BerandaFeatureKita Paham, dimana posisi Presiden Jokowi

Kita Paham, dimana posisi Presiden Jokowi

Presiden Jokowi dan PM India, Narendra Modi. (foto: ist/palontaraq)
Presiden Jokowi dan PM India, Narendra Modi. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – Orang zalim akan selalu bersama dengan sesama penzalim. Sama seperti penjudi, tidak akan berteman kecuali dengan penjudi. Pelacur akan bergaul dengan pria hidung belang, pemabuk akan karib bersama teman-teman di kedai minuman.

Begitu juga dengan Jokowi, dia bersama China dan India. Bukan bersama muslim Uighur atau Muslim India yang dizalimi, namun bersama penindas muslim Uighur dan Muslim India, rezim komunis China dan rezim Hindu Radikal India.

Saat muslim Uighur butuh pertolongan, saat dunia mengisolasi China karena Corona, Jokowi justru menolong rezim komunis China dan mengisolasi muslim Uighur. Saat muslim India butuh pertolongan, Jokowi malah karib dengan rezim Hindu biadab India, mengadakan hubungan dagang, melakukan import yang menguntungkan India.

Kenapa Jokowi melakukan itu ? Karena, dinegeri ini, Jokowi juga memainkan peran sebagai penzalim sama seperti kezaliman yang dilakukan India dan China. Rakyat di negeri ini, merasakan betul betapa zalimnya kebijakan Jokowi.

Saat rakyat butuh pekerjaan, Jokowi justru mengeksploitasi sumber daya alam yang melimpah, untuk membuka lapangan pekerjaan bagi TKA China. Saat banyak guru honorer tak jelas gaji dan statusnya, Jokowi justru membuka keran bagi guru dan dosen asing untuk ‘mendidik’ anak negeri.

Saat rakyat terbebani dengan kemiskinan, pengangguran, Jokowi justru mengintensifkan utang. Bahkan, beban pembayaran utang lebih besar ketimbang utang BPJS untuk program kesehatan rakyat.

Jika Jokowi bisa ‘bungkam’ atas apa yang menimpa muslim Uighur dan Muslim India, wajar saja. Terhadap rakyatnya saja, korban pemilu dan pilpres, 800 lebih anggota KPPS meninggal misterius, Jokowi anteng saja.

Jadi untuk kasus India, jangan bermimpi Jokowi akan mengusir Dubes India. Mengeluarkan kecaman saja, Jokowi mungkin tidak akan sanggup.

Jokowi hanya mampu berkata, sebatas apa yang telah didikte oleh para rezim zalim. Jokowi tak mungkin melanggar, batas-batas yang telah ditentukan rezim biadab China dan India.

Percayalah, seorang tiran tak mungkin mengkritisi tiran lainnya. Para Tiran, akan saling menolong, membantu, saling melindungi diri dari amukan rakyat.

Tetapi ingat, saat rakyat bergerak, saat kemarahan memuncak, saat istana para Tiran dirobohkan oleh kedaulatan rakyat, maka tiran yang lain akan lari, selamatkan diri sendiri. Kerena sesungguhnya, ikatan para Tiran itu rapuh, serapuh sarang laba-laba. []

 

Nasrudin Joha

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT