serta mengusir Ibrahim. Al-Quran begitu jelas menempatkan posisi dan sosok Ibrahim sebagai sosok pembela Tauhid dan penentang keras kemusyrikan.

Kata Ibrahim, seperti disebutkan dalam Al-Quran: “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar (hanif), dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS Al-An’am:79).

Jadi, mengikuti model pendidikan ideal Nabi Ibrahim a.s., maka yang pertama kali ditanamkan adalah adab kepada Allah, yakni penanaman nilai-nilai Tauhid. Siapa pun yang mengikuti ajaran Tauhid – yakni yang Meng-Esa-kan Allah SWT – maka dialah pengikut Nabi Ibrahim a.s. Ia telah mengikuti agama Tauhid, yakni agama yang universal, agama semua Nabi.

Di zaman ini, setelah diutusnya Nabi Terakhir, yakni Nabi Muhammad saw, satu-satunya jalan untuk memeluk agama Tauhid, hanyalah melalui agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Jika tidak mau mengakui kenabian Muhammad saw, pastilah akan tersesat.

Saat ini, hanya Islamlah yang merupakan satu-satunya agama wahyu yang murni. Allah SWT tidak pernah menurunkan agama lain, selain Islam, (Inna ad-diina ‘indallaahi al-Islam), meskipun nama ‘Islam’ sebagai nama satu agama, baru ditegaskan setelah agama ini sempurna diturunkan kepada Nabi terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. (QS Ali Imran: 19). Itu artinya, dalam pandangan Islam, agama-agama lain, adalah masuk kategori agama budaya (cultural religion) atau agama sejarah (historical religion).

Masyarakat bertauhid adalah masyarakat yang adil dan beradab. Yakni, masyarakat yang tahu menempatkan dirinya, bahwa mereka adalah manusia, ciptaan, dan hamba Allah Yang Maha Kuasa. Orang beradab adalah orang yang memahami dan mau mengakui segala sesuau sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.

Karena itulah, dalam QS Luqman, syirik disebut tindakan yang sangat tidak beradab. (innasy syirka la-dhulmun ‘adhim). Bagaimana mungkin, Allah akan memberikan rahmatnya, jika manusia berani berlaku tidak beradab, dengan melakukan tindakan syirik kepada Allah SWT?

Padahal, Allah sudah berjanji, jika masyarakat beriman dan bertaqwa, maka mereka akan diberikan rahmat oleh Allah SWT: “Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri” (QS Al A’raf:96)

Itulah janji Allah. Jika bertauhid, beriman dan bertaqwa, pasti bangsa kita menjadi bangsa beradab dan hebat. Sebaliknya, jika kemusyrikan yang dikembangkan, maka azab Allah pasti datang.

Dengan landasan Tauhid inilah lahir sosok-sosok hebat hasil didikan Nabi Ibrahim a.s., seperti Hajar dan Ismail. Seorang anak seperti Ismail, karena komitmennya yang kokoh terhadap Tauhid, maka ia rela disembelih oleh ayahnya sendiri. Padahal, ayahnya bertahun-tahun meninggalkannya. Di situlah hadir seorang Hajar yang begitu hebat peranannya dalam mendidik anaknya, sehingga taat kepada Allah dan orang tuanya.

Kisah pendidikan Nabiyullah Ibrahim, Hajar, dan Ismail a.s. ini terus menginspirasi umat Islam, agar terus berjuang menegakkan kebenaran. Dan perjuangan itu bisa dilakukan dengan baik, jika ada manusia-manusia hebat yang dilahirkan melalui proses pendidikan ideal. Wallahu A’lam bish-shawab. (Depok, 28 Mei 2023). (*)

 

(* Sumber: www.adianhusaini.id

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT