Beranda Pesantren Seri Khalifah Daulah Bani Umayyah (7): Sulaiman bin Abdul Malik

Seri Khalifah Daulah Bani Umayyah (7): Sulaiman bin Abdul Malik

Ilustrated
Ilustrated

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID –  Di zaman Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik kemewahan mewarnai negara. Siasatnya sangat berbeda dengan ayahandanya Abdul Malik dan saudaranya al-Walid.

Kalau ayahandanya dan saudaranya itu memberikan kepemimpinan negara dan tentara kepada orang-orang besar seperti al-Hajjaj, Qutaibah, Musa dan Thariq, maka Sulaiman malakukan sebaliknya. Bahkan orang-orang tersebut dipecat dan diganti, dan orang-orang yang berpihak kepada mereka ditangkap dan dipenjarakan.

Tidak lama setelah memerintah, para tawanan yang ditawan al-Hajjaj dilepaskan, keluarga al-Hajjaj di Irak ditangkap dan hartanya dirampas. Demikian pula hal serupa menimpa Qutaibah bin Muslim penakluk negeri di seberang sungai Jihon.

Sebab murka Sulaiman kepada keluarga kedua panglima itu adalah karena mereka pernah berusaha untuk memecat Sulaiman sebagai Putera Mahkota ketika al-Walid masih hidup.

Nasib lebih mengenaskan dialami oleh Musa bin Nushair, panglima perkasa penakluk Afrika Utara dan Andalusia itu menjadi korban kemurkaannya, sehingga ia dipenjarakan dan mati dalam kemiskinan.

Sebab murka Sulaiman atas Musa bin Nushair adalah karena sebelum al-Walid wafat, Sulaiman mengirimkan surat kepada Musa bin Nushair agar ia tidak datang ke Damaskus dan membawa harta rampasan perang sebelum al-Walid wafat, dan harta itu supaya dibawa setelah al-Walid wafat.

Hal tersebut  dimaksudkan agar harta itu jatuh ke tangan Sulaiman, namun permintaan itu tidak diindahkan oleh Musa bin Nushair, ia tetap datang ke Damaskus dan membawa harta rampasan perang ketika al-Walid masih hidup.

Inilah yang membuat Sulaiman marah, dan kemarahan itulah yang dibalaska setelah  ia menjadi Khalifah dengan kekejaman yang luar biasa.

Pengepungan Konstantinopel yang ketiga

Kota Konstantinopel dikepung laskar Islam untuk ketiga kalinya pada masa pemerintahan Sulaiman. Sebelum al-Walid wafat, ia telah menyiapkan angkatan perang besar untuk menyerang Konstantinopel dibawah pimpinan Saudaranya Maslamah bin Abdul Malik, usaha ini diteruskan oleh Sulaiman.

Armada Islam ketika itu terdiri dari 1700 kapal dan membawa 100.000 tentara. Seorang pangeran Byzantium yang bernama Pangeran Leo menggabungkan diri ke dalam laskar Islam yang berada di Asia Kecil, namun bergabungnya itu mempunyai maksud untuk merebut mahkota Byzantium.

Laskar Islam dari Asia Kecil itu dapat merebut satu persatu kota-kota di Asia kecil, sehingga mereka menyeberang mendekati dinding kota Konstantinopel. Disana mereka bertemu dengan angkatan laut yang datang dari Syam dan Mesir, lalu mereka mengepung kota itu bersama-sama.

Akan tetapi ketika pengepungan berda pada puncaknya, pangeran Leo memaklumkan diri sebagai Kaisar Byzantium, lalu ia berbalik memerangi orang Islam. Armada Islam dibakarnya sehingga banyak sekali tentara Arab yang binasa. Mereka kembali ke Syam dengan menderita kerugian yang sangat besar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT