Sejarah Nasional Sejarah Museum Nasional

Sejarah Museum Nasional

-

- Advertisment -

Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya: Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah?

PALONTARAQ.ID – Museum Nasional Indonesia yang ada sekarang di Jalan Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat, DKI Jakarta dalam sejarahnya didirikan pada 24 April 1778 sebagaimana disebutkan dalam situs resmi Museum Nasional.

Museum Nasional yang memiliki 141.899 koleksi ini, merupakan satu kesatuan museum arkeologi, sejarah, etnografi, dan geografi. Museum yang disebut juga Museum Gajah ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Cikal bakal museum ini lahir pada Tahun 1778, pada saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Ketika itu, J.C.M. Radermacher sebagai ketua perkumpulan, menyumbang sebuah gedung yang bertempat di Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya yang ada didalamnya, inilah yang kelak menjadi dasar untuk pendirian museum.

Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)

Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)

Pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816), Sir Thomas Stamford Raffles yang juga merupakan Direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No. 3.

Gedung ini digunakan sebagai Museum dan Ruang Pertemuan untuk Literary Society, dahulu disebut “Societeit de Harmonie”. Lokasi gedung ini sekarang menjadi bagian dari kompleks Sekretariat Negara.

Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Gedung Museum Nasional. (foto: ist/palontaraq)

Dalam Gedung A dan Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Dalam Gedung A dan Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pada tahun 1862, setelah koleksi semakin banyak memenuhi museum di Jalan Majapahit, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan gedung yang hingga kini masih ditempati sebagai tanggapan atas Perhimpunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bertujuan menelaah riset-riset ilmiah di Hindia Belanda.

Gedung museum ini dibuka untuk umum pada Tahun 1868. Sampai pada Tahun 1900-an, Museum Nasional yang ada sekarang dahulunya disebut Museum Royal Batavian Society of Arts and Sciences Batavia.

Lihat pula:  Menelisik Sejarah dan Arsitektur Monas

Setelah Kemerdekaan Indonesia, Lembaga Kebudayaan Indonesia (LKI) yang mengelola menyerahkan museum tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 17 September 1962. Sejak itu pengelolaan museum dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Para pelajar yang melakukan studi wisata sejarah ke Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Para pelajar yang melakukan studi wisata sejarah ke Museum Nasional. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Koleksi Prasasti Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Koleksi Prasasti Patung Ganesha di Museum Nasional RI. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Pada Tahun 2005, Museum Nasional diserahkan pengelolaannya dibawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sehubungan dengan dipindahnya Direktorat Jenderal Kebudayaan ke lingkungan kementerian tersebut.

Penyebutan Museum Nasional juga sebagai Museum Gajah karena dihadiahkannya patung gajah berbahan perunggu oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871 yang kemudian dipasang di halaman depan museum.

Sejak 28 Mei 1979, nama resmi lembaga ini adalah Museum Nasional Republik Indonesia. Dengan gaya Klasisisme, gedung Museum Nasional Republik Indonesia adalah salah satu wujud pengaruh Eropa, terutama semangat Abad Pencerahan, yang muncul pada sekitar Abad 18. (*)

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you