Beranda Highlight Vonis Penyakit dan Cara Menyikapinya

Vonis Penyakit dan Cara Menyikapinya

Ilustrasi. Nyeri Dada sebelah kiri adalah gejala serangan jantung. (foto: deherba)
Nyeri Dada sebelah kiri adalah salah satu gejala serangan jantung. (foto: deherba)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Related Post: Nasehat kepada Terapis Fashdu

PALONTARAQ.ID – Sebuah vonis memang menyakitkan, entah itu vonis hukum ataukah vonis penyakit? Kita diperhadapkan pada posisi tertuduh, dan umumnya jarang diantara kita yang dapat membantah secara radikal vonis tersebut. Tahu kenapa? Karena pikiran bawah sadar kita mengiyakan ‘tuduhan’ bahwa hakim atau dokter itu lebih tahu diri kita dibandingkan diri kita sendiri.

Pernahkah anda berhadapan dengan dokter, kemudian mendengar sesuatu yang mengejutkan. Ya, sebuah vonis, “Ada kelainan di jantung anda!”, “Anak ibu leukemia!”, “Ibu terkena syaraf kejepit!”, “Ada tumor di Payudara anda!”, “Anda harus cuci darah!”, dan ungkapan vonis lainnya.

Bisa dibayangkan betapa paniknya diri mendapatkan vonis dokter yang tak terduga tersebut.  Bayangkanlah jika diri sendiri  menjadi pasien atau keluarga pasien yang mendapatkan vonis tersebut.  Ditambah lagi, berbarengan dengan vonis tersebut, diri dan keluarga berada dalam kondisi keuangan sulit. Serasa mau mati saja! Entah harus lari dan mengadu kepada siapa?

Bagaimana perasaan anda? Down? Putus asa? Sedih? Dunia terasa gelap? atau Tak ada lagi gairah hidup? Hampir semua orang pasti berada dalam kondisi down, putus asa, hilang semangat, gelap, dan tidak mungkin ada orang di uji sakit, malah semakin semangat.

Hampir pasti menjadi tidak bergairah jika diuji sakit, padahal ada yang seperti itu. Siapa? Beliau adalah Nabi Ayyub alaihissalam. Nabi Ayyub adalah contoh betapa ujian penyakit dan sakit menahun yang parah, tidak membuatnya berputus asa dari rahmat Allah SWT, malah semakin dekat kepada Allah SWT.

Padahal jika dibandingkan dengan derita sakit dan penyakit yang kronis sekalipun saat ini, belumlah bisa dibandingkan dengan sakit dna penyakit yang diderita Nabi Ayyub alaihissalam.  Jauh lebih dahsyat dari penyakit-penyakit mematikan yang pernah disebutkan oleh dokter dan pihak rumah sakit.

Bagaimana penderitaan sakit Nabi Ayyub alaihissalam. Semua hartanya habis, semua anaknya meninggal, sedang beliau sendiri diuji sakit selama 17 tahun sampai diasingkan.  Meski begitu,  Nabi Ayyub alaihissalam tetap semangat, bergairah dalam ibadah, tetap tenang dan bahagia hatinya, dan dia tetap optimis sehingga dunia tetap terang baginya.

Apa Rahasianya? Rahasia Nabi Ayyub alaihissalam adalah tetap ikhlas dengan ketentuan Allah, berpasrah KepadaNya, tulus menerima KeputusanNya, yakin bahwa semua ujian hidup itu sementara, sedangkan Surga itu kekal. Nabi Ayyub kemudian menyerahkan kesembuhannya kepadaNya.

Optimis dan Huznudzon kepada Allah SWT inilah yang membuat Nabi Ayyub  tetap sabar dan ikhlas dengan ujian dari Allah SWT, dan tetap semangat dalam ibadah, ibadahnya tidek kendor sedikitpun sampai ketika Nabi Ayyub sudah merasa semakin payah dalam ibadah.

Nabi Ayyub lalu mengangkat tangannya, berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang.” (Qs. al-Anbiya: 83)

Do’a Nabi Ayyub alaihissalam tersebut dijawab Allah SWT dalam firmanNya, “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. (Qs. Shaad: 42)

Setelah menghentakkan kakinya ke bumi lalu mandi dan minum, Nabi Ayyubpun sembuh, biidznillah, dengan ijin Allah, lalu Allah SWT mengembalikan kecerdasannya, sehingga hartanya kembali bahkan jauh lebih banyak lagi. Allah SWT juga mengembalikan kemampuan fisiknya, jauh lebih kuat lebih perkasa, sehingga Allah anugerahi anak dua kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Subhanallah!

Tak ada yang bisa menyamai kesabaran, ketulisan, dan keikhlasan Nabi Ayyub alaihissalam dalam menerima penyakitnya.

Kita tentu tidak setangguh Nabi Ayyub, juga tidak selevel dalam hal keimanan dan ketaqwaan kepadaNYA.  Penulis beberapa kali, dan tak terhitung banyaknya berada dalam keluhan, berada dalam kondisi down, hilang semangat, putus asa, dunia terasa tak menyenangkan, saat divonis punya penyakit jantung.

Memang pikiran dan hati terkadang mengiyakan bahwa semua yang kita alami, termasuk sakit dan penyakit yang diderita adalah ujian dari Allah SWT dan Allah SWT tidak akan membebani hambaNYA diluar batas kemampuannya. Hal ini semua kita menyadarinya, namun dalam prakteknya, tetap saja keluhan mewarnai sakit dan penyakit kita.

Sungguh mengagumkan Al-Qur’an dalam menyajikan kisah perjuangan Nabi Ayyub alaihissalam.  Menjadi pelajaran dan hikmah bagi seorang hamba tentang bagaimana seharusnya menyikapi sakit dan penyakit.

Ada muncul semangat dan kekuatan untuk bertahan dan menerima dengan ikhlas, segala takdir sakit dan penyakit yang diderita.  Bagaimana menyikapi sakit yang kita derita? Tentu bagi seorang hamba yang beriman dan bertaqwa, harusnya menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Inilah penyikapan yang pertama.

Ingat, Boleh jadi sakit yang penyakit yang diderita adalah teguran Allah SWT atau cara Allah mengembalikan kita kepadaNYA. Pada saat kita sehat, jarang shalat dan mensyukuri segala nikmatNYA. Saat sakit itulah, kita dibuat dekat lagi dengan Allah SWT. Setiap keluhan berujung pada pasrah diri dan berdzikir kepada Allah SWT.

Jadi, jika sakit ingat sehat yang tidak bersyukur, semoga dengan sakit menjadi lebih dekat dengan Allah SWT. Jangan salah menyikapi sakit dan penyakit yang diderita. Nikmati saja sakitnya dan yang lebih penting, nikmati saat-saat kita semakin dengan Allah SWT pada saat sakit. Tentu harus lebih dekat lagi dengan Allah SWT saat diberi kesembuhan dan kesehatan.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT