Oleh: Andi Fahry Makkasau
PALONTARAQ.ID – Kerajaan Marusu yang letaknya di sisi Utara Sulawesi Selatan dimasa lalu tergabung dalam Noordern Districhten (Propinsi Distrik Utara) berjarak sekitar 293 Km dengan Kerajaan Bontobangung di Selayar.
Bukan saja dipisahkan oleh daratan yang jauh untuk ukuran Abad XVI tetapi juga karena dipisahkan oleh laut yang cukup luas yaitu Selat Selayar yang terbentang mulai dari Pantai Bira hingga ke Pulau Selayar melampau Pulau Kambing dan Pulau Pasitanete.
Namun pun begitu siapa sangka jika antara Kerajaan Marusu di Maros dan Kerajaan Bontobangung di Selayar yang berjarak begitu jauh telah terjalin ikatan kekerabatan yang begitu erat sejak akhir Abad XVI. Ikatan yang terjadi sangat sarat nilai heroisme romantisme.
Kenangan manisnya menjadi bagian penting dari penggalan sejarah Kerajaan Marusu. Yaitu Pernikahan antara La Mamma Daeng Marewa (Karaeng Marusu) dengan Putri Bontobangung bernama Opu Karaeng Sami.
Sebelum lanjut ke Peristiwa pernikahan antara La Mamma Daeng Marewa (Karaeng Marusu) dengan Opu Karaeng Sami akan kami uraikan dulu nasab putri Bontobangung tersebut.
Opu Karaeng Sami adalah putri dari Laraali Karaeng Suasa yang bergelar Opu Boga, Beliau Opu Boga adalah putra bungsu tiga bersaudara dari La Jarman Opu Karaeng Pattola Sultan Abdul Malik (Opu Bontobangung) dari istri bernama Opu Karajeng Daeng Camo’mo.
Yang tertua adalah I Laudji Daeng Mappasang Karaeng Ma’diok (Opu Bontobangung) kemudian kakaknya yang tengah perempuan bernama Opu Tommi Karaeng Alang.
La Djarman Opu Karaeng Pattola, adalah putera La Muri Lalaki Putabangung yang nasabnya jika ditarik ke atas bersambung sampai ke WE TENRI DIO anak kedua dari Tokoh Persasat Dewa yang sangat legendaris SAWERIGADING
Ibunda Opu Karaeng Sami bernama Sitti Andi keponakan dari I Pangalli Opu Patta Raja Sultan Abdul Fattah (Karaeng Gantarang) Raja di Selayar yang pertama masuk Islam yang langsung diIslamkan oleh Dato’ ri Bandang.
Opu Karaeng Sami sendiri adalah anak kedua dari 4 orang bersaudara. Saudaranya yang lain adalah kakaknya bernama Bontona Karaeng Sallatang (Opu Batangmata) lalu adiknya Jumratu Adang Karaeng Rigowa kemudian Hasiah Karaeng Riari (istri Datu Lamuru).
Kelihatan dengan jelas bagaimana ketinggian nasab dari Putri Bontobangung ini untuk ukuran bangsawan yang ada di Pulau Selayar dan sekitarnya. Kemudian sedikit uraian nasab La Mamma Daeng Marewa (Karaeng Marusu), beliau adalah putera dari Abdul Kadir Daeng Mattinri Lo’mo Marusu (Sebelum istilah Karaeng adalah Lo’mo) dari istrinya yang bernama I Darra Daeng Tamera.
Abdul Kadir Daeng Mattinri (Lo’mo Marusu) adalah putera dari La Maggumetteng Arung Sinri dari istrinya bernama I Magoro Arung Galung. La Maggumetteng Arung Sinri adalah putera Baginda Yang Mulia La Patau Matanna Tikka Malae Sanra Nyili’na Walinono’e Sultan Alimuddin Idris Raja Bone XVI dari istrinya Sitti Maemuna Dala Marusu puteri Baginda I Karaeng Daeng Marewa Sultan Muhammad Adam yang terkenal dengan gelar Karaeng Angsakayyai Binangayya ri Marusu (Raja Maros).
Nampak jika diuraikan lebih detil bahwa nasab La Mamma Daeng Marewa akan bermuara pada Mata Silompo’E ManurungE ri Matajang (Raja Bone I) dan I Sangaji Gaddong Batara Marusu (Raja Maros II). Ibunda Batara Marusu adalah Manurunga ri Pasandang, putri angkat Karaeng LoE ri Pakere Raja Maros PERTAMA (tidak punya keturunan) yang diperistrikan oleh putera Manurunga ri Asa’ang (Luwu).
Dari uraian nasab keduanya di atas kita dapat menyimpulkan bahwa perkawinan antara La Mamma Daeng Marewa (Karaeng Marusu) dengan Opu Karaeng Sami (Putri Bontobangung) adalah pernikahan AGUNG karena perpaduan dua nasab mulia Keturunan Tomanurung.
