Oleh: Etta Adil *)
PALONTARAQ.ID – Puisi akrostik yang disusun dan dirangkai atas nama “Nurul Fitriyana” ini menekankan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak selalu mudah, terlebih ketika harus merantau dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Istilah-istilah tajwid menjadi simbol ketekunan, keteraturan, dan kesabaran dalam membaca kehidupan sebagaimana membaca Al-Qur’an.
Cahaya Tajwid, Cahaya Perjuangan
(1)
Nun mati ia jaga seperti hukum Idzhar yang terang,
Unggul tekadnya bagai Iqlab yang pasti arah,
Resiliensi tumbuh laksana Idgham menyatu dalam jiwa,
Ujian rantau ia baca seperti ayat penuh makna,
Lam harapnya panjang seperti Mad Thabi’i yang indah.
Fasih langkahnya meniti negeri jiran tanpa gentar,
Iman menjadi Ghunnah yang berdengung di dada,
Tekun belajar walau rindu kerap mengetuk,
Rindu kampung halaman ia tahan seperti Waqaf sejenak,
Ikhtiar tak pernah putus.
Yakin masa depan akan terang seperti hukum Qalqalah yang menggema,
Amal dan adab dijaga bagai Tafkhim yang kokoh,
Nasib ingin diperbaiki bersama doa orang tua,
Akhirnya ilmu diraih sebagai Mad Wajib cita-cita yang panjang.
(2)
Niatnya lurus seperti Idzhar Halqi yang jelas,
Usaha tak henti walau jauh dari tanah lahir,
Rantau menjadi madrasah ketabahan.
Untuk orang tua yang bekerja di negeri seberang,
Luruh doanya mengalun seperti Mad Jaiz yang lembut.
Fitrahnya ingin membanggakan keluarga,
Introspeksi diri bagai Waqaf Hasan yang menenangkan,
Tantangan repatriasi ia jalani dengan sabar,
Ritme belajar di tanah air ia kejar kembali,
Ilmu menjadi pelita.
Yang sulit ia lalui seperti Qalqalah Kubra yang kuat,
Adaptasi dijalani perlahan namun pasti,
Nafas perjuangan berdengung seperti Ghunnah yang hidup,
Akhir harapnya: masa depan cerah dan senyum bangga kedua orang tuanya.
***
Pesan utama puisi akrostik ini adalah: Ketangguhan dan resiliensi dalam menghadapi kesulitan hidup, Pentingnya pendidikan dan ilmu sebagai jalan memperbaiki masa depan, Bakti kepada orang tua, menjadikan doa dan harapan mereka sebagai sumber kekuatan, dan Keimanan dan adab sebagai fondasi perjuangan, bukan sekadar kecerdasan akademik.
Intinya, puisi menggambarkan bahwa seperti hukum tajwid yang menjaga keindahan bacaan, ketekunan, iman, dan kesabaran menjaga arah hidup seorang santri agar tetap lurus hingga mencapai cita-cita. (*)
Minasatene-Pangkep, 6 November 2025
(* Etta Adil, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.


