Oleh: Etta Adil
Sayangku,
Bukankah kita sudah mengikat janji, sebuah proklamasi tentang keutuhan cinta
Bahwa tak ada lagi aku atau kamu, karena kamu dan aku telah menjadi kita
Dilema tentang perbedaan latar belakang sosial telah dilalui bersama
Lantas mengapakah hal-hal sepele menjadi keributan rumah tangga
Bagiku, masalah seperti nafkah, kuasa dan kerja adalah hal kecil.
Sayangku,
Cinta adalah cinta. Jangan kau belenggu dengan segala macam bentuk perjanjian
Nafkah bisa dicari, kuasa bisa kuberikan, dan kerja bisa kuciptakan
Jangan kamu ukur bahagia dari nafkah, kuasa, dan kerja.
Jika itu yang kamu ributkan, berarti kamu telah menodai kasihku
Bagiku, masalah seperti nafkah, kuasa dan kerja bukan jaminan bahagia.
Sayangku,
Bukankah telah berkali kukatakan padamu
Bahwa kebahagiaan itu ketika aku dan kamu telah menjadi kita, sejak duduk pertama di pelaminan suci.
Bukankah ikatan janji saat nikah itu sudah cukup, dan tak ada lagi perjanjian setelahnya
Kehormatan dan keadilan dalam memenuhi janji nikah itu sudah garansi kebahagiaan
Bagiku, itu jauh lebih indah dari tuntutan berlebih nafkah, kuasa dan kerja.
Puisi Etta Adil, Pangkajene, 20 Januari 2015


