Oleh: M.Farid W Makkulau
Tulisan sebelumnya: Mengakrabi Sejarah Sultan Hasanuddin
PALONTARAQ.ID – Siapa yang tak kenal Pangeran Diponegoro? Perjuangan Pahlawan Nasional yang gigih melawan Belanda ini sudah dikenalkan sejak bangku Sekolah Dasar (SD) dan potretnya tak pernah alpa terpajang di Ruang-ruang kelas.
Pangeran Diponegoro memimpin Perang Jawa melawan Hindia Belanda dalam Tahun 1825-1830. Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam Sejarah Indonesia.
Kisahnya ditipu Belanda dan menjalani hukuman begitu tragis. Dalam suatu perjanjian perundingan yang sengaja diadakan sebagai perangkap Belanda, akhirnya Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap dan diasingkan ke Makassar.
Selama ditahan, Pangeran Diponegoro dipersulit untuk bisa berkumpul dengan keluarganya apalagi berkesempatan menginjak kakinya di tanah leluhurnya pun tidak pernah kesampaian. Sebuah risiko perjuangan anak bangsa melawan tirani ketidakadilan dan penjajahan Belanda.
Dikutip dari Sagimun MD dalam Pahlawan Dipanegara Berjuang (Terbitan Tahun 1965), putra sulung dari Sultan Hamengkubowono III di Kesultanan Yogyakarta– itu meninggal karena kondisi fisiknya yang kian menurun akibat usia lanjut.
Pangeran Diponegoro pun wafat di tempat pengasingannya yakni di sel Tahanan Fort Rotterdam Makassar pada Tanggal 8 Januari 1855. Beliaupun di makamkan di Makassar.


Lihat pula: Membaca Hikmah Sejarah
Perang Jawa
Perang Jawa atau disebut juga Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Kesultanan Yogyakarta di Desa Tegalrejo. Saat itu, Pangeran Diponegoro memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat, mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak, dan kerja rodi.
Sikap Pangeran Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Pangeran Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di Goa Selarong.
Pangeran Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya terhadap Belanda adalah perang sabil, jihad perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat “perang sabil” yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Kedu dan Pacitan (Jawa Timur). Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.
Selama berlangsung Perang Diponegoro ini, kerugian di pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Karena itu, berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkapnya, bahkan sayembara pun digelar dengan hadiah 50.000 gulden ditawarkan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro.


Perang Jawa merupakan perang yang terdahsyat yang pernah ada dalam sejarah perjuangan Bangsa melawan Penjajah. Jumlah pengikut dan pasukan Diponegoro begitu banyak sehingga Belanda kewalahan dan menderita kerugian biaya perang yang sangat besar.
Sampai akhirnya Pangeran Diponegoro ditangkap pada Tahun 1830 setelah ditipu Belanda pada suatu acara perundingan. Belanda melakukan siasat dan tipu daya dengan cara menjanjikan perundingan damai di Batavia.
Belanda mengakui kharisma Pangeran Diponegoro begitu besar bagi rakyatnya di Tanah Jawa. Itulah sebabnya Pangeran Diponegoro dibuang ke tempat yang lebih jauh atau agar bisa memisahkan dirinya dengan rakyat Jawa. Paling tidak, ketiadaan Diponegoro di tengah pengikutnya tidak bisa lagi menggerakkan pemberontakan di Tanah Mataram.
Pasca peperangan itu, Sang Pangeran dibuang ke Manado dan Makassar. Pangeran Diponegoro diperlalukan layaknya tahanan perang. Ia dipenjara seumur hidup. Selama 22 tahun ia mendekam di sudut penjara Benteng Fort Rotterdam Makassar.
Lihat pula: Santri Putri IMMIM Studi Wisata Sejarah ke Makassar-Gowa

Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro
Ruang Tahanan Pangeran Dipenogoro berada dalam kompleks Benteng Fort Rotterdam Makassar. Ruang penjara tersebut berdinding melengkung dan amat kokoh. Konon diruang itu disediakan sebuah kamar kosong berisi peralatan shalat, alquran, tempat tidur, meja dan tikar bambu yang lusuh.
Memasuki kompleks Fort Rotterdam, bangunannya masih nampak seperti aslinya. Meski beberapa pilar di bagian sudut benteng sudah banyak yang runtuh. Bangunan yang awalnya dibangun oleh Raja Gowa ke-IX pada 1545, benteng yang menempati lahan seluas 2,5 hektar ini di masa pemerintah kolonial Belanda digunakan sebagai pusat kantor dagang dan pusat militer.