Namun dibalik cerita soal nasab, ada yang lebih menarik dari kisah perkawinan ini adalah karena La Mamma Daeng Marewa berhasil mempersunting Puteri Opu Karaeng Sami melalui sayembara yang memang dilaksanakan oleh Keluarga Kerajaan Bontobangung untuk mendapatkan jodoh terbaik bagi sang putri, yang konon memang diakui kecantikannya seantero Tana Doang sampai ke Ternate.
Karena banyaknya raja dan bangsawan yang berkeinginan mempersuntingnya tidak saja dari kerajaan tetangga di Pulau Selayar tetapi bahkan dari Buton dan Ternate juga ada. Dari situlah kemudian diputuskan untuk menetapkan Sayembara sebagai solusi terbaik dalam mendapatkan jodoh untuk sang putri.
La Mamma Daeng Marewa sendiri sebagai Karaeng Marusu ketika itu sudah memiliki istri sebanyak 40 orang namun belum menetapkan seorang pun di antaranya sebagai Karaeng Baine atau Permaisuri.
Ketika mendapatkan Undangan sayembara yang dilaksanakan oleh Kerajaan Bontobangung, Beliau yang memang terkenal sebagai seorang yang mumpuni dalam olah kanuragan dan seni beladiri memohon izin dan restu Gallarang Tujua Dewan Hadat Kerajaan Marusu untuk mengikuti sayembara dimaksud karena beliau mendapatkan firasat bahwa Permaisurinya ada di Tana Doang.
Kisah Heroisme dan Romantisme La Mamma mengikuti sayembara tidak akan penulis uraiakan karena penulis masukkan sebagai satu bagian cerita dalam Novel Sejarah BOMBONNA BUTTA MARUSU (Kerajaan Marusu dalam Gejolak Kekuasaan Cita-cita dan Cinta) yang tidak lama lagi akan terbit.
Singkat cerita La Mamma Daeng Marewa berhasil mengalahkan semua kompetitor sayembara dan mempersunting Puteri Opu Karaeng Sami dan memboyongnya ke Maros dan langsung dikukuhkan sebagai Permaisuri Kerajaan Marusu.
Dari perkawinan agung ini lahir:
1. Abdul Latifu Daeng Mattana (Karaeng Marusu);
2. I Bungadia Daeng Taugi, diperistrikan oleh La Mattuppuang Daeng Palallo Sullewatang Timboro;
3. La Mappalewa Daeng Mattayang (Karaeng Marusu), memperistrikan Petta Coa putri Karaengta Ujung;
4. I Jami Daeng Tauji diperistrikan oleh La Manyanderi Daeng Paranreng (Karaeng Lau) yang kelak juga sempat menduduki takhta Karaeng Marusu.
Dari putra pertama Abdul Latifu Daeng Mattana berputra 2 orang yaitu:
1. I Pagala Daeng Pabuang (Sulewatang Marusu) memperistrikan I Caddi Daeng Baji lahir putra tunggal bernama La Mannaungi Daeng Mananting yang memperistrikan Hatiba Daeng Puji, cucu Gallarang Tombolo (Bate Salapanga ri Gowa) lahir 3 anak yang tertua laki-laki bernama Syahban Daeng Massikki, yang kemudian memperistrikan Lawiyah Daeng Kanang cucu Sulewatang Timboro lahir antara lain Kamaruddin Daeng Mambani (Karaeng/Kepala Distrik Turikale Terakhir) ayah dari Ibunda kami.
2. I Pangerang Daeng Pawawo yang kemudian memperistrikan I Camummu Daeng Masiang melahirkan Abdul Halim Daeng Mamangung (Imam Marusu) yang memperistrikan Jawania Daeng Ngasseng lalu lahir antara lain Sitti Fatimah Daeng So’na Karaeng Bainea yang diperistrikan oleh Abdul Hafid Daeng Ma’ronrong (Karaeng Marusu) lahir antara lain Tajuddin Daeng Masiga (Karaeng/Kepala Distrik Marusu Terakhir) ayahanda dari Andi Waris Karaeng Siodja Pemangku Amanah Karaeng Marusu saat ini.
Dari Tulisan sederhana ini telah nampak tergambar terjalinnya hubungan kekerabatan antara Kerajaan Marusu (Maros) dengan Kerajaan Bontobangun (Selayar) di akhir Abad XVI sampai saat ini dan keturunan dari Perkawinan ini telah menyebar dan beranak-pinak di seluruh Nusantara. Subhanallah.
Kami Marusu… kami juga Bontobangung, setipis apapun kini kadar darah yang tersisa dari perkawinan keduanya namun kami semua yang masih mengenang dan menjaga silaturahmi dengan Kerabat Bontobangun (Selayar) sampai kapan pun juga. Insya Allah..Aamiin
Maros, 27 Juli 2019



Perkenalkan nama sy andi Lukman,,, sy mau tanya tentang KARAENG MAPPALEWA DG, SUASA, apakah beliau raja Selayar atau raja marusu
Mappalewa dg mattayang adalah anak dari lamamma,dg marewa.
Saya juga keturunan dari lamamma,daeng marewa.