Feature Menag Radikal: Kalau kau Radikal, keluar!

Menag Radikal: Kalau kau Radikal, keluar!

-

- Advertisment -

Fachrul Razi. (foto: ist/palontaraq)
Fachrul Razi. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha (Sumber Terbuka: DISINI)

PALONTARAQ.ID – “Saya bilang, pengurus masjid harus orang dalam. Jadi, kalau ada penceramah yang ngomong aneh-aneh, jangan diundang lagi. Kalau diundang, kamu (pengurus masjid) yang enggak beres. Selesai. Enggak sulit-sulit itu,” [Fachrul Razi, 30/10]

Terkuak sudah, kenapa jabatan Menag diberikan kepada orang berlatar tentara. Rupanya, lingkungan kementrian agama akan dibuat kultur militer, komandan selalu benar, membantah komandan berarti pecat !

Tak ada lagi visi ‘melayani’, Menag bukan lagi mengupayakan implementasi nilai-nilai agama, agar rakyat berakhlakul karimah, meningkatkan iman dan taqwa agar tercipta negeri yang baldatun, thoyyibatun, warobbun Ghafur.

Menag, telah menjadikan lingkungan kemenag sebagai ajang ‘Mahkamah Inkuisisi’ berdalih isu radikalisme.

Baru-baru ini, Menteri Agama, Fachrul Razi menyatakan akan tegas menindak para aparatur sipil negara, pegawai BUMN atau pegawai di lingkungan pemerintah lainnya yang terjangkit paham radikal.

Hal ini disampaikan Fachrul menyusul data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT pada 2018, yang menyebutkan 41 masjid lingkungan kementerian dan BUMN terpapar paham radikalisme.

Menag mengenang proses komando ala militer, prajurit yang memiliki paham radikal bisa langsung dipecat. Hal serupa akan dia terapkan dilingkungan kemenag.

Ini menteri paling radikal dari menteri yang pernah ada. Pertama, dia bukan berlatar belakang agama sehingga tak memahami suasana kebathinan di kementerian agama.

Kedua, dia menggunakan pendekatan ala militer untuk menyelesaikan persoalan di kementrian agama, artinya dia sudah memandang diskursus perbedaan pendapat sebagai ‘perang’ melawan radikalisme.

Ketiga, dia akan mengekspor teror dan intimidasi dilingkungan kemenag berdalih isu radikalisme.

Bisa saja, dilingkungan kemenag akan terjadi ‘pembersihan’ untuk mensterilkan kemenag dari rival politik dan menempatkan klan sendiri untuk mengangkangi sejumlah posisi strategis di kemenag berdalih isu radikalisme. Yang tak sejalan disingkirkan, dipecat, berdalih tudingan terpapar radikalisme.

Ini jelas menggambarkan kebijakan Menag yang super radikal, intoleran, tak memahami masalah sesungguhnya di kemenag. Masalah korupsi birokrasi dan buruknya layanan penyelenggaraan ibadah haji, tak akan pernah diurusi. Menag, akan sibuk berburu ‘kutu radikal’ dari masjid ke masjid.

Seharusnya, Menag mengambil kebijakan radikal yang positif. Misalnya, memburu siapapun pejabat di kemenag yang kedapatan menjadi pelanggan Alexis, baik pelanggan tetap maupun yang sifatnya insidental.

Selanjutnya, Menag mengumumkan kepada publik siapa saja pejabat negara dilingkungan kemenag yang ‘terpapar Alexis’, jadi bukan sekedar salah sentuh seperti kasus yang dialami oleh wakil Menag, yang mengaku akunnya diretas.

Baru saja menjadi Menag, namun Razi telah mengadopsi pola memimpin Diktatur, otoriter dah menebar ketakutan dilingkungan kemenag.

Padahal, upaya ini jelas akan mendapat perlawanan sengit dari segenap ASN di Kemenag, meskipun awalnya perlawanan ini dalam bentuk diam. Lama kelamaan, orang eneg juga selalu dituduh macam-macam.

Padahal, problem masjid saat ini bagaimana memakmurkan masjid, meningkatkan jumlah jamaah, bukan problem radikal, radikul, radikulon, radiwetan, radilor atau radikidul. Problem umat ini adalah menipisnya iman dan taqwa, sehingga masjid menjadi sepi jamaah.

Ditengah sulitnya menambah jamaah masjid, ini masjid kok malah dicurigai ? Di inteli ? Dimata matai ? Mau jadi apa bangsa ini?

Sudahlah Pak Menag, kalau tidak paham masalah agama lebih baik diam. Jangan mengeluarkan pernyataan ajaib, karena tidak nyambung dengan problem yang dihadapi umat. [].

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Sekolah buka lagi?

Oleh: Ahmad Hadiwijaya, Dokter Anak/Korlap Relawan Covid-19 ALPUKAT PALONTARAQ.ID - Satu persatu fasilitas umum dibuka dan diaktifkan. Diawali dengan pembukaan...

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin yang sosok dan karakter wajahnya berbeda-beda bertebaran di beberapa titik...

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Pemimpin yang Menyengsarakan Rakyat

Oleh: Ustadz Miftahul Ihsan, Lc إِنَّ الْحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ...

Berpisah dengan Ramadan

  Oleh: Habib Quraisy Baharun Related Post: Doa Rasulullah SAW ketika Berpisah dengan Ramadan PALONTARAQ.ID - Akhirnya sampailah kita dipenghujung Ramadhan 1441...

Fatwa MUI tentang Panduan Kaifiat Shalat Idul Fitri saat Pandemi Covid-19

  Laporan: Etta Adil  Related Post: Khutbah Idul Fitri 1440 H: Madrasah Ramadan, Membentuk Pribadi yang Tunduk Syariat Allah PALONTARAQ.ID - Ditengah...

Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-30

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Do'a Puasa Ramadan Hari Ke-29 PALONTARAQ.ID - Entah harus bersyukur, antara bahagia dan sedih. Kita...

Must read

Do’a Puasa Ramadan Hari Ke-30

  Oleh: Muhammad Farid Wajdi Tulisan sebelumnya: Do'a Puasa Ramadan Hari...

Dua Perupa asal Pangkep Komentari Patung Sultan Hasanuddin

  Laporan: Etta Adil PALONTARAQ.ID - Patung Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin...
- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you