BerandaNarasi SejarahCara Prabowo Menghargai Senior TNI

Cara Prabowo Menghargai Senior TNI

Jenderal besar AH Nasution diapit Prabowo dan Kivlan Zein. (foto: ist/palontaraq)
Jenderal besar AH Nasution diapit Prabowo dan Kivlan Zein. (foto: ist/palontaraq)

– Penuturan Almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution

Oleh: Mangarahon Dongoran, Wartawan Senior

PALONTARAQ.ID – Mendekati hari pencoblosan Pilpres 2019, Prabowo terus menerus dihantam kampanye negatif oleh lawan politik nya. Bahkan dalam kampanyenya dua hari terakhir pihak Jokowi terus menggoreng isu negatif, “Prabowo tidak percaya TNI”.

Isu ini di hembuskan Jokowi terkait keraguan Prabowo atas pernyataan jokowi yang menjamin kemampuan TNI untuk menahan serangan negara musuh sewaktu-waktu (yang di ucapkan dalam debat ditelevisi dua hari lalu).

Padahal, konteksnya Capres 02 Prabowo Subianto ingin TNI terus diperkuat, anggaran diperbesar, sehingga Indonesia disegani dalam diplomasi internasional. Tapi pihak pendukung Jokowi secara licik menggoreng menjadi isu “Prabowo tidak percaya TNI”

Saya tidak akan membahas isu aktual itu. Saya ingin menyampaikan apa yang saya tahu tentang pribadi Prabowo terkait “ke-TNI-annya.”

Bukan mengarang-ngarang, tetapi saya dengar langsung dari seorang yang sangat disegani dan dihormati di negeri ini, terutama di kalangan militer, yaitu Jenderal Besar TNI (Purnawirawan) Abdul Haris Nasution.

Suatu waktu (menjelang peringatan G 30 S PKI), di tahun 1990-an saya ditugaskan kantor (Koran Pikiran Rakyat) mewawancarainya. Setelah melakukan komunikasi dengan ajudan/sekretaris pribadinya, saya pun diterima wawancara khusus di rumahnya, Jalan Teuku Umar Nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat. (Sekarang menjadi Museum Sasmitaloka).

Lihat juga: Beberapa Catatan terkait Debat Pilpres 2019

Sebagai wartawan muda, saya sangat tertarik dan terkesan dengan kata-katanya. Banyak pelajaran sejarah yang saya peroleh, termasuk pesannya kepada generasi muda, khusus kepada saya agar mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila dan UUD 45.

Yang tidak kalah pentingnya, ia mengingatkan bahaya laten komunis yang bisa di bentengi dan di berantas dengan ketaatan beragama. Pak Nas waktu itu masih dikucilkan pemerintah Orde Baru, karena menjadi anggota Petisi 50.

Jenderal besar AH Nasution menerima hormat dari Prabowo. (foto: ist/palontaraq)
Jenderal besar AH Nasution menerima hormat dari Letjend Prabowo. (foto: ist/palontaraq)

Pada saat wawancara, Pak Nas menceritakan sosok Prabowo Subianto. “Prabowo adalah sosok militer yang berani, pintar cerdas & tegas,” katanya. Tapi, yang menarik bagi Pak Nas, Prabowo sangat menghormati para seniornya, termasuk yang sudah pensiun dan sepuh.

“Prabowo, suka mengunjungi saya sejak masih berpangkat kapten, bahkan setelah Prabowo menjadi perwira tinggi, ia terus menyambangi saya untuk meminta doa, restu dan wejangan,” kata penulis buku “Pokok-Pokok Perang Gerilya” ini.

Lihat juga: Speechless, Prabowo Tak Kuasa Menahan Airmata

Suatu hari, setelah naik pangkat menjadi menjadi brigadir jenderal (sebagai Komandan Jenderal Kopassus), Prabowo langsung datang ke rumah Pak Nas.  Saat itu ia melihat rumah dan mobil Pak Nas yang sudah tidak layak. Prabowo lalu minta izin untuk merenovasi rumah, memberi mobil baru berikut supir.

Tawaran tersebut diberikan sebagai tanda terima kasih atas doa dan bimbingan Pak Nas selama ini. Tetapi tawaran itu ditolak oleh jenderal kelahiran Kotanopan, Sumatera Utara yang sudah terbiasa hidup sederhana itu.

Tapi belakangan Pak Nas tidak bisa menolak ketika Panglima ABRI saat itu, Jenderal Feisal Tanjung – berkat laporan dari Prabowo – mengambil alih renovasi dan pelayanan mobil dan supir pribadi kepada Pak Nas.

Pak Nas bertanya kepada Prabowo kenapa sering mengunjunginya? Jawaban Prabowo mengejutkan sekaligus membanggakan Pak Nas. “Saya adalah orang orang yang menghargai dan menghormati para pejuang 1945. Perjuangan mereka merupakan inspirasi sekaligus pemicu semangat saya di dunia militer,” kata Prabowo.

Jenderal AH Nasution dan bukunya, "Pokok-pokok Perang Gerilya". (foto: ist/palontaraq)
Jenderal AH Nasution dan bukunya, “Pokok-pokok Perang Gerilya”. (foto: ist/palontaraq)

Menurut cerita Pak Nas, ternyata Prabowo sudah menamatkan baca buku karangannya, “Pokok-pokok Perang Gerilya” sejak di bangku SMA. Menurut pengakuan Prabowo ke Pak Nas, strategi perang gerilya itulah yang dipakai Prabowo saat bertugas di Timor-Timur.

Pak Nas juga sempat menanyakan kepada Prabowo “Kenapa kamu sering mengunjungi saya? Kamu kan tahu mertuamu (Pak Harto), memusuhi saya? Saya lagi berseberangan dengan Pak Harto, karena saya masuk dalam Petisi 50? Kalau ketahuan Pak Harto bagaimana?”

Pak Nas tidak menduga jawaban yang akan keluar dari Prabowo yang terlihat tidak ada beban, tegas dan lugas. Prabowo, kata Pak Nas hanya menjawab singkat. “Saya tidak ada urusan. Itu urusan orangtua. Pak Harto mertua dan orangtua saya dan juga senior saya. Bapak adalah orangtua saya dan juga senior saya. Sebagai perwira yang masih muda, saya ingin orangtua saya bersatu dan menjadi contoh kepada generasi muda.”

Lihat juga: Di Ambang Kemenangan, Prabowo tak Terbendung

Pada peringatan hari ABRI, 5 Oktober 1997, Markas Besar ABRI (TNI) menganugrahkan pangkat Jenderal Besar (lima bintang) kepada 3 figur tentara pejuang 45: Soedirman (saat itu sudah wafat), Soeharto dan Abdul Haris Nasution.

Prabowo mendampingi Jenderal Besar AH Nasution memeriksa defile pasukan. (foto: ist/palontaraq)
Prabowo mendampingi Jenderal Besar AH Nasution memeriksa defile pasukan. (foto: ist/palontaraq)

Sejak itulah, akhirnya Presiden Soeharto bisa bertemu dan berbincang-bincang kembali setelah berseberangan secara politik selama puluhan tahun dengan Pak Nas.

Yang saya tahu, rekonsiliasi antara Pak Harto dan Pak Nas kala itu adalah berkat upaya pendekatan dari Prabowo Subianto (saat itu sudah menjadi Panglima Kostrad) bersama BJ Habibie (menteri kesayangan Soeharto).

Dari cerita Pak Nas itu, saya percaya Prabowo adalah pribadi perwira TNI yang baik, sangat menghargai pejuang 45, dan ingin semua pejuang 45 bersatu kembali di usia tuanya.

Siapa pun yang menggoreng isu Prabowo tidak percaya TNI, dia adalah pemecah belah TNI. Orang itu jelas berniat membenturkan Prabowo dengan korps-nya yang justru sangat ia cintai. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

HIGHLIGHT