Memahami Arti dan Syarat: Kompetensi dan Profisiensi

What your competence?

What your competence? (foto: ist/palontaraq)

Oleh:  Muhammad Farid Wajdi

PALONTARAQ.ID – KATA kompetensi dan profisiensi sudah sering kita dengar,  yaitu kata yang menunjukkan keahlian atau kecakapan seseorang terhadap sesuatu.

Dengan kata lain, dua kata ini, kompetensi dan profisiensi terkait Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi kebutuhan dan tuntutan pekerjaan/organisasi/perusahaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan kompetensi/kom·pe·ten·si/ atau /kompeténsi/ adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan sesuatu), atau kemampuan menguasai gramatika suatu bahasa secara abstrak atau batiniah.

Secara etimologi,  istilah kompetensi berasal dari kata bahasa Inggris “competency” yang artinya kecakapan atau kemampuan (Echols dan Shadily,1983:132).

Sedangkan menurut Purwadarminta (1982:51) menjelaskan kompetensi sebagai kewenangan atau kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Dengan kata lain bahwa kompetensi disebut sebagai wewenang atau kewenangan.

Berdasarkan definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi adalah kewenangan dan kecakapan atau kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan sesuai dengan jabatan yang disandangnya.

Dengan demikian, tekanannya pada kewenangan dan kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas pada suatu jabatan atau pekerjaan seseorang di dalam organisasi atau suatu instansi pemerintah maupun swasta.

Pengertian Kompetensi dalam Manajemen SDM

Setiap pekerjaan memiliki persyaratan dan serangkaian kompetensi untuk melaksanakannya secara efisien. Setiap orang dalam pekerjaannya perlu menyesuaikan diri dengan kompetensi yang dimilikinya.

Dapat dikatakan bahwa karyawan/pegawai yang berkompeten adalah Sumber Daya Manusia utama di setiap organisasi agar dapat memperoleh keunggulan dalam persaingan bisnis atau industri. Jika dilihat dari artinya, Kompetensi (Competence) adalah kecakapan, kemampuan dan kewenangan.

Apabila diaplikasikan ke Manajemen khususnya Manajemen SDM, Kompetensi diartikan sebagai kombinasi antara pengetahuan, keterampilan dan kepribadian yang dapat meningkatkan kinerja karyawan sehingga mampu memberikan kontribusi terbaiknya untuk organisasi atau perusahaan.

Istilah Kompetensi (Competency) pertama kali diperkenalkan oleh David McClelland pada tahun 1973 dalam artikel, “Testing for competence rather than for intelligence”.

Dalam Tahun 1982, Boyatzis mengumpulkan data komprehensif dengan metode McBer & Company “Job Competence Assessment”  di Amerika Serikat.  Sejak itu, Kompetensi menjadi faktor penting dalam pengembangan SDM.

Para Ahli tentang Kompetensi

Menurut Stephen Robbin (2007:38), Kompetensi adalah kemampuan (ability) atau kapasitas seseorang untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan, dimana kemampuan ini ditentukan oleh dua faktor yang kemampuan intelektual dan kemampuan fisik.

Sedarmayanti (2008:126), Kompetensi adalah karakteristik mendasar yang dimiliki seseorang yang berpengaruh langsung terhadap, atau dapat memprediksikan kinerja yang sangat baik.

Mangkunegara (2005:113), Kompetensi adalah faktor mendasar yang dimiliki seseorang yang mempunyai kemampuan lebih, yang membuatnya berbeda dengan seseorang yang mempunyai kemampuan rata-rata atau biasa saja.

Spencer and Spencer (1993), Kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan efektivitas kinerja individu dalam pekerjaannya.

Boulter, Dalziel dan Hill (2003), Kompetensi adalah suatu karakteristik dasar dari seseorang yang memungkinkannya memberikan kinerja unggul dalam pekerjaan, peran, atau situasi tertentu.

Kompetensi menurut UU dan PP

Pengertian Kompetensi menurut Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, kompetensi kerja adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Kompetensi menurut Peraturan Pemerintah (PP) No. 101 tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PNS, berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.

