Sejarah Hari Ini: Muammar Qaddafi Jadi PM Libya

by Penulis Palontaraq | Rabu, Jan 15, 2020 | 43 views
Moammar Qaddafi. (foto: ist/palontaraq)

Moammar Qaddafi. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

PALONTARAQ.ID – Pada 15 Januari 1970, Muammar al-Qaddafi, dinyatakan sebagai perdana menteri Libya. Qaddafi yang merupakan kapten tentara muda Libya ketika itu berhasil  menggulingkan Raja Idris pada September 1969.

Siapa sangka perjalanan hidup Qaddafi yang dilahirkan di tenda Padang Pasir Libya, anak seorang Petani Badui, dengan semangatnya bersekolah sampai kemudian berhasil menempu pendidikan tinggi di Akademi Militer Libya, dapat naik ke tampuk kepemimpinan Nasional Libya.

Dilansir History, Qaddafi  sebagai seorang nasionalis Arab memiliki rencana menggulingkan Kerajaan Libya pada Tanggal 1 September 1969.  Pemikiran dan Tindakannya memadukan ortodoksi Islam, sosialisme revolusioner, dan nasionalisme Arab.

Qaddafi membangun keditaktoran yang teramat anti Barat.  Pada tahun 1970, ia memindahkan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) dan Inggris, serta mengusir Italia dan Yahudi.

Pada tahun 1973, Qaddafi menerapkan kembali hukum Islam tradisional, seperti larangan minuman beralkohol dan perjudian, meski ia tetap membebaskan perempuan dan meluncurkan program sosial yang meningkatkan standar hidup di Libya.

Sebagai bagian dari ambisinya, ia mencari hubungan yang lebih dekat dengan tetangganya, terutama Mesir. Namun, ketika Mesir dan kemudian Negara-negara Arab lainnya memulai proses perdamaian dengan Israel, Libya semakin terisolasi.

Pada dasawarsa 1970-an dan 1980-an, Libya terlibat konflik perbatasan dengan Mesir dan Chad yang berakhir dengan kekalahan.

Pada masa itu, Pemerintah Qaddafi membiayai berbagai kelompok teroris di seluruh dunia, dari gerilyawan Palestina dan pemberontak Muslim Filipina hingga Tentara Republik Irlandia.

Selama Tahun 1980-an, Barat menyalahkan Qaddafi atas berbagai serangan teroris yang terjadi di Eropa.

Pada April 1986 pesawat perang AS mengebom Tripoli sebagai pembalasan atas pengeboman di Jerman Barat. Qaddafi dilaporkan terluka dan putrinya yang masih bayi terbunuh dalam serangan AS.

Pada akhir Tahun 1990-an, Qaddafi berusaha untuk memimpin Libya keluar dari isolasi internasional yang panjang dengan beralih ke Barat.

Setelah bertahun-tahun penolakan di dunia Arab, Qaddafi juga berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih kuat dengan Negara-negara Afrika non-Islam seperti Afrika Selatan.

Qaddafi mengejutkan banyak orang di seluruh dunia ketika dia menjadi salah satu kepala negara Muslim pertama yang mengecam Al-Qaidah setelah serangan World Trade Center di Amerika Serikat, 11 September 2001.

Pada tahun 2003, ia mendapat dukungan dari pemerintahan George W Bush ketika ia mengumumkan keberadaan program untuk membangun senjata pemusnah massal di Libya dan bahwa ia akan mengizinkan sebuah badan internasional untuk memeriksa dan membongkarnya.

Pada Februari 2011, ketika kerusuhan menyebar ke sebagian besar dunia Arab, protes politik besar-besaran terhadap rezim Qaddafi memicu perang sipil antara kaum revolusioner dan loyalis.

Pada Maret, sebuah koalisi internasional mulai melakukan serangan udara terhadap kubu Qaddafi di bawah naungan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Dampaknya, Gabungan pasukan Amerika, Inggris dan Perancis memborbardir Tripoli dengan alasan mengamankan zona larangan terbang, yang dikeluarkan PBB.

Kebijakan inilah yang di kemudian hari berujung akhir dari kekuasaan Qaddafi.  Bukan hanya ancaman terhadap kekuasaannya, tapi juga kehancuran negara dan rakyatnya.

Diluar wacana tentang buruknya pemerintahan Khaddafi dalam negeri, Qaddafi  menentang dan menolak intervensi asing terhadap negaranya, dalam hal apapun.

Qaddafi  berpidato ditengah rakyat pendukungnya bahwa dirinya dan pasukan Libya yang setia kepada dirinya tidak akan menyerah terhadap gempuran pihak barat.

Kami tidak akan menyerah. Kami akan mengalahkan mereka bagaimanapun caranya. Kami siap untuk bertempur. Apakah itu pertempuran singkat ataupun jangka panjang, pada akhirnya kami yang akan menang”, ujarnya bersemangat.

Masih dalam pidatonya, Qaddafi dengan lantang mengatakan, “Serangan ini, dilakukan oleh sekumpulan Orang – orang fasis Barat yang akan berakhir di tempat tong sampah sejarah,” Ujarnya di Bab Al Azizia, Tripoli (22/3)  dihadapan rakyat pendukungnya yang menyambutnya dengan sorak sorai, sebagaimana dikutip Reuters.

Esoknya Rabu pagi (23/3), Qaddafi kembali berpidato di tengah rakyat pendukungnya di timur Tripoli dekat kota Misrata, sebagaimana dikutip CNN, “Mereka tidak bisa meneror kita. Kita bersenang-senang dengan roket-roket mereka. Rakyat Libya menertawakan roket-roket itu. Kita akan mengalahkan mereka dengan metode apapun,” tegasnya sebagaimana dikutip CNN.

“Rakyat Libya sedang memimpin perang internasional melawan imperialisme, melawan kelaliman dan saya katakan kepada Anda, saya tidak takut”, tambahnya.

Sejarah kemudian berkata lain, Pada 20 Oktober, pemerintah sementara Libya bentukan Barat mengumumkan bahwa Qaddafi telah meninggal setelah ditangkap di dekat kampung halamannya di Sirte. (*)

 

Sumber:

– Indonesia Perlu Belajar dari Khaddafi oleh: M. Farid W Makkulau, dimuat di Kompasiana, 26 Maret 2011;

– Sejarah Hari ini: Muammar Qaddafi jadi PM Libya, Republika.co.id, 15 Januari 2020.

 

 

Like it? Share it!

Leave A Response