Islam Pengertian, Kriteria dan Hukum Hadits Dhaif

Pengertian, Kriteria dan Hukum Hadits Dhaif

-

- Advertisment -

'Ulumul Hadits. (foto: ist/palontaraq)
‘Ulumul Hadits. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi

Related Post:  Pengantar Ilmu Hadits

PALONTARAQ.ID – Hadits Nabi SAW adalah sumber hukum dan rujukan kedua setelah Al-Qur’an. Sebagai sumber hukum, Hadits seharusnya dipahami dengan baik oleh umat Islam, yang shahih maupun dhaif, riwayat dan kedudukannya, serta pengamalannya. Tulisan ini mengkhususkan membahas hadits dhaif supaya kita bisa mengetahui, memilah dan menolaknya.

Pengertian Hadits Dhaif

Secara bahasa, kata dhaif adalah lawan dari al-qowiy, yang berarti “lemah”, maka sebutan hadist dhaif dari segi bahasa berarti hadis yang lemah atau hadits yang tidak kuat .

Secara istilah, di antara para ulama terdapat perbedaan rumusan dan mendefinisikan hadis dhaif ini. Akan tetapi, pada dasarnya, isi dan maksudnya adalah sama. Imam An-Nawawi mendefinisikan hadits dhaif sebagai Hadits yang didalamnya tidak terdapat syarat hadits shahih dan syarat hadits hasan.

 

مَالَمْ يُوْجَدُ فِيْهِ شُرُوْطُ الصِّحَّةِ وَلَا شُرُوْطُ الحَسَنِ

Ulama lainnya menyebutkan bahwa hadits dhaif sebagai Hadits yang didalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul.

 

القَبُوْلِ صِفَاتُ فِيْهِ يَجْتَمِعْ لَمْ كُلُ حَدِيْثٍ

 

Menurut Nur ad-Din’Atr, definisi hadits dhaif yang paling baik ialah Hadits yang hilang salah satunya dari syarat-syarat hadits maqbul, hadits yang sahih atau hadits yang hasan.

 

مَا فَقِدَ شَرْطًا مِنْ شُرُوْطِ الْحَدِيْثِ المَقْبُوْلِ

Pada definisi yang ketiga disebutkan secara tegas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadits sahih atau hadits hasan hilang, berarti hadits itu dinyatakan sebagai hadits dhaif, lebih-lebih jika yang hilang itu sampai 2-3 syarat, seperti perawinya tidak adil, tidak dhabit, dan adanya kegagalan dalam matan. Hadits seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadits dhaif yang sangat lemah.

Contoh hadits dhaif ialah yang berbunyi:

 

اِنً النًبِيَ صَلًى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلًمَ تَوَضَاءَ وَمَسَحَ عَلَى الجَوْرَبَيْنِ

 

Artinya:
Bahwasanya Nabi SAW wudhu dan beliau mengusap kedua kaos kakinya.”

Hadits tersebut dikatakan dhaif karena diriwayatkan dari Abu Qais Al-Audi, seorang rawi yang masih dipersoalkan.

Kriteria Hadits Dha’if

Pada definisi diatas terlihat bahwa hadits dha’if tidak memenuhi salah satu dari kriteria hadits sahih atau hadits hasan. Bahwa kriteria hadits shahih adalah Sanadnya bersambung, Periwayat adil, Periwayat dhabith, Terlepas dari syadz, dan Terhindar dari ‘illat.

Adapun kriteria hadits hasan adalah Sanadnya bersambung, Periwayat adil, Periwayat kurang dhabith, Terlepas dari syadz, dan Terhindar dari ‘illath.

Berhubung hadits dha’if tidak memenuhi salah satu dari beberapa kriteria diatas, maka kriteria hadits dha’if adalah Sanadnya terputus, Periwayatnya tidak adil, Periwayatnya tidak dhabith, Mengandung syadz, dan Mengandung ‘illat.

