Beranda Mainstream Aksi Mahasiswa: Entah Iya, Entah Tidak!

Aksi Mahasiswa: Entah Iya, Entah Tidak!

Demonstrasi Mahasiswa menolak RUU KUHP. (foto: tempo.co/*)
Demonstrasi Mahasiswa menolak RUU KUHP dan UU KPK. (foto: tempo.co/*)

Oleh: Asyari Usman, Wartawan senior

PALONTARAQ.ID – Mengapa Presiden Joko Widodo (Jokowi) percaya diri menolak tuntutan agar membatalkan revisi Undang-undang (UU) tentang KPK? Karena dia tahu tidak ada yang bisa melawan. Apalagi menggoyang kekuasaannya. Begitulah dia merasakan posisinya.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Jokowi tahu tidak ada yang bisa melawan atau menggoyang dia? Karena dia tahu aksi-aksi mahasiswa yang kelihatannya marak di mana-mana saat ini, tidak akan menjadi liar apalagi sampai mengancam.

Terus, mengapa Jokowi yakin aksi-aksi mahasiswa yang kelihatan sudah sangat serius itu, tidak akan liar atau mengancam? Karena Jokowi “tahu persis” siapa-siapa mereka itu.

Jokowi, boleh jadi, kenal baik dengan mereka. Dengan para pimpinan mereka. Kenal dekat dengan para rektor mereka.

Lebih dari itu, Jokowi sudah pasti kenal sangat baik dengan kepala BIN dan Kapolri. Kedua bos keamanan ini punya pengalaman luas dan dalam untuk memberikan rasa aman kepada seorang presiden.

Jadi, tidak ada yang harus dia cemaskan. Sebab, gerakan mahasiswa itu, paling tidak sebagian besarnya, akan berjalan sesuai dengan “tata tertib” yang telah disepakati.

Sesuai dengan kaidah-kaidah “budaya nusantara” yang berlandaskan “musyawarah” untuk kebaikan bersama. Memang tak tertutup kemungkinan Jokowi “tak kenal” dengan sebagian mahasiswa yang beraksi. Tapi, tidak signifikan jumlahnya.

Selama hampir lima tahun ini, pemerintahan Jokowi sukses melakukan pendekatan kepada mahasiswa. Pendekatan yang sifatnya kuantitatif.

Pendekatan kuantitatif ini dengan sendirinya menyebabkan korban kualitatif. Maksudnya, korban kualitas. Kualitas kedua pihak. Silakan Anda berkontemplasi apa arti korban kualitatif kedua pihak itu.

Lantas, bagaimana kira-kira kelanjutan aksi-aksi mahasiswa yang sedang marak di mana-mana, saat ini?

Jawabannya: sangat tergantung pada pendekatan kuantitatif itu. Kalau penguasa konsisten dengan pendekatan angka-angka ini, hampir pasti aksi-aksi mahasiswa akan selalu terkendali.

Kalau pun mereka berteriak keras di arena aksi, itu hanya sekadar melengkapi rukun demonstrasi. Salah satu rukun unjukrasa adalah teriakan dan orasi.

Jadi, Anda perlu menakar harapan pada aksi mahasiswa hari ini. Jangan dulu bersangka akan ada pertunjukan kualitatif. Hampir pasti tidak akan terjadi.

Sebab, di masa Jokowi ini tidak ada tradisi untuk berbicara tentang dimensi kualitatif itu. Semuanya serba kuantitatif (jumlah). Hebatnya, semua orang di dalam rombongan Jokowi, entah bagaimana kejadiannya, sepakat mempraktikkan pendekatan kuantitatif.

Sebenarnya, tidak begitu mengherankan. Sebab, pendekatan ini selalu menyenangkan. Yang dibahas selalu tentang angka-angka. Sebagai contoh, angka untuk maintenance (perawatan).

