Menag Radikal: Kalau kau Radikal, keluar!

by Penulis Palontaraq | Kamis, Okt 31, 2019 | 18 views
Fachrul Razi. (foto: ist/palontaraq)

Fachrul Razi. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Nasrudin Joha (Sumber Terbuka: DISINI)

PALONTARAQ.ID – “Saya bilang, pengurus masjid harus orang dalam. Jadi, kalau ada penceramah yang ngomong aneh-aneh, jangan diundang lagi. Kalau diundang, kamu (pengurus masjid) yang enggak beres. Selesai. Enggak sulit-sulit itu,” [Fachrul Razi, 30/10]

Terkuak sudah, kenapa jabatan Menag diberikan kepada orang berlatar tentara. Rupanya, lingkungan kementrian agama akan dibuat kultur militer, komandan selalu benar, membantah komandan berarti pecat !

Tak ada lagi visi ‘melayani’, Menag bukan lagi mengupayakan implementasi nilai-nilai agama, agar rakyat berakhlakul karimah, meningkatkan iman dan taqwa agar tercipta negeri yang baldatun, thoyyibatun, warobbun Ghafur.

Menag, telah menjadikan lingkungan kemenag sebagai ajang ‘Mahkamah Inkuisisi’ berdalih isu radikalisme.

Baru-baru ini, Menteri Agama, Fachrul Razi menyatakan akan tegas menindak para aparatur sipil negara, pegawai BUMN atau pegawai di lingkungan pemerintah lainnya yang terjangkit paham radikal.

Hal ini disampaikan Fachrul menyusul data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT pada 2018, yang menyebutkan 41 masjid lingkungan kementerian dan BUMN terpapar paham radikalisme.

Menag mengenang proses komando ala militer, prajurit yang memiliki paham radikal bisa langsung dipecat. Hal serupa akan dia terapkan dilingkungan kemenag.

Ini menteri paling radikal dari menteri yang pernah ada. Pertama, dia bukan berlatar belakang agama sehingga tak memahami suasana kebathinan di kementerian agama.

Kedua, dia menggunakan pendekatan ala militer untuk menyelesaikan persoalan di kementrian agama, artinya dia sudah memandang diskursus perbedaan pendapat sebagai ‘perang’ melawan radikalisme.

Ketiga, dia akan mengekspor teror dan intimidasi dilingkungan kemenag berdalih isu radikalisme.

Bisa saja, dilingkungan kemenag akan terjadi ‘pembersihan’ untuk mensterilkan kemenag dari rival politik dan menempatkan klan sendiri untuk mengangkangi sejumlah posisi strategis di kemenag berdalih isu radikalisme. Yang tak sejalan disingkirkan, dipecat, berdalih tudingan terpapar radikalisme.

Ini jelas menggambarkan kebijakan Menag yang super radikal, intoleran, tak memahami masalah sesungguhnya di kemenag. Masalah korupsi birokrasi dan buruknya layanan penyelenggaraan ibadah haji, tak akan pernah diurusi. Menag, akan sibuk berburu ‘kutu radikal’ dari masjid ke masjid.

Seharusnya, Menag mengambil kebijakan radikal yang positif. Misalnya, memburu siapapun pejabat di kemenag yang kedapatan menjadi pelanggan Alexis, baik pelanggan tetap maupun yang sifatnya insidental.

Selanjutnya, Menag mengumumkan kepada publik siapa saja pejabat negara dilingkungan kemenag yang ‘terpapar Alexis’, jadi bukan sekedar salah sentuh seperti kasus yang dialami oleh wakil Menag, yang mengaku akunnya diretas.

Baru saja menjadi Menag, namun Razi telah mengadopsi pola memimpin Diktatur, otoriter dah menebar ketakutan dilingkungan kemenag.

Padahal, upaya ini jelas akan mendapat perlawanan sengit dari segenap ASN di Kemenag, meskipun awalnya perlawanan ini dalam bentuk diam. Lama kelamaan, orang eneg juga selalu dituduh macam-macam.

Padahal, problem masjid saat ini bagaimana memakmurkan masjid, meningkatkan jumlah jamaah, bukan problem radikal, radikul, radikulon, radiwetan, radilor atau radikidul. Problem umat ini adalah menipisnya iman dan taqwa, sehingga masjid menjadi sepi jamaah.

Ditengah sulitnya menambah jamaah masjid, ini masjid kok malah dicurigai ? Di inteli ? Dimata matai ? Mau jadi apa bangsa ini?

Sudahlah Pak Menag, kalau tidak paham masalah agama lebih baik diam. Jangan mengeluarkan pernyataan ajaib, karena tidak nyambung dengan problem yang dihadapi umat. [].

Like it? Share it!

Leave A Response