Highlight Ketika Allah SWT menutup Aib kita

Ketika Allah SWT menutup Aib kita

-

- Advertisment -

Bersyukurlah karena segala aib kita masih ditutupi Allah SWT. (foto: ist/palontaraq)
Bersyukurlah karena segala aib kita masih ditutupi Allah SWT. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha | https://t.me/NasjoReborn

Related Post:  Soal Uyghur, Zei Wei Jian termakan Propaganda China Komunis

PALONTARAQ.ID – Manusia itu terlihat besar karena Allah SWT tutupi aibnya. Andai saja, setiap diri tak mampu menutupi aib, setiap cela Allah SWT buka, niscaya tak ada kemampuan diri ini untuk mendongakkan muka dihadapan khalayak.

Beberapa hari ini, Allah SWT membuka aib banyak orang yang mengaku tokoh juga ulama. Mereka, diadili opini publik karena terbukti telah memangsa daging dan meminum darah saudara seiman, kaum muslimin Uighur.

Tak tanggung, sejumlah nama dari ormas yang mengaku terbesar mencuat. Publik kemudian bertanya-tanya, masak iya sih? Kok begitu tega? Faktanya, parade memangsa daging dan meminum darah kaum muslimin itu nyata adanya.

Sebenarnya, Nasjo ketika membuat tulisan itu bukan hendak membuka aib dari para tokoh atau siapapun yang mengaku ulama. Tetapi Nasjo, sedang menyelamatkan umat dari mulut-mulut kotor yang tega memangsa daging dan meminum darah saudara muslim.

Motifnya adalah dakwah, mengkritik dalam rangka amar Ma’ruf nahi munkar. Ada beberapa tujuan kritik Nasjo terhadap para tokoh, diantaranya :

Pertama, tentu membuka hakekat isu yang bergulir. Dalam kasus muslim Uighur misalnya, Nasjo ingin membuka kondisi sesungguhnya yang dialami muslim Uighur, yang mendapat dan mengalami kezaliman dan penindasan rezim China.

Jadi, keliru klaim dan pernyataan para pendusta yang telah dibiayai China, plesir ke provinsi Xinjiang, kemudian sibuk menjadi jubir China dengan mempromosikan Muslim Uyghur baik-baik saja. Atau memberi legitimasi bagi rezim China menangkap dan memenjara muslim Uighur di kamp-kamp konsentrasi berdalih isu radikalisme, terorisme, pemberontakan.

Kedua, ingin mengingatkan tokoh yang berbuat maksiat agar kembali kepada Islam. Kenapa Nasjo mengkritik tokoh tersebut secara terbuka , bukan dengan bisik-bisik empat mata ? Bukan dengan Tabayun sambil melindungi aib tokoh?

Jawabnya, karena tokoh itu secara terbuka dan terang-terangan mendemontrasikan kemaksiatan, menebar fitnah atas kondisi muslim Uighur. Jadi, karena tokoh itu bangga atas maksiat yang dilakukannya secara terbuka, maka kritik Nasjo juga terbuka.

Selain itu Nasjo tak memiliki jalur menasihati langsung, kecuali melalui media sosial. Melalui viralnya tulisan, InsyaAllah pesan Nasjo akan sampai pada tokoh yang dikritik.

Ketiga, jika pun tokoh yang dikritik tidak isyaf, tidak sadar, malah semakin sombong, kritik terbuka Nasjo punya tujuan agar umat tidak termakan fitnah dan adu domba tokoh tadi. Mereka secara sadar menjadi jubir rezim China, secara sadar makan dari daging dan darah penderitaan Uighur.

Umat ini wajib disadarkan dan diajak hati-hati pada tokoh. Umat ini wajib melepas keterikatan dengan ulama cash, dan hanya mau terikat dengan fatwa ulama khusus yang taat dan takut kepada Allah SWT.

Keempat, pengetahuan Nasjo atas aib dari sejumlah tokoh dari berbagai sumber itu banyak. Jika saja tujuannya cuma membuka aib, maka akan banyak tokoh yang ‘dipermalukan’ oleh Nasjo.

Tetapi Nasjo memiliki adab, hanya membuka apa yang telah diulas oleh media atau diakui dan dinyatakan langsung oleh tokoh. Andai saja semua yang diketahui dibicarakan, niscaya tak ada lagi tersisa kepercayaan umat ini pada tokoh-tokoh yang dianggap kharismatik, yang dianggap berjuang dan hanya membela kepentingan umat.

Sekali lagi, ketika Allah SWT menutupi aib kita, itu ada dua tujuan. Pertama, Allah sayang kepada kita. Kedua, Allah SWT menunggu tobat kita. Karena itu, segeralah bertaubat sebelum Allah SWT membuka aib kita. [*]

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you