Yaitu, perawatan agar kampus tetap bersahabat dengan penguasa. Kemudian angka tentang jumlah proyek, angka capaian, angka utang, dll. Tradisi angka-angka ini disebut filosofi kuantitatif.

Jadi, semua diukur dengan angka-angka atau jumlah. Termasuklah dalam melakukan pendekatan terhadap mahasiswa. Yang dibicarakan selalu angka. Misalnya, indeks prestasi (IP) yang harus dicapai. Berapa biaya yang diperlukan untuk mencapai itu, dlsb.

Itulah pendekatan kuantitatif terhadap mahasiswa. Diukur dan terukur dengan angka-angka. Kalau ada apa-apa, pihak penguasa akan langsung memeriksa sistem pencernaan mahasiswa.

Dilihat apa yang kurang. Cepat-cepat dicek apakah ada gangguan di lambung mereka. Lambung (perut) mereka tidak boleh kosong. Kalau ada gangguan, biasanya penguasa akan segera memberikan “obat” yang paling manjur.

Politik dianggap sebagai hama kampus. Para rektor disuruh melakukan penyemprotan pestisida agar hama politik tidak epidemik.

Para mahasiswa harus steril. Sebanyak mungkin. Mereka diberi pupuk kimia (unorganik). Tumbuh seperti tanaman rekayasa genetika. Gen politiknya dicangkok.

Begitulah potret mahasiswa selama ini. Mereka pasif. Tidak perduli politik. Tidak hirau dengan penyimpangan dan ketimpangan.

Sekarang, tiba-tiba mahasiswa sangat tanggap terhadap situasi politik. Mereka turun berbondong-bondong. Di banyak kota dan wilayah. Mengagetkan.

Sebagian mereka menuntut agar Jokowi mundur. “Lengser sekarang juga,” kata mereka dalam orasi atau dalam nyanyian koor.

Benarkah penglihatan mata ini? Benarkah mahasiswa sekonyong-konyong menjadi patriotis? Tidak lagi manusia kuliner? Bukan lagi manusia cafe? Seriuskah mereka meninggalkan ‘comfort zone’ di mal-mal sejuk ber-AC?

Bisa jadi! Sangat mungkin. Sebab, pastilah Jokowi “tidak kenal” dengan semua mahasiswa. Atau, bisa juga mahasiswa yang dikenal Jokowi tiba-tiba menjadi lupa dengan Jokowi. Lupa karena situasi negara ini dirasakan sangat berbahaya. Sekian banyak masalah besar merundung negara ini pada saat yang bersamaan.

Ada ancaman disintegrasi. Papua yang bergolak. Asap karhutla yang berkecamuk. Utang luar negeri yang mulai menjadi anak harimau. Janji-janji pokok Jokowi yang banyak dilanggar.

Kedaulatan negara yang mulai tersandera di tangan asing. KPK yang dikeroyok oleh DPR dan pemerintah. Sikap tegas Jokowi memusuhi KPK. Sekian banyak RUU kontroversial yang disahka atau dipaksa untuk disahkan, dlsb.

Boleh jadi para mahasiswa juga menangkap sejumlah gejala yang mengkhawatirkan. Termasuk penguatan dan perluasan pengaruh RRC komunis di Indonesia.

Beberapa hari lalu ada kunjungan pejabat tinggi politbiro Partai Komunis China, Song Tao, ke Jokowi. Dia kemudian bertemu Megawati dengan tujuan akan mempererat hubungan dengan PDIP.

Barangkali saja semua ini membuat mahasiswa terbangun dan resah. Mereka tiba-tiba sadar dan melihat bahaya yang menanti di depan.

Tapi, benarkah sedang berlangsung aksi serius yang dilancarkan mahasiswa?

Wallahu a’lam. Bisa iya, bisa tidak.

Tampaknya cukup serius. Cuma, belum berani menukilkan kesimpulan. Ragu-ragu. Entah iya, entah tidak.

Asyari Usman, 24 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

HIGHLIGHT