Fort Rotterdam (disebut juga: Benteng Ujungpandang) memiliki banyak gedung yang saat ini beberapa ruangnya digunakan untuk kegiatan perkantoran Badan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan dan Museum tempat penyimpanan koleksi berbagai benda pusaka.
Untuk bisa masuk ke ruang tahanan Pangeran Diponegoto dalam kompleks Fort Rotterdam tidaklah gampang karena ruang tahan ini selalu terkunci. Bagi pengunjung yang ingin melihat langsung ruang tahanan ini, kita melapor terlebih dahulu dengan petugas jaga untuk dibukakan. Selanjutnya petugas akan memanggil seorang pemandu yang akan menjelaskan soal sejarah ruang tahanan tersebut.
Ruang tahanan Pangeran Diponegoro tanpa jendela ataupun sirkulasi udara. Kalaupun udara bisa keluar masuk hanya melalui celah ruang pintu depan yang terbuat dari kayu. Ruang tahanan menyerupai konstruksi bangunan setengah lingkaran.
Pada bagian depan ruang tahanan ini terdapat dua pintu terali besi dengan ukuran yang berbeda. Pintu terali besi kecil yang tingginya kurang dari 1,5 meter ini dijadikan sebagai akses pintu masuk.
Di dalam ruangan tahanan sengaja dipajang lima lukisan fragmen Perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda ataupun saat ditahan di Fort Rotterdam. Lukisan menceritakan saat pangeran berada di atas kapal ketika akan dipindahkan dari penjara Manado ke Makassar.





Lalu, ada pula lukisan yang menceritakan Pangeran Diponegoro saat bertemu dengan salah seorang pengikutnya dari Jawa yang sengaja datang untuk menjenguknya, serta lukisan Pangeran Diponegoro tengah berbincang dengan salah seorang pimpinan militer Belanda.
Pengeran Diponegoro mendekam di penjara Fort Rotterdam selama kurang lebih 22 tahun, bahkan menghabiskan masa tuanya bersama keluarganya di benteng ini.
Selama ditahan, Pangeran Diponegoro tidak diperkenankan keluar dari Fort Rotterdam. Seluruh aktivitasnya dipantau dan diawasi oleh Belanda.
Di usia senjanya dalam tahanan, Pangeran Diponegoro disebutkan pernah meminta untuk menghabiskan masa tuanya bersama keluarga di luar Benteng. Namun keinginan itu tidak pernah dipenuhi Belandam hanya diperkenankan menggunakan ruang lantai dua, tepat diatas ruang tahanannya sebagai tempat berkumpul bersama keluarga atau sekadar memandang dunia luar.

Makam Pangeran Diponegoro
Jasad Pangeran Diponegoro diistirahatkan di Makassar, tepatnya di daerah Melayu. Kala itu, anak istri Diponegoro yang juga tinggal di Makassar menyatakan ingin menetap di sana dan tinggal dekat makam ayahnya.
30 Tahun berselang, yakni pada Tahun 1855, istri Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnoningsih meninggal dunia. Makam Diponegoro lantas dipindahkan ke pemakaman umum yang masih terletak di wilayah Melayu, tepatnya berada di Jalan Diponegoro.


Di dalam kompleks TPU itu, sebuah petak lahan pemakaman pribadi untuk Pangeran Diponegoro dan keluarganya ditandai pagar tembok rendah. Pejabat Belanda sempat menawarkan Pangeran Diponegoro untuk pindah ke tempat pembuangan baru. Namun, tawaran itu ditolaknya karena sudah merasa cocok menghabiskan sisa hidupnya di Makassar.
Sebelum meninggal Pangeran Diponegoro juga berpesan ke keluarganya, bila di kemudian hari ia meninggal, jasadnya tak perlu dipulangkan ke kampung halaman. Amanah ini dipegang teguh keluarganya yang menolak saat pejabat Belanda hendak mengirimkan jasad Pangeran Diponegoro ke Yogyakarta. Makam Pahlawan Nasional ini tak pernah sepi peziarah. (*)



