He Muwafiq, Rene tak Culek Matamu!

Gus Muafiq (foto: ist/palontaraq)

Gus Muwafiq (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha

PALONTARAQ.ID – Lagi, jagad media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya video ungkapan yang melecehkan Nabi Muhammad SAW. Kali ini, pelecehan itu dilakukan oleh Muwafiq si Rambut Gondrong, yang menuding Rasulullah SAW punya masa kecil yang ‘Rembes’, dan tidak terurus karena hanya diasuh sang kakek.

Muafiq meminta untuk membincangkan kelahiran Nabi Muhammad SAW biasa-biasa saja, tidak perlu dibesar-besarkan. Padahal, dalam Bulan Rabiul Awal ini, di bulan Maulid Nabi SAW, segenap kaum muslimin memuliakan Rasulullah Muhammad SAW.

Tidak hanya melantunkan sholawat, bahkan syair dan pujian kepada Kanjeng Nabi, riwayat perjalanan Nabi sejak lahir hingga beliau wafat, dikenang dan diperbincangkan dengan penuh pemuliaan.

Dikampung-kampung, bahkan saat membacakan Kitab Al Barjanji, segenap jamaah berdiri untuk menghormati Kanjeng Nabi SAW. Lalu, ada seorang yang diberi tugas berkeliling jama’ah untuk mengoleskan minyak wangi.

Lantas, darimana sanad yang diperoleh si Muwafiq yang menuding Rasulullah Muhammad SAW punya masa kecil ‘rembesan’? Darimana dasar omongan Muwafiq menuding Rasulullah SAW semasa kecil tak terurus dibawah asuhan sang kakek, Abdul Muthalib?

Di rezim Jokowi ini, ujaran penistaan agama begitu merajalela. Belum lagi Busukma dipenjara, si Abu Janda teriak-teriak Terorisme punya agama, bahkan menuding Agama Teroris adalah Islam.

Kini, Muafiq juga ikut-ikutan latah, lancang menuding masa kecil Kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak terurus, ‘rembesan’.

Sekarang saya tantang si gondrong Muwafiq, dari riwayat siapa? Hadits apa? Sirah yang mana?  Yang matan-nya menyebut Rasulullah SAW tidak terurus masa kecilnya, Rasulullah ‘rembesan’.

Gus Muwafiq. (foto: ist/palontaraq)

Gus Muwafiq. (foto: ist/palontaraq)

Ayo, datangkan kitabnya!  Jangan menebar fitnah dan tudingan kepada manusia mulia yang menolak memberi syafaat kepada cucunya dan menyimpannya untuk umatnya.

Saya telah jengah dengan hukum dunia, bosan melapor ke Kantor Polisi, Inspektur Ladusing, yang lamban bahkan cenderung melindungi penista agama.

Saya akan adili dirimu di sosial media, untuk merobek ‘wajahmu’ agar diketahui umat betapa rusaknya akhlak seorang Muwafiq!

Saya tidak terima, Rasulullah SAW yang mulia dihinakan, dilecehkan, dituding rembesan dan tak terurus. Kalau kamu tidak mau bershalawat dan memuji Rasulullah SAW.

Beliau SAW juga tak membutuhkan itu. Tapi Caramu melecehkan Kanjeng Nabi SAW, telah membuat seluruh umatnya Nabi SAW murka.

Kamu ini, baru jadi ‘ulama’ pesanan penguasa, baru beberapa kali ‘ngamen’ di istana saja sudah belagu tidak ketulungan. Kalau mau makan bangkai (fitnah), cukup bangkai manusia, tempatnya salah dan dosa.

Jangan engkau berani-berani menghina dan melecehkan Nabi SAW, sosok yang seharusnya menjadi ‘uswatun hasanah’ bagi seluruh kaum Muslimin dan dinyatakan dalam Alqur’an sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh sekalian alam!

Kalau ceramah itu pakai dalil, kalau tak mampu merujuk dalil Al-Quran atau As-Sunnah, minimal Qoul ulama. Sehingga, lisanmu terjaga dari perilaku jahil apalagi sampai lancang melecehkan pribadi Rasulullah SAW.

Kalau didepanku, mesti tak culek matamu! Menghina Rasulullah SAW itu menurut syariat Islam hukumnya bukan maksimum 5 (lima) tahun penjara, tapi hukuman mati.

Karena sistem jahil masih menguasai negeri ini, minimal dengan ‘menculek’ matamu, bisa membuat lega hati dan dada kaum muslimin.

Ya Allah, inilah keadaan kami, kelemahan kami akibat tidak diterapkannya syariat-Mu. Kami mendapati agama ini, hanya menjadi bahan olok-olok orang kafir dan para munafik.

Karena itu ya Rabb, segerakanlah pertolongan kepada kami agar mampu menegakan syariah-Mu dimuka bumi dan melindungi kemuliaan Nabi-Mu. [*]

 

NB:

– Rene (Jawa) : kemari;

– Culek (Jawa) : colok, biasanya ditujukan kepada mata;

– Rembes (Jawa) adalah kondisi anak kecil yang matanya penuh dengan belek (tai mata), muka kusut, akibat tidak terurus.

Like it? Share it!

Leave A Response