Oleh: Muhammad Farid Wajdi
PALONTARAQ.ID – SYAIKH Prof Dr. Sulaiman bin Salimullah Ar Ruhailiy hafidzahullah adalah seorang ulama Ahlus sunnah dari Madinah, ceramahnya banyak di youtube tentang berbagai hal. Salah satu yang sering dibahasnya adalah tentan hakikat kebahagiaan.
Dalam beberapa kali kunjungannya ke Indonesia selalu menyempatkan berwasiat dan memberi nasehat, terkait munculnya berbagai macam fitnah dan perpecahan dikalangan kaum muslimin.
“Ini merupakan kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri. Dan tidak ada jalan keluar dari fitnah ini kecuali kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengakui segala kesalahan dan kekurangan kita, serta mengamalkan prinsip-prinsip ilmiah,” ujarnya.
Diantara nasehat Fadhilatus Syaikh Prof Dr. Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaily tersebut, ialah:
Pertama, Ilmu. Karena ilmu adalah cahaya, maka harus memiliki ilmu syar’i sehingga perkataan dan perbuatan menjadi lurus bahkan tujuannya juga benar. Selain itu juga harus memiliki sifat tawadhu’ dan semangat dalam belajar serta membuang sifat sombong.
كُلَّمَا ازدَادَ العِلْمُ ازدَادَ الذُلُّ لِلَّهِ وَازدَادَ التَّوَاضُعُ لِعِبادِ اللَّه
Artinya:
“Semakin bertambah ilmu seseorang maka semakin merendah diri kepada Allah dan semakin tawadhu’ kepada hamba-hamba Allah”.
Kedua, Bersatu, Persatuan harus dibangun diatas tiga prinsip: (1) Persatuan harus diatas agama dan untuk menegakkan agama. (2) Persatuan diatas kitab Allah, tidak mengenal basa basi, persatuan bukan diatas partai hizbiyyah dan organisasi, akan tetapi tegak diatas kitab Allah. (3) Persatuan dalam barisan Rasulullah (diatas sunnahnya) dengan mengikuti pemahaman salafush shaleh.
Ketiga, Bersikap Lemah lembut. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah radhiyallahu anha:
إِنَّ الرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ
Artinya:
“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek”.(HR. Muslim No. 2594)
Dalam hadits ini rawi menceritakan bahwa Aisyah waktu itu sedang menaiki onta tetapi ontanya rewel dan sulit maka beliau bersikap kasar kepada onta tersebut, maka Nabi SAW menasehati Aisyah r.a. agar bersikap lemah lembut meskipun kepada hewan.
Nabi shallallahu alaihi wasallam perintahkan bersikap lemah lembut kepada hewan apalagi kepada manusia maka lebih utama. Dalam riwayat lain Aisyah radhiyallahu anha bercerita:
أَنَّ اليَهُودَ أَتَوُا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالُوا : السَّامُ عَلَيْكَ ، قَالَ : وَعَلَيْكُمْ فَقَالَتْ عَائِشَةُ :
السَّامُ عَلَيْكُمْ ، وَلَعَنَكُمُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْكُمْ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
مَهْلًا يَا عَائِشَةُ ، عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكِ وَالعُنْفَ ، أَوِالفُحْشَ
Artinya:
“Suatu hari orang-orang yahudi datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam seraya berkata: kematian atasmu, maka Nabi menjawab: bahkan atasmu. maka Aisyah berkata: Semoga kematian atas kalian (yahudi), semoga Allah melaknat dan murka kepada kalian. maka Nabi bersabda : tenang wahai Aisyah, hendaklah engkau bersikap lemah lembut, dan jauhilah sikap kasar dan buruk”. (HR. Bukhari No. 6064)
Keempat, Bersikap Kasih Sayang. Wajib saling menyayangi sesama muslim. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya:
“Orang-orang penyayang akan disayangi Ar-Rahman (Allah), sayangilah yang di muka bumi niscaya yang di langit (Allah) akan menyayangimu”. (HR.Abu Dawud No.4941 dan Tirmidzi No.1924, dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam as shahihah No.922)
Kalau bukan karena Allah kita tidak bakalan mendapatkan hidayah. Kalau bukan karena Allah kita tidak tahu apa-apa, kalau bukan karena Allah kita tidak bisa mengajar, kalau bukan karena Allah kita tidak bisa berkumpul, maka wajib bersyukur kepada Allah dan memohon tambahan karunia dan rahmatNya. (*)