Lihat juga:  Jurnal Ilmiah, Pengelolaan dan Penerbitannya

Aspek Kompetensi

Berdasarkan beberapa pengertian Kompetensi yang telah disebutkan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kompetensi adalah seperangkat perilaku kinerja individu yang dapat diamati, terukur dan sangat penting untuk keberhasilan kinerja pada individu itu sendiri maupun pada organisasi dan perusahaannya.

Perilaku kinerja individu tersebut meliput pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan karakteristik yang terkait dengan aspek kinerja praktik profesi.

Menurut Gordon (1988), aspek yang terkandung dalam konsep kompetensi, meliputi aspek:  Pengetahuan (Knowledge), Pemahaman (Understanding), Kemampuan (skill), Nilai (value), Sikap (attitude), dan Minat (interest)

Bukti Tertulis Kompetensi

Sebenarnya, untuk membuktikan bahwa seseorang itu memiliki kompetensi yang baik terhadap bidang pekerjaannya, maka penilaiannya adalah pada kerja dan kinerjanya yang terukur.

Namun secara legal-formal, Undang-undang (UU) menganjurkan untuk menunjukkan bukti kompetensi itu dalam bentuk ijazah atau sertifikat, setelah melalui pelatihan (sertifikasi training) atau uji kompetensi.

Uji Kompetensi Guru (UKG). (foto: ist/palontaraq)

Uji Kompetensi Guru (UKG). (foto: okezone)

Salah satu permintaan penunjukan kompetensi itu bagi guru dan dosen, termaktub dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Dalam Pasal 35 UU Sisdiknas disebutkan bahwa: (1) Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. (2) Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum

Dalam penjelasan Pasal 35 ayat (1) tersebut, disebutkan bahwa Standar isi dimaksud mencakup ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan ke dalam persyaratan tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Kompetensi lulusan yang dimaksudkan dalam Pasal 35 UU Sisdiknas tersebut merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.

Lihat juga: Menyoal Tunjangan Profesi Guru

Di era kekinian, sertifikasi menjadi bukti tertulis kompetensi dan dipersyaratkan pemerintah dan dunia kerja.  Hal ini juga dinyatakan, salah satunya dalam Pasal 61 UU Sisdiknas yang menyoal tentang Sertifikasi.

Pasal 61

(1) Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi.

(2) Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadapprestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi.

(3) Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.

Arti Kata Profisiensi

Kata proficiency adalah kata dalam bahasa Inggris yang jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah: proficiency kb. (j. -cies) kecakapan, keahlian (KBBI).

Jadi, kata “proficiency” dalam Kamus Inggris-Indonesia adalah kecakapan, kata proficient untuk menunjukkan kata sifat, pandai atau cakap; proficiently, dengan mahirnya.

Uji Profisiensi. (foto: ist/palontaraq)

Uji Profisiensi. (foto: ist/palontaraq)

Sebagaimana Kompetensi yang biasa ditunjukkan dalam bentuk sertifikat (certificate of competence), maka demikian pula proficiency (profisiensi) seseorang ditunjukkan lewat kecakapan dan keahlian khusus dalam bidang pekerjaan yang digelutinya, dibuktikan dengan sertifikat profisiensi (certificate of proficiency) setelah mengikuti pelatihan/workshop dengan komposisi 7o % praktek dan 30 % teori.

Biasanya untuk mengukur tingkat kompetensi dan profisiensi seseorang, dilakukan uji kompetensi atau uji profisiensi, dengan persyaratan tertentu dan spesifik, dengan mempertimbangkan masa kerja, pendidikan minimal, dan lain sebagainya.

Khususnya untuk bidang pekerjaan (profesi) khusus oleh lembaga tertentu (lembaga pendidikan dan pelatihan) atau oleh organisasi profesi biasanya harus lembaga yang terakreditasi atau diakui oleh negara.  Uji Kompetensi juga dilaksanakan sendiri oleh Pemerintah, yaitu melalui lembaga Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) (*)

 

Like it? Share it!

Leave A Response