Hadits dhaif bermacam-macam, dan ke-dhaifannya bertingkat, bergantung pada jumlah yang menggugurkan syarat hadits shahih atau hadits hasan, baik mengenai rawi, sanad, maupun matan.

1. Dari segi Rawi

Terdapat kecacatan para rawi, baik mengenai keadilannya maupun mengenai kedhabitannya:

a. Dusta, yakni berdusta dalam membuat hadits walaupun hanya sekali dalam seumur hidup. Hadits dhaif yang rawinya dusta disebut hadits maudhu’.

Hadits maudu’ adalah:

هُوَ الْمُخْتَلَعُ المَصْنُوْعُ المَنْسُوْبُ اِلَى رَسُوْل اللهِ ص.م. زُوْرًا وَبُهْتَانَا سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ عَمْدًا اَمْ خَطَاءً

Artinya:
“Hadits yang dicipta serta dibuat oleh seorang (pendusta), yang ciptaan itu dinisbahkan kepada Rasulullah SAW. Secara palsu dan dusta, baik hal itu di sengaja maupun tidak”.

b. Tertuduh berdusta, yakni rawi yang terkenal dalam pembicaraan sebagai pendusta, tetapi belum dapat dibuktikan bahwa ia pernah berdusta dalam meriwayatkan  hadits. Rawi ini benar-benar bertobat dapat diterima periwayatan (haditsnya), hadits tersebut matruk:

 

اَلْحَدِيْثُ الَّذِيْ يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ مَنْ يَتَهَمُّ بِالْكِتَابِ وَالْحَدِيْثِ

 

Artinya:
“Hadits yang menyendiri dalam periwayatannya yang diriwayatkan oleh orang tertuduh berdusta dalam (periwayatan) hadits”.

c. fasik, ialah kecurangan dalam amal, bukan kecurangan dalam I’tikad, juga mereka berbuat maksiat.

d. Lengah dalam hafalan dan banyak salah. Lengah biasa terjadi dalam penerimaan hadits, sedangkan banyak salah terjadi dalam penyampaiannya.

Hadits yang rawinya fasik, lengah dalam hafalan dan banyak salah, disebut hadis mungkar.

 

الحَدِيْثُ الَّذِيْ يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ مَنْ فَحُشَ غَلَطُهُ اَوْ كَثُرَتْ غَفْلَتُهُ اَوْ بَيَّنَ فِسْقُهُ بِغَيْرِالْكَذَبِ

 

Artinya:
“Hadis yang menyendiri dalam periwayatan oleh orang yang banyak kesalahannya, banyak kelengahannya, atau jelas kefasikannya yang bukan karena dusta.”

e. Banyak waham (purbasangka), yakni salah sangka seolah-olah hadits tersebut tidak mengandung cacat, baik pada matan maupun pada sanad. Hadits demikian disebut hadits mu’allal:

 

مَاطُلِعَ فِيْهِ بَعْدَ الْبَحْثِ وَالتَّبْعِ عَلَى وَهْمٍ وَقَعَ لِرُوَاتِهِ مِنْ وَصْلٍ مُنْقَطِعٍ اَوْ اِدْخَالٍ حَدِيْثٍ فِى حَدِيْثٍ اَوْ نَحْوَ ذَلِكَ

 

Artinya:
“Hadits yang setelah diadakan penelitian dalam penyelidikan, tampak adanya salah sangka dari rawinya, dengan mewahamkan (menganggap bersambung suatu sanad) hadits yang munqati’ (terputus) atau memasukan sebuah hadits pada suatu hadits yang lain, atau yang semisal dengan itu”.

f. Menyalahi riwayat orang kepercayaan

Membuat suatu sisipan, baik pada sanad maupun pada matan, mungkin perkataannya sendiri atau perkataan orang lain, baik sahabat maupun tabi’in dengan maksud menerangkan makna yang mutlak. Haditsnya disebut mudraj:

 

مَاادْرَجَ فِى الْحَدِيْثِ مِمَّالَيْسَ مِنْهُ عَلَى وَهْمٍ يُوْهَمُ اَنَّهُ وَمِنْهُ

Artinya:
“Hadits yang disandarkan dengan sesuatu yang bukan hadits atas perkiraan bahwa sandaran itu termasuk hadits”

2. Dari segi Sanadnya

Suatu hadits menjadi dhaif karena sanadnya tidak bersambung (tidak muttashil), rawi murid tidak bertemu dengan rawi guru sehingga terdapat inqitha’ (gugur rawi) pada sanad. Hal ini terbagi sebagai berikut:

a. Hadits Mualaq, yaitu hadits yang terputus di awal sanad. Secara terminologis hadits mualaq’ adalah hadits yang periwayatannya di awal sanad (periwayatan yang disandari oleh penghimpunan hadis) gugur atau terputus seorang atau lebih secara berturut.

اَلَّذِيْ يَسْقُطُ مِنْ اَوَّلِ سَنَدِهِ رَاوٍ فَاَكْثَرَ

Artinya:
“Hadits yang gugur rawinya seorang atau lebih dari awal sanadnya”

b. Hadits Mursal, yaitu gugur pada sanad terakhir atau rawi pertama (sahabat), yakni tabi’in menisbahkan matan hadits kepada Nabi SAW. Tanpa menyebutkan dari sahabat mana ia menerima hadits tersebut.

اَلَّذِيْ يَسْقُطُ مِنْ اَخِرِسَنَدِهِ بَعْدَ التَّابِعِى

Artinya:
“Hadits yang gugur dari akhir sanadnya seseorang setelah tabi’in”

Hadits mursal ada tiga macam yaitu:

Mursal jali, yaitu bila pengguguran yang telah dilakukan oleh rawi (tabi’in) dapat diketahui dengan jelas sekali, ia tidak hidup sezaman dengan orang yang digugurkan yang mempunyai berita.

Mursal sahabi, yaitu pemberitaan sahabat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Atau menyaksikan apa yang ia beritakan, namun di saat Rasulullah SAW hidup, ia masih kecil atau terakhir masuknya ke dalam islam.

Mursal khafi, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh tabi’in, dan tabi’in yang meriwayatkan hidup sezaman dengan sahabat, tetapi ia tidak pernah mendengar sebuah haditspun darinya. Hadis mursal sahabi bisa sahih, apabila sahabat yang meriwayatkannya itu adil.

c.  Hadits Mu’dal, yaitu gugur dua orang rawi atau lebih berturut-turut

 

مَاسْقُطَ مِنْ رُوَاتِهِ اِثْنَانِ اَوْ اَكْثَرُعَلَى التَّوَالِى سَوَاءٌ سَقَطَ الصَّحاَبِيُّ وَالتَّابِعِيُّ اَوْالتَّابِعِيُّ وِتَّابِعُهُ اَوْ اِثْنَانِ قَبْلَهُمَا

Artinya:
“Hadis yang rawi-rawinya gugur atau lebih, berturut-turut, baik sahabat bersama tabi’in, maupun dua orang sebelum sahabat dan tabi’in”.

d. Hadits Munqathi, yaitu gugur seorang perawi atau lebih, tetapi tidak berturut-turut.

 

مَاسَقَطَ مِنْ رُوَاتِهِ وَاحِدٌ قَبْلَ الصَّحاَبِيُّ فِيْ مَوْضِعٍ اَوْسَقَطَ فِيْ مَوْضِعَيْنِ اِثْنَيْنِ لَاحاَلَ كَوْنِهِمَا مُتَوَالِيَيْنِ

Artinya:
“Hadits yang gugur seorang rawinya sebelum sahabat, di satu tempat atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak berturut-turut”.

3. Dari segi matannya

Penisbatan matan tidak pada Nabi Muhammad SAW, yang terdiri atas sebagai berikut:

a. Penisbatan matan kepada sahabat, disebut mauquf.

مَاقُصِرَعَلَي الصَّحاَبِيِّ قَوْلًا اَوْفِعْلًا مُتَّصِلًا كاَنَ اَوْ مُنْقَطِعًا.

Artinya:
“Berita yang hanya dinisbahkan kepada sahabat, baik yang dinisbahkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung maupun terputus”.

b. Penisbatan matan kepada tabi’in, disebut maqtu’

مَاجَاء َعَنْ تاَبِعِيِّ مِنْ قَوْلِهِ اَوْفِعْلِهِ مَوْقُوْفًا عَلَيْهِ سَوَاءٌ كاَنَ اِتَّصَلَ سَنَدُهُ اَمْ لَا

Artinya:
“Perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta dinisbahkan kepadanya, baik sanadnya bersambung ataupun tidak”.

4. Hukum-hukum Hadits Dhaif

Hadits Dhaif berakibat hukum sebagai berikut:

1. Tidak boleh diamalkan, baik dalam hal menggunakannya sebagai landasan menetapkan suatu hukum maupun sebagai landasan suatu akidah, melainkan hanya dibolehkan dalam hal keutamaan (fadhilah) amal dengan memberikan iklim kondusif yang menggairahkan atau merasa takut untuk melakukan atau tidak melakukan suatu amal perbuatan.

Menurut para ahli hadits, pendapat ini dapat dijadikan pegangan, meski jumhur ulama masih berbeda pendapat tentang dibolehkannya mengamalkan hadits dhaif dengan beberapa syarat sebagimana yang disebutkan Ibnu Hajar, yaitu:

a. Hadits dhaif itu mengenai keutamaan-keutamaan beramal

b. Kualitas kedhaifannya tidak terlalu, sehingga tidak dibolehkan mengamalkan hadis-hadis dhaif yag diriwayatkan oleh orang pendusta, yang di tuduh berbuat dusta, dan yang sangat jelek kesalahannya.

c. Hadits dhaif itu harus bersumber pada dalil yang bisa diamalkan.

d. Pada waktu mengamalkan hadits dhaif tidak boleh mempercayai kepastian hadits itu, melainkan harus dengan niat ikhtiyat (berhati-hati dalam agama).

Ulama yang menegaskan dibolehkannya mengamalkan hadits dhaif dalam hal keutamaan (fadhilah) amal, diantaranya ialah:

– Imam Al-Nawawi dalam kitabnya Al-Targib.

– Imam Al-Iraqi dalam kitab Syarah Alfiyah Al-Iraqi

– Ibnu Hajar Al-Asqalaani dalam kitab Syarah Al-Nukhbah.

– Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Syarah Alfiyah Al-Iraaqi

– Al-Allaamah Al-Lukhnuwi dalam risalahnya, “Al-Ajwibah Al-Fashilah.”

– Al-Sayyid Alawi Al-Maliki dalam kitab Risalah khusus tentang hukum hadis dhaif.

2. Orang yang mengetahui hadits sanadnya dhaif, maka harus mengatakannya, “Hadits ini sanadnya dhaif.” Tidak dibolehkan dengan mengatakannya, “Hadits ini dhaif” hanya karena adanya kelemahan sanad. Karena, hadits itu kadang mempunyai sanad lain yang shahih. Seseorang dibolehkan menyebutkannya dengan tegas, “Hadis ini dhaif” apabila telah jelas tidak ada sanad lain yang shahih.

3. Hadits dhaif yang tanpa sanad tidak boleh diucapkan dengan kata-kata, “Bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Begini dengan begitu….dst.” Akan tetapi, harus diucapkan dengan perkataan, “Diriwayatkan dari Nabi SAW… begitu… begitu….dst”, atau dengan perkataan lain yang senada, yang terdiri dari bentuk-bentuk ungkapan yang mengandung makna tidak adanya memastikan, disebut “shigdhat tamridh”

Untuk menyebutkan hadits shahih, harus menunjukan arti kepastian, disebut “shighat jazm.” dan dipandang sangat tidak baik meriwayatkan hadis shahih dengan menggunakan shigat tamridh.

4. Apabila hadits dhaif itu mempunyai makna yang musykil, maka tidak perlu dicari-cari interprestasinya dengan cara mena’wil, atau dengan cara lain untuk menghilangkan kemuskilannya, sebab cara-cara yang demikian itu hanya bisa dilakukan terhadap hadis shahih.

5.Hadits dhaif tidak boleh mengakibatkan turunnya kualitas validitas hadits shahih, demikian ini pendapat Ibnu Hajar dalam kitab Fathu Al-Bari.

5. Tiga Madzhab Pengamalan Hadits Dhaif

1. Hadits dhaif itu sama sekali tidak boleh diamalkan, baik soal hukum, maupun soal targib dan yang lainnya. Inilah madzhab imam besar hadits, seperti: Imam Bukhari dan Muslim. Alasannya: Agama ini diambil dari kitab dan sunah yang benar. Hadis dhaif, bukan sunnah yang benar (dapat diukur besar). Maka berpegang kepadanya, berarti menambah agama dengan tidak berdasar kepada keterangan yang kuat.

2. Hadits dhaif itu dipergunakan untuk menerangkan fadhilah amal (fadhailul a’mal). Pendapat ini dikatakan pendapat sebagian fuqaha dan ahli hadits, Imam Ahmad, menerima hadits dhaif kalau berpautan dengan targhieb wat tarhib dan menolaknya kalau berpautan dengan hukum. Diantara fuqoha yang menyepakatinya, Ibnu ‘Abdil Barr .

3. Mempergunakan hadits dhaif, bila dalam sesuatu masalah tidak diperbolehkan hadits-shahih atau hasan. Pendapat ini disandarkan kepada Abu Daud, juga Imam Ahmad, bila tiada diperboleh fatwa shahaby. Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar Al Asqalany, Ulama-ulama yang mempergunakan hadis dhaif, mensyaratkan kebolehan mengambilnya itu, tiga syarat:
a. Kelemahan hadits itu tiada seberapa. Maka yang hanya diriwayatkan oleh orang yang tertuduh berdusta, tidak dipakai.
b. Petunjuk hadits itu ditunjuki oleh sesuatu dasar pegangan, dalam artian tidak berlawanan dengan sesuatu dasar hukum yang sudah dibenarkan.
c. Jangan dii’tiqadkan kala memegangnya, bahwa hadits itu benar dari Nabi. Hanya dipergunakan sebagai ganti memegangi pendapat yang tidak berdasarkan nash sama sekali.

Contoh kritik terhadap hadits fadhilah amal:

a. Amalan Malam Nishfu Al-Sya’ban

Di antara ciri-ciri hadis maudhu’ yang lain adalah hadis-hadis yang membicarakan tentang shalat pada malam nish sa’ban. Seperti hadits: “Wahai Ali, barang siapa yang shalat pada malam nishf sa’ban (pada malam tanggal 15 bulan sa’ban) sebanyak 100 rakaat dengan membaca 1000 kali Qul Huwa Allahu Ahad maka Allah akan memenuhi segala keinginan yang diminta pada malam itu dan diberi 70000 bidadari. Setiap bidadari memiliki 70000 pelayan dan 70000 anak-anak kecil,” sehingga berkata:”dan kedua orang tuanya akan diberi syafa’at, masing-masing memperoleh 70000.”

Ada pula hadits: ”Barangsiapa yang membaca Qul Huwa Allahu Ahad sebanyak 1000 kali pada malam nishf asya’ban di dalam salat 100 raka’at-redaksi hadits ini cukup panjang-maka Allah akan mengirim kepadanya 100 malaikat yang membawa kabar gembira untuknya.”

