Ajjowareng, Wujud Pemimpin Bugis

by Penulis Palontaraq | Jumat, Okt 18, 2019 | 34 views
Ilustrated by: ist/palontaraq)

Ilustrated by: ist/palontaraq)

Oleh: La Oddang Tosessungriu

Related Post: Relasi Simbolik Kalompoang dan Pusaka

PALONTARAQ.ID – Diambil dari sebutan perkakas bajak sawah, yakni seperangkat alat dari kayu yang dipasang melintang diatas tengkuk sepasang sapi/kerbau agar keduanya terikat satu sama lain hingga dapat berjalan seiring.

Kiranya inilah salahsatu kata yang menggambarkan “pemimpin” dalam khazanah Bugis, selain menurut fungsinya, antaralain ; Addaowang (tempat berlindung), Pajung (payung yang menaungi), Pangulu (gagang) dan lain sebagainya.

Kepemimpinan bukanlah suatu ilmu, demikian Orang-orang Bugis memahaminya. Melainkan ia merupakan karakter yang terbentuk secara alami menurut situasi dan kondisi pada suatu waktu serta dipandu oleh takdir. Olehnya itu, kehadirannya tak terlepas dari kehendak Yang Maha Kuasa.

Masyarakat Bugis adalah salahsatu bangsa yang kaya dengan literatur sifat kepemimpinan, sebagaimana tertulis pada petuah para cendekiawan dari masa ke masa.

Antara lain Tociung To Tongeng MaccaE ri Luwu, La Tiringeng To Taba, La Tadampare’ Puang Rimaggalatung, La MEllong TosuallE Kajao Laliddo, La Pagala NEnE Mallomo Petta MulaiyE DEcEng ri SidEnrEng, La Manussa Toakkkarangeng, Puang TakkEbuku Arung EndEkang Arungtoi ri Maiwa, La Waniaga Arung Bila serta banyak lagi yang lainnya.

Mereka semua mewasiatkan hal-hal utama menjadi prasyarat untuk menjadi pemimpin (ajjoareng) yang baik.

Datu Luwu XL, Opu La Maradang Mackulau. (foto: ist/palontaraq)

Datu Luwu XL, Opu La Maradang Mackulau. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu yang masyhur dinasehatkan dalam hal ini adalah “mengelola emosi” dengan “ilmu pengetahuan” sehingga memiliki kompetensi kecerdasan emosi yang teruji.

Maka para Toriolo (leluhur) itu mewasiatkan :

“DE’ lain pappibalingna Tobongngo’E, sangadingna Cai'”

(Tiada lain jawaban orang dungu, selain marah)

Amarah antaralain merupakan letupan emosi yang mencapai puncak tensinya (pella). Tatkala berhadapan dengan suatu masalah yang menyentuh hati (perasaan), panas menggelegak memacu jantungnya, hingga aliran darah sedemikian cepat memenuhi saraf di kepala.

Sementara diketahui, otak yang memproses olah pikir menjadi timbangan rasio adanya di kepala! Segala pertimbangan itu otomatis tidak kondusif, pada ujungnya kemudian menjadi tidak logis.

Simbol Ajjowareng dalam Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq)

Salah satu Simbol Ajjowareng dalam Kedatuan Luwu. (foto: ist/palontaraq)

Menghadapi kondisi seperti ini, leluhur cerdas itu menasehatkan bahwa pemimpin itu haruslah berani (warani). Namun indikator pemberani itu sungguh berbeda dengan persepsi umum hari ini. Sebagaimana dikatakannya :

“Tanra-tanranna TowaraniE, DE’ natakkini duppai karEba majaa’, oncoppi karEba madEcEng. Naissengtoi duppai ada majaa’, EnrengngEtopa ada madEcEng”

(Ciri-ciri orang berani, tidak terkejut menyambut kabar buruk, terlebih kabar baik. Terampil membalas perkataan buruk, serta pula perkataan baik).

Bahwa pemimpin yang memiliki keberanian itu adalah orang yang berkepribadian tenang. Ia tidak mudah panik disebabkan ketenangan jiwanya yang teramat dalam.

Sedangkan ketenangan jiwa antara lain disebabkan oleh pengetahuan dan pemahaman yang dalam. Olehnya itu, ia adalah sosok yang terampil berdiplomasi dalam segala kondisi.

Prof. DR. Muh. Siri Dangnga (Rektor UMPAR) dalam suatu ceramahnya pada tahun 2008, beliau mengemukakan, “Sifat dan karakter pada seseorang dapat berubah dalam suatu proses pendidikan. Namun yang tidak bisa berubah, adalah Temperamental”.

Gampang naik darah lebih dipengaruhi oleh genetika. Seseorang bisa saja sudah “pemarah” sejak lahir. Namun sisi baik seorang temperamental adalah pada umumnya kepekaan sosial, mudah memaafkan, refleksional dan potensi IQ yang tinggi.

Ilustrated by: ist/palontaraq

Ilustrated by: ist/palontaraq

Olehnya itu, seorang yang tinggi temperamentalnya seyogyanya mengasah potensi itu dengan menimba pengetahuan yang sebanyak-banyaknya.

Keutamaan derajat Ilmu Pengetahuan akan menuntunnya pada kesadaran Iman serta ketaatan Taqwa, sehingga menjadikannya sosok pemimpin kharismatik yang diridloi Allah Maliqul Quddus.

Pada akhirnya, seorang pemimpin (ajjoareng) yang mumpuni, atas berkat dan ridlo Allah akan selalu menjadikan ” ikhlas” sebagai perisai dirinya, “sabar” sebagai busananya dan “tawakkal” sebagai senjatanya.

Bertawakkal atas diri, keluarga serta kaumnya hanya kepada Allah, dengan senantiasa berpendirian, “Dengan iman dan akhlaq aku menjadi kuat, tanpa iman dan ahlaq aku menjadi lemah”.

Mengalir uraian ini, kita do’akan agar semua pemimpin, yang ditakdirkan menjadi Pemimpin dan dilevel manapun kepemimpinan itu, jika sudah mendapatkan amanah rakyat, dapat mengemban tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

Semoga amanah dan Diridloi Allah SWT. Segala harapan baik berkenaan kesejahteraan dan kedamaian bangsa besar ini diamanahkan pada bapak berdua, hal mana itu pasti akan dipertanggungjawabkan pada Yawmul Hizab di hari kemudian.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response