Hajj Journey – 02

Ilustrasi - Ibadah Haji di Mekkah. (foto: ist/palontaraq)

Ilustrasi – Ibadah Haji di Mekkah. (foto: ist/palontaraq)

Oleh: Imam Shamsi Ali, Pembimbing Nusantara Hajj & Umrah Group USA.

Tulisan Sebelumnya:  Hajj Journey – 01

PALONTARAQ.ID – Ada indikasi kuat bahwa haji atau amalan-amalan ritual di Tanah Haram sudah ada sejak awal turunnya manusia ke bumi ini. Hal itu terbukti dengan jejak-jejak sejarah kedua orang tua manusia, Adam dan Hawa, yang diturunkan ke bumi ini di sekitar wilayah tanah haram itu.

Belakangan dikenal bahwa pertama kali mereka turun atau diturunkan ke bumi ini mereka terpisah. Mereka pun saling mencari didorong oleh rasa “rahmah” (kasih sayang) yang ada pada keduanya. Maka atas kasih sayang Allah mereka dipertemukan di sebuah bukit yang juga dikenal dengan “rahmah” (bukit kasih sayang). Bukit itu lebih dikenal saat ini dengan nama “Jabal Rahmah”.

Sudah pasti tidak ada catatan sejarah mengenai mereka berdua. Tidak ada catatan tinta kasat, kecuali narasi-narasi yang disimpulkan dari informasi langit.

Belakangan diriwayatkan bahwa Adam sendiri meninggal di kota suci Mekah. Dan dikuburkan di sekitar “lokasi suci” sekitar Ka’bah. Ada yang menyebutkan bahwa Adam dikuburkan di sebuah lokasi antara Ka’bah dan Sumur Zam-Zam saat ini.

Sementara Hawa melakukan perjalanan hingga ke pinggiran pantai di sebuah daerah di luar kota suci Mekah. Daerah pinggiran pantai itu sekarang dikenal sebagai sebuah kota metropolitan di Saudi Arabia bernama Jeddah. Di sanalah Nenek manusia itu dikuburkan. Bahkan kuburannya hingga kini menjadi salah satu tujuan para penzuarah Mekah dan Madinah.

Namun demikian, catatan sejarah tentang ritual haji yang paling jelas dalam literasi agama kembali kepada sejarah Ibrahim AS dan keluarganya. Ibrahimlah dan keluarganya, khususnya anak isterinya Hajar dan Ismail AS, yang kemudian menjadi tema sentra dalam pembicaraan tentang haji dan tanah suci.

Ibrahim akan menjadi sebutan berulang dalam membahas tentang haji dan Tanah Haram. Dari Ihram, ke Wukuf, Muzdalifah, Mina, hingga ke Thawaf dan Sa’i. Semuanya tidak terlepas dari sejarah napak tilas Ibrahim AS dan anaknya Ismail AS.

Bahkan ada juga sebutan riwayat jika Musa AS juga pernah melakukan thawaf di sekitar Ka’bah. Entah kapan dan bagaimana? Teknisnya memang Allah yang Maha tahu.

Tapi yang pasti memang Ka’bahlah dalam sejarah agama yang pertama kali dijadikan sebagai pusat “ibadah”. Karenanya sangat wajar jika manusia secara turun tenue un telah menjadikan tempat ini sebagai pusat “peribadatan”.

Al-Quran menyebutkan: “sesungguhnya Rumah (tempat ibadah) yang pertama ditempatkan di bumi adalah yang ada di Bakkah Yang Suci itu” (Al-Quran).

Demikian dalam sejarahnya kita kenal juga bahwa jauh sebelum Rasulullah SAW dilahirkan di Tanah Mekah, kaum Arab dan tetangga-tetangganya telah menjadikan Ka’bah sebagai pusat ritual ibadah mereka. Hanya saja mereka melakukan itu tanpa Syariah (aturan agama) yang benar.

Salah satu yang kita baca dalam sejarah bahwa kaum Arab sebelum Muhammad SAW hadir melakukan thawaf di sekitar Ka’bah dan Da’i di antara Shofa-Marwa dengan telanjang.

Demikian seterusnya tempat yang dikenal dengan Tanah Haram ini menjadi pusat peribadatan sepanjang sejarah. Dan dengan kehadiran Ibrahim dan putranya Ismail mendoakan: “Wahai Tuhan kami, jadikan hati sebagian manusia cinta kepadanya (Mekah)” hal itu semakin mengakar.

Diutusnya Rasul dan Nabi penutup, Muhammad SAW, menjadikan praktek ritual bersejarah itu menjadi “hukum” atau Syariah yang baku. Bahkan dalam agama Islam dijadikan sebagai salah satu pilar (tiang) agama itu sendiri.

Karenanya melaksanakan ibadah haji sesungguhnya adalah sekaligus merupakan “napak tilas” perjalanan sejarah “religiositas” manusia. Pusat ketaatan kepada Tuhan bermuara dari pusat dunia yang memang dikenal sebagai “Ummul Qura” (Ibu negeri).

Bahkan disebutkan jika di sekitar Al-Bait al-Ma’muur di sekitar Arsy Allah malaikat tiada henti melaksanakan thawaf menyembah dan membesarkan Asma Allah. Maka di bumi sekitar Ka’bah Inilah tempat para hamba Allah tiada hentinya menyembah Allah dan membesarkan AsmaNya.

Dengan melaksanakan ibadah haji kita diingatkan kembali perjalanan “keagamaan” dan “ketaatan” kepada Tuhan. Seolah dengan perjalanan haji kita membangun kembali komitmen keagamaan dan ketaatan dalam sejarah interaksi manusia dengan Penciptanya. (Bersambung…..).

 

Imam Shamsi Ali, New York, 19 Juli 2019

Keterangan Foto: Dari sekian yang Allah berikan hidayah melalui usaha dakwah sederhana kami adalah Chika Nakamura. Dari petinju profesional, juara dunia, dan atleti sukses, menjadi seorang Muslimah dan saat ini berjuang di jalan dakwah. Terakhir kakeknya yang berumur 95 tahun di Jepang menerima Islam. Chika Nakamura, tinggal di kota New York, warga Amerika keturunan Jepang. Doakan Semoga istiqamah! (foto dan keterangan: Imam Shamsi Ali)

Like it? Share it!

Leave A Response