Jangan Takut jadi Diri Sendiri!

by Penulis Palontaraq | Kamis, Nov 21, 2019 | 35 views
Ilustrated by: wimpoli

Ilustrated by: wimpoli

Oleh: W.I.M. Poli

Tulisan sebelumnya: Menjadi Diri Sendiri!

PALONTARAQ.ID – Di batu nisan Françoise Dolto tertulis: “Jangan takut!” Pernyataan ini adalah sebuah ajakan untuk melawan hambatan terhadap keinginan orang untuk menjadi diri sendiri.

Ajakan perlawanan ini adalah sebuah kesimpulan dari perjalanan hidup Françoise Dolto (1908-1988) dalam keluarganya sendiri, yang dilanjutkan di tempat praktiknya sebagai ahli psikologi yang menangani pasien dengan latarbelakang tekanan yang dialaminya di lingkungannya sedari usia dini.

Françoise merasa kehilangan besar pada usia 8 tahun ketika paman kesayangannya meninggal dalam Perang Dunia I. Pada usia 12 tahun ia mengalami kematian kakak perempuannya, yang merupakan anak kesayangan ibunya.

Françoise dipersalahkan ibunya dengan tuduhan: ia kurang berdoa untuk kesembuhan dan keselamatan kakaknya. Sebuah penderitaan bathin yang perlahan-lahan membuahkan perlawanan.

Menurut pendapat ibunya, dambaan yang wajar dari seorang anak perempuan ialah menjadi ibu rumahtangga. Untuk tujuan tersebut, seorang anak perempuan tidak perlu pendidikan yang tinggi. Perlawanan meledak.

Pada usia 16 tahun Françoise melawan kehendak ibunya dan mendaftarkan diri menjadi mahasiswi filsafat. Setelah tamat pada tahun 1924-1925, ia melanjutkan pendidikannya dan mencapai gelar di bidang keperawatan pada tahun 1930.

Setahun kemudian ia mendaftarkan diri menjadi mahasiswi kedokteran bersama seorang kakak laki-lakinya, Philip. Biaya pendidikan ditanggungnya secara mandiri. Itulah sekilas perjalanan pemberontakan Françoise untuk menjadi dirinya sendiri.

Pengalaman ini menjadi keyakinan yang dipilihnya untuk menangani para pasiennya yang mengalami tekanan-tekanan hidup sejak dari usia dininya.

Menurut Françoise, kita sepenuhnya tidak tahu arah perkembangan anak-anak sekarang ini di masa depan. Karena tidak tahu, maka kita mendasarkan tindakan pendidikan anak-anak sekarang dengan mengacu kepada apa yang ada di benak orang dewasa.

Orang dewasa masa depan adalah replika orang dewasa masa kini. Inilah kesalahan yang dialami sendiri oleh Françoise di dalam keluarganya, yang dapat diatasinya.

Apakah yang seyogianya dilakukan orang dewasa untuk membentuk generasi masa depan yang mandiri?

Pertama, setiap anak mempunyai potensi warisannya sendiri, yang seyogianya dikenali, dihargai dan didorong pengembangannya oleh pendidiknya sejak usia dini.

Kedua, dengan potensi itu ia akan menanggapi masa depan yang dialaminya, yang tidak diketahui oleh pendidik masa kini. Ketiga, pengalaman negatif pada usia dini menjadi penghambat di dalam diri anak didik yang perlu diatasinya sendiri dengan bantuan orang dewasa.

Renungan: Apa yang ada di benakku tentang pembangunan generasi masa depan? Dari mana asal-usulnya, dan apakah perlu diubah? (*)

Like it? Share it!

Leave A Response