Dan Hadis:”Barang siapa yang shalat pada malam nishf sya’ban sebanyak 12 rakaat, dan dalam setiap rakaat membaca Qul Huwa Allahu Ahad 30 kali maka Allah akan melimpahkan syafaat kepada seluruh anggota keluarganya, yang sudah dipastikan akan masuk neraka.”

b. Keistimewaan ayam jantan

Diantara ciri hadits palsu yang lain adalah hadits yang membicarakan tentang ayam. Keseluruhan hadis ini tidak ada yang shahih. Seperti hadits: ”Ayam itu adalah kambing bagi orang-orang fakir umatku.” Dan hadits: ”Orang-orang kaya diperintahkan untuk mengambil (menyembelih korban) kambing, sedangkan Orang-orang fakir diperintahkan untuk mengambil (menyembelih korban) ayam.”

6. Kesimpulan

Secara tegas bahwa jika satu syarat saja (dari persyaratan hadits sahih atau hadits hasan hilang), berarti hadis itu dinyatakan sebagai hadits dhaif, terlebih jika yang hilang itu 2-3 syarat, seperti perawinya tidak adil, tidak dhabit, dan adanya kegagalan dalam matan. Hadis seperti ini dapat dinyatakan sebagai hadits dhaif yang sangat lemah.

Hadits dhaif bermacam-macam, dan ke-dhaifannya bertingkat, bergantung pada jumlah yang menggugurkan syarat hadits sahih atau hadits hasan, baik mengenai rawi, sanad, maupun matan.

Mengamalkan hadits dhaif para ulama berbeda-beda pendapat, ada yang berpendapat bahwa Hadits dhaif itu sama sekali tidak boleh diamalkan, Hadits dhaif itu dipergunakan untuk menerangkan fadhilah amal (fadhailul a’mal), Mempergunakan hadits dhaif, bila dalam sesuatu masalah tidak diperbolehkan hadis-hadis shahih atau hasan.

Daftar Pustaka

Badri Khaeruman, “Ulum Al-Hadis”, (Bandung: Pustaka Setia, 2010)
Idri, “studi hadis”. (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2010)
Ibnu Qayyim, “Studi Kritik terhadap Hadis Fadhilah Amal”, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2000)
Muhammad Hasbi, “Ilmu Hadis”, (Semarang: PT Semarang Rizki Putra, 1999)
Muhammad Malawi, “Ilmu Usul Hadis”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009

Penulis Palontaraqhttps://palontaraq.id/
M. Farid W Makkulau, pemerhati budaya dan penikmat sejarah. Kerap kali menggunakan nama pena Etta Adil saat menulis reportase, karya fiksi dan laporan perjalanan. Pernah menggeluti 10 tahun dunia jurnalistik, sebelum memutuskan mengisolasi diri di lingkungan sekolah islam sebagai seorang guru Selengkapnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest news

Jangan alihkan Kesalahan Polri pada Surat jalan Djoko Tjandra

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Sengaja atau tidak, pimpinan Polri berusaha mengalihkan fokus kesalahan Polri secara institusional menjadi kesalahan Brigjen...

Rakyat dibayangi Pertanyaan: Mungkinkah Komunisme-PKI bangkit kembali?

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Kalau pernyataan Menko Polhukam Mahfud MD (31/5/2020) dijadikan pegangan, tampaknya tidak mungkin PKI bisa hidup...

Ayasofya Camii!

  Oleh: Ustadz Felix Siauw PALONTARAQ.ID - Salah satu keinginan terbesar saya ketika menulis buku "Muhammad Al-Fatih 1453", adalah sujud di...

Presiden Jokowi Memang Harus Ngeri!

  Oleh: Hersubeno Arief PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi kembali menyatakan betapa berbahayanya situasi dunia, khususnya Indonesia. Jokowi bahkan menggunakan kosa kata yang...

Jokowi merasa Ngeri!

  Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Presiden Jokowi mengatakan dia ngeri dengan situasi yang akan dihadapi. Pertumbuhan ekonomi bisa minus 8%. Pak...

Denny Siregar tak perlu Minta Maaf!

Oleh: Asyari Usman PALONTARAQ.ID - Pegiat medsos pro-penguasa, Denny Siregar (DS), didesak untuk meminta maaf kepada seluruh santri dan kiyai. Dia...

Must read

- Advertisement -

You might also likeRELATED
Recommended to you