BerandaBeritaInternasionalHari ini dalam Sejarah (30 Maret): Dari Pembelian Alaska sampai Peresmian Mapolda...

Hari ini dalam Sejarah (30 Maret): Dari Pembelian Alaska sampai Peresmian Mapolda Metro Jaya

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

PALONTARAQ.ID – Tanggal 30 Maret menyimpan berbagai memori kolektif yang mengubah peta sejarah dunia, mulai dari kedaulatan wilayah hingga perjuangan ideologi dan seni. Berikut ini beberapa peristiwa penting dan bersejarah yang terjadi pada tanggal 30 Maret, disertai ulasan dan hikmahnya.

  1. Pembelian Alaska (1867)

Pada Tanggal 30 Maret 1867, Amerika Serikat resmi membeli wilayah Alaska dari Kekaisaran Rusia seharga 7,2 juta dolar AS. Peristiwa ini awalnya diejek oleh publik Amerika dan media sebagai “Seward’s Folly” (Kegilaan Seward) karena dianggap membeli tanah es yang tidak berguna. Namun, di kemudian hari, Alaska terbukti kaya akan emas, minyak, dan gas alam. Lihat: Sejarah Pembelian Alaska – National Geographic

Peristiwa ini mengajarkan kita tentang pentingnya visi jangka panjang. Seringkali, sebuah keputusan besar diejek karena hasilnya tidak terlihat secara instan. Kebijaksanaan seorang pemimpin diuji dari kemampuannya melihat potensi masa depan yang tidak terlihat oleh orang awam.

2. Percobaan Pembunuhan Presiden Ronald Reagan (1981)

Pada 30 Maret 1981, Presiden Amerika Serikat ke-40, Ronald Reagan, ditembak di luar Hotel Hilton, Washington D.C., oleh John Hinckley Jr. Reagan terluka parah namun berhasil selamat setelah menjalani operasi darurat. Peristiwa ini mengguncang dunia dan memicu perdebatan panjang mengenai keamanan kepresidenan serta pengendalian senjata. Lihat: The Assassination Attempt on Ronald Reagan – Britannica

Kejadian ini menunjukkan bahwa takdir dan keselamatan ada di tangan Yang Maha Kuasa, namun kesiapsiagaan manusia (dalam hal ini tim medis dan pengamanan) tetap menjadi ikhtiar yang krusial. Selain itu, peristiwa ini mengingatkan bahwa kebencian atau obsesi yang tidak terkendali dapat memicu tindakan destruktif yang merugikan banyak pihak.

3. Hari Film Nasional Indonesia (Sejarah Syuting Film “Darah dan Doa” – 1950)

Bagi bangsa Indonesia, 30 Maret diperingati sebagai Hari Film Nasional. Tanggal ini dipilih karena pada 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film “Darah dan Doa” (The Long March of Siliwangi) karya sutradara Usmar Ismail. Ini dianggap sebagai film pertama yang diproduksi sepenuhnya oleh orang Indonesia (LFN) dengan rasa kebangsaan yang kental. Lihat: Sejarah Hari Film Nasional 30 Maret – Kompas.com

Peristiwa ini adalah simbol kemandirian dan identitas. Hikmahnya adalah bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menceritakan kisahnya sendiri melalui karyanya sendiri. Kita diingatkan untuk terus menghargai karya anak bangsa dan menggunakan seni sebagai alat untuk merawat sejarah serta karakter nasional.

4. Hari Film Nasional: Tonggak Kedaulatan Budaya (1950)

Secara politis, penetapan 30 Maret sebagai Hari Film Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 25 Tahun 1999 merupakan pengakuan negara terhadap film sebagai instrumen politik dan budaya. Pada 30 Maret 1950, Usmar Ismail memulai syuting film Darah dan Doa. Peristiwa ini bukan sekadar aktivitas seni, melainkan pernyataan politik bahwa bangsa yang baru merdeka mampu memproduksi narasi sejarahnya sendiri tanpa campur tangan asing. Lihat: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI – Sejarah Hari Film Nasional

5. Peresmian Mapolda Metro Jaya (1981)

Dalam sejarah keamanan dan tata kelola politik ibu kota, pada 30 Maret 1981, gedung Markas Komando Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Mapolda Metro Jaya) di Jalan Jenderal Sudirman diresmikan. Gedung ini menjadi simbol penguatan infrastruktur keamanan negara di pusat kekuasaan politik nasional pada masa Orde Baru. Lihat: Arsip Harian Kompas, Edisi 31 Maret 1981.

***

Tanggal 30 Maret mengingatkan kita bahwa sejarah adalah percampuran antara diplomasi (Alaska), tragedi yang teratasi (Reagan), dan kebangkitan budaya (Film Nasional). Hikmah menyeluruhnya adalah setiap tindakan yang diambil hari ini, baik itu berupa perjanjian, ketangguhan dalam bahaya, maupun karya seni, akan menjadi catatan yang menentukan wajah peradaban di masa depan.

Peristiwa Hari Film Nasional mengajarkan bahwa kedaulatan sebuah negara tidak hanya diukur dari pengakuan wilayah, tetapi juga dari kemampuan menguasai media dan narasi. Jika kita tidak menulis sejarah kita sendiri, orang lain akan menuliskannya untuk kita dengan sudut pandang mereka.

Peresmian infrastruktur keamanan (seperti Mapolda) mengingatkan bahwa stabilitas politik memerlukan kesiapan institusi yang kuat. Tanpa keamanan yang terkelola, proses pembangunan dan demokrasi tidak akan berjalan maksimal. Sejarah yang terjadi di tanggal 30 Maret dari tahun ke tahun menunjukkan adanya estafet perjuangan. Dari perjuangan fisik menuju perjuangan diplomasi dan akhirnya perjuangan melalui karya kreatif (film).

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Blogger dan Jurnalis Independen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT