BerandaBeritaDaerahMengakrabi Sejarah Sultan Hasanuddin

Mengakrabi Sejarah Sultan Hasanuddin

Oleh: M. Farid W Makkulau

Tulisan sebelumnya:  Menelusuri Sejarah Makassar di Fort Rotterdam

PALONTARAQ.ID – Siapa tak kenal nama Hasanuddin atau Sultan Hasanuddin di Kota Makassar? Nama ini telah melegenda sebagai salah satu Pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

Nama ini pula yang telah diabadikan sebagai nama Universitas terkemuka di Indonesia bagian timur, yaitu Universitas Hasanuddin (UNHAS). Begitu pula sebagai nama Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin serta nama Komando Daerah Militer (Kodam) Hasanuddin di Sulsel.

Meski demikian, hanya sedikit diantara pelajar dan mahasiswa, aparat dan birokrat, dan bahkan akademisi dan masyarakat umum yang mengakrabi Sejarah Sultan Hasanuddin. Beberapa patungnya yang tersebar di berbagai tempat juga menimbulkan ketidak-cocokan satu sama lain akan karakter wajahnya.

Bandingkanlah misalnya Patung setengah badan Sultan Hasanuddin di Pantai Losari depan Masjid Amirul Mukminin, Patung Sultan Hasanuddin berkuda depan Fort Rotterdam, dengan Patung Sultan Hasanuddin di Kompleks Makamnya dan Patung berdirinya di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.

Patung Sultan Hasanuddin di Pantai Losari. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin di Pantai Losari. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin berkuda di depan Fort Rotterdam. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin berkuda di depan Fort Rotterdam. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Mandai, Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Mandai, Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Sebagai seorang Raja yang mewarisi kemasyhuran dan puncak kejayaan Kerajaan, pada saat yang sama harus berhadapan dengan “Perang Makassar” yang berujung pada kekalahan Kerajaan Makassar dan ditanda-tanganinya Perjanjian Bungaya. Diantara sejarah yang ruwet tersebut, tak mudah memang perupa atau pelukis menggambarkan potret karakter wajah Sultan Hasanuddin, di masa damai atau di masa perang.

Sebagai seorang pangeran, lahir dalam Istana Gowa, 12 Januari 1631 (mangkat 12 Juni 1670) bernama asli I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape. Nama Islamnya Muhammad Bakir adalah pemberian dari Qadi Kesultanan Gowa Syeikh Sayyid Jalaludin bin Ahmad Bafaqih Al-Aidid, yang juga Mursyid Tarekat Baharunnur Baalwy.

Setelah menaiki takhta (1653-1669), beliau digelar Sultan Hasanuddin. Kesultanan Makassar diwarisinya dari ayahnya, Karaeng Lakiung Sultan Muhammad Said. Kerajaan Makassar ketika itu sudah menjadi kerajaan besar di Wilayah Timur Nusantara yang menguasai jalur perdagangan.

Patung Sultan Hasanuddin di Lobi Hotel Clarion (Claro), Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin di Lobi Hotel Clarion (Claro), Makassar saat perayaan HUT Kemerdekaan RI. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin di depan Hotel Aston-Hotel Celebes, Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Patung Sultan Hasanuddin di depan Hotel Aston-Hotel Celebes, Makassar. (foto: ist/palontaraq)

Pada pertengahan Abad XVII, Sultan Hasanuddin menentang keras Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) Belanda yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku setelah berhasil mengadakan perhitungan dengan Orang-orang Spanyol, Portugis, dan Melayu. Kerajaan Makassar dengan bandar pelabuhannya ketika itu adalah salah satu bandar pelabuhan teramai di dunia.

Pada tahun 1660-1667, VOC Belanda mulai menyerang Makassar, meski sebenarnya Penyerangan itu atas inisiatif Arung Palakka yang memanfaatkan VOC, Pasukan Buton dan Ternate untuk membebaskan bangsanya, ‘Bangsa Bugis’ atas ‘penjajahan’ Kerajaan Makassar, sejak periode sejarah beberapa waktu lampau.

Kerajaan Makassar dibawah Sultan Hasanuddin pada akhirnya menandatangani Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667 di Bungaya. Kerajaan Makassar mengalami kerugian yang sangat besar akibat Perang Makassar tersebut, meski banyak Raja-raja dibawah kekuasaan Sultan Makassar tetap mengadakan perlawanan.

Lukisan Sultan Hasanuddin berlatar Perang Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Lukisan Sultan Hasanuddin berlatar Perang Makassar. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Patung Sultan Hasanudin dalam Kompleks Makam Raja-raja Gowa. (foto: ist/palontaraq)
Penulis di depan Patung Sultan Hasanudin dalam Kompleks Makam Raja-raja Gowa. (foto: ist/palontaraq)

Benteng Sombaopu pada akhirnya dikuasai dalam Tahun 1669. Sultan Hasanuddin telah mempersembahkan seluruh jiwa raganya dalam mempertahankan kedaulatan bangsanya.

Saat mangkat, beliau digelari Tumenanga Ri Balla Pangkana.  Karena keberaniannya, Belanda menjulukinya “De Haantjes van Het Osten”, yang artinya Ayam Jantan dari Timur. Beliau dimakamkan di Katangka, Gowa.

Pada Tanggal 6 November 1973, Negara dan Pemerintah RI memberinya anugerah sebagai Pahlawan Nasional berdasar Surat Keputusan Presiden No. 087/TK/1973.

Revitalisasi Makam Sultan Hasanuddin

Sebagai upaya mengakrabkan diri dengan Sejarah Sultan Hasanuddin, Pemerintah Kabupaten Gowa melakukan revitalisasi Makam Sultan Hasanuddin, agar dapat menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Sulawesi Selatan.

Peresmian Revitalisasi Makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin dilakukan oleh Menteri Sosial (Mensos) RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, di Kompleks Makam Raja-raja Gowa, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa, Selasa (16/7/2019).

Peresmian revitalisasi makam Sultan Hasanuddin. (foto: ist/palontaraq)
Peresmian revitalisasi makam Sultan Hasanuddin. (foto: ist/palontaraq)

“Kehadiran makam Sultan Hasanuddin ini diharapkan menjadi destinasi wisata yang mengajarkan sejarah perjuangan dan kepahlawanan Sultan Hasanuddin.”

“Dengan revitalisasi makam ini diharapkan dapat meningkatkan fungsi makam, sebagai sarana penanaman nilai kepahlawanan, kesetiakawanan, dan restorasi sosial bagi generasi penerus,” ujar Mensos RI, Agus Gumiwang Kartasasmita.

“Revitalisasi makam Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin ini dapat menjadi sarana edukasi dan obyek studi ziarah wisata. Masyarakat dapat mengetahui atau memperoleh informasi mengenai sosok dan perjuangan Hasanuddin,” tambahnya.

Proses rehabilitasi makam tersebut menghabiskan anggaran sebesar 4,5 miliar rupiah. Pemerintah Kabupaten Gowa sendiri menyumbang 2,5 miliar dari dana APBD. Sedangkan sisanya berasal dari dana APBN. Dalam peresmian itu, Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, perwakilan Pemprov Sulsel, Wakil Bupati Gowa, Forkompinda Gowa, serta perwakilan Kerajaan Gowa turut hadir. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT