Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Tulisan sebelumnya: Ancaman Pidana bagi yang Berkerumun saat ada Wabah Penyakit
PALONTARAQ.ID – Viralnya suatu berita atau informasi yang beredar di masyarakat, biasanya diiringi dengan viralnya pembenaran atas berita atau informasi itu.
Seperti tak ada yang mau ketinggalan untuk menjadi orang yang dahulu tahu dan memberikan informasi (memberi tahu) tentang itu, akhirnya berita atau informasi itu saling sambung menyambung dari satu japrian ke japrian yang lain, dari satu kotak pesan ke ratusan kotak pesan lainnya, memenuhi langit informasi kita.
Baru-baru ini viral pesan yang menghubungkan Virus Corona (Covid-19) dengan 4 perayaan Hari Besar Keagamaan yang jatuh pada tanggal yang sama, yaitu Imlek pada tanggal 25 Januari, Nyepi pada 25 Maret, Idul Fitri pada 25 Mei, dan Natal pada 25 Desember.
Lucunya lagi, karena hal itu dikaitkannya dengan Ayat Al-Qur’an, yaitu Qs 25 ayat 25, yang mana dalam Surah dan ayat dimaksud Allah SWT menjelaskan tentang langit akan terbelah, kemudian akan mengeluarkan asap dan para malaikat akan turun secara bergelombang.
Selengkapnya arti dari Qs. 25 (Al-Furqan) ayat 25 itu berbunyi:
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan para malaikat diturunkan (secara) bergelombang.” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 25)
Disebar-luaskanlah informasi yang ngawur bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan Virus Corona (Covid-19), dengan 4 tanggal perayaan keagamaan yang tanggal sama, serta dengan langit terbelah.
Cocokologi biasanya diakhiri pula dengan ungkapan atau kalimat bahwa hal tersebut jika benar adanya dan ada kaitannya.
Karena itu, si penulis Cocokologi ini meminta untuk berlindung kepada Allah SWT, semoga kita semua diteguhkan imannya dan tidak tergoda oleh duniawi yang fana ini. Si penulis Cocokologi menutupnya dengan kalimat bahwa Kebenaran hanya milik Allah SWT.
Cukup banyak orang awam yang terpengaruh dengan “Ilmu cocok-mencocokkan” ini, apalagi jika ditambah si penulis “Cocokologi” ini mengatakan bahwa apa yang ditulisnya sudah dikonfirmasi kepada seorang “ustadz” dan membenarkannya.
Sebuah pesan kebaikan dan ajakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tidaklah boleh didahului oleh cerita rekaan, atau kebohongan, apalagi dengan mengikut-sertakan firman Allah SWT sebagai ‘pembenaran’ atas informasi itu.
Cocokologi yang tak kalah menyesatkannya adalah lafadz “Qarna” dalam Al-Qur’anul Karim (Qs. Al-Ahzab: 33) dihubungkan dengan “Corona” (Virus Corona).
Lafadz ini (waskurna) dalam Al-Quran ini bukan menunjukkan “Corona” (Virus Corona).
Lafadz ini, “waskurna” yang dilanjutkan dengan lafadz: ….. ma yutla fi buyutikum” yang artinya: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, bukan menunjukkan Corona, atau dianggap sebagai solusi Corona, karena Cocokologi dari artinya.
Cocokologi ini menyebutkan bahwa solusi wabah Virus Corona adalah diam atau berdiam di rumah (Stay at home), sesuai arti ayat tersebut agar tetap di rumah. Sekilas akan tampak sebagai pembenaran, apalagi bila orang awam yang mendapatkan “Cocokologi” ini.
Cocokologi yang menghubungkan “Qarna” dengan Corona ini tentu saja sangat tidak benar. Lafadz (قرن) itu bacaannya “Qarna” sebagai fi’il amr (kata perintah) untuk perempuan.
Jadi, jika bacaannya “Qarna” dengan memasukkan “nun inats”, perintahnya untuk perempuan. Untuk laki-laki, beda lagi lafadznya sebagaimana diajarkan dalam Ilmu Sharaf.
Jadi, sangat jelas bahwa “Cocokologi” sangat ngawur, ngasal saja, sekadar menghubung-hubungkan.
Sangat jelas itu perintah untuk perempuan. Apakah solusi penyebaran Virus Corona (Covid-19) itu adalah perintah untuk berdiam diri di rumah hanya untuk perempuan saja?
Lagipula, memaknai suatu kata dan kalimat dalam Al-Qur’an itu diperlukan “Ilmu-ilmu alat”, Ilmu Bahasa Arab dan Tata Bahasanya, serta tentu saja diperhatikan/dipelajari pula Asbabun Nuzulnya itu ayat.
Nah, itu ayat itu sebenarnya bercerita tentang Istri-istri Nabi. Lihat pula ayat sebelum ayat Qs. Al-Ahzab: 33 itu supaya mendapatkan pemahaman utuh, dari konteks dan arti ayat saja dulu.
Perlu diketahui bahwa Bahasa Arab dari Corona atau Korona adalah كورونا. Jadi, bukan Qarna (قرن).
Alhamdulillah, Al-Quran itu bukan untuk cocokologi, tetapi dipelajari tafsirnya dan diamalkan, dan untuk memahami tafsir Al-Qur’an itu perlu banyak belajar Ilmu-ilmu alat, yang dalam khazanah keilmuan, dasar-dasarnya telah dapat dipelajari di Madrasah atau di Pesantren.
Lihat pula: Tiga Hal Mengenai Corona yang Harus Kamu Tahu!
Tentang Penyebaran Wabah Penyakit, dalam Skala Epidemi dan Pandemi, bahaya dianggap bisa mematikan banyak orang, telah ada hadits yang menjadi rujukan dan referensi, sebagai diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah رضي الله عنها, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ
Artinya:
Tidak ada seseorang yang terjadi wabah, lalu ia diam di rumahnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, serta meyakini bahwa tidak menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah baginya, kecuali ia akan memperoleh pahala orang yang mati syahid. (Hadits shahih Riwayat Ahmad: 2613).
Jadi, sekali lagi, hindari Cocokologi. Cukuplah hadits diatas sebagai pengingat sekaligus perintah untuk “Stay at home” atau berdiam di rumah saja ketika terjadi wabah penyakit yang mematikan sebagaimana Virus Corona (Covid-19).
Insya Allah, dengan berdiam di rumah pahalanya besar sekali, malahan dijanjikan seperti pahala orang yang mati syahid.
Dengan berdiam di rumah saja, sudah dapat mengurangi atau meniadakan penyebaran Virus Corona (Covid-19) itu. Dengan begitu pula berarti dapat menyelamatkan nyawa banyak orang.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)
Muhammad Farid Wajdi, Pengasuh/Guru Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep.


